
"Sebentar lagi mereka semua akan kemari" Ucap Yoongi pada Aera.
"Bukankah hanya Yoora saja yang ke sini kenapa tiba-tiba semuanya"
"Aku bahkan belum membeli bahan masakan Oppa, tinggal daging dan sayuran saja yang di kulkas aku akan keluar untuk berbelanja sebentar" Lanjut Aera.
"Tidak perlu Seokjin hyung sudah berbelanja, hari ini kita akan BBQ"
"Lagi pulang apa kau tidak capek, aku begah sekali melihat perutmu yang semakin membesar"
"Jelas semakin membesar Oppa karena usianya hampir 5 bulan"
"Jadi kapan kita akan ke Swiss?" Tanya Yoongi.
"Apa ketika kita berbulan madu nanti?" Lanjut Yoongi menggoda.
"Oppa stop berbicara hal itu aku dan anak ku hanya hidup berdua" Ucap Aera sedih.
"Tapi aku tulus Aera" Ucap Yoongi sambil menatap lekat kedua sorot mata Aera.
"Jika memang benar Oppa mencintaiku. Percayalah akan ada tiba saatnya dimana Oppa merasa lelah karena terlalu mencintaiku. Aku yakin akan ada wanita baik yang menjadi takdirmu nanti"
"Kau bisa memegang ucapanku. Aku akan selalu mencintaimu dan anakmu,anak kita nanti"
"Maaf Oppa, tapi aku takut kecewa dan kembali sakit untuk yang kedua kalinya"
"Beri aku kesempatan untuk membuktikannya"
"Beri aku waktu untuk memikirkan hal ini Oppa"
Satu jam kemudian terdengar suara deru mesin mobil dari halaman depan. Yoongi yang berada di taman samping segera keluar untuk menyambut yang datang. Ternyata mobil Seokjin yang duluan datang, setelah itu di susul Jimin dan Hoseok yang datang bersama Yumi, kekasihnya.
"Masuklah eonni, Yoora. Maaf aku belum menyiapkan apa-apa"
"Tenang saja Seokjin Oppa sudah berbelanja banyak sekali" Ucap Yoora gembira.
"Hallo keponakan, sudah berapa bulan Ra?" Tanya Irenne.
"Hampir 20 minggu eon, doakan sehat sampai persalinan nanti ya"
"Hai Aera, apa kabar?" Tanya Yumi sambil mengelus perut Aera.
"Hai Yumi aku baik, kamu apa kabar. Lama ya tidak jumpa"
Saat para wanita tengah mengobrol di depan pintu ada dua mobil yang datang bersamaan. Satu berwarna hitam dan satunya lagi berwarna merah menyala. Ga Eun terlihat turun dari mobil berwarna hitam itu lalu berjalan menghampiri mereka.
"Eonni, jika Ga Eun turun dari mobil itu lalu yang berada di mobil satunya siapa?" Tanya Aera.
"Aku juga baru melihat mobil itu, apa jangan-jangan tamu dari perusahaan papahmu" Ucap Irene.
"Aku sepertinya pernah melihat mobil merah itu di rumah ... " Ucap Yoora.
Yoora belum sempat meneruskan ucapannya tiba-tiba saja sesosok pria tampan terlihat turun dari mobil berwarna merah terang itu.
"Kim Taehyung!" Seru Aera.
"Maaf eonni, semuanya. Aku ke kamar dulu, kalian lanjutkan saja BBQ-an nya" Ucap Aera berjalan cepat meninggalkan semuanya.
"Eonni biar aku saja yang menyusul Aera, eonni beritahu yang lainnya saja" Kata Yoora.
Yoora dan Irenne dengan cepat berlari memencar, Yoora yang mengejar Aera, Irene berlari menghampiri Seokjin. Sementara Yumi dan Ga Eun berlari mengejar Irenne.
"Sayang, ada Taehyung di depan bersama Jungkook" Ucap Irenne membisiki Seokjin di telinganya.
"Yoon, Taehyung sudah ada di depan" Ucap Jin.
"Biarkan dia masuk"
"Sudahlah, lebih baik aku menyusul Aera di kamarnya saja" Ucap Irenne.
"Kalian berdua mau ikut denganku atau membantu menyiapkan bahan disini?" Lanjut Irenne.
Di dalam kamarnya Aera terlihat sangat murung dan gelisah.
"Aku bukannya tidak ingin Taehyung berada di sini, hanya saja aku takut jika kembali terjadi keributan seperti waktu itu. Dan bahkan ketika aku melihat wajah nya entah kenapa aku merasa hatiku sangat sakit sekali"
"Itu hal wajar Aera, itu reaksi ilmiah tubuh ketika kita melihat sesuatu yang tidak kita sukai"
"Apa aku boleh memberimu saran?" Ucap Yoora hati-hati.
"Silahkan!"
"Saranku lebih baik kau temui Taehyung dan ajaklah ia berbicara. Aku tahu hal ini sangat sulit untukmu, tapi apa salahnya jika kau mencobanya?" Ucap Yoora.
"Aku rasa apa yang dikatakan oleh Yura ada benarnya juga" Ucap Irenne tiba-tiba.
"Eonni sejak kapan ada di situ? Masuklah!"
Irenne, Yumi dan Ga Eun berjalan memasuki kamar Aera. Yumi dan Ga Eun duduk di sofa samping ranjang besar Aera.
"Jika kau masih mencintainya katakan saja dengan jujur! Ungkapkan semua yang mengganjal di hatimu semuanya" Ujar Yoora.
"Benar Aera, kami semua akan mendukungmu" Ucap Yumi.
"Tapi hatiku masih sangat sakit jika mengingat perkataannya dulu"
"Maka dari itu temui dia dan berbicaralah! Ayo berdamai dengan dirimu Aera. Tatap matanya jika kau berbicara dengannya karena mata menyimpan segala kejujuran" Kata Yoora.
"Ayo Aera semangat!" Ucap Irenne sambil memeluk.
"Terimakasih Yoora, eonni dan semuanya!" Ucap Aera turun dari ranjang dan memeluk mereka semua.
"Ayo kita turun ke bawah bantu dulu para pria di sana. Aku takut jika mereka semua menghancurkan dapur" Ucap Irenne.
Irene, Yumi dan Ga Eun berjalan terlebih dahulu menuruni tangga sementara Aera dan Yoora di belakangnya. Selama Aera menuruni tangga mata Taehyung tidak lepas memandangnya. Sampai akhirnya Aera berjalan di depan Taehyung lalu tersenyum kepadanya.
Taehyung terus menatap lengkap perut Aera entah apa yang ada di pikiran Taehyung ketika menatap tajam perut buncit Aera.
""Hei apa yang kau lihat Tae?" Ucap Irenne sambil menepuk bahu Taehyung.
"Aish kenapa nuna hobi sekali mengagetkan orang" Protes Taehyung.
"Ada apa eonni?" Tanya Yoora yang melihat Taehyung menjauh dari kerumunan.
"Aera cepatlah kejar Taehyung" Perintah Yoora.
"Tapi bagaimana jika nanti Yoongi Oppa mencari ku?"
__ADS_1
"Cepat katakan padanya, aku yakin Yoongi akan mengerti" Ucap Irenne.
"Yoongi Oppa, kemari lah!" Teriak Aera.
"Kenapa kau harus berteriak Aera!" Ucap Yumi sambil membekap mulut Aera.
"Eonni, lama jika aku harus berjalan ke arah Yoongi Oppa" Ucap Aera dengan mulut manyun.
"Kenapa berteriak seperti itu?" Tanya Yoongi Aera segera menarik tangan Yoongi menjauhi semuanya.
"Lihatlah itu!" Ucap Aera sambil menunjuk Taehyung yang tengah duduk di samping kolam ikan.
"Bolehkah aku berbicara dengannya? Hanya sebentar!" Ucap Aera memastikan.
"Silahkan"
"Terimakasih Oppa"
Aera menjauh dari Yoongi dan berjalan menuju tempat di mana Taehyung duduk.
"Hai Kim, apa kabar?" sapa Aera dengan suara bergetar karena ia menahan tangis.
"Aku baik, kamu kenapa kemari?" Tanya Taehyung yang menatap Aera.
"Bolehkah aku duduk di sampingmu, Kim?"
"Silahkan" Ucap Taehyung yang terus menatap ke arah perut Aera.
"Sudah berapa bulan usia kandunganmu?" Tanya Taehyung tiba-tiba.
"Sudah hampir dua puluh minggu"
"Apa kau tidak bising disini? Mari duduk di sana!" Ucap Aera sambil menunjuk gazebo yang ada di tengah taman.
"Ada suatu hal yang ingin aku bicarakan denganmu"
"Baiklah" Ucap Taehyung sambil berdiri dari tempatnya.
Aera berjalan terlebih dahulu di depan, sementara Taehyung berjalan di belakang Aera. Taehyung mengamati wanita di depannya itu dari atas sampai ke bawah. Tiba-tiba saja air matanya lirih begitu saja. Mengingat betapa buruknya perlakuan dan ucapannya pada wanita yang ada di depannya waktu itu.
Mengeluarkan ucapan yang mungkin sampai saat ini masih membuat wanita itu sakit hati. Jika mengingat kembali hal itu Taehyung merasa sangat bodoh telah mengatakan Jika ia ragu dengan janin yang ada di dalam kandungan wanita itu. Betapa bodohnya ia mengatakan hal seperti itu kepada eomma calon anaknya, padahal dengan jelas ia yang merenggut kesucian wanita itu sendiri malam itu.
Saat sampai di gazebo tehyung masih terpaku menata perut Aera. Rasanya ingin sekali yang mengelus perut yang sudah membesar itu tapi takut jika Aera tidak mengizinkannya.
"Aera" Ucap Taehyung sangat lirih bahkan hampir tidak terdengar.
"Iya, kenapa?" Tanya Aera lembut.
Taehyung langsung memeluk tubuh mungil Aera tanpa aba-aba menumpahkan segala tangis rindu dan amarah menjadi satu.
"Hei kamu kenapa tiba-tiba seperti ini?" Tanya Aera.
"Maafkan aku Aera"
"Taehyung-a dengarkan aku! Kau tidak perlu meminta maaf ini hanya salah paham dan tidak ada yang bersalah dari kejadian ini. Kita semua hanya korban dari keegoisan orang tuaku"
"Aku merasa bersalah karena telah membuatmu seperti ini, bahkan aku telah menghinamu dan darah daging ku sendiri aku menyesal Aera sangat" Ucap Taehyung sambil tertunduk.
"Kamu tidak perlu merasa seperti itu Aku sudah melupakan semuanya" Balas Aera.
Hening tidak ada lagi yang berbicara di antara mereka berdua. Hanya terdengar suara gemericik air dari dalam kolam ikan, mereka berdua merasa canggung karena sudah lama sekali mereka tidak berbicara berdua seperti ini.
"Kenapa?" Aera menoleh menetap Taehyung.
"Kapan jadwal ke dokter kandungan selanjutnya? Bolehkah aku ikut?"
"Besok, sebelum keberangkatan ku ke LA"
"Baiklah besok aku akan menjemputmu"
"Tidak perlu, aku saja yang menjemputmu"
"Aku berada di rumah ibuku Aera, lebih baik aku saja yang menjemputmu"
"Apa salahnya jika aku ke rumahmu? Apa aku tidak ingin anakmu dekat dengan nenek dan kakeknya?" Tanya Aera menyelidik.
"Baiklah, aku mengalah"
"Kau masih tetap sama seperti dulu Taehyung-a" Ucap Aera berkaca-kaca.
"Ayo masuk ke dalam cuacanya tiba-tiba mendung sekali" Ucap Taehyung mengalihkan.
"Bolehkah jika aku meminta waktumu untuk selamanya Kim Taehyung?"
"Apa maksudmu Aera?" Tanya Taehyung tidak paham.
"Bohong jika aku berkata aku sudah melupakanmu. Dari dalam lubuk hatiku aku masih sangat mencintaimu" Ucap Aera yang menangis dan berteriak.
"Aera ayo masuklah! Aku mohon jangan seperti ini, aku tidak mau semuanya salah paham lagi denganku" Ucap Taehyung sambil menggandeng tangan Aera.
"Bawa aku pergi dari sini dan nikahi aku secepatnya!"
Taehyung benar-benar terkejut mendengar ucapan Aera. Namun ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri ia senang mendengar hal itu keluar dari bibir Aera.
"Hai dengarkan Aku akan ada laki-laki yang sangat mencintaimu melebihi rasa cintaku padamu Aera" Ucap Taehyung sambil memegang kedua pipi Aera.
"Apa Yoongi Oppa?"
"Lalu bagaimana jika aku tidak mencintainya? Apa kamu tega melihatku menerima dan berpura-pura mencintainya? Aku sudah menganggapnya tidak lebih dari seorang kakak laki-laki"
Taehyung memeluk tubuh Aera erat mengelus puncak kepalanya dengan sangat lembut.
"Beri aku waktu untuk memikirkan hal ini ya, kali ini aku tidak ingin juga dalam mengambil keputusan" Ucap Taehyung lembut.
Dari dalam rumah yang hanya terbatas kan dengan dinding kaca untuk melihat taman. Yoongi melihat mereka berpelukan.
Yoongi dengan sekuat tenaga menahan emosi. Nafasnya naik turun dengan cepat di kala melihat wanita yang dicintainya berpelukan dengan lelaki lain.
Namun dengan cepat akal logika Yoongi meredakan emosinya.
"Kenapa aku harus marah melihat mereka berpelukan? Aera sedang mengandung anak Taehyung. Bahkan Aera belum sepenuhnya menjadi milikku!"
Yoongi berjalan meninggalkan dinding kaca itu dan duduk di sofa ruang tamu. Ia memejamkan matanya sambil terus berpikir apa yang harus dilakukan agar Aera segera menerimanya. Karena sangat tidak mungkin jika ia menggunakan cara yang kotor.
Di saat ia sedang berfikir, ia mendengar suara Taehyung di dalam ruangan yang sama dengannya sedang berbicara dengan Jimin.
Lalu ia membuka matanya dan melihat tempat di mana Jimin berada, benar saja Taehyung sedang berbicara dengannya, sementara Aera membantu menyiapkan bahan di dapur.
__ADS_1
"Aera bagaimana tadi?" Tanya Yoora.
"Dia akan mengantar ke dokter besok"
"Hei kenapa wajahmu sangat sembab, kau menangis?" Tanya Irene yang baru datang sambil membawa mangkuk di kedua tangannya.
"Aku tidak apa-apa eonni, aku habis mencuci muka ku" Jawab Aera bohong.
"Apa kau sedang berbohong padaku?" Tanya Irenne sambil menatap menyelidik.
"Ti .. tidak, kenapa aku harus berbohong?" Ara gugup ditatap Irenne seperti itu.
"Lalu bagaimana tadi?" Tanya Irene.
"Ia akan mengantar ke dokter besok"
""Semoga ini awal langkah yang baik untuk kalian berdua" Ucap Irenne.
""Semoga saja" Jawab Aera cuek.
"Semangat Aera" Ucap Ga Eun.
Yumi memeluk Aera
"Kalian ini kenapa lama sekali membersihkan sayuran?" Ucap Seokjin yang tiba-tiba muncul.
"Asyik mengobrol saja!" Lanjutnya.
"Ini sudah siap" Irene memberikan beberapa potong sayur yang sudah di cuci bersih oleh Yumi dan beberapa potong yang akan dijadikan BBQ.
"Oppa, ini daging untuk steak nya" Ucap Ara.
Mereka semua berkumpul di taman belakang, hanya Taehyung dan Jimin yang berada di dalam rumah membantu menyusun piring dan minuman di ruang makan.
"Kau yakin akan memakan steak lagi? Kau terlalu banyak memakan daging Aera" Ucap Yoongi pelan.
"Kenapa? Aku menginginkannya Oppa"
"Biarkan Yoon, wanita hamil harus selalu di turuti" Teriak Jin.
Satu jam lamanya mereka membakar semua daging, Jungkook bertugas membagi makanan di piring. Aera memilih duduk di samping Jimin, entah kenapa ia merasa malas sekali berada di ruang makan.
"Aku keatas sebentar ya" Ucap Aera.
"Yoora temani Aera ke atas" Perintah Seokjin.
"Baik Oppa"
"Tidak perlu, aku akan mengajak Taehyung ke atas" Ucap Aera.
Semua yang berada di meja makan terkejut dengan ucapan Aera, begitupun dengan Taehyung yang sedang memasukkan makanan ke dalam mulutnya langsung tersedak.
Jimin dengan cepat memberikan minuman kepada Taehyung.
"Ayo ikut aku ke atas" Ucap Aera kepada Taehyung.
"Maaf tapi aku sedang makan, kau bisa mengajak Yoona" Ucap Taehyung.
Taehyung sekilas menatap Yoongi dan Seokjin sambil mengangkat kedua bahunya.
"Ikutlah dengannya" Ucap Yoongi.
"Tapi Hyung?" Jawab Taehyung ragu.
"Tidak apa-apa, ikutlah saja" Ucap Yoongi meyakinkan Taehyung.
Taehyung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti Aera menaiki tangga. Taehyung bingung kenapa Aera harus mengajak dirinya, kenapa tidak para wanita yang berada di bawah sana saja.
Mereka berdua berhenti tepat di depan pintu, Aera membuka pintu itu dan mengajak Taehyung masuk.
"Ini kamar si .. siapa?" Tanya Taehyung gugup sambil melihat sekelilingnya, aneh sekali kenapa banyak foto Haneul dan keluarganya yang sudah meninggal di sini. Tidak hanya satu atau dua foto saja yang terpajang di dinding tapi hampir ratusan foto.
"Ini kamarku! Tidak ada yang tahu ruangan ini kecuali aku!" Ucap Aera.
"Kenapa kamu mengajakku kemari?" Tanya Taehyung.
"Karena aku merindukanmu, i want your body Kim Taehyung!" Ucap Aera menyeringai.
"Aera, kenapa kamu seperti ini? Aku mohon beri aku waktu untuk memikirkannya kembali" Pinta Taehyung.
Aera memegang dada bidang Taehyung, memeluknya dan menghirup aroma parfumnya. Membuka kancing atas kemeja Taehyung.
"Ara jangan!" Bentak Taehyung.
"Kau membentak ku Kim Taehyung? Baiklah akan aku tunjukkan" Aera dengan cepat melucuti pakaian yang menempel di tubuhnya.
Taehyung dengan jelas melihat perut buncit Aera dengan polos tanpa sehelai benang pun.
"Aera pakai kembali pakaianmu!"
"Bagaimana jika aku tidak mau?" Ucap Aera memutari Taehyung sambil meraba lehernya, Taehyung bergidik geli.
"Aku tahu kau dengan kuat menahan hasratmu Kim, kenapa harus malu? Bukankah kita sudah sering melakukannya?"
"Situasinya sedang tidak tepat Aera" Taehyung berjalan menuju pintu, memegang handle pintu untuk membukanya namun tidak bisa.
"Buka pintunya sekarang Aera" Ucap Taehyung.
"Aku tidak mau sebelum kau memuaskan ku! Mau kau berteriak sekeras apapun tidak akan ada yang mendengar" Ucap Taehyung.
Taehyung segera merogoh handphonenya di saku, ia berniat menelepon Jimin. Namun tanpa disangkanya Aera merebut handphone itu dan membantingnya hingga hancur.
"Kau keterlaluan Aera!"
"Kau yang keterlaluan, sudah membuatku mengandung anakmu, mencampakkan aku, bahkan kau menghinaku!" Teriak Aera.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Taehyung.
"Aku menginginkan tubuhmu!" Ucap Aera lantang.
"Lama sekali kau Kim Taehyung!" Aera menggandeng tangan Taehyung dan membawanya duduk ke ranjang lalu menidurkan ia dengan paksa.
Sementara Taehyung memberontak, Ara langsung menarik paksa kemeja Taehyung hingga dua beberapa kancingnya terlepas. Aera duduk di atas perut Taehyung.
"Aera jangan"
"Lakukan saja Kim, aku tahu kau juga menginginkannya. Aku merasakan milikmu sudah mengeras di bawah sana!"
__ADS_1
"Kau menantang ku Aera?" Ucap Taehyung!
...----------------...