
"Tio, kamu tau alamat Kiran kan? Bisa infokan ke saya?" Pagi itu Hanan menelpon Tio dengan sedikit panik. "Maaf Pak, saya kurang tau. Hanya tau nama daerahnya aja, kalau alamat persisnya kurang tau." kata Tio menjelaskan dengan sedikit tersendat. "Pak Hanan, cari cafe Kebun Teh daerah Bandung Selatan. Itu sudah dekat dengan rumah Kiran. Nanti Bapak coba hubungi Kiran lagi." jelas Tio. "Ok, thanks Tio." kata Hanan. Hanan pun lansung meluncur sesuai dengan arahan Tio.
Sesampainya di Cafe Kebun Teh, Hanan memesan minuman hangat dan juga makanan. Perjalanan yang cukup jauh membuatnya lapar karena tidak berhenti sama sekali di rest area untuk beristirahat. Hanan pun mengirim pesan ke Kiran. Walaupun tak ada balasan. "Kiran, aku di Cafe Kebun Teh. Sudah dekat dengan rumah kamu kan? Aku ga tau alamat kamu." pesan tersebut dikirim ke Kiran, tak berapa lama Kiran membacanya namun tak memberi balasan.
"Kiran, ada yang mau aku jelaskan ke kamu. Kamu temui aku disini ya." pesan kembali ia kirim namun tak perlu waktu lama Kiran langsung membacanya. "Aku tau kamu sekarang khawatir sama aku. Asal kamu tau, Sayang. Aku akan tetap nunggu kamu disini. Aku udah izin sama pemilik cafe untuk bermalam disini pakai tenda. Its Ok. Aku tunggu kamu pasti nemuin aku. I love you." pesan Hanan. Kiran membaca itu menjadi sangat khawatir. Satu sisi ia masih sangat marah dengan Hanan tapi ia tidak mungkin membiarkan Hanan bermalam disana.
"Bu, Kiran minta antar Mang Ujang ke Cafe Kebun Teh ya." kata Kiran kepada Ibu. "Mau ngapain?" tanya Ibu. "Teman Kiran disana." kata Kiran dan berlalu. "Mang, anterin saya ke Cafe Kebun Teh ya." kata Kiran kepada Mang Ujang yang sedang membantu Bapak mengurus taman. "Wah, Si Eneng masa ngajakin Mamang nongkrong. Malu atuh Neng, Amangkan udah tua." kata Mang Ujang terkekeh menggoda Kiran. "Ih Mamang, ge-er. Orang saya minta anter aja." jawab Kiran tertawa.
Sesampainya di parkiran Cafe. "Mamang pulang aja. Nanti kalau perlu saya telfon untuk jemput ya. Nuhun Mang." kata Kiran lalu segera masuk ke Cafe. Di pintu masuk, Kiran sudah dapat melihat Hanan yang tengah duduk membelakanginya menghadap hamparan kebun teh. Kiran memilih tempat duduk yang cukup jauh, namun ia masih dapat melihat Hanan. Kiran pun memesan minuman dan cemilan.
Tanpa sepengetahuan Kiran, Hanan sudah menyadari keberadaannya. Hatinya sangat bahagia karena tau Kiran masih mencintainya. Hanan memanggil salah satu waiter "Mba, wanita cantik yang duduk disebelah sana sudah pesan apa?" tanya Hanan. "Tolong buatkan dia Capuccino Float dan tolong berikan tulisan ini sekalian ya." pesan Hanan. Waiter itu pun lalu mengantarkan pesanan Hanan kepada Kiran. "Teh, ini pesanannya." kata waiter tersebut. "Loh, saya kan ga pesen." kata Kiran bingung. "Eemm ini ada pesannya." waiter itu pun meninggalkan Kiran.
Ia lalu membuka kertas tersebut. "I love you, Kiran." Kiran pun tersenyum, ternyata Hanan sudah sadar keberadaannya. Kiran lalu membawa gelas tersebut untuk menghampiri Hanan. "I love you too." Kiran sedikit berbisik ke arah Hanan. Hanan pun menoleh dengan sumringah. "I know. I know you still loving me." Hanan ingin memeluk Kiran namun Kiran menghindar karna banyak pengunjung lain.
__ADS_1
"Mau jelasin apa? Sebentar lagi malam. Aku harus pulang." kata Kiran. "Emm.. Kiran. Aku sudah bilang ke Mama untuk membatalkan pertungan aku dengan Sofia. Aku sekarang tinggal di apartemen, ga di rumah." jelas Hanan. "Kamu jangan gitu Mas, Mama kamu pasti sedih." kata Kiran. "Dia sudah banyak mengatur hidupku Kiran."
Hanan pun mengantar Kiran pulang. Lagi, karena sudah cukup larut Hanan tidak diizinkan pulang oleh orang tua Kiran. Sebenarnya, orang tua Kiran sudah mengenal Hanan sebagai kekasih Kiran walaupun baru kali ini bertemu.
****
"Sandy kemarin nginap juga?" tanya Hanan saat mengobrol santai dengan Kiran di teras. Bapak dan Ibu sudah iatirahat di kamar mereka. "Emm.. iya." Kiran mengangguk. "Eh Mas, jadi Mas Sandy kan ga bawa baju ganti trus dipinjamin kaos dan sarung sama Bapak. Lucu deh dia, aneh aku liatnya. Biasanya pakai jas kemeja formal tapi kemarin jadi kayak Amang-amang ronda." lanjut Kiran sambil terkekeh dengan pandangan menerawang mengingat-ngingat Sandy. "Untung kamu bawa baju ganti ya, kalau engga pakai sarung juga deh." Kiran kembali tertawa. "Harusnya aku ga bawa baju ganti ya, pinjam sarung Bapak aja biar kamu ingat terus dan bikin kamu ketawa." kata Hanan dengan maksud menyindir Kiran karna mengingat Sandy. Kiran pun terdiam karna sadar kalau Hanan cemburu.
"Udah malam, Mas. Belum ngantuk?" tanya Kiran. Hanan pun menggeleng. "Dekat sama kamu mana bisa ngantuk?" kata Hanan. Kiran hanya tersenyum. "Kiran, kalau nanti kita menikah kamu mau sementara kita tinggal di apartemen dulu? Aku tetal bisa bahagiain kamu kok." kata Hanan cemas. Kiran memegang tangan Hanan. "Mas, sederhana rumah kontrakan pun aku mau asal.." Kiran terdiam. "Asal kita bersama?" sambung Hanan cepat. "Asal orang tua kamu merestui hubungan kita." kata Kiran tersenyum. "Aku akan berusaha meyakinkan Mama." kata Hanan.
****
Sebulan sudah Kiran tidak bekerja. Tiba-tiba Sandy menawarkan pekerjaan di kantornya. Kiran pun tertarik dengan tawaran itu. Ia sudah agak bosan di rumah terus dan kurang berkegiatan. "Besok aku jemput kamu ya." kata Sandy. "Oh, ga usah Mas. Aku naik travel aja." kata Kiran. "Serius ga apa-apa?" tanya Sandy lagi khawatir. "Aku udah biasa." kata Kiran. "Ya udah, hati-hati. See you." kata Sandy.
__ADS_1
Kiran tidak menginfokan ke Hanan kalau ia akan bekerja di kantor milik Sandy.
Sesampainya ia di Jakarta, ia langsung menghubungi Hanan. "Mas, nanti sore makan ketoprak deket kosanku yuk. Udah lama." kata Kiran. Hanan hanya tertawa. "Kamu aja di Bandung." kata Hanan. Kiran lalu menswitch panggilan ke vc dan memperlihatkan kosannya. "Kok ga bilang?" Hanan pun terkejut dan segera mengiyakan ajakan Kiran.
Hanan bergegas menuju kosan Kiran selepas jam kantor. Ia sudah sangat rindu dengan kekasihnya itu. Sampai tiba di kosan Kiran ia melihat mobil Sandy sudah terparkir disana. Hanan mengeryitkan mata tanpa turun dari mobilnya lalu menghubungi Kiran. "Sayang, aku tunggu kamu di tempat ketoprak ya. Aku sudah sampai." kata Hanan berusaha tidak terbawa emosi. "Oh iya Mas, emm.. 10 menit ya, aku siap-siap dulu." kata Kiran tanpa curiga kalau Hanan sudah tau Sandy terlebih dahulu menemuinya.
"Mas.." sapa Kiran yang disambut lesu oleh Hanan. "Kenapa?" tanya Kiran sambil mengusap halus rambut Hanan. "Siapa orang yang sudah kamu kabari selain aku?" tanya Hanan ketus. "Maksud kamu?" tanya Kiran. "Sandy tau kalau kamu di Jakarta?" tanya Hanan lagi. "Mas, ada yang belum aku ceritakan ke kamu." kata Kiran pelan. "Apa?" tanya Hanan mencecar. "Aku ke Jakarta untuk bekerja lagi. Aku diterima kerja di perusahaan Sandy." kata Kiran sedikit terbata. "Huft.. dia lagi. Kenapa dia ga bisa bikin hubungan kita tenang ya? Antusias banget dia mau milikin kamu. Kamu juga, kenapa mesti mau? Kan bisa kembali ke kantor aja." kata Hanan menahan emosi. "Habisin makanan kamu, aku anter ke kosan." kata Hanan lagi. Kiran tidak bisa berkata-kata.
****
Sudah hampir dua bulan Kiran bekerja dengan Sandy. Kiran diperbantukan menjadi asisten pribadi Sandy. Beberapa tender mereka menangkan.
"Wah, cocok sekali ya ini Pak Sandy dan Bu Kiran. Tek toknya pas, penjelasannya sangat baik jadi kami langsung yakin kejasama dengan kalian." puji salah satu klien yang baru saja menandatangani kontrak kerjasama dengan mereka.
__ADS_1
Sesaat setelah klien tersebut meninggalkan ruang meeting. "Kiran, kita keren ya. Ibarat sepasang suami istri yang kompak." kata Sandy. Kiran hanya tersenyum. Dan saat Kiran akan beranjak meninggalkan kursinya tangan Sandy menahan tangan Kiran lalu mendekatkan tubuhnya. "I love you, Kiran." lalu dengan cepat Sandy menyambar bibir Kiran yang masih terpaku. Dikecupnya dengan mesra hingga Kiran memejamkan mata sampai panggilan handphone Sandy berdering. Kiran lalu bergegas meninggalkan Sandy kemudian segera ke toilet. Kiran menatap dalam matanya, memperhatikan bibirnya yang barusan dikecup oleh Sandy. Pikirannya kacau, bagaimana kalau nanti Hanan tau. Semenjak saat itu, Kiran sedikit menghindar jika hanya ada dia dan Sandy.
****