
Tadi janjinya Arjuna mau langsung pulang ke rumah, tapi mereka malah sekarang berada di pinggir jalan, memang tak terlalu jauh dari rumahnya sendiri.
"Ngapain berhenti di sini, Mas?" tanya Sekar bingung sekaligus waspada. Arjuna ini lelaki penuh kejutan, dan Sekar masih terlalu canggung untuk beromantis ria dengan pria yang baru saja menjadi kekasihnya itu. Kekasih? Eh? Sekar jadi malu sendiri mengenang itu. Tapi betulan kok, mereka kan memang sudah punya hubungan spesial semenjak malam ini.
"Gak papa, soalnya kalo udah di rumah, lo pasti bakal acuh tak acuh ke gue."
Sekar refleks tertawa mendengarnya. Arjuna sekarang jadi seperti bocah, maunya dimanja-manja. Apa begini memang orang yang sedang jatuh cinta?
"Terus maunya gimana? Kalo di depan bapak sama ibu, kan gue mesti jaga sikap, Mas." Sekar berusaha memberikan perhatian kepada lelaki itu. Lalu dengan ragu, di ulurkannya jemari, diusapnya lembut pipi Arjuna.
Arjuna menggenggamnya, membuat jemari lentik Sekar tetap bertahan di sana, seolah dia sedang menikmati kebersamaan dan perhatian yang Sekar berikan.
"Kenapa lo bisa suka gue, Mas?" tanya Sekar tak paham, suaranya terdengar serak.
"Entahlah, mungkin karena Neira juga suka lo. Terus, lo dewasa, Sekar, sikap lo dewasa. Gue suka aja."
"Gue kira lo cuma suka cewek seksi dan cantik, Mas." Sekar terkekeh.
"Itu juga kok," jawab Arjuna polos.
"Tuh kan!!!" Sekar mencubit pipi lelaki itu kesal dan gemas.
__ADS_1
Arjuna mengaduh, lalu mengangkat jemari Sekar dan meletakkannya di dada.
"Deg-degan gak gue?" tanyanya kepada Sekar yang mencoba mencermati detak jantung Arjuna yang begitu terasa di telapak tangannya sekarang.
"Iya, kenapa, Mas? Lo sakit jantung?" tanya Sekar, membuat Arjuna menatap sebal gadis itu.
"Iya, jantung gue sakit semenjak ketemu elo. Jedag jedug gak karuan. Tanggung jawab lo."
Keduanya kemudian tertawa mengenang percakapan konyol barusan. Lalu Arjuna melepaskan kembali jemari Sekar perlahan, gantian menatap gadis itu lekat dan dalam.
"Ntar kalo udah masuk kuliah, fokus belajar aja."
"Loh, emang mau fokus apa, Mas? Kuliah kan kerjanya emang belajar."
Sekar tersenyum simpul, dia paham maksud Arjuna. Lalu dia mengangguk.
"Gue ngerti kok, Mas. Gue niatnya emang mau belajar. Ibu udah baik banget sama gue, masukin gue kuliah, ngasih fasilitas di rumah kalian juga. Kayak gak tahu diri banget kalo gue entar cuma males-malesan."
"Nanti pulang pergi bareng gue ya, Sekar."
"Eh, jangan, Mas. Sekar bisa naik angkot kok."
__ADS_1
"Dibilangin ngeyel!" Arjuna mencubit pipi gadis itu.
Sekar hanya tertawa mendapat perlakuan itu. Sekar tak mengerti, kenapa harus ada rasa yang tercipta di antara dia dan Arjuna. Yang jelas saat ini, di balik rasa canggung yang masih ada, ada bahagia yang begitu kentara.
Arjuna akhirnya melajukan mobilnya lagi. Kali ini, dia tak lewat gerbang belakang, membuat Sekar jadi cemas.
"Gak papa, santai aja, Sekar."
Saat pintu gerbang terbuka, benar saja, mereka melihat tampang security yang berjaga di depan jadi seperti kebingungan.
"Loh, Den, perasaan saya tadi gak ada keluar?"
Arjuna tertawa kecil, dibukanya sedikit jendela kaca mobil. Pak security melongok, matanya melihat Sekar yang duduk dengan tenang, lebih tepatnya mencoba untuk tenang walaupun jantungnya sudah berdegub kencang.
"Keluar lah, Pak, lupaan nih Bapak. Gue kan lewat tadi cuma emang cepet soalnya takut apotik tutup, beliin susunya Neira udah mau abis. Udah-udah, gak usah mikir lagi. Nih, buat duit rokok."
Beberapa lembar uang seratusan membuat pak security jadi lupa segalanya. Dia tertawa sumringah lalu membiarkan Arjuna masuk lagi menuju ke garasi panjang dengan mobil berderet miliknya dan keluarga itu.
Sekar sendiri menghembuskan nafas lega, bersama Arjuna dia segera keluar dan masuk ke dalam rumah yang sepi. Mereka dengan pelan berjalan lalu berpisah ke kamar masing-masing setelah Arjuna memberinya kecupan di kening dengan lembut.
"Tidur yang nyenyak ya."
__ADS_1
Sekar mengangguk, masuk dan menutup pintu kamarnya. Arjuna sendiri merasa sangat bahagia malam ini. Sekarang, Sekar menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, matanya masih enggan terpejam, menatap ke langit-langit dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul empat pagi. Dia meraba pipinya yang bersemu merah, betapa indahnya jatuh cinta.