
"Baguslah, aku senang mendengar nya. Oh ya, kamu tolong belikan perlengkapan dan peralatan untuk perempuan, sekarang juga dan antar ke apartemen ku."
"Baik Pak,"
Mutiara dan Emir kembali ke apartemen. Pria itu menggunakan mobil yang dibawa oleh Rendi, asisten pribadi Emir.
Rendi sendiri pergi ke mall untuk membeli perlengkapan wanita,
"Pakaian dan peralatan perempuan? apa aku nggak salah dengar? apa bos mau menikah atau mau.." tanya Rendi pada anak buahnya yang kini tengah menemaninya berbelanja.
"Apa kau sekarang sudah beralih profesi menjadi wartawan?"
"Mana ku tahu, tapi jika iya, gadis tadi itu jangan jangan istrinya?"
"apa urusannya dengan mu?" ketus pria disebelah nya .
"Tidak ada, maaf ," sahut pria itu dengan wajah pucat, bertanya sama saja dengan dia kehilangan pekerjaannya karena dipecat oleh Emir.
Tak mau kehilangan pekerjaannya, Rendi dengan cepat segera pergi ke mall dan membelikan semua perlengkapan yang diminta oleh bosnya.
Hanya dalam waktu setengah jam dia sudah tiba di apartemen Emir.Tak lupa dia membawa barang yang dipesan oleh bosnya itu.
"Terima kasih," ucap Emir di depan pintu, dia mengambil semuanya tanpa mempersilakan pria itu masuk. Hal ini justru memperkuat dugaan Rendi, sang bawahan jika bosnya tengah menyembunyikan sesuatu.
"Kau bisa pergi sekarang," usir Emir
__ADS_1
"Tapi bos, bolehkan saya masuk, saya ingin menumpang buang air kecil,"
Emir menatap lekat sebelum akhirnya menggeser tubuhnya dan membiarkan pria itu masuk ke dalam. Dia berjalan menuju sofa dan meletakkan semua belanjaan Rendi disana.
Entah dimana istrinya, Emir juga tidak tau dan tidak peduli, yang dia pikirkan saat ini bagaimana dia menjalani ini semua, Tinggal serumah dengan seorang wanita, dan wanita itu bukanlah wanita yang dia cintai, pastilah akan banyak kendala di dalamnya.
"Terimakasih Pak," ucap Rendi keluar dari kamar mandi.
"Saya permisi pulang dulu."
"Tunggu, aku ikut. Aku inginmelihat kantor setelah beberapa hari ini ku tinggalkan, apa kalian bermalas-malasan saat aku tidak ada?"
"Tidak Pak, semua bekerja sesuai dengan porsinya."
"Tunggu sebentar, Pria itu naik ke atas menuju kamarnya, dia segera mengganti pakaiannya dan bersiap ikut dengan Rendi ke kantor.
"Kenapa kau diam saja? apa kau sariawan? atau kau lagi patah hati."
"Eh saya Pak," sahut Rendi
Pria itu tersenyum kecut, ketahuan melamun.
"Maaf pak, saya hanya sedang berpikir, kenapa tiba-tiba bapak menyuruh saya membeli banyak sekali baju dan-"
"Apa tidak ada topik yang lebih menarik? kapan kau akan mengakhiri masa lajang mu? Bukankah kau sudah Lama berpacaran dengan kekasihmu itu?" tanya Emir mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Saya pak, Sebenernya saya ingin segera menikahinya dan saya juga sudah melamarnya Minggu lalu tapi dia menolak Pak, " ucap Rendi sedih
"Kau di tolak? kenapa? apa dia tidak mencintai mu?"
"Dia bilang saya belum punya rumah, mobil juga masih kredit , jadi dia masih belum mau Pak, takut hidup miskin dengan saya." lanjut pria itu.
"Lalu?"
"Putus Pak, "
"Ternyata semua wanita sama saja , mereka tetap menomor satukan materi daripada cinta. Sama dengan mutiara, yang rela menikah dengan ku karena uang. Aku yakin sikap manis yang dia tunjukkan hanya topeng untuk menutupi semua kebusukannya selama ini, tapi aku bukan pria bodoh," ucap Emir di dalam hatinya.
"Maaf pak, tapi saya tidak melihat istri anda tadi, apa nyonya tidak ikut dengan bapak?"
"Siapa yang memberitahu mu jika aku sudah menikah?"
"Pak Parmun, dan beliau juga berpesan agar Bapak -"
"Ya aku tau, nenek menyuruhmu memata-matai ku, ya kan?"
"Benar Pak, tapi saya tidak bisa mengkhianati bapak,"
"Gadis itu tidak jauh beda dengan kekasihmu, dia rela menikah denganku demi uang, kau tau demi uang." ucapnya dengan kesal, benar benar merasa kesal.
"Tapi pak, "
__ADS_1
"Sudahlah lupakan waktunya kita bekerja, lupakan gadis matre itu," ucap Emir membungkam mulut Rendi.