SEKAR UNTUK ARJUNA

SEKAR UNTUK ARJUNA
Kejujuran


__ADS_3

"Stop!"


Langkah Arjuna tak berhenti, dia malah semakin mendekat ke arah Sekar yang sudah mundur beberapa langkah.


"Lo jujur, Sekar. Lo juga punya rasa kan sama gue?"


Sekar diam membisu. Semilir angin yang entah dari mana, masuk, membelai anak rambutnya, bergerak gelisah serupa hatinya sendiri saat ini.


"Gue udah ngira emang gak seharusnya gue ikut lo malam ini."


Sekar menoleh ke samping, rasanya dia bingung harus menanggapi Arjuna bagaimana. Arjuna yang kini semakin dekat dengannya kini meraih bahu gadis itu lembut.


"Lo pikir gue gak susah payah menekan rasa ini? Gue berusaha untuk menepisnya, Sekar. Gue berusaha untuk gak sembarangan punya rasa ini buat lo. Tapi gue gak bisa cegah itu! Apalagi setelah gue sadar, Neira sangat nyaman sama lo. Gue pikir ... "


Kalimat Arjuna terhenti sesaat.

__ADS_1


"Apa yang lo pikir, Mas?" tanya Sekar lirih sekali.


"Gue pikir lo yang pantas jadi ibu buat Neira. Bukan Ema, bukan Lola, atau perempuan lainnya."


Sekar memalingkan wajahnya lagi, kali ini membuatnya jadi berhadapan dengan Arjuna. Mata keduanya bertemu, pandangan mereka jadi bersatu.


"Gue sayang Neira, Mas. Sejak pertama kali gue lihat Neira, gue udah punya rasa itu. Tapi, gue gak mungkin lancang untuk berpikir bisa menggantikan posisi mbak Eva karena ibu punya standar sendiri dalam memilih perempuan yang pantas untuk menjadi ibu bagi cucunya."


"Tapi nyokap gue sayang lo, Sekar. Dia udah anggap lo anak sendiri. Dia pasti setuju kalo gue nikahin elo."


Sekar menggeleng pelan. Meski dia tahu bahwa nyonya Mira adalah seorang perempuan kaya yang baik, tapi dia memang sangat pemilih jika itu urusannya tentang menantu. Standar nyonya Mira tetap saja terlalu tinggi bagi Sekar yang hanya perempuan biasa.


Apa tidak lancang jika dia mengiayakan keinginan Arjuna? Sementara semua orang tahu, bahwa Arjuna adalah keturunan konglomerat yang sangat memperhatikan bibit, bebet dan bobot dari calon menantunya.


Lalu, siapalah Sekar?

__ADS_1


"Ibu emang baik, Mas. Tapi gue yakin, dia gak akan pernah mengubah keputusannya untuk mempersatukan lo sama wanita pilihannya. Lagipula, lo kan baru kenal gue. Kenapa lo harus menyatakan hal yang seharusnya gak perlu kayak gini?"


"Kalo gue gak punya perasaan apapun sama lo, gue gak akan pernah bilang kalo gue jatuh cinta sama lo, Sekar. Gue bisa ngomong sama nyokap, gue bisa kasih pengertian ke dia. Sekarang lo jujur sama gue, gimana perasaan lo ke gue?"


Sekar menunduk dalam, dia sendiri sebetulnya tak akan bisa membohongi Arjuna bahwa apa yang Arjuna rasakan, dia pun merasakannya.


"Gue ..."


"Jujur, Sekar, gue gak mau lo tutupin perasaan lo."


Sekar menarik nafas panjang, ditatapnya lelaki itu lekat seolah sedang menggali kejujuran yang sama pula dari manik matanya yang hitam pekat dan tajam.


"Gue juga punya rasa yang sama kayak lo, Mas."


Arjuna menarik segaris senyum, lalu diraihnya gadis itu ke dalam pelukannya yang hangat. Sekar awalnya ragu, tapi kemudian dia melingkarkan lengannya di sepanjang pinggang Arjuna.

__ADS_1


"Kasih gue waktu untuk jelasin perasaan kita sama mama dan papa."


Sekar tak menjawab, lidahnya kelu, dia rasa ini tak akan berjalan lancar. Namun, kepalanya malah mengangguk lemah, seolah membenarkan semua rencana Arjuna ke depannya.


__ADS_2