SEKAR UNTUK ARJUNA

SEKAR UNTUK ARJUNA
Harus Tahu Batasan


__ADS_3

"Ema?"


Juna masih tercenung di depan pintu kamar hotelnya yang sekarang sudah setengah terbuka. Dia sungguh tak tahu jika ternyata Ema akan menyusulnya dan dia tidak tahu pula siapa yang sudah memberi tahu tempat hotel dia menginap.


"Kenapa Mas Juna kaget? Memangnya, mama gak kasih tahu kalo aku juga mau ke Singapore? Dan, Mas gak mau suruh aku masuk ke dalam?" tanya Ema sambil tersenyum.


Arjuna mengerutkan dahinya. Dia tidak tahu betul jika Ema akan pergi ke Singapore juga.


"Ya udah, masuk dulu."


Juna menguak pintu hotel lebih lebar kemudian menutupnya kembali ketika Ema sudah masuk dan duduk di sofa yang ada di sana.


"Memangnya kamu ada kepentingan apa ke sini, Em?"


"Ada kerjaan juga kok, Mas, di sini. Jadi waktu mama bilang kamu kamu ke Singapura juga, aku ngerasa seneng banget. Cuma memang keberangkatan kita beda jam sih."


Sambil tertawa riang, Ema menceritakan dan menjelaskan kepada Juna mengapa dia ada di Singapura juga. Bahkan perempuan itu sudah menyewa kamar hotel tak jauh dari kamar Arjuna.

__ADS_1


"Oh, ya udah kalo gitu. Berapa hari kamu di sini?" tanya Arjuna berbasa-basi kepada Ema.


"Tergantung selesai kerjaannya, Mas. Kalo cepat mungkin kita bisa pulang bareng kan?"


"Lihat entar deh, lagian kok bisa kebetulan banget Em?" tanya Juna sambil mengerutkan dahi. Lelaki itu juga sekarang membuka jendela kamarnya, dia menarik satu batang rokok dan mulai menyesapnya secara perlahan.


Ema yang memperhatikan itu tampak terpesona, dia memang akan selalu suka dengan apapun yang Arjuna lakukan. Sadar sedang diperhatikan begitu lekat oleh Ema, membuat Juna segera menoleh dan menaikkan satu alisnya.


"Apa yang kamu lihat?"


"Ehmmmmm, enggak. Mas Juna itu memang sangat menarik," puji Ema jujur. Juna mengangkat bahunya.


Arjuna berkata dengan santainya sementara Ema nampak terkejut dengan perkataan Arjuna barusan. Dia selama ini melihat Juna sangat patuh kepada ayah dan ibunya, tapi sekarang, kenapa lelaki itu harus menentangnya.


"Maksud Mas Juna apa sih? Kan sudah sepakat kalau aku yang akan jadi ibunya Neira nanti, Mas. Semua keluarga kita baik dari pihak Mas dan pihak aku, juga sudah setuju dengan rencana ini. Aku juga merasa itu hal yang benar, memang akan lebih baik kalau Neira mendapatkan ibu yang memang satu garis keturunan dengan almarhumah kakakku. Aku pikir, Mas Juna lebih paham itu."


Arjuna menatap Ema dengan kening berkerut, baginya, Ema terdengar sangat memaksa. Namun, dia sadar betul dia harus bisa menahan diri untuk tidak secara gamblang membatalkan acara pertunangan itu, dia harus melakukannya perlahan sebab Juna juga sangat menghormati kedua orangtuanya. Dia harus mencari waktu yang tepat untuk mempengaruhi kedua orangtuanya untuk tidak meneruskan acara pengesahan hubungannya dengan Ema. Tak bisa langsung dibatalkan begitu saja.

__ADS_1


"Tapi gak seharusnya kamu memajukan acara pertunangan itu minggu depan dari beberapa bulan lagi. Sorry, Em, harusnya kamu tahu batasan. Kamu juga seenggaknya minta pendapatku dulu."


Menyadari bahwa Arjuna mulai serius sekali, Ema terdiam sesaat. Diam-diam dia jadi menyesal menyusul Juna ke Singapore karena itu artinya dia mau tak mau harus membicarakan hal ini, rencana yang sudah disusunnya dengan sedemikian matang pasti akan hancur berantakan.


"Aku juga punya kriteria terhadap perempuan yang akan jadi pendampingku, Em. Jadi, harusnya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."


Ema tampak semakin terdiam. Dia tak tahu harus berkata apa saat ini. Ibaratnya seorang tersangka yang sudah tertangkap basah, tak ada yang bisa dilakukannya selain menyerah agar masih bisa meraih kesempatan.


"Maafin aku, Mas. Aku bakal bilang kedua orangtuaku dan mama papa Mas Juna untuk kembali ke rencana awal. Aku gak mau sampai batal, Mas."


Juna mengangguk kecil, namun di dalam hati dia sendiri sudah menyusun rencana yang sesuai dengan kehendaknya. Salah satu caranya adalah memundurkan kembali rencana pertunangan itu yang sebetulnya bagi Juna tak akan pernah terjadi.


"Syukurlah kalo kamu ngerti. Kalau begitu, kamu bisa balik ke kamarmu, Em. Aku ngerasa sedikit risih sekarang. Lagipula, aku masih ingin istirahat. Besok jadwalku akan padat."


"Aku bisa temenin Mas Juna besok."


"Gak usah, Em. Kamu istirahat aja, nikmati Singapore ini sesuai dengan tujuan awal kamu ke sini."

__ADS_1


Tujuan aku ya emang kamu, Mas! ujar Ema di dalam hatinya sendiri.


Namun, akhirnya dia mengangguk juga. Dia harus bisa menahan diri karena dia tahu, Arjuna sekarang juga tak akan hanya tinggal diam.


__ADS_2