
Andhika___
Susah, dan benar-benar sulit. Bagaimana caranya aku dapat mengetahui rahasia besar yang Adel simpan, bahkan sahabat dekatnya pun tak menceritakannya secara gamblang.
Aku rasa Cici memang sengaja menyimpan rahasia yang Adel miliki, itu sudah sangat terlihat dari gelagatnya saat aku bertanya tentang Adel, wajah Cici selalu berubah tegang.
Jika aku ingin bertanya pada Tyo, aku rasa percuma. Walaupun mereka berteman, tapi mereka bukanlah teman dekat seperti Cici.
Lalu bagaimana caranya aku dapat mengetahui rahasia Adel ?.
Aku bangkit dari kursi belajar ku, dengan langkah gontai aku berjalan menuju kasur empuk ku. Yaa, kasur yang seperti surga dunia bagiku. Ku tidurkan badanku di kasur, sungguh rasanya sangat enak.
Chat nggak yah...
Itulah yang ku pikirkan saat ini, ingin rasanya aku mengirim pesan untuk Adel seperti biasanya. Namun apalah daya, Tyo melarang diriku mengirimkan pesan untuk Adel. Padahal sungguh, itu sangat sulit untuk ku lakukan apalagi sampai 1 minggu. Dan jangan lupakan untuk masalah yang harus bersikap datar, dan dingin pada Adel.
Malam ini aku benar-benar bingung harus melakukan apa, hingga satu pikiran terbesit di kepalaku.
Ya !! sayur kukus, dan nasi tak lupa dengan air putih yang begitu banyak.
Baiklah, lebih baik aku mencari tentang itu di internet. Langsung saja ku buka aplikasi bola dunia itu, setelah aku menulis kata kuncinya yang tepat di bagian pencarian, aku langsung meng-kliknya.
Dan...
Apah !!!!
Seriously....
DIET !!!....
___________
Disisi lain___
Di Rumah Adel...
"Kyaaa...anjim banget sih Fajri, main seenak jidat nyuruh kita buat bikin surat persetujuan !!." Ucap Bagas kesal.
"Bisa diem nggak sih Lo !!." Bentak Kevin pada Bagas.
Bagaimana mungkin Kevin tidak marah, pasalnya sedari tadi Bagas selalu mengumpati Fajri si ketua OSIS.
Sedangkan Adel dan Bintang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol Bagas dan Kevin yang selalu bertengkar. Bukannya cepat selesai, malah makin lama nanti.
Untung saja besok hari Sabtu, hari libur yang sangat menyenangkan. Jadi mereka bisa mengerjakannya lagi besok.
__ADS_1
"Bisa nggak sih, kalian tuh serius." ucap Adel datar.
"Iya nih, kalian tuh selalu aja bertengkar. Jangan-jangan kalian bener-bener gay." Ucap Bintang, sambil melihat Bagas, dan Kevin satu persatu.
"Enggak lah !." Ucap Bagas dan Kevin bersamaan.
"Ups...ngomong aja juga bareng gitu kok." Ucap Adel dengan senyuman manisnya.
"Jangan terlalu berlebihan, perguson." Ucap Bagas kesal.
Mereka bertiga hanya mengernyitkan dahinya, tak paham agaknya dengan kata-kata ****Perguson**** yang di katakan oleh Bagas tadi.
"Ferguso, maksud Lo nyet.." Ucap Kevin sinis.
"Sama ajahhh." Ucapnya yang mulai mengetik ulang surat persetujuan itu.
Adel, Bintang, dan Kevin hanya menghela nafasnya panjang melihat tingkah Bagas.
Hening
Hening
Hening
Mereka sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Tugas menjadi anggota OSIS untuk membuat surat persetujuan kepala sekolah, dan persetujuan wali murid.
Kletak..
Kletak...
kletak...
Suara kupasan kuaci yang di lakukan oleh Bagas, yang sudah pasti membuat semuanya merasa terganggu, apalagi Kevin.
"Damn it !!." Ucap Kevin datar penuh penekanan.
"Bisa diem nggak sih gas..." Teriak Kevin, yang membuat semua pelayan, dan para bodyguard yang ada di dalam rumah Adel menatap ke arah sumber suara itu.
"Astaghfirullah, salah apalagi aku ya Allah..." Ucap Bagas tak kalah ikut berteriak.
"Gendeng emang pala Lo, tuh kuaci simpen dulu napa." Ucap Kevin ketus.
"Biarin gue makan, kalo di anggurin kasian tau..nanti malah kacang makan kuaci." Ucap Bagas jutek.
Mendengar hal itu membuat Kevin naik darah, serasa hawa panas di sekitaran gunung api yang akan meletus. Aura panas itupun sampai bisa di rasakan oleh Adel, bintang, dan Bagas yang selaku korbannya nanti.
__ADS_1
"Gimana, mau dimakan lagi nggak." Ucap Kevin dengan nada penekanan.
Bagas kesusahan menelan salivanya sendiri, rasanya seperti ada bongkahan batu besar di dalam kerongkongannya, yang mampu menyumbatnya.
Dan dengan bodohnya, Bagas menggerakkan kepalanya. Bertanda jika ia tidak mau berhenti makan kuaci.
Melihat Bagas yang menggelengkan kepalanya, tentu saja membuat Kevin semakin naik darah. Dengan mantap, Kevin berdiri tegak dan hendak menghampiri Bagas yang duduk tidak terlalu jauh dengannya.
Suasana semakin mencekam, apalagi aura yang di keluarkan oleh Kevin adalah aura yang sangat mematikan. Semua pelayan, dan bodyguard yang menyaksikan pemandangan langka itu hanya menatap mereka berdua melongo. Karena bagi mereka, pemandangan seperti ini sangat jarang terjadi di rumah ini. Apalagi ini adalah anak remaja SMA kelas XI.
"Berani Lo sama gue." Ucap Kevin membentak.
"Berani." Ucap Bagas datar, dirinya sudah bisa mengendalikan rasa takut yang bersarang di dirinya tadi.
"Ck."
"Hiyaaaaaa....." Teriak Kevin sambil mengedarkan tinjunya kepada Bagas.
Dan...
"Auuww, sakit ******." Ucap Bagas yang ternyata hanya di Jambak oleh Kevin.
"Lo sendiri sih yang cari gara-gara." Ucap Kevin sengit.
Tidak ingin kalah, Bagas pun membalas perlakuan Kevin padanya. Bagas sudah ikutan menjambak-jambak rambut Kevin tak kalah seru.
Para pelayan, dan bodyguard yang ikutan melihat aksi mereka berdua hanya dapat melongo melihat mereka seperti itu. Bukan hanya para pelayan dan bodyguard saja yang melongo. Adel, dan Bintang pun tak kalah ikut melongo saat melihat pertengkaran mereka yang mirip anak kecil.
"Rasakan ini..." Ucap Bagas yang menekuk tangan Kevin ke belakang.
"***** Lo yah, bisa patah tangan gue ******." Ucap Kevin berteriak.
"Rasakan itu, mangkanya jangan belagak si heroin." Ucap Bagas dengan nada mengejek.
"Kampret Lo yah.." Ucap Kevin tak mau kalah dengan yang di lakukan oleh Bagas.
Adel mengehela nafasnya panjang melihat Bagas, dan Kevin yang berantem seperti anak kecil. Kebetulan Noni membawa semangka di piring. Yang tujuannya untuk menjamu teman-temannya Adel yang tidak ada akhlaknya ini.
"SEMONGKO." Ucap Adel yang mencoba melerai pertengkaran Bagas, dan Kevin dengan menunjukkan semangka merah pada mereka.
"Mau..." Ucap Bagas dan langsung melepaskan jambakannya pada Kevin.
Mereka semua menghela nafas lega saat Bagas, dan Kevin berhenti bertengkar.
"Odading mang oleng, rasanya seperti anda menjadi iron men." Ucap Bagas yang membuat para pelayan dan bodyguard terkikik geli.
__ADS_1
Sungguh bagi Adel, ini seperti sebuah kehangatan keluarga yang dirindukan olehnya...