
Sesampainya Kiran di kamar, ia langsung saja mengirim pesan whatsapp kepada Hanan. "Mas, bisa kita ketemu besok? Ada yang perlu aku bicarakan, jam 5 ditempat biasa kita ketemu." Sekitar 15 menit pesan itu pun dibalas oleh Hanan. "Bisa, aku tunggu kamu." balas Hanan. Kiran sedikit lega dan tak sabar untuk bertemu Hanan besok.
****
Kiran dan Hanan mempunyai tempat favorit mereka berdua yaitu tepi pantai. Kiran melihat Hanan sudah duduk santai di kursi taman tepi pantai. "Udah lama?" sapa Kiran dengan wajah sumringah. Hanan pun segera menyapa balik dengan senyum yang tak kalah bahagia.
"Mau ngomong apa?" tanya Hanan saat Kiran sudah duduk disampingnya. "Mas, aku dan Sandy sudah mengakhiri hubungan kami." kata Kiran. "Serius?" wajah bahagia Hanan tak dapat ia sembunyikan. Kiran pun mengangguk.
Hanan lalu berlutut dihadapan Kiran sambil memberikan sebuah cincin. "Will you marry me?" kata Hanan. Kiran masih terperangah akan ucapan Hanan. Tapi lagi, wajah Hanan dapat meyakinkan Kiran bahwa ia sangat serius. "Yaa... I will." kata Kiran. Kemudian Hanan memasukan cincin tersebut ke jari manis Kiran lalu mereka saling berpelukan.
"Lusa aku akan ke rumah kamu bersama orang tuaku. Aku ga mau ada jeda lagi yang bisa membuat aku kehilangan kamu." kata Hanan. Kiran pun tersenyum, air matanya mengalir tanpa diminta.
Kemudian mereka duduk menikmati angin sambil berangkulan. "Aku udah tau dari Sandy." kata Hanan. Kiran pun tersenyum. "Dia tidak seburuk yang kamu pikirkan kan?" kata Kiran. "Eemm.. tetep lebih baik akulah." kata Hanan mencibir. Kiran dan Hanan oun tertawa.
****
Benar saja, lusa Hanan dan keluarganya menemui orang tua Kiran di Bandung. Kiran terlebih dahulu pulang untuk mempersiapkan semuanya.
Tampak ayah Hanan begitu ramah tapi tidak dengan Maminya. Mami cukup terlihat angkuh diacara itu.
__ADS_1
"Kiran, I love you." kata Hanan berbisik saat mereka sedang bersanding untuk sesi foto-foto. "I love you too, Mas." Senyum keduanya merekah sepanjang acara. Dan untuk acara pernikahan sesuai dengan permintaan Hanan akan dilaksanakan secepatnya yaitu 1 bulan setelah acara lamaran.
****
Meskipun waktu persiapan yang singkat, Kiran dan Hanan sudah sangat siap dengan semua kesiapan acara mereka. Hanya beberapa kali mencari venue dan eo acara.
Sampai waktu yang mereka nantikan pun tiba. Hanan dapat dengan lantang mengucapkan ijab qobul untuk Kiran. Air mata tak terbendung dari keduanya. Sekarang mereka resmi menjadi sepasang suami istri.
Dari jauh, Sandy menyaksikan acara tersebut dengan perasaan sedih yang tak bisa ia utarakan. Ia sangat mencintai Kiran, sudah selayaknya Kiran bahagia dengan cintanya yang walaupun bukan bersama Sandy.
"Selamat Bro.." Sandy menghampiri kedua mempelai dan menyalaminya. "Thanks Bro, Kiran aman sama gue." kata Hanan bangga. "Haruslah, jangan sampai dia sedih lagi." kata Sandy kepada Hanan. "Siapp..."
Sandy pun menyalami Kiran. "Selamat ya Kiran." Kiran mengangguk lalu menatap wajah Sandy. Air matanya hampir menetes saat melihat sebulir air mata di pelupuk mata Sandy.
****
"Kiran, kamu lupa?" tanya Hanan. Kira menampilkan raut wajah bertanya. "Ini kan malam pertama kita." Hanan pun memberikan senyuman nakalnya. "Aku capek." kata Kiran menggoda Hanan lalu menutup tubuhnya dengan selimut.
Hanan lalu mengelitik pinggang Kiran hingga Kiran tertawa. Hanan menatap wajah Kiran dengan serius. Diusapnya lembut setiap inci wajah Kiran. Kiran menikmati setiap sentuhan dari Hanan. "I love you, Kiran." kata Hanan kemudian dijawab oleh Kiran "I love you, Mas Hanan." mereka kemudian bercumbu dan melanjutkan menghabiskan malam pertama mereka.
__ADS_1
Setelah selesai dengan aktivitas tersebut kemudian mereka kembali mengobrol. "Kiran, kamu pernah ciuman dengan Sandy?" tanya Hanan. "Kenapa tanya gitu?" tanya Kiran penasaran. "Nanya aja. Pernah ya?" tanya Hanan lagi. Kiran diam sejenak dan mengangguk pelan. "Jangan marah." kata Kiran memohon. "Engga, siapa yang marah." kata Hanan lalu memalingkan wajahnya. "Mas, jangan gitu. Kan masa lalu. Rasanya pun sudah lupa. Cuma ingat rasanya Mas Hanan." kata Kiran menggoda. Hanan pun menyunggingkan senyuman.
"Kalau begitu, kita lakuin lagi ya.." kemudian Hanan kembali menindih tubuh Kiran. "Aw, Mas." Kiran memekik. "Kenapa sayang?" tanya Hanan khawatir. "Pelan-pelan, masih nyeri." jawab Kiran dengan malu. Hanan lalu mengusap kepala dan mengecup dahi istrinya itu. "Kita tidur aja." kata Hanan lalu mendekap Kiran.
****
Meskipun pernikahan mereka berlangsung tanoa kendala, namun terlihat sekali kalau Mami masih kurang setuju atas pernikahan Hanan dan Kiran. Tampak dari sorot matanya yang sesekali masih tampak sinis terhadap Kiran. "Kamu sabar-sabar ya sama Mamiku." kata Hanan disela-sela acara berlangsung kemarin. Kiran pun mengangguk. "Aku akan berusaha membuat Mami sayang kepadaku." kata Kiran.
****
Perjalanan rumah tangga mereka tak terasa sudah memasuki usia 5 bulan. "Kiran, kapan kamu mau kasih Mami cucu?" tanya Mami dengan sinis saat Kiran menginap di rumahnya karena hari itu adalah hari anniversary Papi dan Mami. "Mami malu loh, sama Saudara-saudara pasti mereka nanya terus." lanjut Mama. "Belum Mi, kemarin Kiran dan Mas Hanan baru saja periksa ke dokter. Masih menunggu hasilnya." jawab Kiran. Setelah itu Kiran langsung masuk kamar dan mengusap air matanya.
Sementara itu Hanan yang tengah sibuk mengatur dekor acara kemudian mencari istrinya yang tidak tampak dari pandangannya. "Mi, Kiran mana?" tanya Hanan kepada Mami yang sedang memperhatikan display kue-kue. "Mami ga liat." kata Mami dengan ketus. Hanan hanya bisa menghela nafas kemudian mencari Kiran. Ia yakin, istrinya pasti di kamar. "Sayang..." panggil Hanan. Kiran yang sedang terisak segera mengusap air matanya. "Ya Mas..." jawab Kiran. "Kok kamu disini, Sayang. Kenapa?" tanya Hanan yang lali duduk disisi Kiran. "Eemm... enggak. Aku ga apa-apa." kata Kiran berusaha tersenyum. "Mami? Bicara apa dia?" kata Hanan sedikit emosi. "Engga Mas, aku cuma sedikit lelah aja. Aku istirahat sebentar ya." kemudian Kiran merebahkan tubuhnya. Hanan hanya bisa menatap istrinya dengan sabar, ia yakin pasti Mami berbicara sesuatu yang membuat Kiran sedih.
****
"Hanan, lihat. Sofie semakin cantik ya?" kata Mami saat acara berlangsung. Karena Ibu Sofie teman akrab Mami jadi dia diundang. Mami pun memuji Sofie didepan Hanan dan juga Kiran. Kiran ingin segera beranjak dari samping Hanan, namun Hanan segera menggenggam tangan Kiran erat agak ia tidak pergi.
Kiran tetap bersikukuh untuk pergi ke kamarnya. Hanan pun menyusul istrinya.
__ADS_1
Kiran lalu mengambil koper dan segera memasukan pakaiannya ke koper. "Kamu mau kemana Sayang?" tanya Hanan. "Aku mau pulang, Mas." jawab Kiran. "Tapu acaranya belum selesai. Aku ga bisa pulang sekarang." kata Hanan. "Aku bisa pulang sendiri." sesekali Kiran menyeka air matanya. "Sayang, dengerin aku. Kita pulang sama-sama setelah acara selesai." Hanan berusaha menenangkan Kiran. "Aku udah bilang berkali-kali, kamu jangan anggap ucapan Mama." Hanan menambahkan. Setelah sedikit tenang "Sayang, aku mohon. Aku janji, setelah acadanya selesai kita langsung pulang." kata Hanan. "Sayang, kembali ke acara ya. Aku ga enak sama Saudara-saudaraku, mereka pasti nanyain kamu. Aku tunggu kamu dibawah. I love you." Hanan lalu mengecup kening Kiran.
****