
"Nih, surat yang Lo minta." Ucap Bagas sambil memberikan surat persetujuan kepada Fajri.
"Thanks semuanya..." Ucapnya lalu pergi.
"***** tuh ketos, nggak ada akhlaknya." Ujar Bagas tak senang.
Adel berjalan mendekati Bagas, hingga nyaris tak ada jarak yang tersisa.
"Lo itu ****** yah, udah tau dia tuh lagi sibuk ngurus LKS buat dekkel anjay." Bisik Adel di telinga Bagas.
"Kampret Lo Del, gue kira Lo bakal cium gue tadi." Ucap Bagas ke geeran, sambil tersenyum kikuk melihat Adel.
"Ngarep sana." Ujar Kevin sambil menyentil kening Bagas.
"Sakit ******." Ucap Bagas tak senang.
Mereka memutuskan kembali kedalam kelas masing-masing, karena jam pelajaran akan segera di mulai 5 menit lagi.
Sesampainya Adel di kelas, dia di kejutkan dengan Andhika yang tengah duduk di bangku seharusnya di tempati oleh Cici.
"Ngapain duduk disini." Tanya Adel heran.
Andhika tersenyum tipis. "Gue pengin, duduk bareng Lo." Ucapnya sambil tersenyum.
Adel tidak ingin membalasnya, toh jika Adel terus membalas perkataan Andhika tak akan pernah selesai.
Suasana sungguh sangat ramai sekali hari ini di dalam kelas XI Mipa. Tak tanggung-tanggung mereka semua nampak sama persis seperti anak IPS yang tak ada guru masuk.
__ADS_1
"DIEM!!!!." Ucap Erick ketua kelas.
Semuanya langsung diam setelah mendengarkan teriakan sang ketua kelas, benar-benar sangat ampuh suara auman singanya itu.
Erick tersenyum horor. "Gini kan bagus." Ucapnya lalu duduk kembali mendengarkan musik, melalui headset nya.
"Baru kali ini, gue liat Erick teriak-teriak." Ucap Andhika masih tak percaya.
"Bukan kali ini aja Dhik...Lo juga pernah liat kan si Erick teriak-teriak__" Ucap Adel terpotong. "Inget waktu Lo masih jadi siswa baru di kelas ini, banyak cewek yang datengin Lo. Karena ketenangan Erick udah ke ganggu. Dia teriak-teriak kaya gini." Jelas Adel panjang lebar.
"Lo cemburu." Ucap Andhika. Tatapan matanya tajam melihat manik mata Adel.
Huufftt... Adel menghembuskan nafasnya pelan. "Nggak." Ucapnya lempeng.
"Serius." Ucap Andhika tak percaya.
Hening
hening
hening
Suasananya mendadak hening di antara Adel, dan Andhika.
"Gue suka sama Lo." Ucap Andhika bersungguh-sungguh.
Andhika fokus menatap manik mata Adel, sedangkan Adel hanya menatap Andhika malas.
__ADS_1
"Tapi gue nggak suka sama Lo." Ucap Adel datar.
Andhika nampak frustasi dengan jawaban Adel, pasalnya baru pertama ini dirinya di tolak oleh seorang gadis.
"Nyatain cintanya kurang romatis ******!!!!!...
Lo nyadar nggak, mana ada cewek yang pengin nerima Lo kalo nyatain cintanya kek begituan...." Bisik Tyo lirih di telinga Andhika.
Andhika menghela nafasnya panjang, mungkin benar apa yang di katakan Tyo jika Andhika menyatakan perasaannya kurang romantis, dan di waktu yang tidak tepat.
"Gue cuma pengin nyatain perasaan gue aja Yoo...mana gue tau kalo bakalan di tolak. Masalahnya yaa, sebelum gue pindah kesekolah ini. Banyak cewek yang malah lebih dulu nyatain cintanya ke gue. Lah sekarang, kudu gue yang harus nyatain cintanya. Sama aja lah, ini pengalaman pertama gue anjay..." Bisik Andhika di depan Tyo.
Tyo hanya menggelengkan kepalanya lemas, merutuki sendiri ternyata temannya ini tak pernah berusaha dalam menyatakan perasaannya.
Cici pun hanya memandang ke arah Andhika melas, susah memang jika suka kepada Adel. Yang laki-laki kudu ekstra buat nembak Adel.
"Hari ini Lo gagal Dhik...
mungkin besok, atau lusa." Ucap Cici datar.
Sedangkan Adel yang sebenarnya masih bisa dengar bisikan itu hanya tersenyum simpul.
Emang susah buat dapetin gue Dhika...
Seenggaknya anggap gue sebagai temen Lo aja, jangan pernah ungkapin rasa suka Lo ke gue ...
gue takut kalo gue sayang ke Lo nantinya.
__ADS_1
Padahal udah hampir bertahun-tahun gue ngokohin hati gue. Kalo semisal pertahanan gue hancur, gue pasti nggak akan berhenti sayang sama Lo. Batin Adel.