
Mutia, keluar dari kamar mandi, perutnya terasa sakit setelah melalui perjalanan panjang tadi.
Untung saja sesak itu datang setelah mereka berada di rumah, bagaimana seandainya sesak itu datang saat mereka dalam perjalanan tadi.
Mutia keluar kamar mandi dan berjalan menuju ruang tamu. Gadis itu bisa melihat dengan jelas, ruangan kosong.
Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, namun tak seorang pun terlihat. lanjut dia mendudukkan dirinya di sofa. Dapat dia lihat tumpukan paper bag, disana. kembali gadis itu melirik ke kiri dan kanan, merasa sudah aman, Mutia membuka paper bag tersebut.
Pakaian wanita, beberapa buah gaun, t-shirt, dan gadis itu membulatkan matanya. Saat melihat paper bag yang berisi pakaian dalam wanita. Kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana mungkin seorang pria membeli pakaian dalam wanita? dasar cowok aneh, " batinnya.
Selanjutnya dia membuka paper bag yang lain, terdapat sepatu, sandal dan juga perlengkapan make up, Lagi gadis itu manggut-manggut.
Dia mengembalikan paper bag tersebut ke tempatnya. Dan duduk bersandar.
Perutnya berbunyi, dia lapar. Lagi Mutia berdiri dan berjalan menuju dapur.
Semua tersedia begitu lengkap dan berjajar rapi disana, namun tampaknya semua peralatan itu masih baru, jadi bisa Mutia simpulkan bahwa Emir tidak pernah memasak.
Lanjut dia berjalan menuju kulkas, berharap bisa menemukan sesuatu untuk dimakan.
Tapi harapannya hanya lah sia-sia. Tidak ada apapun di dalam sana, kulkas itu kosong melompong. Mutia mengusap perutnya, cacing yang berdemo tampaknya tak mau mengalah. Dia terus berjuang dan memberontak menutut sesuatu masuk dan bisa memenuhi keinginannya.
Mutia masuk ke dalam kamarnya dan mengambil tas serta dompet. Setelah itu dia berjalan keluar, mencari makanan untuk mengganjal perutnya yang terasa lapar.
Dia sudah berada di depan pintu, tapi langkahnya mundur "Jika aku keluar, pintunya akan terkunci, dimana kuncinya? lalu bagaimana aku masuk lagi nanti?" tanyanya dalam hati.
Lagi dia berjalan mondar mandir di depan pintu, tapi tampaknya cacing di dalam perutnya tak kenal kata menyerah. Dia pun akhirnya memutuskan untuk pergi. Terserah gimana nanti, yang penting saat ini dia bisa makan dengan tenang.
Mutia berjalan menyusuri jalanan mencari makanan yang bisa menggugah selera nya, setidaknya makanan Indonesia.
Di depan sebuah kafe gadis itu berhenti dan masuk. Dia memesan sphagetti karena tidak ada nasi Padang, apalagi rendang disana.
Selesai makan, Mutia tak langsung pergi, dia masih duduk menikmati waktu.
"Hai nona sendirian aja," seorang pria datang mendekati nya.
"Boleh kita kenalan?" ucap pria itu lagi dan duduk di depannya.
Mutia menoleh, namun tak menjawab ucapan pria itu.
"Boleh aku duduk disini?" tanyanya lagi, padahal dia sudah duduk.
__ADS_1
Mutia tak berminat, gadis itu berdiri, pria itu tersenyum dan memberikan kartu namanya, "Aku Faisal dan ini kartu namaku, jika kau berubah pikiran dan ingin berkenalan denganku, hubungi saja nomor tersebut, aku akan senang menjawabnya."
Faisal menarik tangan Mutia dan memberikan kartu namanya, lalu berdiri dan pergi
Sekilas gadis itu melirik kartu nama yang dia berikan, lalu membuangnya asal.
Mutia melangkah keluar dan pulang kembali ke apartemennya.
Sore berlalu berganti malam, Emir tak juga pulang. Mutia menunggu dengan gelisah di depan pintu rumah mereka.
Tepat jam sembilan malam Emir kembali, dia kaget melihat istrinya tidak ada dirumah, "Apa dia kabur?" tanya Emir
Emir menghubungi Anak buahnya dan meminta mereka segera mencari Mutia.
Dia pun turun ke bawah, mencari di lobi dan sekitar apartemen namun tidak ada. Bertanya pada satpam, tapi mereka tidak tau, apalagi mereka tidak mengenal Mutia.
Emir terus mencari, dan langkahnya terhenti saat secara tidak sengaja dia melihat sesuatu,
Apa yang dilihat Emir?
Tebak di.kolom komentar ya...
Yuk baca karya teman yang satu ini,
 ada yang bisa aku lakukan, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mama. Semoga Mama segera sembuh dan aku, aku bisa menahan ini semua Ma" ucap Mutia menghapus bulir bening di pipinya.
Lampu taman yang temaram, hembusan angin sepoi-sepoi, dan bulan yang bersinar redup menambah indahnya dan dingin nya malam ini.
Mutia yang hanya menggunakan kaos dan celana panjang turut merasakan dingin nya angin malam itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" bisiknya pelan.
Tangannya berusaha memeluk dirinya sendiri, mencoba mengurangi kedinginan yang dia rasakan.
Sementara Emir sudah berkeliling mencari nya ,Bahkan pria itu sampai mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan istrinya.
Langkah Emir terhenti saat melihat bayangan perempuan yang menyerupai istrinya.
Walau baru beberapa kali bertemu, namun pria itu bisa dengan jelas mengenali Mutia.
Emir melangkah mendekat dengan penuh amarah, giginya gemeletuk, rahangnya mengeras dan berjalan cepat, siap memarahi istrinya itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Emir, suaranya menggema membuat Mutia tersentak kaget.
__ADS_1
"Aku, aku... hanya-"
"Cih, merepotkan . Cepat pulang." ucap Emir memotong kalimat yang akan dilontarkan Mutia tidak ingin mendengar alasan apapun yang disebutkan Gadis itu dia sudah terlanjur marah.
"Tapi..." Mutia coba membela diri namun tatapan sengit dari suaminya membuat dia tak mampu lagi melanjutkan kata-kata selanjutnya.
Emir yang emosi menarik tangan istrinya, dia menyeret Mutia masuk ke dalam gedung apartemen. tak dipedulikannya jika Gadis itu berontak dan langkahnya yang terseok-seok.
Tubuh besar Emir dan kaki panjangnya membuat dia melangkah dengan cepat sementara tidak dengan Mutia.
Sedikitpun Emir tak memiliki rasa iba, rontaan serta makian yang diucapkan istrinya tak dia dengarkan, hatinya penuh di selimuti kemarahan.
dengan kasar dia mencampakkan tubuh istrinya ke dalam rumah dan mengunci pintu apartemennya Mutia hanya bisa meringis memegangi tangannya yang merah bekas cakalan dari Emir namun dia tidak menyerah dia bukanlah gadis bodoh yang pasrah begitu saja ketika dirinya dilindas dia berdiri dan menatap Emir dengan lantang.
"Apa kau pikir kau bisa lari dariku?tidak kau bermimpi." ucap Emir di depannya.
Mutia menyipitkan matanya, "Hai tuan angkuh dan sombong!" ucapnya menunjuk wajah Emir tanpa rasa takut.
"Siapa yang mau kabur?" tanya dengan suara tinggi
"AKu? Kau pikir aku mau kabur! ya?" bentak Mutia.
"Aku hanya keluar mencari makanan, karena jika aku bertahan disini, aku bisa mati kelaparan." jelas gadis itu.
"Tapi kenapa kau tidak kembali?" bentak Emir tak kalah emosi.
"Aku tidak punya kuncinya," jawab gadis itu.
Emir merasa kaget, dia tersadar jika dirinya belum memberikan password rumah itu pada Mutia
Mutia tertawa remeh, "Lain kali kau harusnya berpikir, jika ada manusia lain disini, aku juga butuh makan." ucap gadis itu lalu berjalan pergi.
Emir masih tidak terima disalahkan oleh Mutia kembali Dia menari dengan gadis itu hingga garis itu tertarik kuat bahkan tubuhnya menabrak tubuh Emir.
"Kau bisa menghubungkan ku?" tanyanya masih diliputi emosi.
"Menghubungi mu dengan apa? apa aku punya nomor ponsel mu?" lagi gadis itu bicara dengan pelan. Namun bagai sebuah tamparan bagi Emir.
"Lepas, aku mau istirahat." sahut Mutia.
Gadis itu melangkah ke dalam kamarnya. Dan Emir dia terdiam, menyadari semua kesalahan nya.
Derrrt ponselnya berdering, dengan cepat dia mengambilnya dari saku celana.
__ADS_1
"Maaf tuan, kami belum mana mukanya tapi dari informasi yang kami dapat tadi Nyonya duduk di depan gedung apartemen ini."
"Nyonya sudah pulang," Tut....panggilan terputus.