
Betul kata Arjuna yang sudah begitu hafal suasana jalanan Jakarta di jam selarut ini. Jakarta tetap saja ramai, banyak orang-orang yang lapar di jam seperti ini. Salah satu warung lesehan menjadi pilihan Juna dan Sekar.
"Pesen makanan yang lo mau." Arjuna menyerahkan daftar menu kepada Sekar yang segera menerimanya.
"Mas mau makan apa?"
"Pengennya makan elo," celetuk lelaki itu sambil melihat ponselnya. Sekar melempar tisu ke wajah lelaki itu.
"Serius, Mas!"
"Samain aja, Sekar."
Akhirnya Sekar memilih menu utama di tempat itu. Pilihannya jatuh pada ayam goreng dengan sambel hijau. Sekar segera menyerahkan daftar menu kepada pelayan yang datang untuk melihat pesanannya.
"Gue takut Neira bangun, Mas."
Sekar berkata dengan cemas. Arjuna mengangkat wajahnya kemudian tersenyum kecil.
"Enggak, tenang aja."
Sekar menarik nafas panjang, dia memang sangat khawatir saat ini. Sempat merasa kesal juga karena melihat Arjuna yang tenang-tenang saja.
Tak berapa lama kemudian, pesanan keduanya datang. Mereka mulai makan. Sekar nampak makan dengan lahap, melihat itu membuat senyum selalu terbit di wajah Arjuna.
"Gimana, enak kan?" tanya Arjuna.
__ADS_1
"Enak, Mas. Enak."
Sekar tersenyum tapi kemudian, senyumnya perlahan hilang, ketika dia bertatapan dengan seseorang tepat di belakang Arjuna yang memang posisi mereka tidak jauh dari pintu masuk warung lesehan itu.
Sekar berusaha tidak memperdulikan seseorang yang baru saja datang itu. Dia kembali menekuni makanannya, menganggap seseorang tadi tak penting.
"Wah ... Kebetulan nih ketemu elo."
Sekar mengangkat wajahnya, kini ternyata, sepupunya yang maha kepo itu sudah berdiri tepat di samping tempat makannya dan Arjuna. Lalu tanpa aba-aba, dia ikut duduk, dia sadar jika Sekar bersama seorang lelaki tampan.
Arjuna masih diam, alisnya sempat terangkat satu kala melihat gadis dengan pakaian seronok yang membuat pandangannya menjadi geli itu.
"Mas, siapanya Sekar? Gue Selvi," katanya sambil mengulurkan jemari.
Arjuna menatapnya sekilas tanpa berminat untuk menyambut uluran tangan itu. Arjuna tahu betul perempuan semacam apa Selvi ini, dan karena melihay gelagat tak suka dari Sekar sejak kedatangannya, jadi Arjuna tahu pula bahwa ia pun nampaknya tak perlu beramah tamah kepada gadis itu.
Meski tak disambut uluran tangannya, Selvi tetap berusaha untuk melihat Juna dengan teliti. Kemudian dia memekik.
"Wah, Mas yang punya perusahaan gede itu kan? Yang bulan kemarin sempat digosipkan punya hubungan sama model terkenal itu kan?"
Sekar menatap Selvi dengan pandangan semakin tak suka.
"Mau ngapain sih lo? Pergi sana. Gangguin orang aja!"
"Ya elah, Sekar. Mentang-mentang lo dapet gadun kaya gini, makanya lo berani usir gue. Lupa lo kalo kita sepupuan? Gue bilangin nyokap gue ya kalo elo ..."
__ADS_1
"Lo gak punya sopan santun ya?"
Perkataan Arjuna yang singkat itu membuat Selvi segera membungkam mulutnya. Dia menatap Arjuna dengan pandangan tak senang tapi tetap berusaha disembunyikannya.
"Gue gak peduli lo sepupuan atau enggak sama Sekar. Tapi kalo tingkah lo norak begini, mendingan lo pergi dari sini. Sekar gak ada urusannya sama lo."
Karena sudah malu dibilang begitu oleh Arjuna, Selvi akhirnya memilih beranjak dari sana. Dia pergi ke meja lain, bergabung bersama beberapa temannya dengan penampilan serupa.
"Sorry ya, Mas, Selvi emang gitu."
"Lo utang cerita sama gue, Sekar. Ada banyak hal yang gue pengen tahu tentang lo."
"Gak ada yang istimewa, Mas, dari gue. Gue cuma anak yatim piatu yang udah dibuang adik nyokap karena dia ngerasa rumah nyokap dulu dia yang lebih berhak buat nempatin."
"Nyokapnya cewek itu?" tanya Arjuna merujuk pada Selvi.
"Iya. Dari dulu gue emang gak pernah akur sama Selvi."
"Gue bisa bantu lo buat ambil lagi rumah itu."
"Gak usah, Mas. Percuma, surat yang tertera dan udah ditanda tangani nyokap gue pasti udah kuat banget di mata hukum. Gue gak mau rebutan hal yang pasti gak akan pernah jadi milik gue."
Arjuna menatap Sekar sendu, apalagi saat Sekar tampak tersenyum kecil menutupi kesedihannya karena ingat kedua orangtuanya yang sudah tiada. Diraihnya jemari gadis itu lalu digenggamnya lembut.
"Semua hal bisa direkayasa, Sekar, apalagi kalo itu soal harta."
__ADS_1
Kali ini Sekar diam, memang sejak awal ada yang janggal dari bibinya. Hanya saja, Sekar memang tak ada bukti.