Senja Itu Kamu

Senja Itu Kamu
Bab 4 : Charming Doll


__ADS_3

"Sayang, sabtu malam kita dinner mau?" tanya Hanan saat menghampiri Kiran di jam makan siang. Kiran pun tersenyum. "Ga usah repot-repot." kata Kiran. "Kamu bicara sama siapa? Aku?" kata Hanan sambil celingukan. "Ih nyebelin banget. Ya iyalah aku ngomong sama kamu." kata Kiran sewot. "Iya deh, sory-sory. Abisnya kamu bilang gitu kayak sama siapa aja. Ya oke, ya. Aku booking sekarang tempatnya." kata Hanan lalu mengeluarkan pomselnya untuk memesan dinner romantis via aplikasi. "Iya, terserah kamu." kata Kiran kemudian berjalan menuju kantin untuk makan siang diikuti dengan Hanan.


"Oh iya, Mas. Nanti siang aku ke kantornya Pak Sandy untuk memberikan hasil designnya." kata Kiran disela-sela makannya. Hanan pun terkejut "Emang ga bisa dikirim via email?" tanya Hanan. "Sudah, tapi kata Pak Sandy ada peruban sedikit. Makanya dia minta ketemu supaya cepet clear." jelas Kiran. "Ada-ada aja, aku ikut!" kata Hanan sewot. "Mas, jangan gitu. Bagaimana pun dia kan klien kita. Harus profesional lah, Mas." terang Kiran. "Kalau sama yang lain ok, tapi kalau sama dia. Big No!" kata Hanan, Kiran hanya tertawa.


****


"Sayang, kamu diantar sama Tio ya. Aku dipanggil Dewan Direksi. Huft..." kata Hanan via telfon. "Tio masih sakit, hari ini ga masuk. Aku sendiri aja ya, Mas." kata Kiran merayu. Setelah beberapa detik kemudian Hanan menjawab "Eemmm..." "Makasih, Mas." timpal Kiran lalu menutup telfonnya.


****


"Selamat siang Pak Sandy..." sapa Kiran saat sampai di kantor Sandy. Tampak Sandy sudah menunggu Kiran di lobby dan segera mempersilahkannya masuk ke ruang meeting kecil.


Setelah cukup lama berdiskusi, akhirnya design tersebut jadi juga.


"Kiran, habis ini langsung pulang atau ke kantor dulu?" tanya Sandy. Kiran lalu melirik jam tangannya. "Sepertinya langsung pulang, Pak." kata Kiran. "Bisa temani saya makan siang?" tanya Sandy. "Bapak belum makan siang? Sudah jam segini." tanya Kiran balik dan Sandy pun menggeleng. Awalnya Kiran sempat ragu mengiyakan, tapi karna rasa bersalahnya waktu itu yang tidak memakan makanan pemberian Sandy akhirnya ia menerima tawaran Sandy.

__ADS_1


Sesampainya di mall, mereka pun menuju sebuah resto. Sandy mempersilahkan Kiran duduk dengan menarik kursinya. "Terima kasih, Pak." kata Kiran tak enak hati. "Maaf Pak, saya pesan minum saja." kata Kiran kemudian. "Waduh, jangan gitu dong. Kalau masih kenyang, makan cemilan aja ya. Giozanya enak sekali." kata Sandy lalu memesankannya untuk Kiran.


Mereka pun mengobrol kesana kemari, sampai pembahasan kalau Hanan dan Sandy sebenarnya saling kenal karena teman semasa kuliah. Lalu Sandy mulai memberikan pertanyaan kepada Kiran yang bersifat pribadi. "Kamu kelahiran tahun berapa, Kiran?" tanya Sandy. Karena sudah merasa nyambung, Kiran pun menjawab pertanyaan Sandy tanpa ragu. "98. Huft, sebentar lagi tambah umur." kata Kiran. "Kapan?" tanya Sandy penasaran. "Beberapa hari lagi.." jawab Kiran. Mereka lalu menyelesaikan makannya. Awalnya Sandy ingin mengantar Kiran, tapi Kiran menolak secara halus.


****


Keesokan harinya. "Gimana? Udah jadi designnya?" tanya Hanan tiba-tiba pagi itu. "Sudah, Mas. Tinggal diserahkan ke bagian produksi." jawab Kiran tersenyum.


Sejak kemarin, Hanan tidak mengontak Kiran. Kiran sadar pasti Hanan cemburu makanya ia pun tidak berusaha menghubungi Hanan.


"Aku ada meeting siang ini sama Direksi di Sentul. Kemungkinan seharian. Aku ga bisa antar kamu pulang lagi." kata Hanan sendu. "Ga apa-apa, Mas. Siapa tau ada berita baik." kata Kiran mengerlinkan matanya kearah Hanan. Hanan mengusap lembut rambut Kiran.


****


Sebenarnya hati Kiran khawatir, takut kalau Hanan tau dan akan membuat runyam semua. Tapi lagi-lagi Kiran tak sampai hati menolak.

__ADS_1


****


Setelah memasuki beberapa toko pakaian, akhirnya Sandy merasa cocok dengan pilihan Kiran. Beberapa pakaian pun ia kantongi karena masukan dari Kiran. Setelah itu mereka makan malam.


"Kiran, kamu suka boneka?" tanya Sandy. "Mana ada cewek yang ga suka boneka, Pak." jawab Kiran. "Kesana yuk!" ajak Sandy, Kiran mengikuti. "Carikan boneka untuk keponakan saya. Kiran pun excited sekali melihat boneka-boneka lucu. "Yang mana kamu suka?" tanya Sandy. "Ini lucu, ini juga lucu. Aduh lucu semuanya, Mas. Eh, Pak." karena saking kegirangannya sampai Kiran salah memanggil dan membuat Sandy terkejut dan tersenyum.


"Terserah Pak Sandy, deh. Saya sih suka yang ini." Kiran menunjuk boneka kucing dengan bulu sangat halus. "Ok.." kemudian Sandy mengambil 2 buah lalu membayarnya dan Kiran masih sibuk melihat-lihat boneka yang lain.


"Saya antar kamu pulang." kata Sandy saat mereka menuju lobby. "Ga usah Pak, saya naik taksi saja." kata Kiran. "No, saya harus antar kamu." lagi-lagi Kiran seperti terhipnotis akan kata-kata Sandy dan tak bisa menolak. Karcis valey diberikan kepada petugas, tak lama mobil mewah Sandy pun datang.


Sesampainya di depan kost Kiran. "Oh iya, ini buat kamu.!" kata Sandy memberikan paperbag bertuliskan "Charming Doll" toko boneka yang tadi mereka datangi. "Inikan untuk..." kata Kiran takjub. "Beli 2." kata Sandy. "Oh, makasih banyak Pak." kata Kiran. Namun, sesaat Kiran akan membuka pintu tiba-tiba Sandy memanggilnya lagi. "Kiran..." seketika Kiran pun menengok. "Boleh aku bilang sesuatu?" kata Sandy. "Iya.." kata Kiran mulai bingung. "Aku mencintaimu Kiran. Emm.. agak konyol tapi ya aku jatuh cinta denganmu sejak saat pertama kita ketemu." kata Sandy membuat Kiran bagai tersambar petir. Tatapan mata Sandy tak lepas dari mata Kiran yang terbelalak. Kiran pun tersenyum berusaha tenang. "Mas Hanan..." lalu berlalu pergi meninggalkan Sandy.


Di kamar, Kiran masih tak percaya apa yang ia dengar barusan. Ia teringat kata-kata Hanan kalau Sandy itu Playboy ulung dan suka mempermainkan hati wanita. Tapi disisi lain, ia tidak melihat itu sedikitpun dari sifat Sandy selama ini. Ditatapnya paperbag berisikan boneka kucing yang ia sukai.


Tiba-tiba ponsel Kiran berdering. Telfon masuk dari Hanan menanyakan Kiran. "Sayang, aku baru selesai. Kamu sudah dikosan kan? Temani aku makan, di tempat biasa ya. Setengah jam lagi aku jemput kamu." kata Hanan, Kiran hanya terdiam dibuatnya. "Halo Sayang, kamu kenapa?" tanya Hanan. "Oh engga, ya udah aku tunggu ya." jawab Kiran lalu menutup telfonnya. Ditatapnya kembali boneka pemberian Sandy. Meskipun Hanan tidak mengetahui dan Kiran sama sekali tidak ada hati dengan Sandy tapi itu cukup membuatnya khawatir.

__ADS_1


Sementara Sandy, masih menebak-nebak maksud dari Kiran dengan menyebut Mas Hanan.


****


__ADS_2