Senja Itu Kamu

Senja Itu Kamu
Bab 5 : Dinner Romantis


__ADS_3

"Nan, sore nongkrong yok! Udah lama lo ga ngumpul sama kita-kita. Sibuk banget kayaknya." kata Sandy via grup WA dengan teman-teman dekat sewaktu kuliah dulu. "Boleh, jam 7 gue sampe tongkrongan." balas Hanan.


"Mas, aku sehabis ngantor ada janji sama temen-temen. Sahabatku ada yang mau nikah, jadi kita buat acara bridal shower gitu." kata Kiran saat makan siang bersama Hanan. "Dimana? Aku anter. Aku juga ada janji sama temen-temen." kata Hanan.


Sore itu, Hanan hanya mengantar Kiran sampai lobby hotel tempat Kiran janjian dengan teman-temannya. Hanan langsung ketempat tongkrongan bertemu dengan teman-temannya.


****


Hanan POV


"Wih, Bapak Direksi kita udah dateng." sapa Sandy kepada Hanan. "Halah, belom. Lebih keren lo, udah jadi direktur." kata Hanan. Mereka pun asik mengobrol bersama dengan beberapa teman lainnya.


Sandy seketika ingat dengan Kiran. Dia masih penasaran ada hubungan apa Hanan dan Kiran. "Nan, Kiran itu udah punya pacar atau belum ya? Kali aja lo tau." tanya Sandy sambil tersenyum membuat Hanan terkejut dan langsung menampilkan wajah jutek "Udah..." jawab singkat Hanan tambah membuat Sandy penasaran. "Udah?" tanya Sandy meyakinkan. Hanan lalu mengeluarkan ponselnya dan memberitahu wallpaper ponselnya kepada Sandy. Wallpaper ponsel Hanan adalah foto dirinya dengan Kiran yang berselfie sambil tersenyum bahagia. "Anjrit.. bisa-bisanya lo." kata Sandy terkejut. Hanan pun tersenyum girang sambil menunjukan jari tengahnya kepada Sandy. "Awas kalo lo sampe macem-macem sama dia." kata Hanan.


****


Kiran POV


"Daniaa.. selamat yaa..." kata Kiran saat bertemu dengan sahabatnya. "Lo cepet nyusul ya, Kiran." balas Dania.


Kiran, Dania dan beberapa sahabat lainnya kemudian berkumpul. Membuat acara seru-seruan, berfoto a la bridal shower yang nyeleneh.

__ADS_1


Kiran membuat postingan salah satu foto mereka dengan caption ucapan selamat.


"Cie.. mau juga tuh dibuatin acara bridal shower gitu." Hanan mengomentari ponstingan Kiran. "Maulah, perempuan mana yang ga mau cepet nikah? Jadi kapan Mas?" balas Kiran kepada Hanan dengan emoticon wajah penasaran. "Besok yuk." jawab Hanan. Kiran hanya membalas dengan emoticon senyum. Kiran tidak tau kalau Hanan bertemu juga dengan Sandy.


****


Hari yang ditunggu-tunggu. Sejak jam 23 malam, Hanan dan Kiran terus saja mengobrol menunggu jam 12 malam saat hari ulang tahun Kiran.


"Mas, besok lagi ya. Aku ngantuk." kata Kiran. "Ga mau. Aku mau jadi orang pertama yang ngucapin ulang tahun kamu."


Sampai jam 00 tepat Hanan kemudian menyanyikan lagu ulang tahun. "Kiran, apa harapan kamu?" tanya Hanan. Kiran pun menatap wajah Hanan dari ponselnya. "Aku mau, kamu cepat halalin aku. Jadikan aku milik kamu selamanya. Mas, jika ada orang lain yang menyatakan keseriusannya kepadaku gimana?" tanya Kiran. "Iya, secepatnya aku akan temui orang tua kamu. Kiran, apa ada orang lain selain aku?" tanya Hanan. Kiran pun menggeleng. "Huft, syukurlah. Kalau sampai ada bisa-bisa aku mati." kata Hanan tertawa. "Mas, sudah malam. Aku ngantuk." kata Kiran. "Selamat tidur, semoga mimpiin aku." kata Hanan terkekeh.


Sejujurnya Kiran masih memikirkan ucapan Sandy kemarin. Walaupun ia tidak ada hati sama sekali dengan Sandy tapi Kiran tau kalau Hanan dan Sandy sahabat lama jadi itu membuat Kiran khawatir.


****


"Hanan ga bisa lama-lama ya Mi. Hanan ada janji." kata Hanan kesal. Mereka pun berangkat. Sepanjang perjalanam Mami terus saja bercerita mengenai Sofi, terlihat sekali kalau Mami ingin agar Hanan dan Sofi bersama.


Sampai pada resto tempat mereka bertemu, sudah terlihat Tante Dian dan Sofi sedang menikmati minumannya.


"Dian, sory nunggu lama ya?" kata Mama sumringah berpelukan dengan Tante Dian. "Engga kok, kami juga baru." kata Tante Dian. "Ini Sofi? Sudah besar, cantik sekali kamu, Nak." puji Mami kepada Sofi. Sofi pun tertunduk malu. "Ini Hanan, kamu masih ingat kan?" tanya Mami lagi. Sofi dan Hanan pun berjabat tangan.

__ADS_1


"Kalian pasti inget kan dulu waktu masih kecil sering main di taman bareng." kata Mami. "Iya, Hanan tuh ya sering ga mau pulang. Nempel terus sama Sofi." tambah Tante Dian. Mereka pun mengobrol asik sambil sesekali tertawa sementara Hanan berusaha menikmati obrolan tersebut.


Hingga jam menunjukan pukul 18. "Mi, Hanan ada janji. Mami masih lama? Hanan pulang duluan ya." kata Hanan disela-sela keseruan obrolan Mami dan Tante Dian. "Hanan, Mami masih mengobrol sama Tante Dian. Lebih baik kamu ajak Sofi keliling mall ya." bujuk Mami."Tapi Mi, Hanan ada janji." suara Hanan agak keras kemudian mengambil ponselnya di meja dan bergegas pergi. "Hanan!!!" suara Mami agak berteriak.


"Maaf ya, Hanan memang keras kepala sekali. Nanti kamu harus sabar-sabar ya, Sofi." kata Mami.


****


"Sayang, aku jemput kamu satu jam lagi ya. Aku habis antar Mami, mau pulang dulu trus ganti baju." kata Hanan menelfon Kiran. "Iya Mas, aku tunggu." kata Kiran. "Eh, emmm.." suara Hanan kembali terdengar. "Kenapa Mas?" tanya Kiran. "I love you." kata Hanan berbisik. Kiran pun menjadi sumringah dibuatnya "I love you, more."


Kiran sudah berdandan cantik malam ini, malam spesial yang dibuat oleh Hanan. Dengan dress hitam brukat 5 centi dibawah lutut dan sepatu hak tinggi membuatnya semakin anggun.


"Sayang, aku didepan ya." Hanan menelfon Kiran. "Sebentar, Mas." Kiran pun menuju halaman kosannya. Terlihat Hanan sudah menunggu di mobil dan kemudian terperangah akan kecantikan Kiran.


"Mas, kenapa? ga bagus ya?" Kiran menjadi canggung ditatap oleh Hanan. "Cantik sekali, Sayang." puji Hanan hingga membuat Kiran tersipu.


Sesampainya di resto yang sudah dibooking Hanan spesial, mereka pun duduk. Dihadapan mereka sudah ada lilin dan bunga mawar mekar menambah romantisnya suasana. Sayup-sayup terdengar musik klasik yang memanjakan telinga.


"Sayang, will you marry me?" Hanan tiba-tiba mengeluarkan cincin dengan mutiara indah. Kiran pun tampak tak percaya kemudian hanya menatap cincin yang Hanan sodorkan. Ditatapnya lembut wajah Hanan "Ya, I will." kata Kiran tersedu. Mereka pun berpelukan.


Setelah lamarannya diterima, Hanan lalu memasangkan cincin di jari manis Kiran. Kiran tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Mereka pun berdansa mesra dengan diiringi musik romantis. Hanan dengan lembut memegang dagu Kiran, dikecupnya perlahan bibir Kiran yang terus mengembangkan senyuman. "I love you, Kiran." kata Hanan. "I love you, Mas Hanan."

__ADS_1


****


__ADS_2