SEKAR UNTUK ARJUNA

SEKAR UNTUK ARJUNA
Empat Mata


__ADS_3

Sekar tak tahu, besok jadi atau tidak, Ema berangkat bersama Arjuna. Dia memilih tak mencari tahu lebih dalam, apalagi saat ini, Ema terlihat sedang bersenda gurau bersama nyonya Mira dan Neira. Sekar hanya melihat dari kejauhan. Di tangannya ada buku yang sesekali dia tekuni untuk mempersiapkan diri besok.


Lalu pandangan Ema kembali bertemu dengan Sekar. Sekar tersenyum kecil, Ema membalasnya sama singkat. Sekar memilih untuk pergi ke kamarnya saja, membiarkan Neira untuk bersama nenek dan calon ibu pilihan sang nyonya.


Namun, ketika dia baru saja mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang berukuran sedang itu, pintu kamarnya diketuk. Sekar mengerutkan dahi, dia pikir itu pelayan lain.


"Mbak Ema?"


Ternyata dugaannya salah, Ema lah yang kini berdiri di hadapannya. Perempuan itu masih sama, tersenyum ke arahnya.


"Boleh aku masuk, Sekar?" tanya perempuan itu.


"Boleh, Mbak. Silahkan."


Sekar membuka pintu lebar, membiarkan perempuan itu masuk. Aroma parfum mahal seketika menyeruak wangi masuk ke dalam indra penciumannya.


"Boleh tutup aja pintunya, Sekar? Aku mau bicara cukup serius sama kamu. Aku lebih nyaman kalau gak ada orang yang akan mendengar pembicaraan kita hari ini."


Meski awalnya merasa cukup aneh, tetapi pada akhirnya, Sekar menuruti. Dia menutup pintu perlahan lalu duduk di samping Ema, di tepi ranjangnya.


"Kamu tidur di sini, selama tinggal di rumah ini?" tanya perempuan itu sambil memandang berkeliling.


"Iya, Mbak. Sebetulnya ada kamar di atas, tapi aku lebih suka di sini, Mbak."


Ema mengangguk-angguk seolah paham.

__ADS_1


"Bagus, ini lebih baik, Sekar. Kamar di atas yang kamu maksud itu, kamar yang dekat dengan kamarnya Juna kan?"


Sekar diam sebentar tapi kemudian dia mengangguk lagi.


"Aku rasa memang lebih pantas kamu di sini," lanjut Ema sambil tersenyum. "Maksudku, memang lebih baik kamu di kamar ini saja, Sekar. Sebab rasanya kurang pantas kalau kamarmu dan Arjuna berdekatan."


Sekar hanya tersenyum kecil, sampai sekarang dia belum paham betul apa maksud Ema.


"Mbak, ada apa sebenarnya? Ada hal penting yang mau Mbak bicarakan? Mungkin tentang Neira?" tanya Sekar.


Ema memandang Sekar lama, kemudian dia menggeleng.


"Aku gak mau membicarakan tentang Neira, Sekar. Ada hal lain yang mengusik pikiranku."


"Tentang apa, Mbak?"


Sekar diam lagi, perasaannya mulai tak nyaman. Perbincangan tentang dia dan Arjuna tentu saja akan cukup sensitif apalagi sekarang Sekar dan Arjuna mempunyai hubungan yang sangat spesial dan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tak ada siapapun yang tahu.


Apa Ema sudah bisa mencium gelagat hubungan spesial itu? Sekar berusaha untuk setenang mungkin menghadapi perempuan yang nampaknya ingin mengulik lebih banyak cerita di antara dia dan juga Arjuna.


"Apa ada yang salah antara aku dan juga mas Arjuna di mata Mbak Ema?" tanya Sekar kepada perempuan itu.


"Sekar, aku yakin kamu pasti paham apa yang aku rasakan sekarang. Aku tahu kamu perempuan yang baik, kamu gadis yang sangat baik, karena itu mama sampai sayang dan mau menganggap kamu sebagai anak. Kamu mendapatkan fasilitas yang baik juga di rumah ini, jadi aku sangat berharap, Sekar, kalau kamu tidak menyalahgunakan kepercayaan dari mama dan juga papa tentang hubungan kamu dan Juna."


"Mbak, langsung saja, jangan berbelit-belit. Mbak Ema tidak akan membuatku paham ke mana arah pembicaraan ini."

__ADS_1


Ema tersenyum simpul, dia tak langsung menjawab. Sekilas terlihat oleh Sekar dia sedang menarik nafasnya panjang, nampaknya apa yang akan diutarakan oleh perempuan itu juga tidaklah mudah, terlihat dia cukup ragu-ragu untuk mengatakannya.


"Aku sangat mencintai mas Arjuna, bahkan sewaktu kakakku masih hidup dan menjadi istrinya. Jadi aku berharap, Sekar, gak ada satu orang perempuan pun lagi yang bisa menghalangi hubunganku dengan mas Arjuna karena kami akan segera menikah dan aku gak ingin pernikahan ini gagal."


"Jadi dengan kata lain, Mbak Ema berpikir bahwa mungkin aku adalah orang yang cukup berbahaya bagi hubungan Mbak dan juga mas Arjuna?"


"Enggak, aku cuman pengen kamu janji satu hal, kalau kamu bisa memastikan Arjuna nggak akan pernah menganggap kamu lebih daripada adiknya. Apa saja bisa terjadi, Sekar, di antara laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa yang tinggal dalam satu rumah tapi sebetulnya tidak punya ikatan kandung. Aku akan melakukan hal yang sama kepada kamu, Sekar, aku akan menganggap kamu sebagai adikku karena kamu juga sudah diterima dengan baik di dalam keluarga ini. Sekar, kamu tentu saja paham maksudku kan?"


Sekar mengangguk kecil dia tidak tahu harus memberikan tanggapan seperti apa tapi sebetulnya hatinya sudah berteriak hebat dan menentang, memaksa memperjuangkan hubungannya dan Arjuna. Pembicaraan empat mata ini, dia tahu hanyalah satu dari sekian banyak cara Ema untuk mengulik hubungannya dan juga Arjuna.


Lantas entah apa setelah ini yang harus dilakukan Sekar. Dia bingung, apa mungkin dia putuskan saja hubungannya dengan Arjuna? Lagi pula, hubungan ini masih terbilang baru, jangan sampai berkembang rasa yang semakin besar hingga mungkin akan tersulit lepas.


Ema memutuskan untuk beranjak, tapi baru saja dia hendak meraih gagang pintu untuk keluar dari kamar Sekar, Sekar kembali menghentikan langkahnya.


"Mbak Ema, gimana kalau seandainya mas Arjuna malah nggak pernah setuju dengan perjodohan itu?"


Entah keberanian darimana, pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Sekar.


Ema menatap Sekar dengan pandangan yang kini lain, tapi kemudian dia kembali tersenyum lagi.


"Nggak mungkin, Sekar, mama papa adalah orang yang sangat memperhatikan bibit bebet dan bobot calon menantunya. a


Aku yakin kamu pasti paham."


"Aku nggak lagi bicara soal ibu dan bapak, Mbak, aku bicara tentang kemungkinan perasaan mas Arjuna."

__ADS_1


Ema hanya tersenyum kecil, kemudian dia keluar dari kamar Sekar tanpa meninggalkan jawaban pertanyaan dari gadis itu, tinggallah Sekar sekarang sendiri yang mematung, bingung.


__ADS_2