Senja Itu Kamu

Senja Itu Kamu
Bab 7 : Pulang


__ADS_3

Setelah dua hari Kiran bolos kerja, kemudian ia datang ke kantor seperti biasa tapi kali ini tekatnya sudah bulat kalau ia akan langsung memberikan surat pengunduran diri kepada atasannya. Meskipun bukan Hanan, tapi atasannya sudah bisa dipastikan akan langsung menghubungi Hanan untuk meminta persetujuan.


"Apa maksud kamu?" Hanan menghampiri meja Kiran yang sedang membereskan barang-barangnya. "Jawab..." kata Hanan sedikit keras. "Aku harus kembali ke Bandung." kata Kiran. "Tapi kan ga perlu resign, Kiran." kata Hanan tegas. "Aku akan menetap disana. Ga ke Jakarta lagi." kata Kiran lalu bergegas menuju ruang HRD untuk mengembalikan id cardnya. Hanan hanya bisa menghela nafas panjang, dia tau persis sifat Kiran yang keras kepala. Dia tak mau mereka ribut di kantor.


Tak berapa lama Kiran kembali ke mejanya. Sebentar memastikan barang-barangnya tak tertinggal, kemudian pamit kepada timnya tidak lupa juga dengan Tio.


****


"Aku antar kamu sampai Bandung." Hanan menunggu Kiran di lobby. "Ga perlu, aku udah pesan travel." Kiran bergegas meninggalkan Hanan. "Engga bisa, aku akan antar kamu." Hanan lalu menarik tangan Kiran menuju mobilnya. Kiran tak bisa berbuat apa-apa.


Sesampainya di kosan Kiran. "Travel akan jemput jam 2. Kamu bisa pulang." kata Kiran. "Aku bilang, aku yang akan antar kamu pulang." kata Hanan sedikit membentak. "Ngapain? Buat ketemu orang tua aku? Percuma." kata Kiran singkat. "Percuma dan ga perlu." lanjut Kiran. Hanan terdiam sejenak lalu bangkit dari duduknya lalu mengangkat packingan barang-barang Kiran ke dalam mobilnya. "Mas, ga usah. Aku bisa berangkat sendiri."


Saat mereka cek cok di halaman kosan Kiran, tiba-tiba Shandy datang menghampiri mereka. "Ngapain lo?" kata Hanan ketus. "Gue mau antar Kiran pulang. Sudah semua barangnya?" kemudian Sandy bertanya kepada Kiran. Seketika tas Kiran yang sedang dipegang Hanan jatuh. "Ini yang kamu bilang travel?" tanya Hanan ke Kiran. "Oke.. kalau itu mau kamu. Pergilah sama dia." kata Hanan pasrah. Lalu segera masuk kedalam mobilnya dan bergegas pergi. Hatinya luar biasa sakit karena Kiran tega memilih orang lain ketimbang dia. Kiran yang ditinggalkan Hanan berusaha tidak menangis.


****


Kurang lebih tiga setengah jam perjalanan dari Jakarta ke Bandung mereka pun sampai di rumah Kiran.


"Assalamu alaikum..." Kiran menyapa orang tuanya yang sudah menanti didepan pintu. "Waalaikum salam..." mereka pun berpelukan tanpa wajah Ibu sedikit khawatir. "Ada apa?" tanya Ibu pelan. Kiran hanya menggeleng.


"Bapak, Ibu perkenalkan ini Sandy." Sandy segera menghampiri kedua orang tua Kiran dan bersalaman. "Mari masuk, Nak." kata Ibu. Bapak membantu Kiran mengangkat tasnya ke kamar. "Ibu ambilkan minum dulu."

__ADS_1


Ibu menyediakan air jahe manis hangat dan beberapa potong kue. Udara semakin dingin, karena sudah terbenam matahari. Rumah Kiran nerada di daerah Bandung Selatan. "Silahkan diminum Nak Sandy, sama kuenya dicobain masih hangat. Maaf hanya ada ini." kata Ibu. "Nak Sandy, teman kantornya Kiran?" tanya Bapak. "Oh bukan Om, saya koleganya." kata Sandy lalu menyeruput air jahe. "Wah, enak sekali Tante. Pas udaranya seperti ini." kata Sandy. "Iya, silahkan dicobain serabinya." kata Ibu. Tak berapa lama Kiran bergabung bersama.


"Kenapa atuh Neng? Kok mendadak sekali pulangnya." tanya Ibu bingung. Kiran pun terperangah "Oh engga Bu, Kiran hanya capek aja." Kiran berkilah.


****


Sandy pun makan malam bersama keluarga Kiran dan kembali mengobrol dengan Bapak. Bapak sepertinya sangat nyambung mengobrol dengan Sandy.


"Udah malem Pak, saya pamit pulang dulu." kata Sandy sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 9.30 malam. "Nak, sebaiknya kamu menginap saja di rumah Kami. Ada kamar tamu. Sudah terlalu larut, sampai jam berapa kamu nanti sampai rumah." kata Ibu cemas. "Iya, tidak apa-apa menginap dulu disini. Pakai kaos Bapak kalau kamu ga bawa baju tidur." kata Bapak. "Tapi bawahnya pakai sarung ya. Celana Bapak pasti kamu kebesaran." lanjut Bapak membuat tertawa.


Sandy melirik Kiran meminta jawaban. "Iya Mas, menginap disini aja dulu. Besok baru pulang." kata Kiran kemudian diiyakan oleh Sandy. Sandy pun bersih-bersih untuk segera tidur begitu pun yang lain. Beberapa lama matanya tak juga terpejam. Entah memikirkan apa.


"Tiingggg!!!" nada pesannya berbunyi. "Kiran, kamu udah tidur? Aku ga bisa tidur." Sandy mengirimkan pesan ke Kiran. "Belum Mas, kita ngobrol diluar yuk." balas Kiran.


Kiran menahan tawa saat melihat Sandy menggunakan kaos Bapak dan juga kain sarung yang diselempangkan di pundak. "Kenapa?" tanya Sandy heran. "Lucu. Pak Sandy yang biasanya pakai kemeja dan jas sekarang berpenampilan begini." kata Kiran tak bisa menahan tawanya. "Enak kok, kayak gini." bela Sandy. "Untung Bapak ga ngasih kamu kaos partai." Kiran pun tertawa geli. Sementara itu melihat Kiran tertawa lepas membuat Sandy bahagia. Diam-diam ia memperhatikan Kiran sambil tersenyum.


"Kamu beruntung, Kiran." kata Sandy tiba-tiba. "Kenapa?" tanya Kiran. "Orang tua kamu sangat sayang sama kamu. Perhatian, manjain kamu banget. Beda sama aku." terang Sandy. "Memang kamu kenapa?" tanya Kiran penasaran. "Eemm... nantilah aku cerita. Bikin ga mood soalnya." kata Sandy. Kiran pun mengangguk. "Tapi hari ini aku bahagia banget ketemu keluarga kamu." lanjut Sandy tersenyum.


"Kiran, apa aku sudah bisa mendengar jawaban dari kamu?" tanya Sandy tiba-tiba. "Jawaban apa?" tanya balik Kiran. "Tentang perasaan aku ke kamu. Mumpung aku disini, ketemu Bapak sama Ibu. Aku bisa langsung melamar kamu." kata Sandy dengan tatapan memohon kepada Kiran. Kiran yang sedikit shock dan bingung lalu beranjak "Apa sih kamu? Ngaco.." kata Kiran sambil berlalu meninggalkan Sandy untuk kembali ke kamarnya.


Kiran masuk ke kamar dengan perasaan gusar. Air matanya kembali mengalir. Ponselnya menyala, tanda pesan masuk yang ternyata dari Hanan. "Kiran, I love you." Entah sudah berapa kali hari ini kata "I lobe you" dikirimkan oleh Hanan, namun tak satupun ada balasan dari Kiran.

__ADS_1


Kiran pun kembali menangis hingga akhirnya tanpa sadar ia tertidur.


****


Pagi harinya, ia bangung sedikit kesiangan. Segera ia berwudhu lalu sholat subuh setelah itu keluar kamarnya hendak membantu Ibu. Dengan sweeter rajutnya, Kiran menghampiri Ibu yang sudah hampor selesai memasak. "Maaf, Kiran kesiangan." katanya. "Gapapa, sudah selesai. Kamu kenapa?" tanya Ibu lagi. Mungkin karena melihat wajah sembab Kiran. "Engga Bu, Kiran hanya capek. Oh iya, Sandy mana?" tanya Kiran. "Ikut Bapakmu ke mesjid." kata Ibu santai. "HAH?!!!" Kiran malah terkejut. Karena pasti akan bertemu tetangga-tetangganya dan pasti akan ditanya "Sandy iti siapa?" Kiran gusar memikirkan itu. Tiba-tiba riuh tawa terdengar dari luar. Bapak dan Sandy mengobrol sambil tertawa seru sekali. Dan lagi, Sandy pakai baju koko Bapak dengan sedikit kebesaran.


"Assalamu alaikum..." kata Bapak dan Sandy. "Waalaikum salam" jawab Ibu. Kiran masih terperangah. "Assalamu alaikum Kiran..." Sandy memberi salam tepat dihadapannya. "Wa waalaikum salam." jawan Kiran. "Salim dulu dong sama suami." goda Sandy kepada Kiran. Tapi dengan begitu sepertinya Kiran menjadi salting dan baper.


"Ayo kita sarapan." kata Bapak yang sudah bersiap di meja makan. Ibu manuangkan air putih di gelas masing-masing. "Kiran, ajak Sandy keliling-keliling lihat kebun teh nanti setelah sarapan." Kiran yang baru menyeruput air putih sedikit tersedak. "Mas Sandy mau langsung pulang, Bu." kata Kiran panik. "Kamu nanti langsung ke kantor kan?" tanya Kiran kepada Sandy yang asik menyantap nasi goreng Ibu. "Bolos sehari, gapapa kok. Tenang." jawab Sandy santai. Kiran medumel dalam hati "Iya, gw tau itu kantor lo. Tapi please, pulang sekarang." Kiran mengunyah sarapannya dengan cepat.


****


Sesampainya di Jakarta, Sandy kembali ke rumahnya dengan perasaan senang. Lalu grup whatsapp genknya mengajak untuk ketemuan malam ini. Otomatis, Sandy dan Hanan akan bertemu.


Wajah Hanan tampak kesal sejak awal melihat Sandy. Mereka sebenarnya dekat karna memang orang tua mereka kolega sejak lama. Jadi sudah seperti keluarga. Namun, Hanan dan Sandy tidak pernah akur dan sepaham.


"Nan.." Sandy menunjukan sebuah foto dimana dirinya bersua foto dengan Kiran, Ibu dan Bapak Kiran. Foto tersebut ia ambil sesaat sebelum masuk mobil. "Lampu hijau dari orang tuanya." kata Sandy memamerkannya kepada Hanan. "Bangsaatt lo, San..!!" sebuah pukulan mendarat di pipi Sandy. "Hanan, came on! Kita bersaing secara sehat. Kiran udah bukan milik lo. Dia bebas mau sama siapa aja." kata Sandy berusaha menahan emosinya. "Kiran cuma milik gua, Bangsaatt.. Lo ga bisa ngambil dia dengan cara ini." kata Hanan memanas kemudian ditenangkan oleh temannya yang lain. "Oohh oke, akan gua pastikan kalau Kiran akan tetap memilih gue." kata Hanan dengan emosi yang meledak kemudian meninggalkan tongkrongan mereka.


Didalam mobil Hanan kembali mengumpat dan berteriak memanggil Kiran. Hanan pun menghubungi Kiran, tapi tak kunjung diangkat.


*****

__ADS_1


__ADS_2