
Satu minggu sudah berlalu. Arjuna belum juga kembali ke Indonesia, sebab pekerjaannya di Singapura belum selesai. Sekar juga sudah mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti ospek yang besok akan berlangsung. Jadi hari ini dia sibuk membeli peralatan untuk aspeknya.
Meskipun sekarang zaman sudah semakin modern dan maju, tapi di Indonesia ospek masih tetap ada bagi para mahasiswa dan mahasiswa baru sebenarnya sudah banyak sekali instansi yang menghimbau untuk menghapus kegiatan ospek tersebut, tetapi banyak sekali universitas yang meyakinkan mereka bahwa tidak akan ada pembullyan di ospek kali ini, walaupun pada kenyataannya pada praktik lapangan kerap kali masih ditemukan hal semacam itu.
"Bu," panggil Sekar ketika dia melihat nyonya Mira sedang bersama Neira.
"Kamu udah mau pergi untuk beli peralatan ospek besok?" tanya nyonya Mira lagi.
"Iya, Bu, cuman kalau boleh, Sekar mau ajak Neira sekalian. Sekalian ajak Neira jalan-jalan, Bu," ujar Sekar sambil memperhatikan langit sore yang memang tidak terlalu panas lagi dan Neira juga sudah selesai mandi.
"Nanti akan merepotkan kamu, Sekar."
"Nggak kok, Bu, Sekar memang sengaja pengen ajak Neira jalan-jalan, tapi itu juga kalau ibu mengizinkan."
"Neira mau ikut?" tanya nyonya Mira kepada cucunya dengan gaya yang lucu. Neira yang masih kecil itu hanya mengangguk mengangguk khas bayinya dan sambil tertawa-tawa, dan melihat Neira yang sudah meminta digendong oleh Sekar, akhirnya nyonya Mira mengizinkan. "Ya udah, nggak apa-apa sekarang kamu bawa Neira. Tapi kamu diantar sopir aja ya, jangan pakai kendaraan umum."
"Iya, Bu," kata Sekar dengan riang.
Dia segera menyiapkan gendongan depan yang biasa dibawanya untuk mengajak Neira berjalan-jalan. Setelah rapi dan Neira sudah berada di dudukan gendongan, Sekar keluar dari rumah itu dan masuk ke dalam mobil yang akan segera mengantarkannya ke toko, tempat peralatan di mana dia akan membeli barang-barang untuk kepentingan ospek.
Neira tampak riang berada di dekat Sekar. Sekar juga tidak berhenti mengajaknya bercanda selama mereka dalam perjalanan dan setibanya mereka di tempat tujuan. Sekar segera turun dan mengajak Neira bersamanya serta dengan sopir yang sudah menunggunya di luar.
Saat tengah asyik bersama Neira dan memilih barang-barang yang akan dibelinya, ponselnya bergetar di dalam saku celana. Ia segera mengambilnya, di sana tertera nama Arjuna. Sudah beberapa hari ini mereka lost komunikasi.
Akhirnya karena sedang melihat Neira bersamanya juga, Sekar mengangkat panggilan telepon dari kekasihnya itu.
__ADS_1
"Kamu masih marah sama aku?" tanya Arjuna setelah Sekar mengangkat teleponnya.
Sekar tak menjawab untuk beberapa saat, tapi kemudian dia menggeleng lalu menatap Arjuna yang mengubah panggilan suara menjadi panggilan video itu, terlihatlah sekarang Sekar bersama Neira. Neira terlihat semangat sekali ketika melihat wajah papanya di layar ponsel.
"Halo, Sayang, lagi jalan-jalan sama mama ya?"
Mendengar kata-kata itu, wajah Sekar jadi bersamy merah, tapi tak urung bibirnya menyunggingkan senyum. Hal itu dilihat oleh Arjuna dan membuat lelaki itu tersenyum pula.
"Aku pulang besok, tapi mungkin sampainya agak malam karena aku nggak naik pesawat penerbangan pagi."
"Iya, Mas, hati-hati aja," kata Sekar singkat.
"Kamu lagi di mana sama Neira?" tanya Arjuna lagi.
"Lagi beli peralatan buat ospek, Mas. Kamu udah makan?" tanya Sekar akhirnya. Dan ketika mendapat perhatian itu dari Sekar, Arjuna semakin menyunggingkan senyumnya lebih lebar.
"Aku juga udah kok, Mas. Mas lagi di hotel?"
"Enggak, Sayang, ini aku lagi di luar baru aja selesai meeting sama temennya papa."
"Ehmmmmm ..."
"Nggak Ema, Sayang, aku di sini sendiri. Kamu tenang aja, aku nggak pernah sekalipun satu ruangan atau satu kamar sama Ema selama kami berada di Singapura."
"Ya udah, kalau gitu Mas Juna jangan lupa istirahat. Aku juga bentar lagi kayaknya mau balik, Mas. Neira udah ngantuk."
__ADS_1
"Ya udah, Sayang, hati-hati ya. Nanti kalau udah di rumah dan kalau kamu lagi nggak sibuk, telepon aku ya."
"Iya, Mas."
Sambungan telepon itu kemudian dimatikan. Sekar menarik nafas panjang, sebenarnya dia rindu berat kepada lelaki itu tetapi perdebatan mereka beberapa hari yang lalu membuatnya enggan untuk menghubungi Arjuna terlebih dahulu dan lagi pula dia juga tidak mau mengacaukan kegiatan Arjuna yang memang sedang padat- padatnya.
Ketika Sekar hendak mengambil sebuah tali yang akan dibuat menjadi pita untuk kepentingan ospek besok, tak sengaja tangannya disentuh oleh seseorang yang ingin mengambil benda yang sama. Sekar segera melihat siapa orang itu, dia sama sekali belum pernah melihatnya tetapi pemuda itu malah tersenyum menatapnya.
"Sekar, nggak nyangka kita ketemu di sini," sapa lelaki itu sambil tersenyum. "Arka, Sekar," lanjutnya seolah menjelaskan kepada Sekar siapa dirinya. Sekar segera tersadar bahwa dialah pemuda yang sudah meneleponnya beberapa hari yang lalu.
"Oh, Kak Arka. Sorry, gue sama sekali nggak tahu kalau itu lo."
"Nggak papa, Sekar. Gue juga ke sini karena buat kepentingan ospek besok. Ini adek lo ya, Sekar?" tanya Arka sambil menunjuk Neira yang sedang terkantuk-kantuk di atas gendongan dan dalam dekapan Sekar saat ini.
Sekar menggeleng perlahan, tapi dia tersenyum ketika menatap Neira lalu memandang lagi kepada Arka.
"Ini anak asuh gue. Gue mengasuh anak orang, Kak."
Arka mengangguk-angguk saja, tadinya dia pikir gadis kecil dalam gendongan Sekar itu adalah adiknya, tapi dia baru tahu ternyata Sekar adalah seorang nanny. Hal itu tapi tidak membuat Arka memandang Sekar sebagai orang kecil, dia malah kagum dengan Sekar yang bisa dengan telaten mengasuh anak orang lain itu.
"Kak, gue mau bayaran dulu ya, kebetulan Neira juga udah ngantuk, kami harus cepat pulang."
"Oh, namanya Neira. Ya udah, Sekar, hati-hati ya. Tapi ini gue bantu bawain keranjangnya ya sampai ke kasir," tawar Arka yang kemudian diangguki oleh Sekar, karena dia memang agak kesulitan sebab sambil menggendong Neira dan juga harus membawa keranjang berisi barang belanjaannya itu.
Setelah selesai melakukan transaksi, Sekar segera keluar dari tempat itu, dia masuk ke dalam mobil dan mulai fokus terhadap Neira yang sudah tertidur. Ia tersenyum dan mendekap Neira dengan lembut.
__ADS_1
Dalam hati Sekar berbisik, pasti akan sangat menyenangkan kalau dia benar-benar bisa menjadi ibu sungguhan bagi Neira, sebab Sekar benar-benar sudah menyayangi gadis kecil itu. Namun, hal itu secepatnya ditepis saat dia menyadari bahwa hubungannya dengan Arjuna mungkin tak akan bertahan lama, ia tidak tahu apakah Tuhan akan berpihak kepadanya terkait perasaannya terhadap Arjuna dan hubungan mereka yang tersembunyi selama ini.
Sekar juga dihantui rasa bersalah dan juga rasa takut jika nanti tidak lagi memperoleh kepercayaan dari ibu dan bapak angkatnya, jika mereka tahu hubungan yang sudah terjadi di antaranya dan Arjuna saat ini.