
Andhika__
Priiit...
Wasit mulai meniupkan peluitnya, sungguh suara yang sangat nyaring di telingaku.
Entah kenapa aku selalu melihat ke arah bangku penonton. Rasanya masih ada yang kurang, ya tentu saja ada yang kurang. Disana tidak ada Adel, apakah dia tidak akan datang untuk menyemangatinya. Padahal aku sangat berharap jika Adel akan datang, dan akan mendukungnya.
Wasit melemparkan bolanya ke atas, dengan cepat aku mengambil alih bola jingga itu. Baru awal bermain, permainan terasa begitu panas bagiku. Kami bermain dengan sengitnya, hingga kami tidak memperdulikan teriakan serta sorakan dari para pendukung.
Tim Cheers pun tak kalah menyemangati tim kami, namun aku tak menggubris kata-kata penyemangat itu. Rasanya masih ada yang kurang, jika tidak ada Adel disini.
Aku terus memfokuskan pikiranku pada permainan ini.
Blush
Sial
Sekolah pesona berhasil memasukkan three points. Sungguh sangat sial, sekarang mereka memiliki point 3:9. Tentu saja ini membuat kami semua kesal, sesaat setelah itu tanpa sengaja aku melihat arah Tyo yang tengah berteriak keras menyemangati tim kami.
Dan pada saat itulah, aku bertemu tatap dengan Adel. Ya Adel, dia ada disini. Dia tengah menatap ke arah ku, sungguh ini seperti mimpi bagiku. Apakah aku tengah bermimpi.
Semangat...
Itulah ucapnya, aku tahu dia mengungkapkan semangat untuk ku. Walaupun dia tidak bersuara, aku bisa melihatnya dari gerakan bibirnya.
Mungkin aku harus berterimakasih kepada Cici setelah ini. Karena dia sudah berhasil membawa Adel kelapangan basket.
Aku sungguh sangat senang, entah kenapa sekarang aku lebih semangat lagi dalam permainan ini. Dengan rasa percaya diri, dan aku mulai berlari kesan kemari mengejar bola jingga itu.
Setelah ku rebut bola itu, dengan semangat yang menggebu-gebu ku masukan bola itu dari garis three point. Dan...
Blush..
Yes...
Bola masuk kedalam keranjang, sungguh aku sangat menyukainya. Apalagi di sini ada seseorang yang menyemangati ku.
Kini pertandingan semakin panas. Tim dari sekolah pesona, dan High school academy seri. Kami sama-sama bermain tanpa ampun, dan hebatnya lagi ini adalah penentuan terakhir tim siapa yang akan menang.
"Dhika..." Teriak Rian memanggil namaku.
Aku lantas dengan siap siaga mulai menerima bola yang di lemparkan oleh Rian padaku, dengan cepat aku pun membawa bola itu. Karena aku di kepung oleh beberapa orang, aku jadi lumayan sulit untuk melempar bola itu.
Setelah ku lihat masih ada celah, dengan cepat aku mengopernya pada Rian. Dan di tangkap cantik olehnya, dengan cepat Rian berlari menuju ring. Dan ...
blush
masuk...
priiit...
Tanda permainan selesai. Semua siswa dan siswi mulai berteriak-teriak senang dikala tim kami menang.
__ADS_1
Ku tolehkan pandangan ku kepada Adel, namun nihil Adel tak ada disana. Rasanya begitu hampa tanpa adanya dia.
Dengan cepat aku keluar dari lapangan tanpa menjawab teriakan Rian yang memanggil namaku.
__________
Disisi lain__
Setelah Adel keluar dari lapangan basket tadi, dirinya memilih untuk pergi ke taman belakang sekolah. Ya setidaknya di sini dia bisa menenangkan pikirannya sebentar.
Tak disangka ternyata disana juga ada 3 teman OSIS lainnya yang tengah duduk bersama sembari memakan kuaci, salah satu diantara mereka ada yang mengetahui kedatangan Adel.
"Adel sini." Ucap seorang pria yang bernama Bagas.
Adel pun melangkahkan kakinya menuju ketiga orang itu. Dengan cepat dia mendudukkan pantatnya pada tempat duduk panjang di kursi taman itu.
"Lo kenapa Del ?." Tanya Kevin.
"Nggak kenapa kok." Ucap Adel datar.
"Kalo Lo ada masalah, Lo bisa kok cerita ke kita." Ucap Bintang, teman Adel yang paling alim di OSIS.
"Gue nggak papa kok, cuma capek aja." Ucap Adel jujur.
"Ohh oke." Ucap bintang.
"Nih." Ucap Bagas sembari memberikan kuaci kearah Adel.
"Buat apa." Tanya Adel cengo.
"Huuu... kalo Lo sih dari tadi kuaci aja yang di makan, kaya nggak ada makanan lain aja." Ucap Kevin nyewot.
"Sialan Lo kampret, Lo nggak tahu kuaci sih..kuaci itu adalah surga dunia buat gue." Ucap Bagas dengan menghayal kuaci.
Plak
"Anjay Lo Vin, emang yah Lo tuh sahabat nggak ada akhlak." Ucap Bagas datar, sambil mengelus kepala belakangnya yang sempat di teplak Kevin tadi.
"Bodoamat lah sama Lo, nyet." Ucap Kevin kesal.
Sedangkan Adel, dan Bintang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu mereka.
Sekarang suasananya menjadi sunyi, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, hanya ada suara kulit kuaci saja yang tengah di buka. Siapa lagi pelakunya jika bukan Bagas.
Kreet
cek
kreet
cek
Itulah suara yang terus di keluarkan oleh Bagas saat makan kuaci. Kevin mendengus kesal mendengarnya, disaat pikiran mereka tengah melalang buana. Masih saja ada Bagas yang menghancurkan pikiran itu.
__ADS_1
"Weh nyet, bisa diem nggak sih Lo." Ucap Kevin kesal.
"Apalagi salah gue, perasaan dari tadi gue diem kok." Ucap Bagas tanpa rasa berdosa.
"Emang sih Lo diem, tapi suara kuaci Lo itu yang udah ganggu." Ucap Bintang.
"Denger tuh." Ucap Kevin jutek.
"Jutek amat bang, jangan jutek-jutek gitu dong. Nanti sayang nggak ganteng lagi deh." Ucap Bagas meniru gaya banci, sambil ingin memeluk Kevin.
"Hiii amit-amit ..jijik gue dengernya." Ucal Kevin sambil bergidik.
"Ahh sayang." Ucapnya lagi.
Plak...
"Lo tuh, jangan homo napa." Ucap Adel sambil menepuk pundak Bagas.
"Yee, biarin aja gitu. Lagian seru juga kok." Ucapnya sambil terkekeh pelan.
"Mulut Lo tuh kebanyakan bacotnya yah, gue tonjok Lo baru tau rasa." Ucap Kevin kesal.
"Sabar bang sabar...." Ucap bintang sambil mengelus pundak Kevin agar tenang.
"Ck, kesabaran gue udah segede gunungnya Mimi peri." Ucap Kevin.
"Awkwkwk." Ucap Bagas keras. Hingga membuat ketiga temannya yang lain ikut tertawa karenanya.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi di balik dinding ada seseorang yang selalu mengawasi mereka. Pria itu tersenyum miring sembari melihat Adel yang tertawa.
"Ini pertama kalinya, gue liat Lo tertawa lepas." Ucapnya sambil berlalu pergi dari balik dinding itu.
Adel...suatu saat nanti akan ku pastikan, kau akan tertawa dan tersenyum karena aku.
__________
Kau tak pernah menyadarinya
aku selalu melihatmu tertawa
namun senyum itu bukan dariku
aku hanya ingin sekali saja membuat mu tertawa lepas untukku, dan hanya akulah yang membuat mu dapat tertawa.
_*Andhika Pratama
Kau dapat membuat ku tertawa__
tapi, buatlah orang lain tertawa lebih dulu...
aku pun tak terlalu yakin,
entah aku masih dapat tertawa lagi atau tidak
__ADS_1
hingga detik nafas terakhir ku.
_Ade Lia Rosaline*