Senja Itu Kamu

Senja Itu Kamu
Bab 2 : Sudah Ada Yang Punya!


__ADS_3

"Pagi, Mas Hanan. Sudah sarapan?" tanya Kiran saat memasuki ruangan Hanan pagi itu, "Eh kamu, belum. Sebentar ya, aku kirim email dulu. Klien ini agak cerewet jadi harus serba cepet respon." kata Hanan sambil tetap fokus terhadap layar laptopnya. "Sarapan ini mau?" tanya Kiran sambil menunjukan sebuah kotak makan berwarna biru ditangannya. Hanan pun segera melirik benda yang dibawa Kiran. "Wah, apa itu? Kamu masak sarapan?" tanya Hanan terbelalak. "Iya, aku buat roti panggang. Roti panggang spesial buat kamu." kata Kiran sumringah dan langsung saja membuka kotak makan yang ia bawa mengambilnya 1 potong lalu memberikannya ke Hanan. "Cobain deh!" kata Kiran. Hanan pun langsung membuka mulutnya. "Huft, harus banget ya disuapin?" tanya Kiran. "Ya gimana lagi, aku kan sambil kerja." kata Hanan terkekeh sambil mengunyah roti panggang buatan Kiran. "Eemm.. enak banget, Sayang." kata Hanan dengan membelalakan matanya hingga membuat Kiran tersipu malu. "Lebay kamu mah, padahal kan cuma roti aja." kata Kiran. "Aku balik ke meja dulu ya, ga enak diliat yang lain. Aku kan hanya staff tapi bisa-bisanya ngobrol asik dan menyuapi calon Bapak Direksi." kata Kiran terkekeh. "Kalau sedang dengan yang lain, kamu memang staff saya. Tapi kalau lagi berdua, kamu kan istri saya." timpal Hanan sambil tersenyum kepada Kiran. "Gombal aja kamu mah." kata Kiran lalu berlalu pergi dari ruangan Hanan.


"Darimana lo?" sesampainya Kiran di mejanya, tiba-tiba Tio menghampiri Kiran. "Mau tau aja, eh mau cobain ini ga?" tanya Kiran kepada Tio. "Apa itu?" tanya Tio. "Roti bakar spesial." kata Kiran. "Roti bakar spesial? Biasa aja perasaan." protes Tio sembari tangannya mengambil 1 potong roti bakar buatan Kiran dan langsung melahapnya. "Apanya yang spesial?" Tio terus berkomentar mengenai roti buatan Kiran. "Ya spesial dong. Itu spesial gue bikin untuk Mas Hanan." kata Kiran sambil cengar-cengir. Tio yang mendengar itu seketika terbatuk. "Uhuk..uhukk... sejak kapan lo jadi rajin masuk dapur? Perasaan gue lo cuma bisa bikin mie rebus." ejek Tio sambil terus tertawa. "Kurang ajar lo, bisalah gue kalau cuma buat masakan yang simple mah." kata Kiran mencibir ke arah Tio. "Cewek lo mana? Gue ga pernah dikenalin deh." kata Kiran lagi. "Ntar juga lo tau, udah tenang aja." kata Tio sambil berlalu pergi. Kiran pun melanjutkan pekerjaannya.


****


"Sayang makan siang yuk! Kamu masih sibuk?" sebuah chat whatsapp masuk ke ponsel Kiran. Hanan mengajaknya untuk makan siang. "Ayuk.." jawab Kiran cepat. Hanan dan Kiran bertemu didepan ruangan Hanan karena lebih dekat dengan akses menuju kantin.

__ADS_1


Sepanjang makan siang mereka berdua mengobrol asik. Terkadang beberapa teman bergabung dengan mereka. Sebenarnya kedekatan Hanan dan Kiran membuat banyak cewek-cewek pekerja kantor disini merasa iri kepada Kiran. Wanita-wanita single yang merasa dirinya lebih hebat dan lebih cantik dari Kiran merasa kalau Kiran tidak cocok dengan Hanan dan menganggap Hanan harusnya bisa mendapatkan wanita yang lebih cantik dan berkelas dibandingkan dengan Kiran.


"Semakin banyak yang tau hubungan kita, semakin banyak juga kayaknya yang pada iri sama aku ya, Mas." kata Kiran sedikit berbisik kepada Hanan. "Perasaan kamu aja." kata Hanan singkat. "Kamu mah ga peka. Padahal banyak banget wanita-wanita disini yang suka perhatiin kamu. Cari perhatian kamu, tapi kamunya aja yang ga peka." kata Kiran sembari sedikit cemberut. "Kamu cemburu? Makasih ya." kata Hanan kembali berbisik kepada Kiran. "Kenapa makasih?" tanya Kiran heran. "Ya itu tandanya, kamu tulus mencintai aku. I love you." kata Hanan lagi dengan suara lebih berbisik. Kiran hanya tersenyum simpul mendengar kata-kata dari Hanan.


****


"Kiran, ikut aku dan Tio meeting dengan klien siang ini jam 2 ya." kata Hanan. "Baik, Mas." jawab Kiran. "Design packaging yang kemarin kamu buat dibawa. Kita mau meeting dengan Pak Sandy." kata Hanan lagi. "Baik, Pak." kata Tio kemudian. Kiran dan Tio mendiskusikan hasil design mereka, apakah sudah ada respon dari Pak Sandy sebelumnya untuk perubahan atau belum. "Kayaknya Pak Sandy belum coment apa-apa deh, Ran." kata Tio. "Berarti kita bawa ini aja kali ya. Nanti kalau ada yang perlu dirubah baru kita rubah sesuai arahan Pak Sandy." kata Kiran kemudian.

__ADS_1


"Permisi Pak, ada tamu." tiba-tiba sekretaris ruangan mengantarkan tamu yaitu Pak Sandy. Klien yang sedang mereka tunggu. "Pak Sandy, apa kabar?" sapa Hanan kemudian. Kiran dan Tio segera berdiri dari tempat duduknya dan berdiri disamping Hanan. "Baik, Alhamdulillah. Pak Hanan apa kabar?" tanya Sandy kepada Hanan. "Kabar saya baik, Alhamdulillah. Oh iya Pak, perkenalkan ini tim saya. Ini Kiran dan Tio." kata Hanan memperkenalkan Kiran dan Tio. Seketika mata Sandy sedikit terbelalak melihat Kiran. Tangan kanannya diulurkan untuk bersalaman dengan Kiran dengan tanpa sedikit pun matanya berpaling dari wajah Kiran. Kiran menanggapi jabatan tangan Sandy. Hanan yang sudah melihat sesuatu yang mencurigakan kemudian segera memperkenalkan lagi Tio. "Tim saya satu lagi, Tio, Pak." kata Hanan kemudian agak menunjuk kearah Tio. Kemudian Sandy bersalaman dengan Tio. "Pak Sandy, silahkan duduk." kata Hanan. Sandy duduk tepat disebrang Kiran.


"Maaf Pak Sandy, sebelum meetingnya dimulai. Bapak mau minum apa? Biar kami siapkan." tanya Kiran malah membuat Sandy gugup menjawabnya. "Oh itu, emm.. kopi saja jangan terlalu manis." kata Sandy kemudian. "Baik Pak.." timpal Kiran kemudian segera keluar dari ruang meeting. Namun, mata Sandy terus saja mengawasi Kiran dan Hanan sadar akan hal itu.


Kiran pun menuju pantry untuk minta dibuatkan kopi pesanan Pak Sandy kepada office girl. "Pak Sandy, permisi sebentar ada yang perlu saya ambil." kata Hanan berpamitan kepada Sandy untuk keluar ruangan. Kemudian Sandy mengobrol dengan Tio.


"Mba Siti, tolong buatkan kopi untuk klien kita Pak Sandy. Kopi tidak terlalu manis." kata Kiran. "Oh iya, satu lagi untuk Pak Hanan. Teh tawar hangat." saat Kiran menyebukna teh tawar hangat, terdengar suara Hanan dibelakangnya. "Kok disini?" tanya Kiran keheranan. Hanan hanya menatap Kiran dengan tatapan mencecar. "Kamu jangan terlalu ramah sama si Sandy." mendengar itu Kiran hanya terpaku keheranan. "Si Sandy? Akrab banget, bukannya kalian baru pertama ketemu?" tanya Kiran. "Dia temen kuliah aku di Ausie." jawab Hanan kemudian Kiran hanya ber-oh. "Ya terus kenapa aku ga boleh ramah sama dia?" tanya Kiran lagi. "Kayaknya dia suka sama kamu." mendengar itu Kiran hanya tertawa kemudian tersenyum. "Makasih ya." kata Kiran sambil menyentuh ujung hidung Hanan yang memang mancung. Mereka pun kembali ke ruang meeting, namun Hanan masih menampakan wajah cemburunya.

__ADS_1


"Maaf Pak Sandy, menunggu lama. Kita mulai saja presentasinya sekarang." kata Hanan membuka meeting. Hanan dan Kiran duduk bersebelahan. Tio duduk disamping Kiran. Hanan kemudian berdiri untuk memulai presentasinya. Dipertengahan presentasi kemudian Hanan bertanya kepada Kiran. "Kiran tolong dicek, produk kita waktu itu terjual pesat disekitar bulan apa?" kemudian Kiran segera mengecek barchart di laptopnya. Sandy yang sedang serius memperhatikan Hanan kemudian terdistract karena Hanan bertanya kepada Kiran. Tanpa sadar, Sandy terus saja memandangi wajah Kiran sehingga tidak mempedulikan penjelasan Hanan. "Sekitar bulan April sampai Juni, Pak." kata Kiran menjawab pertanyaan Hanan. Tapi Hanan kemudian malah fokus ke Sandy yang daritadi menatap wajah Kiran tanpa berpaling. Kiran yang sadar akan hal itu menjadi tidak enak hati lalu menundukan pandangannya. "Ehm.." Hanan berdehem keras agar Sandy segera tersadar. "Bisa kita lanjut presentasinya, Pak Sandy." tanya Hanan. "Oh iya, silahkan." jawab Sandy dengan salah tingkah. Melihat itu Tio hanya menahan tertawa.


****


__ADS_2