
"aku akan mengadukan mu kepada nenek."
Emir yang baru berjalan 2 langkah keluar pintu berbalik dan menatap sengit pada adik sepupunya itu, sedikit berdecih, "kau ke sini hanya untuk mengancam ku?" ejeknya pada Pras
"Dan sayangnya aku tidak takut," lanjut Emir dengan penuh percaya diri.
"Baguslah kalau seperti itu, kita akan lihat Apa yang akan anda lakukan jika tahu apa yang telah kau perbuat kepada menantu pilihannya,"
"Apa tujuanmu sebenarnya?" geram Emir, tangannya mengepal dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih, dia begitu marah pada pria yang sedang duduk sampai di sofa ruangannya itu yang dengan berani telah mengancam dirinya.
"hehehe.. tenang kak, aku tidak memiliki maksud apa-apa, aku hanya kasihan pada gadis tak berdosa itu, malang sekali nasibnya karena menikah dengan pria tidak bertanggung jawab seperti mu."
"kau bisa keluar dari ruangan ini sekarang!" bentak Emir
proses berdiri dengan santai sambil merapikan pakaiannya, "aku akan pergi, tapi ingat sekali lagi aku melihat kau menerlantarkan kakak ipar, jangan salahkan aku jika..."
"AKu tidak takut," potong Emir
"Baguslah..."
Setelah bicara Pras melangkah keluar, tentu saja dengan senyum mengejek ke arah Emir,
Dan Emir hanya bisa menggeram kesal ditempatnya. Pagi ini mood-nya sudah buruk karena kedatangan Pria muda itu.
Setelah kepergian Pras, Emir membanting tubuhnya di sofa, darimana Pras tau jika dia dan Mutia tidak harmonis?
aku harus mencari tau, apa jangan-jangan wanita itu yang meminta bantuannya? cih jika dugaan ku benar, maka aku akan memberikan pelajaran yang tak mungkin bisa dia lupakan, tunggu dan lihat saja nanti,"
Tok...tok...
"Masuk"
"Pagi Pak, klien sudah datang dan menunggu di ruang rapat,"
"Baik, saya akan segera kesana sekarang juga," ucap Emir.
Beberapa kali pria itu menarik nafas dalam dan membuangnya dengan kasar berusaha untuk menekan dan menetralisir semua kemarahannya pada Pras agar tidak berpengaruh kepada kliennya nanti. setelah merasa lebih baik Emir segera berjalan menuju ruang rapat dan menemui kliennya.
Saru jam kemudian, rapat pun berakhir. Emir kembali ke ruangan nya, baru saja dia mendudukkan pantatnya di kursi kebesaran, sebuah photo pesan masuk ke dalam ponselnya, dari seseorang yang tak dia kenal.
Penasaran, Emir segera membuka pesan tersebut, wajahnya kembali memerah setelah melihat photo yang di kirim kan oleh orang tak dikenalnya itu, sebuah photo dimana sang mantan tengah berduaan dengan seseorang yang tak dia kenal, bahkan keduanya terlihat begitu mesra, duduk manis di tepi pantai.
Emir menggeram kesal, segera dia menghubungi sang kekasih, sayang nomor nya sedang tidak aktif. Hal itu menambah kemarahan dihatinya.
Emir segera menghubungi manager nya dan lagi tak bisa di hubungi. Emir kembali menggeram kesal, hari ini sungguh hari yang sangat sial untuknya.
"Mila..." Panggil Emir pada sekretaris nya
"Ya Pak,"
"Batalkan semua jadwal saya hari ini, saya mau keluar."
__ADS_1
"Baik Pak," jawab wanita itu menunduk.
Emir segera mengambil kunci mobil dan berlalu, hatinya sedang galau dan dia butuh waktu serta tempat untuk menenangkan dirinya.
Emir melajukan mobilnya menuju kantor Faisal, sahabatnya.
"silahkan duduk, ada apa gerangan kamu datang ke kantorku yang kecil ini?"
"tak usah banyak bicara, aku sedang kesal." sungut Emir
"kesal? apa kau bisa kesal?"
"tentu saja, sialan!"
"biasanya orang lain yang kesal karena mu, ini sungguh aneh."
"mau minum apa?"
"Terserah,"
Faisal membuka lemari pendingin dan mengambil minuman dingin lalu memberikannya pada Emir, "minumlah semoga bisa mendinginkan hatimu yang tengah panas,"
Emir membukanya dan langsung meminumnya, "ada apa?" kali ini Faisal bicara dengan nada lembut, dia tahu betul jika sudah seperti ini, maka Emir pasti sedang galau berat.
Emir mendesah, "Apa ini tentang..."
"Salah satunya," sahut Emir
"Aku sudah menikah," tiba-tiba pria itu bicara
"Aku menikah dengan gadis pilihan nenek, seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal dan aku terpaksa melakukannya di bawah ancaman nenek,"
"lalu..."
"itulah yang telah aku pikirkan Bagaimana aku mengatakannya kepadanya..."
"Maksudmu, Ratih.." Emir mengangguk.
"Itu artinya dia belum tau?" Emir mengangguk
"Bagiamana ceritanya kamu bisa menikah dan kenapa kamu tidak mengundang ku?"
Emir kembali menghela napas kemudian dia menceritakan semuanya, tentang kedatangannya dan pertemuannya dengan Mutiara, lalu perjodohan yang memaksa mereka menikah hingga kini mereka tinggal bersama.
Faisal mendengarkan dengan seksama, "itu artinya istrimu juga tidak menyukai mu?"
"ya begitulah,"
"lalu apa yang kamu bingung kan?"
"Nenek menginginkan cucu,"
__ADS_1
"Hmmpt... hahahha... baguslah dan aku rasa itu bukan hal yang aneh, lantas kenapa kamu bingung? aneh..." ucap Faisal geleng kepala.
"Istrimu tau?"
"Ya,"
"tapi kami sudah sepakat untuk.."
"Hei, dia itu istrimu, kalian sah, jika itu aku, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, aku pasti sudah un boxing di malam pertama, hahahah kau memang lucu." ejek Faisal.
"Aku bukan kau!" bantah Emir tak suka
"Beri aku satu alasan kenapa kamu tidak menyukai istrimu?"
"Dia matre, dia menikah denganku karena uang,"
Faisal manggut-manggut, "Semua wanita memang matre, jangan lupa itu. Kenapa kau tidak jujur saja jika kau memiliki Ratih?"
Emir menghela napas berat, "Dia tidak ada waktu itu, hingga saat ini pun dia tidak bisa di hubungi, dia terlalu sibuk sehingga tak punya waktu untuk ku,"
"Dan kau masih setia?"
"Entahlah,"
"Coba kau selidiki apa sebenarnya yang dia lakukan diluar sana,"
"Kenapa? aku percaya padanya."
"Sayangnya kamu terlalu naif, apa ada hubungan yang tidak ada komunikasi sekalipun, jika dia memang mencintaimu, dia pasti akan merindukan mu dan menghubungi mu, ini... "
"Dia sibuk!" bantah Emir
"aku mau tanya kapan terakhir kali dia menghubungi mu?"
Emir terdiam, dia tampak berpikir, Emir sendiri lupa kapan terakhir kali dia Ratih menghubungi nya, dan Faisal tertawa melihatnya,
"Apa ini yang kau sebut cinta?" ejeknya
"Aku..."
"Pikirkan baik-baik,"
"Sudah makan siang?"
"Aku yakin belom, yuk kita makan di kafe saja sekalian aku mau tunjukkan seseorang,"
"Siapa gebetan baru kamu?"
"Kapan kau akan bertobat? ingat umur, sampai kapan kau akan seperti ini?"
"kali ini berbeda, aku akan serius jika dia beneran mau dengan ku."
__ADS_1
"bikin penasaran? tapi lain kali aja, aku mau ada urusan sebentar,"
"baiklah,"