
Pagi sekali, dengan sudah memakai kemeja yang pas di tubuhnya juga celana jeans sebagai bawahannya, Sekar langsung menuju kamar Neira. Masih ada waktu satu jam untuk pergi ke kampus. Dia bergegas memandikan Neira lalu mengganti bajunya, menyuapi makan dan berpisah dengan gadis kecil itu untuk beberapa jam ke depan.
Sekar melambai pada angkutan umum yang akan membawanya pergi ke kampus. Arjuna sendiri sudah pergi ke bandara karena dia mendapatkan jadwal penerbangan pagi. Lelaki itu tidur di kamar Sekar dan baru keluar saat subuh menjelang.
Sesampainya di kampus, Sekar bergegas melihat di ruangan mana dia harus ikut test. Setelah mendapatkannya, dia segera mencari nomor bangkunya sesuai dengan nomor yang sudah tertera yang diberikan oleh panitia.
Hampir dua jam berkutat dengan test tertulis itu, akhirnya dia menyelesaikan tugas dengan baik. Sekar merenggangkan tangannya, menyerahkan kertas dengan jawaban yang dia yakini sedikit banyak akan memberinya kesempatan bergabung dengan kampus favorit ini.
Setelah keluar, dia segera memeriksa ponsel, ada notifikasi dari Arjuna. Lelaki itu ternyata sudah sampai. Sekar tersenyum. Ia segera menerima telepon dari Arjuna.
"Syukurlah Mas Juna udah sampai. Aku juga baru kelar, Mas," kata Sekar sambil duduk di depan lapangan basket, dimana ada beberapa mahasiswa yang nampaknya sudah senior sedang bermain.
"Ya udah, kamu cepat pulang sama istirahat ya. Nanti aku telepon lagi kalo udah kelar urusan di sini."
"Iya, Mas, kamu juga ya, jangan lupa makan."
__ADS_1
Arjuna tersenyum di ujung telepon dan sambungan telepon itu terputus. Saat Sekar tengah santai memainkan ponselnya, seorang mahasiswa tampan yang sedang istirahat di pinggir lapangan, melihatnya dengan serius.
"Siapa tuh?" tanyanya kepada teman-temannya yang kebetulan sedang berhenti bermain basket juga untuk sekedar minum.
"Kayaknya anak baru yang bakal kuliah di sini juga. Cantik ya, tar kalo ospek, bagian gue deh."
Pemuda yang bertanya barusan menatap temannya jengkel, tapi kemudian dia kembali melihat Sekar yang sudah beranjak dan pergi.
"Ya, belum sempat kenalan gue."
"Kelamaan lo, Ka. Tar aja waktu ospek, pasti tuh anak lulus test kok. Kelihatan anak pintar."
***
Sekar kembali ke rumah, langsung mengajak Neira untuk bermain. Ia bercerita kepada ibu bahwa hari ini dia sangat senang karena bisa menyelesaikan soal test dengan mudah. Sang nyonya mendengarkan dengan seksama sambil tersenyum dan menimpali tak kalah semangat pula.
__ADS_1
Kala malam telah menyambangi, Sekar mendapatkan panggilan video dari Arjuna. Dia segera masuk ke dalam kamarnya setelah selesai menidurkan Neira.
"Belum ngantuk?" tanya Arjuna yang tampak baru saja selesai mandi.
"Belum, Mas. Mas Juna gimana hari ini? Lancar?"
"Lancar kok, Sayang. Bentar ya, aku bukain pintu, kayaknya ada petugas hotel di depan."
Sekar mengangguk, Arjuna meninggalkan ponselnya, bersandar pada kotak tisu di atas meja tepat di samping ranjang sehingga Sekar bisa melihat dengan jelas hotel mewah yang disewa oleh lelaki itu.
Samar-samar ia juga bisa mendengar aktifitas di kama hotel itu sampai akhirnya, Dia mendengar suara yang tak asing lagi baginya. Sekar diam mencermati lalu Arjuna kembali dan mematikan ponsel itu tanpa sempat mengucapkan perpisahan untuk malam itu.
"Tadi kayak suaranya mbak Ema."
Sekar mendesah pelan. Tapi setahunya, Ema masih di Jakarta siang tadi. Apa perempuan itu memang sengaja memilih jam yang berbeda dengan Arjuna?
__ADS_1
Sekar menatap ponselnya yang kini sunyi, sesunyi hatinya karena ditinggal Arjuna pergi. Selain sunyi dan sepi, dia juga merasa gundah, nampaknya Ema tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Arjuna. Sekar menatap langit-langit kamar, lalu tersentak ketika mendengar suara Neira yang menangis kencang dari atas sana.
Dia segera pergi ke kamar gadis kecil itu lalu menggendongnya untuk kembali menenangkan dan membuatnya tidur kembali. Neira cukup rewel malam ini, sementara Sekar masih dengan kerisauannya memikirkan Ema dan Arjuna yang pasti sudah dalam satu tempat yang sama saat ini.