Selamat Jalan Adel...

Selamat Jalan Adel...
Chapter 6


__ADS_3

"Sorry gue telat." Ucap Andhika ngos-ngosan.


"Ck, jam segini baru dateng Lo. Untung aja nggak ketinggalan main." Ucap Rian datar.


"Emang kenapa sih sama Lo. biasanya yang paling rajin berangkat itu Lo." Ucap Bayu.


"Gue kesiangan bangun." Ucap Andhika santai.


"Anjim bener nih anak." ucap Bayu sambil geleng-geleng kepala.


Rupanya Andhika masih tidak menyadari jika Adel ada di situ, hingga Fajri datang memanggil Adel. Barulah Andhika menyadarinya.


"Adel..." Panggil Fajri.


"Iya ada apa." Tanya Adel datar.


glek...


"Adel." Batin Andhika tak percaya jika Adel ada di sini bersama dengannya.


Dan seketika itu Adel bertemu tatap dengan Andhika. Sungguh rasanya Andhika ingin sekali menutupi wajahnya dengan panci. Apa lagi tadi dirinya dengan bangganya mengatakan bangun kesiangan tanpa rasa bersalah.


Sungguh. Ini adalah pertama kali bagi hidupnya merasakan malu di depan seorang gadis, apa lagi gadis itu adalah gadis yang ia sukai.


"Ad..." Ucap Andhika yang langsung terpotong.


"Lain kali bangun jam 12 siang aja." Ucap Adel datar.


"Rian, gue cabut dulu yaa." Ucap Adel.


"Oke, sekali lagi thanks yaa." Ucap Rian, dan di balas anggukan kepala oleh Adel.


Adel pun pergi bersama Fajri menuju lapangan sepak bola untuk mengurus lomba menyanyi, dan puisi.


Selepas kepergian Adel, Andhika langsung bertanya kepada Rian.


"Sejak kapan Adel ada disini ?." Tanyanya.


"Sejak Lo belum dateng. Kenapa." Ucap Rian.


"Kenapa nggak ngomong kalo ada Adel..." ucap Andhika frustasi.


"Kan Lo nggak nanya." Ucap Rian acuh.


__________

__ADS_1


Adel_


Sungguh hari ini benar-benar adalah hari yang melelahkan. Aku harap aku tidak lupa minum banyak air.


Aku masih heran dengan kata-kata Nggak peka. Jujur saja kata-kata itu sangat membelenggu otakku yang tengah bertugas OSIS. Setiap kali aku melihat Andhika, memang dia agak aneh belakangan ini. Aku selalu merasa jika Andhika menyimpan sesuatu terhadap ku, namun aku tidak tahu.


Aku rasa apa yang di katakan oleh Cici beberapa hari yang lalu benar, bahwa Andhika seperti menyimpan sesuatu. Bisa dibayangkan jika sesuatu itu adalah rahasia. Tapi entah mengapa otakku ini tak dapat mencernanya.


Dia jadi sering chat aku, sering nyapa, sering senyum-senyum sendiri, dan sering caper. Apa mungkin kalo si Andhika suka sama aku. Aduh, nggak mungkin kayanya. Udah hampir 1 bulan aku sama dia jadi teman. Masa secepat itu dia suka sama aku, kan aneh dengernya.


Tapi aku berharapnya sih Andhika tidak benar-benar menyukai aku, aku hanya takut jika suatu saat nanti hanya akan ada rasa sakit, dan air mata yang menemani.


"Adel." panggil Cici nyaring.


"Ada apa ci..." tanyaku heran.


"Lo nggak pengin liat, tuh pacar Lo lagi tanding basket sama SMA pesona. Gila buset, Lo tau nggak tuh tandingnya panas banget loh." Ujar Cici menggebu-gebu.


"Oh." Hanya itulah yang ku ucapkan. Terdengar simpel, tapi bermakna.


"Oh...cuma oh doang." Ucap Cici kesal.


"Lah terus, harus gimana lagi." Ucapku santai.


Sreet...


Jujur, Andhika memang tampak sangat lihai dalam bermain basket. Jika boleh ku katakan, dia sudah pasti lebih hebat di bandingkan dengan Rian.


Cici membawaku duduk di barisan paling depan dengannya. Disana juga ada Tyo yang tengah menyemangati para tim basket dari sekolah kita. Aku dapat melihatnya dengan jelas, betapa semangatnya mereka dalam bermain.


Entah kenapa aku jadi tersenyum sendiri saat melihat Andhika tengah memasukkan bolanya di garis three point. Dan...


Blush..


Bola masuk. Semua siswa High school academy mulai bersorak ramai hingga memenuhi seluruh lapangan basket.


Seketika tatapan mataku bertemu pandang dengan Andhika. Andhika nampak canggung terhadap ku, aku rasa karena tragedi tadi pagi. Namun aku sudah melupakannya, aku memberi jempol sembari tersenyum ramah kepadanya. Anggap saja ini untuk menyemangatinya dalam bermain basket.


Permainan semakin panas saat keduanya mendapatkan poin seri dari hasil pertandingan mereka. Kini mereka mulai bermain dengan sangat panas, para cheers juga tidak kalah semangat untuk menyemangati para anggota tim basket yang tengah di dukung.


Jujur saja disini suasananya semakin panas dan berisik sekali. Rasanya aku ingin sekali meledak.


Dengan langkah cepat, aku meninggalkan lapangan basket. Buka perkara yang mudah untuk keluar dari lapangan basket ini, aku pun harus rela memyelinap-nylinap tidak jelas. Tujuannya hanya 1, menghindari Cici dan Tyo.


Jelas saja jika aku ingin keluar dari lapangan basket, pasti akan di cegat oleh 2 si joli itu.

__ADS_1


Dan akhirnya aku bebas dari lingkungan segerombolan anak-anak itu. Jika tidak, bisa-bisa pingsan aku di buatnya.


__________


Cici_


Sebentar lagi acaranya dimulai, tapi dimana Adel ?. Itulah pertanyaan ku, semenjak tadi pagi dia disuruh bertugas menjadi OSIS hingga saat ini aku sudah tidak bisa menemukannya. Apakah mungkin dia sudah di telan bumi.


Astaghfirullah...sungguh sahabat yang tidak baik sekali aku ini mengatakan hal seperti itu. Baiklah, walau bagaimanapun aku harus membawa Adel ke lapangan basket, karena apa... karena ini adalah permintaan dari seseorang yang diam-diam menyukai Adel dalam diam.


Entahlah, kemana lagi aku harus mencari 1 manusia itu. Di kantin nggak ada, di perpustakaan nggak ada, di lapangan sepak bola nggak ada, sampai di spiteng belakang sekolah pun tidak ada.


"Dimana kamu Adel..." Teriak ku frustasi.


"Lo nyari Adel." Ucap sebuah suara dari arah belakang ku. Seketika aku berbalik, dan mendapati seorang lelaki sedang menatap ku. Ya siapa lagi orangnya jika bukan Tyo.


"Iya." Balasku datar.


"Dia lagi istirahat di belakang panggung." Ucapnya datar.


"Kok Lo tau ?." Tanyaku *****.


"Kan gue juga anggota OSIS Cici..." Ucapnya kesal.


Ohh iya yah, gue lupa sama hal itu. Aku hanya cengar-cengir tidak jelas di depannya Tyo.


Tidak ingin membuang waktu lagi, aku berjalan cepat menuju ke tenda bagian belakang panggung. Dan benar saja, Adel ada disana. Rupanya dia sedang melamun, hahh.. rasanya sekarang Adel sudah menjadi tukang halu.


"Adel." panggil ku nyaring.


"Ada apa ci..." tanyanya heran.


"Lo nggak pengin liat, tuh pacar Lo lagi tanding basket sama SMA pesona. Gila buset, Lo tau nggak tuh tandingnya panas banget loh." Ujar ku menggebu-gebu.


"Oh." Hanya itulah yang Adel ucapkan.


"Oh...cuma oh doang." Ucap ku kesal.


"Lah terus, harus gimana lagi." Ucapnya santai.


Sreet...


Benar-benar sangat memuakkan jika harus bertengkar mulut dengan Adel sekarang. Ku genggam tangan Adel, lalu dengan cepat aku berjalan menuju lapangan basket. Ya disana juga sudah ada Tyo rupanya.


Aku duduk di sebelah Tyo, dan Adel di sebelah kanan ku. Sungguh pertandingan basket ini benar-benar sangat panas, aku sampai lupa jika Adel sudah...Tidak ada lagi di sebelah ku..

__ADS_1


__ADS_2