
Rintik air hujan masih jatuh satu-satu, membasahi pekarangan luas rumah milik keluarga tuan Beno. Mata Arjuna sedari tadi menatap ke kolam renang, yang airnya terlihat bergerak-gerak kecil kena percikan air hujan. Sedari sore, dia tidak melihat Sekar. Sekar ada, tetapi sibuk mengurusi Neira dan kemudian masuk kamar ketika Neira sudah tidur.
Berkali-kali dia mencoba mengetuk pintu kamar Sekar, tapi tak ada jawaban. Dia pikir, Sekar tertidur karena sekalipun tengah belajar, Sekar tak akan mengabaikan panggilannya.
Sudah hampir pukul delapan malam, Arjuna akhirnya tidak tahan untuk menunggu terlalu lama. Dia rindu kepada Sekar yang ditinggalkannya bekerja seharian ini. Apalagi besok dia harus ke Singapore. Tentu waktunya tak lagi banyak hari ini untuk sekedar mengobrol penuh rindu dengan gadis itu.
"Sekar?"
Arjuna yang sudah berada di depan pintu kamar, terus mengetuk pintu, berharap Sekar segera membukanya. Namun, sekian banyak ketukan di pintu itu, belum ada tanda-tanda Sekar akan membukanya.
Arjuna mulai awas, beberapa pelayan bisa saja lewat dan memergokinya. Akhirnya setelah ketukan yang kesekian, pintu kamar itu terbuka. Arjuna segera masuk, tak lupa menutup pintu agar tak ada yang tahu bahwa sekarang dia ada di kamar Sekar.
"Kenapa lama banget bukain pintunya?" tanya Arjuna sambil mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Maaf, Mas. Cuma lagi pusing sedikit, besok kan aku ikut test."
Arjuna mengangguk, kemudian menepuk sisi sebelahnya, meminta Sekar untuk duduk di sampingnya. Sekar menurut, ia mulai duduk dengan tenang setelah mengambil bantal dan menjadikan tumpuan.
__ADS_1
"Ada yang aneh sama kamu malam ini. Kayaknya bukan cuma lagi pusing mikirin soal test besok, tapi juga ada yang dipikirin selain itu."
Sekar menoleh, menatap Arjuna sambil mengatupkan bibirnya untuk beberapa saat. Dia tak mau langsung menjawab sebab apa yang dikatakan oleh Arjuna itu benar. Dia juga sedang risau, sebab besok lelaki itu akan berangkat ke luar negeri dan katanya Ema juga akan ikut.
"Ada, Mas."
"Ngomong dong. Aku mana tahu kalo kamu cuma diem dan menghindar gini."
"Aku nggak menghindar kok," kilah Sekar. Arjuna menaikkan satu alisnya, lalu dirangkulnya bahu gadis itu.
"Terus kenapa dari sore aku gak lihat kamu? Kayaknya kamu sengaja menghindar dari aku."
"Besok, Mas jadi ke Singapore?" tanya Sekar.
"Jadi, Sayang. Kan kamu dengar sendiri, papa minta besok aku tetap harus pergi."
"Ehmmmmm, sendiri?" tanya Sekar lagi.
__ADS_1
Arjuna mengerutkan keningnya, tapi kemudian dia mengangguk.
"Kamu mau ikut?"
Sekar menggeleng, bukan itu maksudnya. Ada hal lain yang dia risaukan. Namun, nampaknya Ema tak jadi ikut Arjuna besok, buktinya, Arjuna tidak mengatakan dia akan pergi bersama Ema. Arjuna pasti tidak akan bohong jika memang perempuan itu akan ikut dengannya besok.
"Enggak, Mas, aku cuma khawatir aja." Sekar akhirnya tersenyum, meski masih ada rasa khawatir yang terasa di hatinya. Namun, mengetahui bahwa Arjuna hanya akan berangkat sendiri besok, sudah membuat dia cukup merasa tenang.
"Nanti aku bawain oleh-oleh. Ntar aku telepon kalo udah di sana."
Sekar mengangguk, perlahan direbahkannya kepala di bahu lelaki itu. Untuk sejenak, keduanya diam, merasakan indahnya perasaan yang sudah saling tertaut satu sama lain saat ini.
"Mas Juna serius gak sama hubungan ini?" tanya Sekar lirih, tapi Arjuna yang sedemikian dekat dengannya itu tentu saja bisa mendengarnya.
"Lebih dari serius, Sekar. Tapi semuanya butuh proses. Ngomong sama mama dan papa juga butuh waktu. Kamu juga lagi sibuk test untuk masuk kuliah, jadi aku cuma gak pengen semuanya berantakan, kita cari waktu yang pas ya untuk bilang semua ini ke mereka."
Sekar mengangkat wajahnya, dia sendiri takut. Takut jika kelak pandangan ibu dan bapak akan berubah terhadapnya. Takut jika kelak dianggap sebagai perempuan tak tahu diri. Tapi, dia juga takut kehilangan Arjuna. Kini, setiap kali Ema datang ke rumah, Sekar seperti sedang berhadapan dengan perempuan yang memusuhinya secara diam-diam. Kini, setiap melihat bapak dan ibu, dia seperti sudah melakukan sebuah kejahatan atas kebohongannya dan Arjuna selama ini.
__ADS_1
"Jangan takut, Sekar. Aku Arjuna, gak pernah main-main soal perasaan."
Sekar menatap lelaki itu, kemudian mengangguk perlahan lalu menerima kecupan yang berubah menjadi ******* penuh di bibirnya oleh lelaki itu.