
"Sayang, weekend besok kebetulan hari anniversary Papi dan Mami. Sekalian aku mau kenalin kamu ke mereka. Siap-siap ya." kata Hanan menghampiri meja kerja Kiran pagi itu. "Mas, kamu serius mau kenalin aku sama orang tua kamu?" tanya Kiran khawatir. "Serius dong Sayang. Aku berniat akan segera menemui orang tua kamu, setelah kamu ketemu orang tua aku ya " Hanan lalu mengelus rambut Kiran sambil tersenyum.
****
Hari yang membuat Kiran berdebar pun tiba. Ia seperti ragu untuk bertemu dengan oeang tua Hanan. Ia tau, pasti keluarga Hanan sangat berkelas dan berbeda jauh dengan ia.
"Aku jemput kamu, habis magrib ya." Hanan mengirimkan pesan. Kiran pun segera membereskan pakaiannya yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Ia ingin terlihat cantik dimana keluarga Hanan.
Hanan pun menjemput Kiran, tidak lupa ia selalu memuji penampilan Kiran.
****
Sesampainya di rumah Hanan, tampak sudah cukup banyak tamu yang hadir. Kiran yang tampak ragu turun dari mobil lalu Hanan menghampiri dan menggandeng tangan Kiran.
Hanan mengajak Kiran untuk menemui kedua orang tuanya yang tampak sedang bercengkrama dengan beberapa tamu.
"Pi, Mi... kenalin. Ini Kiran, kekasih Hanan." kata Hanan memperkenalkan Kiran kepada kedua orang tuanya. Papi tampak ramah menghampiri jabatan tangan Kiran, sementara Mami bersikap cuek dan angkuh sehingga membuat Kiran bingung.
Hanan pun segera mengajak Kiran untuk menikmati makanan dan minuman. "Jangan diambil hati, Mami memang seperti itu. Aslinya baik, kok." kata Hanan sambil memberikan Kiran segelas sirup. Kiran hanya tersenyum. Dalam hatinya masih menebak-nebak sifat Mami.
Tiba-tiba, suara Sandy yang menyapa Hanan memecah lamunan Kiran. "Hanan... selamat buat anniversary bokap nyokap, lo." Sandy menghampiri Hanan dan sedikit terkejut dengan keberadaan Kiran, begitupun juga dengan Kiran karena sejak saat itu, saat Sandy mengungkapkan perasaannya ke Kiran sudah tidak ada komunikasi dan pertemuan lagi. Lebih membuat Kiran kaget adalah Sandy mengenakan kemeja yang ia pilihkan waktu itu ketika Sandy meminta bantuan Kiran untuk membeli baju. Wajah Hanan pasti sudah tampak jutek karena cemburu.
"Kiran, apa kabar?" sapa Sandy kepada Kiran. "Baik, Pak." jawab Kiran tersenyum swdikit canggung. "Oom Sandy..." tiba-tiba anak perempuan kecil sekitar 3 tahunan berlari menghampiri Sandy dan langsung memeluk kakinya. "Eh, cantik. Clarita, sudah sampai." Sandy lalu menggendong bocah perempuan itu. Kiran semakin terkejut karena gadis kecil itu membawa boneka yang sangat Kiran kenal. "Oom Hanan..." sapa gadia kecil itu. "Tante cantik disapa juga dong." kata Sandy menunjuk Kiran. "Halo, siapa namanya?" tanya Kiran. "Clarita... Tante ?" tanya balik bocah itu. "Kiran..." kata Kiran sambil mengajukan tangannya. "Kamu sama Mama ya, Om mau ngobrol dulu sama Om Hanan dan Tante Kiran." bocah itu pun segera berlari menghampiri orang tuanya. "Keponakanku..." kata Sandy kepada Kiran, karena tampak raut wajah Kiran bertanya.
Mereka pun mengobrol bertiga, walaupun Kiran nampak canggung sekali. "Gue kesana dulu ya, ketemu yang lain." Sandy pun berpamitan untuk bertemu kenalannya yang lain di acara itu.
__ADS_1
****
Hanan dan Kiran menikmati hidangan sambil mengobrol dan sesekali tertawa. Rasa khawatir di hati Kiran nampaknya sudah tidak ada lagi. Tanpa ia sadari, dari kejauhan Sandy sering mengamati Kiran.
"Hanannn... kesini sebentar." tiba-tiba suara Mami memanggil Hanan. Walaupun sedikit ragu, akhirnya Hanan menghampiri Papi dan Mami disebuah panggung kecil dan sudah terdapat kue. "Aku kesana dulu ya." kata Hanan kepada Kiran. Kiran pun mengangguk.
Orang tua Hanan nampak memberi sambutan. Lalu mengucapkan make a wish bersama. Namun, tiba-tiba sebuah pengumuman yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya meluncur dari mulut Mami.
"Di acara ini sekaligus kami ingin mengumumkan bahwa kami akan segera mengadakan acara pertunangan anak saya Hanan dan Sofia." sambil tersenyum Mami memberikan pengumuman tersebut. Hanan yang nampak santai disamping mereka tiba-tiba seperti tersambar petir mendengarnya. Namun, disini banyak sekali kolega keluarganya. Tidak mungkin Hanan marah saat ini.
Tangan Sofia kemudian dituntun untuk bergenggaman dengan Hanan.
Kiran, entah apa yang ada di hatinya sekarang. Mendengar itu seperti sudah membuat hatinya hancur berkeping-keping. Air matanya menetes tak terbendung dan rasanya ingin berteriak kepada Hanan. Kiran pun bangkit dari kursinya, menatap tajam kearah Hanan yang juga menatapnya tak berdaya sedikit memberikan isyarat bahwa ini hanya salah paham.
Kiran pun berlari keluar venue sambil menyeka air matanya. Hanan yang melihat itu lalu segera menyusul Kiran tanpa mempedulikan orang tua dan para tamu.
Sementara Sandy yang mengamati itu segera menghampiri Hanan dan Kiran. "Kiran biar gue yang antar aja." kata Sandy menahan tubuh Hanan yang akan beranjak untuk mengambil kunci mobil. "Ga usah Pak, saya naik taksi saja." kata Kiran dengan nafas tertahan karena menahan isak tangis. "Engga, aku antar kamu." kata Sandy bersikukuh kemudian menarik tangan Kiran menuju mobilnya. Hanan hanya bisa terpaku melihat semua itu. Hanan rasa banyak bicara pun malah akan memperkeruh suasana.
****
"Menangislah yang kencang kalau kamu mau. Menahan pun malah bikin sesak di dada kan?" kata Sandy dipertengahan perjalanan mereka. "Jangan terlalu banyak menahan kesedihan. Ga baik." katanya lagi. Mendengar itu membuat Kiran semakin ingin menangis, sesekali isak tangisnya terdengar.
"Aku ajak kamu kesuatu tempat boleh ya?" tanya Sandy. "Aku mau langsung pulang aja, Pak." kata Kiran. "Kalau kamu langsung pulang, masuk ke kamar justru kamu akan semakin sedih." kata Sandy.
Tak berapa lama, mereka sampai di pantai pasir putih. Sandy mengajak Kiran untuk menghirup udara segar sambil bersandar di depan mobil.
__ADS_1
"Kamu mau bicara atau cerita? Aku sih ga bisa kasih solusi tapi aku bisa jadi pendengar yang baik." kata Sandy. Awalnya Kiran ragu, tapi tatapan mata Sandy sangat membuat Kiran tenang. "Mas Hanan..." suara Kiran tercekat saat mulai bercerita. "Tante memang seperti itu, makanya Hanan ga terlalu betah di rumah. Mereka sering bertengkar." kata Sandy.
"Minggu lalu... Mas Hanan... melamar aku." Kiran memperlihatkan cicin di jari manisnya. Sandy hanya terdiam dan sedikit menarik nafas panjang. "Kiran, kamu pasti mengerti kalau rezeki, maut dan jodoh itu sudah diatur. Ga perlu khawatir." kata Sandy menenangkan. Kiran hanya terdiam.
Setelah cukup lama mereka mengobrol, kemudian Sandy mengantar Kiran pulang.
Sesampainya di kos, Kiran membersihkan diri dan sholat. Ia berusaha tenang, namun Hanan selalu muncul dipikirannya. Sejak tadi handphonenya berdering, panggilan masuk dari Hanan. Kiran sengaja mensilent dering ponselnya.
****
Pagi hari, Kiran merasa tak enak badan karena semalaman menangia terus menerus sampai wajah sembabnya tidak bisa ia sembunyikan. Merasa sedikit demam kemudian ia menghubungi Tio untuk menginfokan kalau ia tidak masuk hari ini. Dan juga berpesan kepada Tio agar tidak memberitahukan hal ini ke Hanan.
"Tio, Kiran sudah sampai?" tanya Hanan. "Belum Pak.." kata Tio. "Ada kabar?" tanya Hanan lagi. Tio pun menggeleng. "Dari semalam Kiran ga bisa dihubungi." kata Hanan.
Sebenarnya, Hanan sangat ingin ke kosan Kiran karena pasti Kiran disana. Namun, jadwal meeting yang padat membuatnya sulit untuk pergi.
Sampai malam tiba, Hanan baru menyelesaikan meeting terakhirnya lalu bergegas ke tempat Kiran.
Pemilik kostan sudah sangat kenal dengan Hanan karena ia sering antar dan jemput Kiran sehingga aksea untuk masuk cukup mudah.
"Tookk..tokkk..." Hanan mengetuk pintu kamar Kiran. "Kiran..." panggil Hanan. Kiran pun tidak menjawab. "Kiran, kalau kamu tetap ga mau jawab aku akan minta tolong untuk buka paksa pintu ini." kata Hanan mengamcam. Tak berapa lama, kunci pun dibuka Kiran.
Tampak penampilan Kiran sangat kacau. Wajahnya sembab karena terus menangis. "Sayang... sayang... maafin aku." Hanan lalu segera memeluk Kiran. Kiran yang merasa air matanya telah habis, nyatanya kembali mengalir dipelukan Hanan. Hanan pun menyeka air mata Kiran. "Sayang, maafin aku." kata Hanan. Kiran mendorong tubuh Hanan perlahan lalu mengambil cincin yang Hanan berikan diatas meja rias. Cincin itu telah ia buka sejak semalam. "Aku kembalikan..." kata Kiran terbata. "Sayang, enggak. Enggak akan terjadi. Kamu akan tetap menjadi istri aku. Kamu denger ya, aku ga mau sama Sofi. Aku cinta kamu." Hanan lalu ingin kembali memeluk Kiran, namun Kiran mengelak.
Tanpa sengaja Hanan melihat boneka kucing yang masih terbalut paperbag. Ia mengenali kalau boneka itu sama persis yang dibawa oleh Calista. "Sandy... Sandy bilang apa ke kamu semalam?" tanya Hanan mencecar. "Ga ada hubungannya dengan dia." kata Kiran tegas.
__ADS_1
"Aku peringatkan ya Kiran, jangan pernah percaya apapun kata-kata dari dia." kata Hanan. "Dia tidak seperti yang kamu kira, Mas." kata Kiran. "Kamu sudah termakan bujukan dia." kata Hanan lagi lalu mengambil boneka tersebut. "Aku kasih tau kamu, Sandy itu bajingan." kata Hanan keras. "Aku mau istirahat, Mas." kata Kiran.
****