Senja Itu Kamu

Senja Itu Kamu
Bab 9 : New Relationship


__ADS_3

"Kiran, bisa kita ketemu sekarang?" Hanan menelpon Kiran tiba-tiba saat waktu kerja. "Bisa Mas, nanti sore kita ketemu dimana?" jawab Kiran sembari sibuk dengan laptopnya. "Sekarang." kata Hanan. Kiran pun tertawa "Ngaco, masih jam 2." kata Kiran. "Kita perlu ketemu sekarang." kata Hanan memaksa. "Aku udah di parkiran kantor kamu." lanjut Hanan. "Ada apa sih, Mas?" tanya Kiran penasaran. "Aku udah bilang ke Sandy juga kalau kamu pergi sama aku." kata Hanan. Kiran pun bergegas membereskan laptopnya lalu pergi menemui Hanan. Sandy hari ini sedang meeting di luar kantor. Kiran tidak ikut karna tadi pagi sempat tidak enak badan. Sandy terlalu khawatir dengan Kiran.


Kiran pun menuju mobil Hanan yang sudah terparkir menunggunya di lobby, lalu mereka langsung beranjak. "Mas, ada apa? Kamu khawatir sekali." kata Kiran karna melihat wajah Hanan yang begitu cemas. Tapi tak dijawab oleh Hanan, bahkan obrolan pun tidak ada sampai mereka di pantai.


"Kiran..." Hanan memanggil Kiran dengan mata yang berkaca. "Mas, kamu kenapa?" Kiran pun menjadi khawatir. Hanan lalu memeluk Kiran, air matanya jatuh, Hanan menangis dipelukan Kiran. Kiran pun semakin bingung. "Mas, kenapa? Cerita, jangan bikin aku cemas." kata Kiran menenangkan.


"Kiran, kita harus temui orang tua aku. Kita izin untuk segera menikah. Kalau mereka tidak mengizinkan, apa kamu tetap mau menikah denganku?" kata Hanan. Kiran tersenyum sembari memegang pipi Hanan dan mengusap air matanya. "Bagaimana caranya?" tanya Kiran. "Kita bisa kawin lari. Kamu mau kan kita bersama?" jelas Hanan. "Mas, tapi bukan itu jalan keluarnya." kata Kiran.


"Kiran, weekend ini Mami mau mengadakan acara lamaran aku dengan Sofia. Aku sama sekali ga bisa. Aku mencintai kamu Kiran. Aku ga akan rela kalau kamu bersama dengan orang lain. Kamu juga kan?" kata Hanan. Tangan Kiran yang masih di pipi Hanan seketika lemas. Cukup lama mereka dalam senyap. "Mas, antar aku ke kosan, ya. Aku capek." kata Kiran.


Sesampainya di parkiran kosan Kiran. "Mas, setelah aku berfikir. Kamu lebih baik terima pertunangan kamu dengan Sofia. Orang tua kamu lebih penting, Mas. Jangan kecewakan mereka. Aku ga apa-apa." kata Kiran sambil tertunduk menahan air matanya. Hanan mendengar itu sangat kaget. "Kiran, kamu menyerah gitu aja? Kamu ga mau perjuangin aku? Kiran aku yakin kamu sangat mencintaiku kan?" tanya Hanan. "Iyaa.. iya Mas. Aku sangat mencintai kamu. Tapi kita ga bisa melawan restu orang tua. Aku ga mau hubungan kita mudah hancur karna ga ada restu dari mereka." kata Kiran dengan air mata yang mulai jatuh. "Mas, boleh berikan aku ciuman perpisahan?" kata Kiran dengan terbata. "Engga... ga akan ada perpisahan." kata Hanan.


Dengan sedikit memaksa, Kiran meraih wajah Hanan untuk mengecup bibirnya. Kiran menatap Hanan sangat dalam begitu pun sebaliknya. Hingga akhirnya mereka melanjutkan lagi ciuman tersebut. "I love you, Kiran." kata Hanan. Tapi Kiran kemudian menjauhkan tubuhnya dan keluar dari mobil Hanan tanpa menoleh kembali. Kiran rasa ciuman tersebut adalah tanda perpisahan antara dirinya dan Hanan.


****

__ADS_1


"Kiran, kamu gapapa?" tanya Sandy pada keesokan harinya. Melihat Kiran yang masih menggunakan sweeter dan wajah yang sedikit layu. "Aku gapapa, Mas." kata Kiran sambil tersenyum. Sandy pun meninggalkan meja Kiran dengan masih sedikit menoleh kearahnya.


"Siang ini, kita makan siang di luar ya." Sandy mengirim pesan kepada Kiran. "Baik, Mas." jawab Kiran.


Kiran dan Sandy makan siang disebuah resto. Kiran memesan nasi capcay dan Sandy memesan nasi ayam. "Kok nasinya ga dimakan?" tanya Sandy. "Makan kok, sedikit. Perut aku lagi kurang nyaman." jawab Kiran lalu kembali mengaduk makanan di priringnya. Sesekali tatapan Kiran kosong menghadap makanannya. Sandy sangat sadar dengan hal itu. "Kiran, aku tau kamu sedang memikirkan apa." kata Sandy. Kiran pun menoleh kearah Sandy. "Kamu udah tau kan, kalau Hanan Sabtu besok akan bertunangan dengan Sofie?" kata Sandy. "Mas, aku ga mau bahas itu." Kiran mengelak. Mereka pun menghabiskan makan siang lalu kembali ke kantor.


Sudah hampir jam pulang, Kiran bersiap-siap itu pulang agar bisa cepat istirahat, pikirnya. Namun, saat ia akan membereskan tasnya, tiba-tiba matanya gelap dan tubuhnya lemas. Ia pun langsung pingsan. Melihat itu, rekan-rekan kerjanya tampak panik dan langsung memberikan Kiran minyak angin agar segera sadarkan diri. Mendengar keriuhan di luar ruangannya, Sandy segera melongok apa yang terjadi. Betapa terkejutnya ia saat melihat Kiran tak berdaya dipangkuan Dewi. Sandy pun segera menghampiri Kiran. "Kiran.. Kiran.." panggilnya sambil menggoyangkan tubuh Kiran. Tanpa pikir panjang, Sandy langsung mengangkat tubuh Kiran untuk ia bawa ke Rumah Sakit. "Tolong ambilkan kunci mobil saya di ruangan. Dewi tolong bereskan dan bawa tas Kiran. Kita bawa dia ke Rumah Sakit." kata Sandy khawatir. "Baik Pak." jawab Dewi.


Kiran pun diantar ke rumah sakit oleh Sandy dan Dewi menemaninya sambil mengusap-usap kening Kiran dengan minyak angin. Sesampainya di rumah sakit, Kiran segera diperiksa oleh Dokter yang kebetulan Dokter keluarga Sandy. Dewi sudah dipersilahkan pulang.


"Hanya perlu istirahat, tidak perlu cemas." kata Dokter. Sandy menunggui Kiran disamping tempat tidurnya. Walaupun hanya pingsan saja, Sandy meminta ruang inap VVIP untuk Kiran. Saat sedang memandangi wajah Kiran, tiba-tiba ponsel Kiran berdering. Panggilan telfon dari Hanan. Tak berapa lama ponsel Sandy berdering, Hanan pun menelpon Sandy tapi tidak diangkat.


Setengah jam kemudian, saat Sandy akan keluar ruang inap untuk membeli minum ia melihat Hanan sedang berlari kearahnya, ke arah ruang inap Kiran. "Gue mau liat Kiran." kata Hanan tanpa basa-basi namun dihalangi Sandy. "Dia perlu istirahat, Nan. Jangan ganggu dia dulu." kata Sandy. "Hanan, dia kepikiran lo. Jangan sampai lo tambah buat dia lemah." kata Sandy, Hanan pun terdiam. Rupanya Hanan menanyakan Kiran ke security kantornya yang memberitahu Kiran dibawa ke rumah sakit karena pingsan.


Kiran masih bisa mendengar sayup-sayup suara obrolan Sandy dan Hanan. Kiran hanya menoleh ke arah berbeda agar ia tidak melihat Hanan dari kaca pintu ruang inapnya. Kiran tidak bisa menahan air matanya.

__ADS_1


****


Seminggu kemudian saat weekend, hari pertunangan Hanan. "Kiran, kalau aku ajak kamu ke acara Hanan bagaimana?" tanya Sandy. Cukup lama Kiran tak menjawab hanya membaca pesan Sandy saja. "Ya udah, kalau kamu ga mau." balas Sandy dengan emoticon senyum. Lalu Kiran menjawab "Aku mau, Mas." Sandy pun langsung senang "Ok, aku jemput kamu jam 4 sore ya." Sandy merasa dirinya telah menang dari Hanan karena sudah tidak ada lagi alasan Kiran untuk menolak cintanya.


Sandy menjemput Kiran yang sudah cantik dengan gaun crem sederhananya. "Cantik.." kata Sandy memuji penampilan Kiran. Kiran hanya tersenyum menyembunyikan sedihnya agar nanti air matanya tidak jatuh saat melihat Hanan bertunangan.


Sesampainya di venue, Sandy dengan bangga merangkul tangan Kiran. Saat akan menemui orang tua Hanan, orang tua Sofie berserta Hanan dan Sofie untuk memberi selamat Sandy dengan mantap menggenggam tangan Kiran yang tampak bingung dan canggung.


"Selamat Bro, akhirnya." kata Sandy kepada Hanan yang dari raut wajahnya tampak memerah. Kiran hanya banyak tertunduk dan sedikit tersenyum.


"Kiran, aku masih akan terus menunggu jawaban kamu." kata Sandy disela-sela mereka menikmati hidangan hingga membuat Kiran sedikit tersedak.


Diperjalanan pulang, Kiran banyak terdiam. Air matanya seperti kering melihat Hanan bersama wanita lain. Walaupun ia sangat cemburu tapi tak ada lagi air mata yang ia keluarkan. Sesampainya di parkiran kosan "Mas..." Kiran mamanggil Sandy. "Ya.." kata Sandy. "Aku akan coba.." kata Kiran terbata. Ekspresi Sandy membuat pertanyaan. "Ya, aku akan mencoba untuk mencintai kamu." kata Kiran. Seketika Sandy langsung berteriak dengan wajah yang sangat senang. "I love you, Kiran." kata Sandy kemudian. Kiran hanya bingung menjawabnya "Its ok, kamu bisa belajar untuk mencintai aku. Yang penting, hari ini kita sudah menjadi sepasang kekasih." kata Sandy sumringah.


****

__ADS_1


Hari-hari selanjutnya berlalu dengan cukup nyaman untuk Kiran. Sesuai kesepakatan, saat di kantor Kiran dan Sandy tidak menunjukan kalau sedang dalam hubungan jadi tidak mempengaruhi apa pun tetap bekerja dengan profesionalisme masing-masing.


****


__ADS_2