SEKAR UNTUK ARJUNA

SEKAR UNTUK ARJUNA
Wacana Singapore


__ADS_3

Pagi tepat pukul enam, Sekar sudah bangun. Meski tidur hanya sebentar, tapi dia telah membiasakan diri untuk tetap bangun pagi. Apalagi kini rutinitasnya tak cuma untuk mengurusi diri sendiri. Ada gadis kecil yang butuh perhatiannya juga telah menjadi tanggungjawabnya selama dia menjadi pengasuh.


"Neira udah bangun belum ya?" Sekar bertanya pada diri sendiri.


Sesegera mungkin ia meluncur ke kamar mandi belakang, yang memang diperuntukkan bagi para pelayan. Syukurlah dia datang ke kamar mandi itu tepat setelah salah seorang pelayan keluar dari sana.


Sekar segera masuk, membersihkan tubuhnya dan mengguyur tubuhnya dengan air. Selesai dengan semua aktivitas membersihkan diri dari atas hingga ke bawah, Sekar keluar.


Ia berganti baju, mengeringkan rambutnya dengan kipas angin hingga jadi setengah kering lalu menyisirnya rapi.


"Pagi, Neira." Sekar segera menyongsong gadis kecil yang tengah berdiri dan berpaut pada pinggiran tempat tidurnya. Bocah itu tertawa-tawa sumringah, merentangkan tangan seolah meminta Sekar untuk segera mengeluarkannya dari box bayi.


"Mandi dulu ya." Sekar mengurusi bayi itu dengan telaten, mengajaknya berbicara dengan riang selama dia membuka baju. Ia juga telah menyiapkan air hangat untuk membasuh tubuh gadis kecil itu.


Di dalam kamar mandi, Sekar dan Neira berbincang-bincang dengan riang. Neira berceloteh khas bayi, Sekar menanggapinya seolah dia paham. Bunyi kecipak air dari bak penampungan kecil berwarna merah muda itu menambah keceriaan mereka pagi ini.


"Ayo kita keluar, Neira udah wangi, udah cantik."


Setelah menyelimuti gadis kecil itu dengan handuk, Sekar menggendongnya, membawanya keluar dan segera menggantikan bajunya. Dengan telaten ia mengurusi Neira. Seseorang terdengar masuk ke dalam kamar Neira. Sekar mendongak, menemukan Arjuna sudah rapi pula dengan seragam kerjanya.


"Pagi, Mas," sapa Sekar sambil tersenyum. Ia berusaha menetralkan jantungnya yang tiba-tiba saja berdegub kencang karena lelaki itu pagi ini. Dia grogi, sebab hubungannya dan Arjuna bukan lagi sekedar saudara angkat, sudah ada sesuatu yang lebih spesial di antara mereka kini.


"Pagi, Sayang."


Arjuna mendekat ke arahnya, mengecup keningnya sebentar lalu beralih mengecup kening Neira sekalian. Mendapatkan perlakuan semacam itu, Sekar seperti sedang diterbangkan ke udara dan terhempas lembut ke atas padang bunga. Hatinya berkembang-kembang, kalau dicium baunya, pasti wangi sekali. Apalagi Arjuna memanggilnya dengan sebutan sayang. Sungguh, Sekar tak sanggup menolak rasa indah ini.

__ADS_1


"Kalo udah selesai, langsung ke meja makan ya. Aku, mama sama papa tungguin kamu makan bareng di sana."


Aduh, kenapa Arjuna jadi seromantis ini? Kata-katanya penuh kelembutan. Tak ada lagi sebutan lo-gue yang biasanya diucapkan lelaki itu. Mau tak mau Sekar harus membalasnya dengan hal yang sama.


"Iya, Mas, sebentar lagi aku turun."


Juna mengangguk, lalu meninggalkan Neira dan Sekar dengan senyuman.


Tepat pukul tujuh, mereka memulai sarapan. Neira seperti biasa, akan duduk di kursi khusus bayi untuknya. Sekar menyuapinya yang makan dengan lahap.


"Sekar, kapan besok sudah mulai testnya?"


Sekar menoleh, lalu segera mengangguk mendapat pertanyaan itu dari ayah angkatnya.


"Belajar yang rajin ya. Kemarin Bapak dengan dari Ibu, katanya kamu gak mau langsung masuk kuliah aja. Mau ikut test dan ospeknya juga."


"Iya, Pak. Biar sama aja kayak teman-teman yang lain."


Tuan Beno tersenyum kemudian mengangguk, begitu juga nyonya Mira. Sementara Arjuna sedari tadi, diam menyimak.


"Jun, besok kamu ke Singapore ya. Tadinya Papa yang mau ke sana, tapi Papa masih ada kerjaan di sini."


"Mesti besok, Pa? Terus Sekar gimana? Siapa yang anterin ke kampus?"


Sekar menatap Arjuna dengan pandangan sulit diartikan. Maksudnya, kenapa Arjuna harus sampai memikirkannya seperti itu. Bagaimana kalau ibu dan bapak jadi curiga.

__ADS_1


"Sekar bisa diantar supir, Jun," jawab ibunya. Dia tak merasa heran dengan pertanyaan puteranya itu, dia merasa, Arjuna memang mulai membuka diri sebagai kakak bagi Sekar kini.


"Betul, Mas. Sekar bisa sendiri. Angkutan umum juga banyak bisa mengantar."


"Sekar suka sekali naik angkot ya?" tanya nyonya Mira sambil terkekeh kecil.


"Iya, Bu, jadi seperti masih sekolah dulu. Pulang pergi naik angkot."


Mereka semua tertawa, kecuali Arjuna yang tampak murung di balik senyum kecutnya. Sekar memandang lelaki itu yang balas memandangnya pula.


Pembicaraan mereka terhenti karena Arjuna harus segera berangkat ke perusahaan. Sekar melepas kepergian lelaki itu dengan senyuman kecil yang dibalas Arjuna.


Siang harinya, rumah megah nyonya Mira kedatangan tamu istimewa. Istimewa setidaknya bagi perempuan paruh baya yang anggun itu. Ema datang seperti biasa, membawanya banyak oleh-oleh lengkap dengan mainan untuk Neira.


"Ma, gimana sama acara pertunangannya? Jadikan minggu depan?"


"Mama belum bicarakan itu sama Juna, Em. Nanti selepas Juna pulang dari Singapura, Mama akan membahasnya bersama dia."


"Loh, mas Juna mau ke Singapore ya Ma?" tanya perempuan itu dengan semangat.


"Betul, Em. Ada urusan bisnis yang harus diselesaikan di sana."


"Kebetulan banget ya, Ma, aku juga mau ke sana besok. Aku ada urusan juga, mungkin aku bisa pergi bareng mas Juna ya Ma?"


Sekar yang tengah mengajak Neira bermain, mendengar itu. Dia menoleh sesaat, melihat Ema yang tampak begitu bahagia. Sekar berusaha mengenyahkan rasa cemburu yang tiba-tiba saja datang menyergap. Dia tiba-tiba saja merasakan kesedihan, tapi segera ditutupinya dengan senyum kala pandangan matanya dan Ema bertemu.

__ADS_1


__ADS_2