
"Tunggu" ucap Mutia memotong pembicaraan Faisal dan juga Mirza.
"Maaf pak Mirza, saya Tidak bersalah dan saya-"
“Oh jadi kamu mau bilang jika saya bohong, iya!" bentak Mirza
'Sedikit terkejut melihat gadis itu melawan ternyata dia bukan gadis yang mudah ditindas.'
"Tunggu, bukan begitu Pak, saya hanya mengatakan kebenaran, jika tidak percaya kota bisa melihatnya melalui CCTV," ucap Mutia
"Kau!" tunjuk Mirza dengan geram
"Sudah, maafkan untuk pelayanan kami yang kurang menyenangkan ini, tapi saya rasa apa yang di katakan oleh pegawai saya itu benar, gimana kalau kita lihat CCTV saja, untuk memastikan kebenarannya." ucap Faisal dengan gamblang.
Mirza sedikit melotot, tapi kedipan mata yang di layangkan Faisal membuatnya bungkam, Faisal memintanya untuk berhenti mendebat Mutia, sepertinya rencana pria itu gagal total.
Mereka berdua salah memprediksi dan menilai, Mutiara bukanlah hadis lemah, dia mampu melawan jika yang dia lakukan adalah benar.
"Bagaimana?" tanya Faizal membuyarkan lamunan Mirza.
"Saya akan mengingat kejadian ini," ucapnya berdiri lalu keluar membawa berkasnya.
Mutiara menatap Faisal, "Maaf pak tapi saya memang tidak bersalah," ucapnya menjelaskan duduk permasalahannya
"Saya tau, saya percaya padaku, kembali lah bekerja," ucapnya
"Terima kasih, Pak," ucap gadis itu berbalik dan berjalan menuju dapur.
"Lo enggak apa-apa kan?" tanya Rini khawatir
__ADS_1
"Enggak, seperti yang Lo lihat."
"Maaf ya," ucap Rini merasa bersalah
"Enggak apa-apa,"
"Tapi gue merasa enggak enak hati, Lo kan gantiin gue, tapi jujur lo keren banget. kalua gue udah pasti gue diam. dan nangis. Lo hebat, gue salut sama Lo."
"Kan emang gue nggak salah, enak aja dia." ucap Mutia.
Triiing, bunyi bel
"Eh gue kesana dulu ya," Rini berjalan membawa daftar menu makanan.
Mutia kembali bekerja dan beberapa orang yang sempat menonton tadi, kembali fokus dengan makanannya masing-masing.
Faisal kembali keruangan, mengambil ponsel dan segera menghubungi Mirza.
"Sialan Lo," sahut Mirza dari seberang sana.
"Tapi doi keren, dan gue makin jatuh cinta sama dia. Gadis hebat, nggak mudah di tindas, sungguh tipikal gue banget."
"Heleh, gaya Lo."
"Bener man, gue janji dia cewek terakhir gue dan gue akan pastikan jika dia yang akan jadi istri gue nantinya."
"Sejauh itu?" tanya Mirza tak percaya
"Iya, gue udah yakin dengan pilihan gue ini."
__ADS_1
"Aneh Lo,"
"Kok aneh,"
"Emang dia udah kenal Lo, belum.kan?"
"Tapi gue udah dekat dengannya, dia karyawan gue jadi nggak sudah buat deketin ya."
"Oh ya, kok gue nggak percaya ya, gimana kalau kita taruhan, gue akan kasih apartemen gue ke Lo, kalau Lo bisa menjadi pacarnya."
"Enggak, kali ini gue enggak mau taruhan, gue serius sama.dia, dan gue nggak akan pernah mempermainkan dia, gue akan jadikan dia istri gue."
"Lo yakin?"
"Yakin lah,"
"Okelah, good job man. Kalau lo bisa nikah ma tuh cewek, apartemen gue itu gue kasih ke elo sebagai kado pernikahan dari gue."
"Serius?"
"Iya gue serius."
"Deal." ucap Faisal tersenyum lebar.
Hari berlalu, tak terasa hari sudah hampir gelap, gadis itu berjalan pulang ke rumahnya.
Dia masuk dan langsung menuju kamarnya, membaringkan tubuh lelahnya di kasur empuk yang ada di sana. Sejenak dia memejamkan matanya , melepaskan penat yang ada, kakinya sangat pegal, karena hampir seharian dia berjalan.
Gadis itu melirik jam di dinding , sudah hampir magrib, mau tak mau dia harus bangun, mandi dan melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang muslim yang taat.
__ADS_1
Gadis itu berjalan keluar kamar, dia ke dapur. Perutnya terus berdemo meminta diisi, mau tak mau dia memaksa tubuh lelahnya untuk bangun dan memasak.