Seperti Embun

Seperti Embun
FAJAR


__ADS_3

angin berhembus pelan,


matahari mulai menampakkan warna nya,


embun pagi msih membasahi dedaunan


suara kicauan burung memecah keheningan


sisa-sisa air hujan semalam yang membasahi jalan tanah,


belum benar2 keringv


dedaunan kering berguguran dijalan, berserakan


aku berjalan menyusuri tanah basah, menghirup napas dalam2, jalanan itu menanjak menuju satu titik.


merasakan sejuknya pagi


pagi ketika matahari bru memperlihatkan semburat merahnya


tampak di depan sana, awan bergulung2, menemani matahari yang baru bangun dari peraduannya


cantik,


aku mmpercepat langkahku, sbelum semuanya menghilang dari pandangan


membuatku sedikit melamunkan sesuatu, atas penampakan terindah yang mungkin terjadi satu kali dalam hidupku,bukan berarti aku pesimis, karena sbenarnya segala sesuatu harusnya dinikmati secara tepat,bisa saja aku dipanggil Yang Kuasa setelah menikmati keindahan yang Dia berikan.


satu-satunya cara adalah dengan cukup menikmatinya.


sebuah suara membangunkanku dari lamunan, aku menoleh dan melihat senyumannya, tiba2 saja aku merasa pagi ku sungguh sempurna, kenikmatan apalagi yang Engkau berikan, Ya Tuhan.


aku menyunggingkan senyum terbaikku,


"jangan lari2, kamu bisa jatuh lagi, lihat baju dan celanamu, seperti habis mandi lumpur" , katanya


aku mengerucutkan bibirku ,

__ADS_1


"kamu yg harus bertanggungjawab, krn mengarahkan ku ke jalan yg tdk benar", dan dia tertawa,


"aku kan ga bohong, itu memang jalannya, kamu sja yg ceroboh, salah kamu sndiri",


aku menjulurkan lidah ku, meledeknya dan kembali menikmati pemandangan awan didepanku,


dia mendekati ku dan memulai mengambil gambar,,


"apa hanya awan yg menarik perhatianmu?"


tentu saja, untuk apa aku datang ksini kalau bukan untuk itu, selain membuatmu jatuh dalam lumpur


jahat, kamu senang?


Of course, anggap aja ini bonus dipagi hari, tontonan menarik


oh, baiknya diriku bisa membuat org lain tertawa bahagia, pasti pahala paling besar di surga nanti,


hmm begitu, katanya


dia mulai kehabisan kata2 untuk membalas ku, lalu dia tertawa lebih keras dan menyubit pelan pipiku


aku mulai mengamatinya, dan dia tiba2 menyadarinya


"biasa saja melihatnya, naksir nanti,


memang sudah,


"aku langsung membungkam mulutku sendiri sebelum dia mendengarnya,"


" memang apa???"


ah, bukan apa-apa


Aku tertawa lepas agar dia tidak bertanya lagi, dia hanya mengangkat bahunya acuh dan kembali pada kamera kesayangannya.


Suasana pagi yang berbeda dari biasanya, untuk kali ini aku menikmati bersamanya.

__ADS_1


Dia tidak menyadarinya, mungkin memang hanya aku yang merasakannya. Aku berharap suatu saat nanti dia benar-benar melihatku. Melihat kedalaman hatiku terhadapnya.


Bahwa aku menginginkannya,bukan sekedar obsesi tapi ini adalah rasa yang aku tidak sejak kapan itu mulai ada. Aku menyayanginya. Terdengar aneh jika seorang wanita yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu, memberikan sinyal lebih tepatnya. Aku merasa sedikit menyesal dengan kodratku sebagai wanita, meski sekarang sudah emansipasi. Tetapi semuanya tidak bisa terburu-buru. Fajar pagi hari ini adalah sebagai saksi bahwa aku semakin mengaguminya. Tidak menyenangkan memendam semuanya sendiri. Oh, Tuhan kapan hal itu akan terjadi?


Aku kembali mengamati awan indah didepanku, dibalik sana terlihat bukit-bukit menjulang , matahari mulai tinggi dan semburat kuningnya menyilaukan mata. Kabut tipis mulai muncul tapi tidak menghalangi pandanganku untuk melihat pemandangan menakjubkan. Dingin, aku merangkul lenganku, mengeratkan jaket hangat yang aku kenakan. Hal tidak terduga terjadi, dia berdiri mendekatiku,tanpa jarak merekatkan lengannya, merangkul bahuku, memberikan kehangatan. Aku menoleh kearahnya, dan dia tersenyum.


Pipimu memerah, apakah sangat dingin?"katanya


Seketika aku mengangguk


Dia menangkup wajahku dengan kedua tangannnya, lalu aku merasa kehangatan menjalar diwajahku kemudian menuju keseluruh tubuhku, aku tercengang tidak sanggup berkata apa-apa, aku hanya melihat matanya, mata itu berbinar, indah.


Tidak hanya sampai disitu, dia menarikku kedalam pelukannya, dan mengarahkan tubuhku kedepan, dia memelukku dari belakang, Dia memberiku kehangatan dan tetap membiarkanku menikmati alam yang indah didepannya. Jantungku berdegup kencang, aku tidak peduli jika dia mendengarnya, aku terlalu senang.


"Nikmatilah, sebelum semuanya berakhir", bisiknya ditelingaku



Jam ditanganku sudah menunjukkan pukul 7, sudah satu setengah jam kami berada disini. Duduk ditepi jurang, yang dibawah kami terdapat hamparan ladang hijau yang bepetak-petak rapi.


Dia mulai berdiri dan membersihkan pakaian yang melekat pada tubuhnya


"saatnya turun", ajaknya


dia nengulurkan tangannya ke arahku, aku menyambutnya dan mengikutinya berdiri.


"awas, jangan sampai kau jatuh kedalam lumpur lagi, karena aku jamin, saat turun nanti akan lebih parah dari sebelumnya", dia meledekku.


"tenang saja, sepatuku ini sudah ahli, tidak akan membiarkanku jatuh lagi, tadi hanya pemanasan," kataku dengan angkuh


Dia tertawa, "semoga harapanmu terwujud," tertawanya semakin lepas.



Pagi hari itu, berakhir dengan badan penuh lumpur dan debu. Kami tidak berhenti tertawa sampai dibawah bukit. Perasaan kami campur aduk, senang dan merasa sedikit canggung. Bagiku ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang dia lakukan diatas sana. Aku ingin mengulanginya sekali lagi, untuk waktu yang lama.


__ADS_1




__ADS_2