Sebatas Nikah Kontrak

Sebatas Nikah Kontrak
Canggung


__ADS_3

Pagi ini Mutiara bangun lebih awal, dia ingin segera berangkat ke tempat kerja tanpa bertemu muka dengan Emir. Dia masih marah, masih tersisa kekesalan di hatinya, karena Emir bersikap seenaknya.


Gadis itu menatap penampilannya, apakah sudah rapi dan menatap dirinya di depan cermin memastikan jika penampilannya hari ini sempurna sama seperti biasanya.


Tanpa sadar saat menatap pantulan dirinya di cermin, gadis teringat kembali kejadian malam itu,dia refleks mengusap bibirnya, kembali rasa itu muncul walau hanya kecupan singkat, Entah kenapa masih menyisakan rasa yang begitu sangat-sangat terasa.


Mutiara mengusap bibirnya sekali lagi membuat lipstik yang dia pakai menjadi berserakan kemudian dia mengambil tisu dan mengelapnya hingga bersih, Lalu membuangnya ke tempat sampah dan berbalik keluar kamar.


Tak jauh beda dengan Mutiara Emir juga ingin berangkat pagi-pagi ini untuk menghindari gadis itu.


Namun Emir tidak secanggung Mutiara, dia biasa bersikap biasa saja berjalan santai menuju meja makan, kosong tidak ada apapun di sana bahkan secangkir teh atau kopi pun tidak ada.


Emir kaget namun dia tersenyum tipis, saat melihat sang gadis menuruni tangga dengan pakaian yang sangat rapi.


"mana sarapanku?" tanya pria itu dengan suara Barityo yang khas.


langkah mutiara terhenti dan menoleh "maaf aku tidak sempat membuatnya,"


"Kau mau ke mana?* tanya Emir lagi masih dengan suara datar menghentikan langkah sang gadis yang ingin berjalan cepat dan segera keluar dari kecanggungan ini.


"Aku mau bekerja," sahut Mutiara datar.


"Apa begini sikap seorang istri terhadap suaminya?"

__ADS_1


"AKu sibuk Aku pergi dulu," Mutiara keluar dengan cepat dia tidak mau berdebat dengan Emir namun di dalam hatinya dia bersungut-sungut.


'sikap seorang istri Bukankah dia yang bilang kalau kami tidak usah mengurusi hidup orang lain, hidup masing-masing, Jadi untuk apa aku mengurus fia, memasak makanan untuknya seolah-olah Aku ini adalah istri yang sesungguhnya, Dasar aneh!"


Sesampai di depan mutyiara langsung naik ke atas ojek yang memang sudah dia pesan sebelumnya.


Tak gadis itu sadari diujung jalan seseorang tengah menunggu nya dan pria itu merasa kesal karena sang gadis telah naik ojek.


Dia ingin sekali pergi bersama gadis itu, mengantar dan menjemputnya pulang. tapi Mutiara bukanlah gadis biasa yang akan dengan senang hati diantar pergi olehnya, Faisal semakin penasaran, Di manakah letak rumah mutiara.


Faisal mengikutinya hingga sampai ke cafe miliknya.


Setelah membayar ojek gadis itu pun turun dan masuk ke dalam mengganti pakaian dan ikut bergabung dengan teman-temannya yang lain siap untuk bekerja pada hari ini.


**


Saat jam makan siang, Faisal kembali ke cafe dan mengumumkan bahwa nanti sore akan ada perayaan. Dia akan menjamu para karyawan karena, mendapatkan banyak keuntungan bulan ini. Dan semua karyawan wajib ikut atau akan dikenakan denda.


Semua karyawan merasa sangat bahagia, kecuali Mutiara. Dia ingin segera pulang dan istirahat, karena dia memang tidak begitu menyukai pesta dan keramaian.


"Mutia, lo ikutkan?"


"Boleh nggak ikut?"

__ADS_1


"ya enggak"


"So untuk apa lo nannya?


"kok lo nggak semangat sih?"


"Males ah, Apalagi kalian mau karaokean kan? pasti nanti ujung-ujungnya minum?"


"Kalau nggak bisa minum, ya enggak apa-apa,"


"Ikutan aja, ntar kamu balik duluan, gimana?"


"gimana ya, lihat nanti deh."


Mutiara meninggalkan Zia dan kembali bekerja, seseorang mendekati gadis itu, "Mutiara ikut kan?" tanya pria itu sambil terus menatap punggung sang gadis yang menjauh


"kenapa? lo suka sama dia?"


"Gitu deh," sahutnya malu-malu.


"Buang jauh-jauh deh? dia udah punya suami."


"Masa sih?" jawab pria itu tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2