
Sekar sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ospek satu minggu lagi. Dia bersyukur karena akhirnya hari ini pengumuman calon mahasiswa dan mahasiswi baru sudah keluar lewat email. Sekar menjadi salah satu yang diterima di universitas itu.
Ia segera menghubungi Arjuna, tetapi panggilannya tak terjawab untuk beberapa kali. Sekar menatap ponselnya, sesungguhnya dia sangat rindu Arjuna. Sudah tiga hari lelaki itu di Singapura dan sekarang rindunya bagai tak terbendung. Juna juga pasti sedang sangat sibuk, seringnya mereka berkomunikasi ketika sudah malam. Itu pun Sekar kadang jadi tertidur ketika mereka sedang melakukan panggilan video.
Tak berapa lama kemudian, ada sebuah nomor masuk ke dalam ponselnya dan karena keasyikan melamun, dia tak sempat untuk me ngangkatnya, menjadi panggilan tak terjawab juga kemudian. Sekar melihat nomor baru itu dengan kening berkerut. Dia tak kenal nomor itu.
Jadi akhirnya, Sekar membiarkan ponselnya di atas nakas dan ia kembali untuk mengasuh Neira lagi. Sampai malamnya, ketika Arjuna belum juga meneleponnya, Sekar mendapat satu panggilan lagi dan kali ini dari nomor yang tadi siang tak diangkatnya.
"Hallo?" Sekar mulai menjawab panggilan itu. Tak ada suara sahutan di seberang untuk beberapa saat. "Kalau gak ada yang mau dibicarakan, teleponnya gue tutup ya."
"Lo Sekar?"
Suara di seberang akhirnya terdengar. Sekar mengerutkan kening. Suara lelaki itu asing.
"Iya, ini siapa?" tanya Sekar sambil memposisikan dirinya di pinggir jendela kamar.
"Arka. Sorry gue ambil nomor lo dari panitia test kemarin."
__ADS_1
Sekar semakin mengerutkan keningnya, sungguh dia tak kenal siapa Arka.
"Gue gak kenal lo."
"Makanya gue ajak kenalan. Gue anak fakultas hukum. Gue cuma mau ngucapin selamat karena lo udah mau masuk ke universitas yang sama kayak gue."
Sekar tak lagi mengerutkan keningnya. Sekarang dia paham bahwa lelaki ini adalah calon seniornya di universitas yang sama.
"Oh l, maaf ya, Kak, gue bener-bener nggak tahu kalau lo adalah senior di kampus yang bakal gue masukin juga. Dan makasih juga buat ucapannya."
"Nggak papa kok, Sekar. Gue juga minta maaf karena lancang udah ngambil nomor lo tapi gue bener-bener emang pengen kenalan. Gue sempet lihat lo waktu hari pertama lo datang ke kampus, waktu itu gue lagi main basket sama teman-teman." Arka menjelaskan dengan tenang.
"Oh, gue ingat sekarang, tapi gue bener-bener gak lihat lo yang mana."
"Nggak papa kok, Sekar, bentar lagi kita juga bakal ketemu. Kebetulan gue juga bakal ngospek kalian calon mahasiswa-mahasiswi baru ntar," kata Arka lagi.
Sekar hanya tersenyum, lalu dia mulai berbicara dengan lancar bersama Arka, walaupun dia belum kenal dengan pemuda itu tetapi kedengarannya pemuda itu orang yang asik dan cukup baik, jadi Sekar mau saja meladeninya untuk saat ini, hingga akhirnya dia terpaksa harus menghentikan telepon dari Arka karena ada satu panggilan yang antri di belakang lelaki itu dan itu adalah panggilan dari Arjuna.
__ADS_1
Setelah mematikan teleponnya dan juga Arka, dia segera mengangkat telepon dari Arjuna.
"Kamu habis telepon sama siapa tadi?"tanya Arjuna penuh selidik di ujung telepon sana setelah Sekar menerima panggilannya.
"Bukan siapa-siapa kok, Mas, cuma temen yang kebetulan satu kampus."
"Kan kalian belum masuk kuliah, Sayang, kok bisa-bisanya ada temen yang langsung telepon kamu tadi?" tanya Arjuna dengan ada cemburu yang sangat kentara.
"Aku juga nggak tahu, Mas, dia dapat nomorku dari panitia. Udahlah, gak usah dipermasalahkan, nggak ada salahnya juga kan orang pengen kenalan, kan aku bakal satu kampus juga sama dia."
"Jadi laki-laki yang nelpon kamu barusan?" cecar Arjuna lagi.
"Kenapa sih, Mas Juna, dari tadi marah-marah mulu? Aku aja biasa aja, pas dengar mbak Ema nyusul kamu sampai ke Singapura!"
Sekar menyahut dengan emosi kemudian mematikan sambungan telepon itu.
"Sekar?! Sekar?!!"
__ADS_1
Tak ada lagi sahutan karena sambungan telepon itu sudah terputus. Arjuna mencengkeram rambutnya dengan kesal pula saat ini jadinya.