
Semenjak pertemuan itu, Kiran kembali memikirkan Hanan. Jelas, cintanya sama sekali belum padam kepada Hanan. Malah sekarang semakin menjadi terlebih mengetahui Hanan tidak jadi menikah dengan Sofie. Setiap hari Kiran berusaha mengenyahkan pikiran itu.
Sampai pada suatu hari, Hanan berkunjung ke kantor Sandy untuk membahas sebuah kerjasama baru. Hanan datang sendiri tanpa ditemani siapa pun. Dewi yang merupakan sekertaris Sandy segera memberitahukan kalau ada tamu yang berkunjung. "Tok.. tok.. Permisi Pak Sandy, tamunya sudah datang." kata Dewi lalu mempersilahkan tamu itu masuk ke ruangan Sandy. Kiran yang sedang berdiskusi santai dengan Sandy kemudian penasaran dengan tamu tersebut. Hanan tampak begitu ramah kepada Dewi kemudian masuk ke dalam ruangan sambil menyapa Sandy. "Wih, udah dateng aja nih. Silahkan duduk." Sandy mempersilahkan Hanan untuk duduk di sofa. Kiran tertegun sejenak melihat siapa yang datang siang itu, sampai pada sapaan Hanan membuat lamunannya buyar. Kiran pun tersenyum.
"Mas, aku ke meja dulu." kata Kiran berpamitan kepada Sandy. "Emm.. iya. Nanti kita bahas lagi." kata Sandy. Kiran pun meninggalkan mereka berdua yang mulai berdiskusi. Tampak sekali kalau Hanan beberapa kali curi-curi pandang kepada Kiran yang kebetulan kaca pembatas ruangan terlihat keluar dan Kiran beberapa kali bolak balik melakukan pekerjaannya sesekali mengobrol dengan yang lain sembari tertawa.
"Udah berapa lama?" tanya Hanan tiba-tiba saat diskusi mereka mulai santai. "Apa?" tanya Sandy. "Emm.. lo sama Kiran." kata Hanan kemudian. "Ooh.. tiga bulan, lebih." Sandy menjawab. "Nan, pantes aja ya lo ga mau ninggalin Kiran, gue aja sekarang cinta mati sama dia." kata Sandy sambil tersenyum. "Tapi, gue ajak nikah belum mau. Huft.." kata Sandy lalu menghembuskan nafasnya kasar. "Eemm... sampe dimana tadi diskusi kita?" sambung Hanan kemudian.
"Kiran, aku mau makan sama Hanan after office. Mau ikut?" tanya Sandy via whatsapp. "Makasih, Mas. Aku pulang aja." balas Kiran.
Hanan dan Sandy meninggalkan kantor lebih dulu dibanding yang lain. Kiran pun masih perlu menunggu waktu 5 menit lagi untuk menyempurnakan absensinya.
****
Tiba-tiba sekitar jam 9 malam, saat Kiran bersiap tidur ponselnya berdering tanda ada pesan yang masuk. Kiran segera membuka whatsappnya, yang ternyata dari Hanan. "Kiran, hubungan kamu dan Sandy sudah sejauh apa? Masih adakah cinta untukku?" tanya Sandy membuat Kiran terperangah. Kiran hanya membaca pesan tersebut. Sejujurnya Kiran ingin mengakui semuanya, mengakui kalau ia masih sangat mencintai Hanan. Malam itu pun Kiran menjadi tidak bisa tidur karena terus kepikiran Hanan.
__ADS_1
****
Beberapa hari kemudian Sandy mengajak Kiran untuk meeting di luar kantor. Kemudian Sandy menginfokan kalau akan meeting dengan Hanan.
Sesampainya mereka disebuah resto, tampak Hanan sudah menunggu. Hanan mengajak Tio untuk meeting bersama. Kiran begitu senang saat melihat Tio, sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu. "Tiooo, kita ketemu juga." kata Kiran excited. Tio pun tidak kalah senang. Mereka berempat kemudian mengobrol basa basi sebelum mendiskusikan kerjasama.
Ditengah perbincangan, Kiran izin untuk ke toilet. Kemudian Kiran bergegas ke toilet. Sandy perlu mengambil charger tab-nya di mobil kemudian pergi ke parkiran. "Tio, saya ke toilet dulu ya." kata Hanan berpamitan pada Tio. Tio hanya mengangguk sambil masih serius dengan desainnya.
Di lorong menuju toilet, kebetulan suasana tampak asri dan cukup sepi orang yang berlalu lalang. Kiran berpapasan dengan Hanan, hanya tersenyum. Kemudian saat Kiran melewati Hanan, tiba-tiba tangan Hanan menahan tangan Kiran. "Kiran, aku mau bicara sebentar." kata Hanan kemudian Kiran menghadap Hanan. "Kamu masih mencintaiku, kan?" tanya Hanan dengan tatapan mencecar. "Mas, lepasin tangan aku." Kiran berusaha mengelak. "Aku butuh jawaban sekarang." kata Hanan. Kemudian Hanan mendorong tubuh Kiran hingga bersandar di dinding. "Mas, mau apa?" kata Kiran khawatir dilihat orang terlebih lagi Sandy. "Mau jawaban kamu." kata Hanan. Karena semakin tertekan, Kiran lalu menjawab "Engga, aku udah lupain kamu." kata Kiran sedikit memalingkan wajahnya dari Hanan. "Lihat mataku dan katakan lagi." kata Hanan bergetar. Kiran tak sanggup menatap mata Hanan. Air matanya pun turun tanpa diminta. Hanan lalu menangkup wajah Kiran, kemudian mencium bibirnya. Kiran pun membalas ciuman Hanan.
"Kalian disini?" suara Sandy terdengar memecahkan keheningan mereka. Kiran lalu segera mengusap air matanya. Hanan tampak sedikit melirik Kiran. "San, tamannya nyaman ya?" kata Hanan. Pandangan Sandy pun berpaling menatap tanaman-tanaman disekitarnya. Kiran buru-buru saja kembali ke meja mereka. Sandy hanya sedikit menatap Kiran yang melewatinya.
****
Hari-hari berikutnya, Kiran semakin gusar. Ia sangat khawatir kalau Sandy tau kejadian beberapa hari lalu antara ia dan Hanan.
__ADS_1
"Kiran, setelah pulang nanti sebelum aku antar kamu ke kosan. Ada yang perlu aku bicarakan." kata Sandy tiba-tiba. Kiran yang mendengar itu merasa heran dan hanya sedikit mengangguk. Dalam hatinya bertanya-tanya apa yang akan nanti dikatakan oleh Sandy.
Saat jam pulang tiba, seperti biasan Kiran menunggu sebagian karyawan lain pulang lalu ia bersiap pulang bersama Sandy.
Di mobil saat mereka akan meninggalkan kantor, tampak Sandy yang sedikit terdiam. "Mas, kita mau kemana?" tanya Kiran. "Emm.. ke resto tempat biasa aja kali ya." jawab Sandy kemudian. "Oke.." kata Kiran.
Sesampainya di resto kemudian Kiran memesan orange jus dan cemilan roti bakar. Sandy memesan teh leci dan spageti bollognese. Kemudian mereka menyantap makanan iti sambil sesekalu mengobrol santai dan tertawa.
"Mas, kamu mau ngobrol apa?" tanya Kiran. Sandy pun menatap Kiran. "Urusan klien?" tanya Kiran lagi. Sandy pun menggeleng. "Kiran, kamu mencintai Hanan?" tanya Sandy pelan. Kiran dibuatnya menahan nafas. "Kenapa?" tanya Kiran yang sudah khawatir. "Waktu itu, saat di cafe tempat kita meeting. Aku ga sengaja ngeliat kebersamaan kamu dengan Hanan. Kamu masih menerima ciuman dari dia?" kata Sandy. "Kiran, jujur sama aku. Kamu masih mencintainya kan?" tanya Sandy. Kiran lalu menundukan kepalanya. "Iya, iya Mas. Aku masih sangat mencintai Mas Hanan. Maaf." kata Kiran kemudian semakin terisak.
Kemudian hening diantara keduanya. "Kiran, kembalilah dengan Hanan kalau kamu mau." kata Sandy tersenyum. Kiran begitu terkejut atas ucapan Sandy. Ia mengira kalau Sandy mengetahui hal ini akan sangat membuat dia marah. "Aku akan pesan ke Hanan, jangan sampai buat kamu nangis lagi. Kalau sampai itu terjadi, kejadian waktu itu pasti terulang." kata Sandy sambil sedikit tertawa. Kiran tahu sebenarnya hati Sandy tidak cukup kuat mengatakan itu, terlihat dari sorot matanya yang sedikit mengeluarkan air mata.
****
Sandy mengantar Kiran pulang. Namun, saat perpisahan Kiran kemudian memeluk tubuh Sandy dan mengucapkan terima kasih karena telah melepaskan ia untuk bisa kembali kepada Hanan.
__ADS_1
****