
Arjuna sedang menanti seorang rekan bisnisnya di sebuah restoran cepat saji yang ada di Singapura. Namun, pikirannya malah melayang sampai ke Jakarta. Sedari tadi dia berusaha menghubungi Sekar tapi tak ada jawaban.
Lalu dia ingat bahwa Sekar hari ini sedang mengikuti ospek yang lumrah diikuti calon mahasiswa dan mahasiswi baru di setiap kampus.
"Kenapa mesti susah-susah ikut ospek segala sih?" tanya Juna pada wajah Sekar di wallpaper ponselnya.
Sejenak dipandanginya foto Sekar yang sedang tertawa bersama Neira itu. Hatinya seketika sejuk. Juna mengenang awal pertama berjumpa dengan Sekar dan senyum selalu saja terbit di bibirnya.
Tak lama kemudian, perhatiannya teralihkan dengan kedatangan rekan bisnisnya yang telah melambai dari kejauhan.
Di kampus sendiri saat ini sedang ramai karena kegiatan ospek yang tengah berlangsung. Sekar berdiri di urutan ke tiga di belakang seorang gadis yang lebih tinggi sedikit darinya.
"Kamu!"
Sekar menatap kakak senior dengan name tag Rani itu dengan pandangan tenang. Dia tak tahu apa gerangan kakak senior yang paling cantik itu memanggilnya dengan sedikit membentak.
"Gak punya mulut? Jadi gak bisa jawab?" tanyanya dengan sinis sambil berjalan mendekat ke arah Sekar.
"Ada apa, Kak?" balas Sekar akhirnya dengan pertanyaan pula.
"Tahu kesalahan kamu apa?" tanya Rani.
Sekar menarik nafas sejenak, sebelum dia menjawab. "Tali sepatu saya tidak pelangi seperti yang lain, Kak. Maaf, tapi memang kemarin saya cari tidak ketemu."
"Maaf?! Enak aja kamu bilang maaf!"
"Ran, udah, dia udah izin gue kok tadi. Gue yang ngebolehin dia masuk ke lapangan."
Sekar dan Rani sama-sama mengarah ke satu orang yang tengah mendekat kepada mereka. Itu Arka.
"Gak bisa gitu dong, Ka. Aturan ya tetap aturan."
"Ya udah, dia masuk ke ruangan aja, tar gue yang urusin."
__ADS_1
Arka memerintahkan itu kepada Sekar yang mau tak mau dituruti oleh Sekar segera. Sementara, Rani menatap Sekar dengan pandangan tak suka. Namun, dia tetap melanjutkan kegiatan dan membiarkan Arka membawa Sekar dengan tatapan tak rela.
Sekar sendiri sekarang sudah berada di ruangan bersama Arka dan ketiga kakak senior yang kebetulan ada di ruangan itu pula. Sekar tetap tenang, sementara teman-teman Arka di dalam ruangan itu bersiul-siul nakal menggoda mereka.
"Sorry ya, Rani emang gitu, Sekar. Gak bisa lihat ada junior yang lebih cantik dari dia."
Sekar tertawa kecil mendengarnya dan hanya mengangguk saja. Dia sama sekali tidak peduli dengan ketidaksukaan Rani terhadap dirinya, yang penting dia ikut kegiatan ospek ini dengan baik dan sebagaimana mestinya.
"Gak papa, Kak. Lagian memang saya juga yang salah."
Arka tersenyum lalu memperhatikan Sekar cukup lama membuat Sekar mulai tak nyaman. Sekar jadi memalingkan wajahnya.
"Gini aja Sekar, lo bisa kan sapu ruangan ini aja sebagai bentuk hukuman. Biar entar Rani gak rese lagi sama lo."
"Gak masalah, Kak."
Sekar menjawab dengan senang hati. Dia mulai mengambil sapu dan Arka mengabadikannya dalam bentuk foto untuk bukti dokumentasi.
***
Sore hari Sekar selesai mengikuti ospek. Ia pulang dari keadaan cukup lelah. Atribut ospeknya juga belum dilepaskan. Namun, saat dia pulang, tak ada suara Neira maupun kakek neneknya.
"Neira lagi sama tuan dan nyonya, Sekar."
Sekar tersentak, melihat bi Ratih yang mendekat ke arahnya.
"Oh, aku kira ada, Bi."
"Enggak, katanya mbak Ema udah balik dari Singapore, makanya mereka ajak Neira ke rumahnya Ema."
Sekar tertegun, Ema sudah pulang, apa Arjuna sudah pulang juga? Tadinya Sekar mau bertanya kepada bi Ratih, tapi kemudian mengurungkannya. Ia takut pelayan itu nanti curiga, walaupun sebenarnya sah-sah dan wajar saja dia bertanya tentang Arjuna yang diketahui memang sedang di Singapore juga.
Sekar melihat jam, sudah pukul empat sore lewat lima belas menit. Harusnya Arjuna sudah pulang kalau dari perbincangan mereka kemarin di telepon. Sekar betulan kangen, rasa ingin sekali berada di dekat Arjuna saat ini.
__ADS_1
Ia berjalan dengan lesu menuju kamarnya di belakang. Rumah itu terasa benar-benar sepi selain karena memang megah sekali, juga karena tak ada suara Neira yang berceloteh riang khas bayi seperti biasa.
Namun, setelah Sekar menutup pintu kamar, dia merasa tubuhnya dipeluk dari belakang. Terasa hembusan hangat nafas seseorang menerpa tengkuknya. Sekar menoleh, mendongak karena tingginya lelaki itu, lalu menatap Arjuna yang tersenyum kepadanya masih dengan memeluk tubuhnya erat.
Lelaki itu tercium wangi sekali juga sangat tampan dengan kemeja ketatnya yang terbuka beberapa kancing di bagian atas.
"Mas Juna!" Sekar segera berbalik, balas memeluk Arjuna yang mendekapnya erat.
"Kangen ya?" bisik Juna lembut, Sekar mengangguk. Jujur, dia memang kangen.
Jadi ketika Arjuna mulai meraih dagunya, mengangkat wajahnya dan mendudukkan Sekar di atas pangkuannya, Sekar sama sekali tak bisa menolak saat lelaki itu memberikan ciuman lembut dan mulai memagutnya mesra dan lebih menuntut ketika Sekar mulai membalasnya.
Saat Arjuna mulai menjelajai leher jenjang Sekar, Sekar menggeleng.
"Bau, Mas. Keringetan," kata Sekar serak.
Arjuna tertawa kecil lalu memberikan kecupan lembut di leher Sekar dan merebahkan wajahnya di atas dada Sekar yang berisi.
Terada gejolak berbahaya mulai membayangi Sekar, tetapi sesuatu yang menuntut lebih terasa nyata lagi, seolah meminta hal yang lebih menantang dari hanya sekedar kecupan yang selama ini mereka lakukan.
Namun, Sekar segera sadar diri, pesona Arjuna sebagai pria dewasa memang begitu memabukkan. Pun begitu bagi Arjuna, ranum dan segarnya Sekar membuat sisi dewasanya bergejolak hebat minta dituntaskan.
"Aku kangen banget, Sayang. Bisa gak sih, kita gini terus, dekat, gak jaim-jaiman."
"Mas Juna, aku takut perasaan Mas cuma sesaat."
"Kenapa mikir gitu? Kamu gak percaya?"
Sekar memalingkan wajahnya, Arjuna memandangnya gemas lalu mengecup pipi gadis itu lembut.
"Aku ini pria dewasa, Sekar. Jujur, aku pengen tidur sama kamu. Pengen banget, aku gak munafik, aku suka semua yang ada sama kamu. Tapi aku tahu, itu terlalu terburu-buru dan aku gak mau kamu berpikir aku suka kamu cuma untuk menikmati sesuatu yang belum sepatutnya aku nikmati. Tapi kamu harus tahu, aku gak gampang jatuh cinta dan sayang sama perempuan. Kamu juga harus paham, alasan aku tinggalin Lola dan menjauh dari banyak perempuan di luar sana, itu karena kamu. Gini aja aku udah senang kok."
Sekar menatap Arjuna dalam diamnya, dia menunduk sesaat tapi kemudian memberanikan diri mengecup bibir Arjuna lagi. Lelaki itu membalasnya, memberikan kecupan yang semakin menuntut dan berbahaya.
__ADS_1