
Disekolah Seokjin, sudah masuk jam istirahat. Seokjin dan kedua sahabat nya yakni Jungkook dan Taehyung berjalan menuju kantin.
"Jin, kau pesan minuman saja kan? " tanya jungkook
"nde Hyung. eomma sudah bawakan jinnie bekal. " jawab Seokjin
"obat dan vitamin mu bawa? " Jungkook
"bawa hyung. ada dikelas, jinnie akan meminumnya setelah makan dan saat kita kembali ke kelas. "
"oh baiklah kalau begitu, jangan sampai lupa ya. lalu kau mau pesan apa alien? " jungkook
"siapa alien Hyung? memangnya disekolah kita ada yang namanya alien? kok jinnie baru tahu?" tanya Seokjin polos
"bukan. maksdku si Taehyung. dia kan suka bersikap di luar nalar, makanya aku memanggilnya alien. " jelas jungkook pada Seokjin
"enak saja kau mengubah namaku. namaku itu sudah bagus, jangan kau ubah dasar kelinci. " Taehyung
"ya sudah, kau mau pesan apa? " tanya Jungkook sekali lagi
"ramen tapi jangan pedas. minum nya jus apel saja. " jawab taehyung
"oke. kau disini jaga jinnie. lihat arah 9,ada si pengganggu bodoh. jangan sampai dia mengganggu jinnie. " pesan jungkook
"nde. tidak akan kubiarkan si jihoon itu mendekati uri jinnie. " Taehyung
setelah mendengar jawaban dari Taehyung, Jungkook pergi untuk memesan makanan. dan benar saja, jihoon dan teman temannya berjalan mendekati meja yang telah diduduki Taehyung dan Seokjin.
"wah lihat si anak lemah sudah bisa sekolah juga hari ini. " ejek jihoon untuk Seokjin
Taehyung dan Seokjin tidak menanggapi nucapan ji hoon. bahkan Taehyung sibuk bersiul memainkan lagu yang ia tahu dengan suara siulannya itu, sedangkan Seokjin sibuk ketawa dengan tingkah sahabatnya itu.
MErasa di diamkan dan tak di tanggapi, ji hoon merasa kesal. dia pun menggebrak meja, dan itu berhasil membuat Taehyung dan Seokjin melihat kearah dirinya.
"yak Park Jihoon. kau ini apa apaan hah? datang datang mencari masalah. kau ini kurang perhatian? sampai harus bertingkah memalukan seperti ini.? " taehyung
"siapa yang kau bilang kurang perhatian eoh? " ji hoon
"kau. siapa lagi. ayolah park bodoh ji hoon. kita ini hanya murid Sekolah Dasar, jangan bersikap preman. kau masih terlalu kecil untuk menjadi Bad boy. " ucap Taehyung
"diam kau kim Taehyung. aku tidak mempunyai urusan denganmu. urusanku dengan anak lemah yang ada di sebelah mu. " jihoon
"urusan apa eoh? kenapa kau selalu saja mengganggunya, dia bahkan tidak menyapamu , sudah sana kembali ke mejamu, aku ingin makan dengan tenang. " Taehyung
"jelas menggangguku. ku dengar dia tidak memiliki ayah. bahkan tidak tahu siapa ayahnya. jangan jangan dia anak yang tidak di harapkan, makanya ayahnya pergi meninggalkan dia dan ibunya. " jihoon
Seokjin yang mendengar ejekan dari ji hoon terkejut, dia tidak Terima jika dirinya dikatakan anak yang tidak diharapkan oleh ayahnya. dia ingin marah namun sebelum dia mengeluarkan kata kata mutiara miliknya, taehyung sudah menendang kaki ji hoon duluan.
"kau. jaga bicaramu.!! kau pikir kau itu siapa berani mengatakan hal seperti itu pada sahabat ku. dan satu lagi, itu bukan urusanmu.!! "
"dengar ji Hoon ah. kau kupastikan akan mendapatkan hukuman dengan perkataan mu itu. kau lupa siapa pemilik sekolah ini? aku dengan mudah meminta pamanku untuk mengeluarkan mu dan teman temanmu dari sini. kau paham?!!! ' marah Taehyung pada ji hoon.
" jangan. jangan laporkan aku. aku tidak ingin dikeluarkan dari sekolah. aku hanya ikut ikutan saja. tolong jangan laporkan aku Taehyung. " mohon teman ji hoon yang bernama Yunho dan diikuti oleh kedua teman ji hoon yang lain.
"ck.. lihatlah ji hoon. bahkan temanmu saja tidak membelamu. tolong sadar diri, kau jauh lebih menyedihkan dari sahabat ku. " ucap Taehyung merasa puas melihat jihoon terpojok belum lagi dikhianati oleh ketiga antek anteknya.
Ji Hoon yang merasa terpojok, merasa malu dan memilih pergi meninggalkan kantin.
"ck.. masih kecil saja sudah seperti itu. bagaimana jika sudah besar. bisa saja dia jadi ketua gangster. " gumam Taehyung
Setelahnya, dia melihat Seokjin yang menundukkan kepalanya. Taehyung tahu, jika Seokjin merasa sakit hati dengan perkataan ji hoon.
"jinnie.. " panggil Taehyung dengan suara lembut nya.
Seokjin masih setia dengan posisinya itu. hingga Jungkook akhirnya datang.
"ada apa ini? kenapa dengan jinnie? " tanya jungkook dengan nada khawatir karena. melihat Seokjin menundukkan kepalanya.
"kau dari mana saja? kenapa lama sekali hanya memesan makanan. " omel Taehyung
"maaf.aku tadi mampir ke toilet sebentar. jawab pertanyaan ku, apa yang terjadi selama aku pergi. "
"ji hoon. dia mengatakan hal yang menyakiti hati jinnie. " Taehyung
"memang apa yang dia katakan? "
"soal... " Taehyung merasa ragu mengatakan nya pada jungkook
"soal apa? kalau ngomong jangan setengah setengah Kim Taehyung."
"soal ayah. " jawab taehyung singkat.
dengan jawaban taehyung itu, tanpa di perjelas lagi, Jungkook sudah tahu mengenai kondisinya. "ayah" satu kata itu memang sangat membuat sahabatnya itu bersedih. Jungkook mendekati Seokjin. dia mengelus punggung Seokjin, ia tahu jika sekarang Seokjin pasti sedang menangis. Jungkook dan Taehyung membiarkan Seokjin untuk melupakan segala emosinya dengan menangis.
.
__ADS_1
.
.
Karena kejadian di kantin tadi, hingga jam pelajaran berakhir, Seokjin berubah menjadi pendiam. dia hanya diam tanpa mengatakan satu katapun. Sampai akhirnya ia dan Jungkook tiba dirumahpun, Seokjin masih saja setia dengan diamnya.
"jinnie kau sudah pulang sekolah? bagaimana hari mu disekolah hari ini sayang? semua baik baik saja kan? " tanya Jihyun
tidak menjawab pertanyaan dari ibu nya, Seokjin melengos pergi menuju kamarnya. jihyun yang merasa ada yang salah dengan sikap dari putranya itu bertanya pada jungkook dan jungkook menceritakan kejadian di sekolah yang ia ketahui dari Taehyung.
Jihyun yang mendengar penjelasan dari Jungkook mengangguk mengerti. memang setiap hal yang berhubungan dengan kata "ayah" mood Seokjin akan langsung berubah menjadi buruk dan itu salah dirinya. Jihyun kembali menyalahkan dirinya atas kesedihan Seokjin.
Jihyun dan jungkook memilih untuk membiarkan Seokjin menenangkan suasana hati dan pikirannya terlebih dahulu baru setelahnya Jihyun akan bicara pada sang putra. Jungkook pun memilih untuk istirahat di kamar tamu.
Sudah dua jam Jihyun membiarkan Seokjin untuk menyendiri, dia berinisiatif ingin kekamar anaknya dan berbicara pada Seokjin. Namun, ketika Jihyun membuka pintu kamar Seokjin, dilihatnya Seok Jin sedang tertidur pulas membelakangi dirinya. Jihyun mendekati Seokjin dan mengelus rambut lembut anaknya.
"maafkan eomma sayang, jika eomma selalu membuatmu sedih dengan ketidakadaan sosok appa dihidup mu. maafkan eomma karena keegoisan eomma membuatmu terluka. tapi percayalah nak, suatu saat nanti kau pasti bisa bertemu bahkan berkumpul dengan appa dan Hyung mu. sabar ya sayang. " ucap Jihyun, iapun mengecup kepala Seokjin sebelum pergi meninggalkan kamar putra nya.
.
.
.
hari sudah semakin sore, sudah waktunya untuk makan malam. Jihyun kembali pergi ke kamar Seokjin untuk membangunkan sang anak.
"oh.. kau sudah bangun sayang? eomma baru saja ingin membangunkanmu. " Jihyun
"hmmm... " jawab Seokjin
"kok jawabnya hanya " hmmm". tidak seperti biasanya. jinnie mau cerita pada eomma?" Jihyun
Seokjin melihat Jihyun, dan tak lama air matanya turun.
"loh kok anak tampan eomma nangis? sayang ada apa? " tanya Jihyun sedikit panikdan memeluk sang anak
"eomma.. "
"iya sayang.. kau jangan menangis nanti kepalamu bisa sakit. tenang ya ada eomma disini.." Jihyun menenangkan Seokjin
"eomma.. appa.." ucap Seokjin masih dengan tangisnya yang terisak
Seok Jin masih berusaha menenangkan hatinya sebelum ia meneruskan kata katanya.
"appa dimana? kenapa appa tidak pernah menemui jinnie? appa benar-benar tidak menyayangi jinnie? apa benar yang dikatakan Ji hoon kalau jinnie anak yang tidak di harapkan eomma? "
"eomma yakin, appamu sangat menyayangimu hanya saja. waktunya belum tepat untuk kalian bertemu. " jelas Jihyun
"kapan eomma? sampai kapan jinnie harus menunggu appa datang menemui jinnie hiks.. "
"sabar sayang. eomma janji akan mempertemukan kalian jika waktunya sudah tepat ne.. eomma janji nak. sekarang jinnie jangan sedih lagi, eomma akan ikut sedih jika pangeran kecil eomma bersedih seperti sekarang. "
Seokjin menganggukkan kepalanya, dan mencoba untuk memberhentikan tangis nya.
"cahhh.. kita sekarang pergi makan malam dulu ya, eomma sudah memasak makanan kesukaan anak eomma yang tampan nan imut ini. "
"nde eomma gomawo. ah, dimana kookie Hyung? jinnie tidak melihat kookie Hyung masuk kamar jinnie? "
"kookie ada di kamar tamu sayang. dia tidak ingin mengganggumu jadi dia beristirahat di kamar tamu dulu. "
"ohh begitu.. "
Seokjin ingin bangun dari posisinya, namun baru saja berdiri, dia jatuh terduduk di tempat tidurnya dan membuat Jihyun terkejut sekaligus khawatir.
"jinnie sayang, kau kenapa nak? " tanya Jihyun khawatir, ia duduk di sebelah Seokjin sambil merangkul sang anak, yang memegang kepalanya.
"sakit eomma. tiba tiba kepala jinnie terasa seperti berputar.. sshh... " keluh Seokjin
"apa sangat sakit sayang? kau terlalu banyak menangis dan berfikir sayang.. kondisi mu belum sehat betul. kita ke rumah sakit saja ne. "
"tidak mau eomma.. jinnie tidak apa apa. nanti juga pusingnya hilang. "
"ya sudah, eomma akan mengambil makan malammu dulu, kau makan di kamar saja ya eomma temani. "
"ani.. jinnie ingin makan di meja makan bersama Halmeoni dan kookie hyung. eomma tenang saja, ini sudah mulai hilang pusingnya. "
Jihyun memijat ringan tengkuk leher Seokjin berharap meredakan sedikit rasa pusing di kepala putranya. merasa sudah lebih baik, Seokjin ingin beranjak dari tempat tidurnya namun ditahan oleh Jihyun.
"eomma gendong saja ya sayang. "
"tidak mau. jinnie kan sudah besar, malu kalau di gendong eomma. nanti kookie Hyung dan Halmeoni akan menertawakan jinnie. "
"tidak nak. kau mau eomma gendong saja atau makan di kamarmu. pilih mana? eomma tahu Kepala mu masih terasa sakit kan? "
Dirasa tidak memiliki pilihan, Seokjin akhirnya setuju untuk di gendong ala koala oleh Jihyun karena memang kepalanya masih terasa sedikit sakit.
__ADS_1
Melihat Seok Jin di gendong oleh Jihyun, young ae dan jungkook terlihat khawatir.
"Jihyun ah, kenapa dengan jinnie? apa dia sakit? kenapa kau menggendong nya? " tanya young ae
"iya eomma. tadi jinnie mengeluh kepalanya sakit. dan dia bersikeras ingin makan bersama daripada makan di kamarnya sendiri.
Jihyun mendudukkan Seokjin dikursinya, terlihat wajah nya yang pucat.
" sayang.. kau terlihat sangat pucat. kita ke rumah sakit saja ya, biar min hoo samchon memeriksamu. " young ae
"jinnie baik baik saja Halmeoni. pusingnya juga sudah mulai hilang. "
"kau yakin jinnie? " jungkook
"nde Hyung.. jangan khawatir. sebaiknya kita mulai makan. jinnie sudah lapar. hehehe. "
.
.
.
suasana hening sunyi menyelimuti meja makan keluarga Kim. Namgil, NamJoon, Tuan dan nyonya Kim tidak ada yang membuka topik pembicaraan, sehingga semuanya hanya diam dan fokus dengan makanannya.
"aku sudah selesai." namjoon, setelah itu dia beranjak ingin kembali ke kamar miliknya, namun langkahnya di cegat oleh Tuan Kim
"duduk.dan tunggu kami selesai makan, baru kau bisa kembali ke kamar mu Kim NamJoon. " titah tuan Kim
"jika kau mau ke kamar, pergi lah nak. appa tahu kau sedang banyak tugas sekolah bukan." namgil
lebih memilih mendengar ucapan sang ayah, namjoon berlalu pergi meninggalkan ruang makan.
"begitulah caramu mengajarkan anakmu sopan santun? " nyonya Kim
"sudah ku katakan, dia putraku. hanya aku dan Jihyun yang berhak mengatur dan memberi titah pada nya bukan KALIAN. " ucap namgil dingin
"kau.. mau sampai kapan kau bersikap kurang ajar seperti ini pada orang tuamu?!! " tuan kim
"sampai kalian benar benar terlihat seperti orang tua dan kakek nenek yang pantas untukku dan namjoon. " sarkas namgil dan diapun berlalu pergi meninggalkan kedua pasangan paruh baya itu.
"hah.. kenapa namgil dan namjoon berubah seperti ini yeobo? aku tidak Terima mereka memperlakukan kita tidak hormat seperti ini. " marah nyonya kim
"tenanglah. kau jangan tersulut emosi. kita harus memikirkan cara untuk mengembalikan sikap mereka untuk kembali hormat pada kita. " tuan Kim
.
.
.
sementara itu, namgil duduk di teras balkon mansion nya menghubungi seseorang.
"bagaimana sudah kau dapatkan informasi anak itu.? " tanya namgil pada orang diseberang telepon
"iya tuan. namanya Lee Seokjin usia 10 tahun siswa sekolah dasar Hybe elementary school kelas 3."
"Hybe elementary school? bukannya itu sekolah dimana jongsuk mengajar? " namgil
"benar tuan. tuan jongsuk juga merupakan wali kelas anak itu. "
"lalu informasi apa lagi yang kau dapatkan? "
"lee Seokjin merupakan putra dari lee Jihyun tuan, mantan istri tuan, namun tidak ada informasi mengenai siapa ayahnya, karena hingga sekarang nyonya Jihyun belum menikah lagi. "
"apa??!! kau yakin? jika Seokjin anak dari Jihyun? " tanya namgil terkejut dengan informasi yang ia dapat dari anak buahnya.
"iya tuan. saya yakin dengan yang saya dapatkan. "
"kau tahu alamat mereka tinggal? " namgil
"sudah saya dapatkan tuan. akan saya kirim pada tuan. "
"baiklah. Terima kasih atas informasi mu. kerja bagus, bilang pada Chen untuk tetap mengawasi Jihyun jangan sampai ketahuan. " titah namgil
"baik tuan. "
Namgil mematikan handphonenya, dan menatap kedepan, tiba tiba pikiran nya penuh dengan fakta yang baru ia dapatkan.
'siapa ayah dari Seokjin? kalau Jihyun memang belum menikah sejak berpisah denganku. mungkinkah jika Lee Seokjin itu adalah putraku?'
Namgil terus memikirkan kemungkinan yang terjadi.
.
.
__ADS_1
.
TBC