
Sudah seminggu sejak kerjasama perusahaan dengan Sandy. Kiran dan Tio masih saja memperbaiki design sesuai dengan permintaan Sandy.
"Mas, aku sepertinya mesti lembur deh. Design ditunggu Pak Sandy besok pagi. Jadi mau ga mau, aku harus selesaikan malam ini. Tio izin pulang lebih cepat karna ga enak badan." kata Kiran menelpon Hanan. "Ya udah, aku juga masih ada yang perlu diselesaikan. Kita pulang sehabis maghrib ya." kata Hanan.
Selesai sholat magrib, Kiran kembali ke mejanya. Kembali fokus mengerjakan pekerjaannya. "Kita pulang!" Hanan menghampiri Kiran dengan sudah menenteng tas laptopnya. "Mas, kamu duluan deh. Aku belum selesai." tiba-tiba ponsel Kiran menyala tanda ada pesan yang masuk. Hanan melirik ke arah ponsel Kiran. "Sandy? Kenapa lagi dia?" tanya Hanan. "Masih ada yang harus direvisi sesuai permintaan Pak Sandy." jawab Kiran lalu mengetik membalas pesan Sandy.
"Kamu pulang duluan aja, Mas. Nanti aku naik taksi aja." kata Kiran. Namun, Hanan malah menarik kursi dan duduk disamping Kiran. "Aku tunggu aja." kata Hanan. Kiran pun tersenyum.
Tak berapa lama kemudian, OB yang masih bertugas menghampiri Kiran sembari membawa bungkusan makanan. "Mbak Kiran, ini pesanannya." kata OB tersebut. "Pesanan? Saya ga pesan apa-apa." kata Kiran keheranan. "Tapi tadi ojek online yang antar bilang ini untuk Mbak Kiran. Itu juga ada namanya." kata OB tersebut. "Saya permisi dulu." kemudian bungkusan diambil Kiran dengan masih keheranan. Lalu ponselnya kembali menyala sebuah pesan masuk dari Sandy. "Makan malam dulu, sorry harus buat kamu lembur. Enjoy!" pesan dari Sandy membuat Hanan semakin penasaran. "Eemm... bisa-bisanya." kata Hanan sambil menampilkan wajah jutek. Kiran pun hanya tersenyum lalu membalas pesan Sandy dengan ucapan terima kasih.
"Udah, ponselnya simpen. Jangan balas-balas pesan dia lagi." kata Hanan dengan wajah yang semakin ditekuk saja. "Iya, ini aku simpen. Sebentar lagi juga selesai kerjaanku." Kiran melanjutkan pekerjaannya. Sekitar 10 menit kemudian pun selesai.
"Mas, mau makan dulu?" tanya Kiran kepada Hanan yang sedari tadi duduk disampingnya tanpa berkata. "Ini kita makan bareng aja ya!" ajak Kiran lalu berniat membuka bungkusan makanan tersebut. "Kita makan diluar aja. Itu kamu kasih Pak Satpam aja." kata Hanan dengan wajah yang masih jutek. "Kenapa? Kamu ga suka makanan ini?" tanya Kiran keheranan. "Suka, tapi aku ga suka sama yang ngasihnya. Kita makan diluar aja." kata Hanan lagi lalu berdiri dari duduknya. Kiran yang masih keheranan lalu cepat-cepat membereskan tasnya dan makanannya pun ia bawa.
__ADS_1
****
"Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Kiran saat didalam mobil. Hanan segera menyalakan mobilnya dan lalu melaju. Entah Hanan akan mengajaknya makan dimana, Kiran tidak tau yang jelas makanan pemnerian Sandy sudah ia berikan ke security yang berjaga.
"Kiran, kamu ga boleh sering komunikasi sama Sandy." kata Hanan membuka pembicaraan didalam mobil. "Iya, memangnya kenapa?" tanya Kiran. "Dia itu terkenal sekali suka memainkan perempuan alias playboy kelas kakap. Aku ga mau nanti kamu tergoda sama dia." kata Hanan dengan mimik wajah mewanti-wanti. Kiran pun tak tahan untuk tidak tertawa. "Mas, aku kira kenapa? Ya enggalah, aku ga bakalan suka sama Pak Sandy. Kami juga komunikasi hanya sebatas klien." Kiran tak hentinya tertawa. "Baguslah kalau begitu..." kata Hanan masih tetap fokus menyetir.
"Mas, aku laper." kata Kiran sendu. Hanan pun tersenyum. "Ketoprak malam hari, enak nih kayaknya." Kiran pun langsung mengangguk. Mereka menuju tempat makan pinggir jalan tak jauh dari kosan Kiran.
"Ketopraknya 2 ya, Pak. Tidak terlalu pedas dan yang 1 agak dibanyakin bawang putihnya." kata Kiran kepada Bapak tukang ketoprak. Mereka sering makan malam disitu karena banyak terdapat pilihan makanan. Pesanan mereka pun tiba, Hanan dan Kiran menikmati ketoprak sambil mengobrol dan bersenda gurau.
Tiba-tiba, ponsel Hanan berdering. Terlihat panggilan masuk dari Maminya Hanan. "Aduh, kenapa lagi?" gerutu Hanan. "Eh, ga boleh gitu. Angkat dulu, Mas. Siapa tau penting." kata Kiran.
"Ya hallo, Ma." kata Hanan lesu. "Hanan, kamu lagi dimana? Mami tunggu di rumah cepat ya, ada hal penting yang mesti Mami dan Papi bicarakan." kata Mami Hanan dengan suara yang cukup keras. "Apa sih Ma? Bisa sekarang aja kan? Hanan masih makan." kata Hanan. "Ga bisa, pokoknya Mami tunggu kamu di rumah segera." telfon pun lalu ditutup oleh Mami Hanan. "Huft..." Hanan sedikit membanting ponselnya ke meja. "Habisin makannya dulu, trus pulang." kata Kiran dengan mengusap-ngusap bahu Hanan.
__ADS_1
Kiran sudah mengetahui watak Mami Hanan. Meskipun belum pernah bertemu, tetapi Hanan sering bercerita kalau mereka sering berselisih paham karena Mami Hanan cukup keras kepala dan egois. Tak jarang Hanan menjadi berani melawan kehendak orang tuanya. Padahal Hanan adalah anak satu-satunya dari keluarga tersebut.
Setelah selesai makan, Hanan mengantarkan Kiran terlebih dahulu. Walaupun sebenarnya berjalan kaki pun Kiran bisa untuk sampai ke kosannya. "Aku pulang dulu ya, Sayang!" kata Hanan. "Iya, hati-hati Mas." kata Kiran.
****
Hanan POV
"Assalamu alaikum.." Hanan tiba di rumahnya. Terlihat Mami dan Papinya sudah menunggu di ruang keluarga. "Waalaikum salam." jawab orang tua Hanan. Setelah bersalaman, Hanan pun segera duduk dengan menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Capek ya, Nan?" tanya Mami. "Hanan, sudah waktunya kamu mempunyai istri. Mau tunggu apa lagi, hah?" tiba-tiba perkataan Mami membuat Hanan terbelalak. "Kamu ini kan karirnya bagus. Kalau sudah punya istri, nanti capek kerja di rumah ada yang manjain kamu." kata Mami kemudian. Hanan masih mencerna maksud dari Maminya.
"Kamu inget Sofi? Anaknya sahabat Mami yang tinggal di Singapur, Tante Dita. Dia sudah besar loh, cantik. Weekend besok antar Mami ketemu mereka ya. Mereka baru pindah lagi ke Indo." kata Mami menjelaskan. Tapi, Hanan teringat kalau Sabtu besok adalah hari ulang tahun Kiran dan di hari itu juga Hanan berencana untuk malamar Kiran.
__ADS_1
"Kayaknya ga bisa deh, Mi. Hanan udah ada janji." kata Hanan menolak. "Mami selama ini ga pernah minta apa-apa sama kamu loh, Nan. Mami minta sekalii ini aja kamu menolak." kata Mami sambil bersungut kesal. Hanan pun pergi ke kamar meninggalkan orang tuanya daripada tetap disitu dan semakin keruh suasana.
****