
Dengan penuh semangat Mutiara kembali ke apartemen, dia masuk setelah menekan tombol PIN yang disebutkan oleh Emir dan ternyata benar, pintu itu pun terbuka.
Mutia bergegas ke dalam kamarnya, hatinya bersorak riang gembira. Sambil bernyanyi kecil gadis itu mengganti pakaian dan berniat untuk segera bersih-bersih rumah.
Mutiara tetap melakukan kewajiban seorang istri, meskipun ia hanyalah Istri kontrak dan tidak ada kewajiban baginya untuk mengurus rumah.
Tapi hatinya berkata, jika dia adalah bagian dari rumah ini dan menjaga kebersihan adalah tanggung jawabnya juga.
Gadis itu mulai merapikan rumah, yang dia mulai dari kamar, ruang tamu, ruang makan hingga ke dapur.
Selesai membersihkan rumah, gadis itu duduk, sedikit merasa lelah, karena apartemen itu luas. Kerongkongannya terasa haus, dia berjalan ke dapur mencari air putih tapi tidak ada air putih disana.
Kemudian Mutia membuka kulkas, tubuhnya membeku dan matanya membulat tak percaya, dengan apa yang dia lihat.
'Kapan dia membeli semuanya? bukankah semalam tidak ada apa-apa? lalu ini semua..."
Senyum terbit di bibir gadis itu melihat semua bahan makanan tersedia lengkap di dalam kulkas.
Tangannya cekatan mengambil satu kaleng minuman dingin yang tersedia di sana lalu meminumnya.
"Ternyata dia baik juga, makasih kak," ucapnya pelan
Tak hanya itu Mutia pun mengeluarkan beberapa jenis bahan makanan.
Setelah menimbang-nimbang akhirnya dia memutuskan untuk memasak hari ini dia akan menumis kangkung, goreng ayam tepung dan membuat sambal ijo.
Dengan penuh semangat Mutia mengerjakan semuanya. Mutiara memang hobi memasak jadi dia merasa tidak terbebani dengan semua ini
Satu jam berlalu, kini semua makanan telah tersedia di atas meja. Perutnya berbunyi mencium aroma wangi dari ayam goreng dan sambal ijo yang sangat menggugah selera.
Tapi saat dia mengambil piring, gadis itu melongo kemudian tertawa kecil, dia terlupa sesuatu, ternyata Mutia belum memasak nasi.
'Yah, Padahal aku udah laper banget! batinnya.
segera Mutia mengambil beras dan mulai menanak nasi setelah itu dia pun naik kembali ke atas kamar dan mandi.
__ADS_1
Selepas mandi pasti nasinya sudah matang, dan setelah itu dia akan makan.
***
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, gadis itu segera turun ke dapur, mulai menikmati makan sorenya.
"Enak, ini baru namanya makan," ucapnya pelan menyuapkan nasi ke dalam perutnya.
Disaat yang sama terdengar suara pintu terbuka, awalnya dia terkejut namun kemudian dia tersadarkan jika itu pasti Emir suaminya. Dan benar Emir yang masuk ke dalam rumah.
Dia hanya menoleh, tidak menyapa malah lanjut berjalan menuju kamarnya sendiri.
Mutia hanya bisa mengangkat bahunya, setelah itu lanjut makan kembali.
Emir tak lagi keluar, Mutia pun ikut masuk kedalam kamar usai selesai makan.
Mereka tidur di kamar yang terpisah. Emir berada di lantai satu dan Mutia berada di lantai dua.
Emir kembali keluar dengan pakaian santai dan pergi entah kemana.
***
Perutnya berontak minta diisi, namun dirinya terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Mau sarapan?" tanya Mutia berjalan dari arah dapur membawa segelas teh hangat. Dan meletakkan nya di salah satu sudut meja.
Emir berjalan kesana, melirik menu makanan yang terhidang, lalu duduk dalam diam.
Mutia menganggap jika suaminya mau sarapan dengannya, dia mengambil piring dan meletakkan nya diatas meja, tepat di depan suaminya.
Kemudian dia memgambil makanannya sendiri.
Emir belum bergerak dan belum bersuara, dia hanya diam dan memperhatikan wanita itu makan dengan lahapnya.
Aroma makanan yang begitu menggoda di tambah lagi cara makan Mutia yang terlihat begitu menikmati makanannya membuat pria itu menjadi berselera.
__ADS_1
"Ambilkan makanan ku?" ucap nya mengagetkan istrinya.
Mutia menatap nya sekilas dan mengambil makanan untuknya, "Cukup" ucap Emir saat Mutia ingin menambahkan satu sendok lagi sambal.
Sambalado udang terlihat sangat menggoda, dan Emir mulai menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya. Benar saja, makanan itu sangat enak, pas sesuai dengan seleranya.
Tanpa sadar dia memakan habis makanan tersebut.
"Aku mau bicara" ucap Mutia setelah Emir menghabiskan semua makanannya. Gadis itu sejak tadi sudah menunggu momen ini.
"Aku mau bekerja dan aku sudah di terima di sebuah kafe,"
"Bekerja? apa uang yang nenek ku berikan kurang?" sindir Emir
"Bukan, bukan begitu tapi.."
"Apa kamu mau mencari suami yang lebih kaya?"
"Tidak, aku bu-kan.."
"Terserah," potong Emir sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya.
kemudian Emir berdiri dan berjalan keluar rumah lalu berangkat ke kantor.
Mutia hanya bisa menghela nafas, "sabar Mutia, sabar.. setidaknya dia tidak mengekang mu, dia mengijinkan mu untuk bekerja, itu sudah jauh lebih baik," ucapnya menghibur diri sendiri.
Selesai mencuci piring dan menyimpan makanan ke tempatnya. Mutia pun segera bersiap-siap.
Gadis itu kembali ke kamar, mengambil tas selempang dan menutup pintu rumah.
Dia berjalan keluar apartment dengan wajah bahagia. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja, dan gadis itu penuh semangat berangkat.
Gadis itu tidak menggunakan jasa angkutan umum. Jarak antara kafe dengan tempat tinggalnya tidak begitu jauh, jadi dia memutuskan untuk berjalan kaki, sekaligus menikmati hangatnya sinar matahari pagi.
"Dia sudah berangkat" pesan seseorang yang bertugas mengikuti Mutiara.
__ADS_1
"Bagus, ikuti dan laporkan apapun yang dia lakukan di belakang ku."
"Siap!"