Seperti Embun

Seperti Embun
Matahari itu Datang


__ADS_3

Ada dua hal yang selalu pasti di dunia ini.


Terbit dan tenggelamnya matahari. Waktu yang tidak pernah bergeser. Suasana yang sama dan langit yang sama. Rona warna yang tak pernah sedikit pun berubah. Perpaduan warna yang sangat cantik. Diantara dua hal itu, aku selalu menikmati saat fajar tiba. Seperti sebuah harapan baru. Embun yang membasahi dedaunan adalah aroma yang menenangkan. Pagi. Warna langit biru yang cerah. Pertanda baik. Semoga.


Aku merebahkan badanku pada bangku panjang depan kos. Badanku penuh dengan keringat. Olahraga pagi, sekedar berlari keliling kompleks perumahan. Cukup menyegarkan. Aku sering melakukannya seminggu sekali, jika tidak ada jadwal untuk pulang ke rumah halaman. Selama 1 jam aku mengelilingi kompleks perumahan. Suasananya asri dan hangat. Jalanan terlihat sangat lengang. Sekarang aku menyegarkan tenggorokanku yang kering setelah berlari. Handphoneku berdering. Tertera nama Raka disana.


Halo


Halo, del. Good morning.


Good morning. Ada apa? Terlalu pagi untuk menelpon


Apa aku harus menelpon hanya jika ada sesuatu?


Aku tersenyum.


Aku minta jawaban bukan pertanyaan, Raka.


Baiklah. Hari ini kamu sibuk tidak?


Tidak. Kenapa?


Bersedia menemaniku?


Kemana?


Adel please. Jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan


Jadi apa masalahnya? aku menahan tertawaku. Sedikit menggodanya.


Raka terdengar menghela nafas.


Aku butuh jawaban ya dan tidak. Sederhana kan?


Tentu saja aku harus tahu. Kita akan kemana. Aku juga harus sedikit waspada meski kita saling kenal. Kejahatan tidak ada yang pernah tahu.


Apa aku terlihat seperti orang jahat? Aku yakin Tuhan menggambar wajahku dengan sangat baik dan hati-hati.


Kamu terlalu percaya diri. Wajah dan hati setiap orang berbeda.


Apa kita akan terus berdebat soal ini?


Kenapa? Aku menyukainya.


Baiklah, aku anggap itu jawaban bahwa kamu bersedia. Aku tahu kamu tidak bisa menolakku.


Raka, seenaknya saja. Kamu selalu mendominasi


Kamu terlalu berbelit-belit, Del.


Raka tertawa lepas dari seberang sana. Dia merasa puas sudah menggodaku. Sekali lagi.


Aku jemput kamu 1 jam lagi. Aku yakin itu waktu yang cukup untuk mandi dan berdandan.


Lihatkan lagi-lagi kamu mendikteku.


Aku mendengus kesal dan hendak mematikan telepon, tapi justru dia yang mematikan teleponnya terlebih dulu. Raka mengirimiku sebuah pesan.


Adel jgn lama2, tidak perlu berdandan, krn km trlihat sm saja. :D >_^:P


Aku menggerutu. Kesal dengan pesan yang dia kirim. Selalu menggodaku dan seenaknya sendiri. Ingin aku jambak rambutnya. Dengan langkah gontai aku kembali ke kamar dan mempersiapkan diri. Raka hanya memberiku waktu satu jam. Bagaimana bisa seorang gadis bersiap-siap untuk kencan hanya dalam waktu satu jam. Tunggu. Kencan?. Arghh aku pasti sudah gila, kalau menganggap ini kencan setelah apa yang dia katakan padaku 3 hari yang lalu. Apa dia akan mengajakku berpacaran?. Aku menggelengkan kepalaku. Membuang jauh-jauh pikiran itu.Melangkahkan kakiku masuk ke kamar mandi.


Satu jam pun berlalu, aku melihat bayanganku dicermin. Celana jeans panjang dan kaos putih polos sudah melekat ditubuhku. Kalung etnik warna coklat tua aku tambahkan agar tidak terlalu kosong. Sentuhan makeup tipis menghiasi wajahku, tidak lupa aku bubuhkan lipgloss pada bibirku agar tidak pucat. Pintu kamarku diketuk dari luar. Ketukan itu berasal dari Tyas, teman satu kos.


Kak Adel, didepan fans kakak sudah datang tuh. Cie, yang pagi-pagi mau kencan.


Tyas meledekku.


Apaan sih, Yas. Nggak ada yang mau kencan.


Kencan juga nggak apa-apa kak. Jomblo mah bebas.


Sudah sana mandi, kamu bau banget.


Tyas mengerucutkan bibirnya. Berjalan dengan malas menuju kamarnya


Aku bergegas mengambil cardigan dan tasku. Berjalan keluar menemui Raka. Sesampainya diluar, aku cukup terkejut. Tidak. Aku sangat terkejut. Raka tidak sendiri. Ada seorang yang sangat tidak ingin aku temui. Dengan tatapan tak peduli aku tetap berjalan kearah Raka. Raka tersenyum melihatku.

__ADS_1


Adelia. Suara laki-laki itu terdengar menggema ditelingaku.


Aku berbalik kearahnya tanpa berkata.


Bisa bicara sebentar?


Aku kembali menatap Raka.


Tidak apa. Aku akan menunggu. Dia ingin mengatakan sesuatu.


Aku mengisyaratkan bahwa aku tidak ingin menemuinya.


Raka mendorongku pelan dan memintaku untuk mengiyakan ajakannya. Aku berjalan gontai ke arah laki-laki itu.


Aku tidak punya waktu banyak. Segeralah bicara.


Terima kasih.


Lelaki itu mulai berbicara.


Aku minta maaf dengan apa yang telah terjadi diantara kita. Aku tahu aku salah membawamu dalam situasi itu. Tidak seharusnya aku membuatmu mendapatkan harapan yang tidak pernah bisa aku balas. Maaf menempatkanmu sebagai pelampiasan dan dengan mudahnya berpindah darimu ke perempuan yang lain. Maaf aku tidak memikirkan perasaanmu saat itu. Saat itu aku baru saja putus dan merasa bahwa semuanya terlihat tidak adil karenanya aku bertindak tanpa berpikir panjang. Aku menyadari semuanya. Maafkan aku, Adel. Aku bisa melihat bahwa kamu sangat tulus. Tidak seharusnya aku menyakitimu.


Lelaki itu adalah Dodi. Beberapa bulan yang lalu, aku memutus kontak dengannya, setelah aku melihat dia dengan mesranya berpacaran dengan perempuan lain. Tepat sehari sebelumnya, dia membuatku merasa sebagai perempuan yang beruntung karena sudah mengenalnya. Dan menyakini bahwa dia memiliki perasaan yang sama sepertiku. Ternyata semua itu salah. Perasaanku salah dan perhatian dia palsu. Entah kenapa saat ini aku tidak bergairah untuk memarahinya, ingin saja aku enyahkan dia dari pandanganku. Perasaanku berubah. Aku tidak peduli dengan dia. Mati rasa. Aku mulai menyampaikan apa yang aku rasakan saat ini.


Aku sudah melupakan semua. Tapi aku tetap tidak bisa menganggap seperti dulu saat kita pertama bertemu. Apapun alasanmu, bagiku apa yang kamu lakukan adalah tidak benar. Bukan untukku tapi untuk semua perempuan yang mungkin menaruh rasa dan harapan besar terhadapmu. Aku tidak ingin menyesalinya, dengan adanya ini aku bisa lebih berhati-hati menerka perasaanku. Terima kasih sudah memberitahuku. Lebih baik kita tidak perlu lagi saling kenal. Aku harus pergi.


Dodi tidak berkata-kata lagi dan tidak mencegahku pergi. Dia hanya tersenyum dan mengulurkan tangannya. Aku membalas uluran tangannya, kemudian berbalik menuju ke arah Raka.


Kami pergi dulu ya, Dod.


Ya, hati-hatilah kalian. Have fun.


Raka mulai mengendarai motornya menuju jalanan. Aku terdiam dan entah Raka sadar atau tidak. Aku merasa tanganku melingkar dipinggangnya. Aku menyadarinya lalu menarik tanganku dengan pelan. Aku tidak tahu sejak kapan tanganku berada disana. Tetapi dengan cepat, Raka mencegah tanganku dan menariknya kembali dalam posisi sebelumnya. Aku kaget dan tidak menolaknya. Dia sedikit memalingkan wajahnya ke belakang dan berkata.


Jangan dilepas, Del. Kalau kamu ingin bersandar. Bersandarlah padaku.


Aku tersenyum dan tidak membantahnya. Aku membenamkan kepalaku dipunggungnya. Nyaman. Aku merasa ada sedikit bebanku yang terangkat. Raka terus melajukan motornya membelah jalanan yang mulai padat. Aku tidak tahu, dia akan membawaku kemana.


Sebelumnya di depan kos Adelia.


Aku sampai tepat 1 jam setelah aku menelepon Adel. Sesampainya disana ,aku melihat ada seseorang berdiri di depan gerbang. Dia Dodi. Sedang apa dia disini?. Aku menghentikan motorku , setelah Dodi berbicara dengan salah satu anak kos. Dia berbalik arah melihatku , dan cukup terkejut melihat kedatanganku. 


Kamu sendiri?. Dia berbalik bertanya padaku. 


Aku ada janji dengan Adel.


Adelia?, tanyanya. 


Iya Adelia. Kenapa? Kamu sedang mencari siapa? 


Aku juga ingin bertemu Adelia. 


Ada perlu apa? 


Ingin meluruskan kesalahpahaman. 


Salah paham? 


Dodi mengangguk, tetapi aku tidak mengerti apa yang disebut dengam salah paham itu. Aku tidak meneruskan bertanya ,karena setelah itu suara pintu gerbang membuyarkan pikiran-pikiran kami. Adel keluar dari sana. Dia sangat terkejut melihat kami berdua. Raut wajahnya menunjukkan kekesalan. Kemudian berubah tersenyum ketika berjalan ke arahku. Dodi menghampirinya dan mengajaknya untuk berbicara. Adel melihatku seolah meminta persetujuanku. Aku mengangguk dan mempersilakannya. Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada mereka berdua. Raut wajah serius terlihat jelas. Tetapi tidak berlangsung lama. Adel dengan tegas mengatakan tidak ingin mengenal Dodi. Dan Dodi menerimanya meski dengan raut wajah kecewa. 


Adel berlari pelan ke arahku dan meninggalkan Dodi,mengisyaratkanku untuk segera pergi dari sana. 


Kami pergi dulu ya, Dod.


Ya, hati-hatilah kalian. Have fun.


Sepanjang jalan keluar dari area kompleks , aku menyadari satu hal. Adelia melingkarkan tangannya dipinggangku tanpa aku suruh. Tetapi ketika dia tersadar , dia berusaha menarik tangannya dengan pelan. Aku mencegah tangannya dan mengembalikan posisi sebelumnya. Aku merasa dia membutuhkan sesuatu untuk bersandar, karena itu aku menawarkan diri.


Jangan dilepas, Del. Kalau kamu ingin bersandar. Bersandarlah padaku.


Aku merasakan punggungku sedikit berat, tetapi juga hangat. Adel patuh pada kata-kataku dan sepanjang jalan dia hanya terdiam bersandar dipunggungku. Ingin sekali aku bertanya apa yang sebenarnya , tetapi aku menahan diri dan akan lebih baik jika dia mau membuka dirinya terhadapku. Aku ingin membuatnya lebih baik. Aku tidak suka raut wajahnya tadi saat di depan kos. Penuh kemarahan. Sejak kapan aku merasa hatiku sakit saat melihatnya seperti itu. Aku suka wajah tenang dan hangatnya. Dari awal aku sudah melabelinya seperti matahari ,meski terkadang dia juga terlihat seperti embun. Matahari dan embun adalah perpaduan yang cantik ketika fajar. Embun akan terlihat berkilau saat tertimpa cahaya matahari, meski akan menghilang pada waktunya seiring dengan tingginya matahari.Tetapi selalu ada rona cantik didalamnya. 


Aku melajukan motornya menuju ke salah satu tempat tertinggi di kota ini. Sebenarnya lebih bagus di malam hari karena dapat melihat pendar cahaya bintang dan lampu-lampu di bawahnya. Tetapi hari ini aku ingin menunjukkan spot langit terbaik di kota.  


Sesampainya disana aku memarkirkan kendaraanku di salah sudut tempat parkir. Cukup rindang dan tidak terkena langsung panasnya matahari. Adel turun dan wajahnya terlihat bingung. 


Raka ,ini dimana? 

__ADS_1


Bagaimana? Bagus kan? 


Iya , aku baru tahu ada tempat seperti ini disini. Tetapi kok sepi ya? Aman nggak nih ? 


Tenang,Del. Sudah dikelola dengan baik kok. Ini lebih baik daripada semester lalu. 


Kamu sudah pernah kesini?


Iya , ini yang kedua kalinya. Yuk ke atas sana. Aku ingin menunjukkan sesuatu. 


***


Adelia dan Raka berjalan menuju tangga yang mengarah ke puncak tempat itu. Sesekali Raka menjahilinya. Meninggalkan Adelia di bawah. Terlihat muka kesal Adel karena sepertinya anak tangga itu tidak habis-habis,pikir Adel. Adel merasa sudah berjalan sangat jauh dari tempat parkir ,tetapi puncak juga masih terlihat jauh dari pandangannya. 


Raka tunggu!. Adel setengah berteriak. Raka berhenti dan menoleh ke bawah.


Astaga. Ini baru setengah jalan , Del. Ayo. Jangan seperti kura-kura. 


Berisik!. Adel kemudian berlari kecil mengejar Raka. Saat sampai tepat di depan Raka. Adel memukul keras lengan Raka. Raka mengaduh. 


Tinggal sebentar lagi tuh , puncaknya sudah terlihat. 


Raka gendong. 


Aku mau-mau saja , sih . Sini. 


Raka mengulurkan tangannya seperti hendak menggendong ala mempelai. Adelia menolak dan menjulurkan lidahnya,lalu pergi meninggalkan Raka di belakang. 


Sesampainya di puncak, Adelia mengatur nafasnya sembari melihat ke sekeliling.Takjub. Dia merasa tidak sia-sia harus berjalan menaiki anak tangga yang banyak. 


Bagaimana? Cantik bukan?. 


Sangat. Raka kenapa baru mengajakku kesini,sih. Merahasiakan tempat sebagus ini. 


Aku menunggu waktu yang tepat, Del. Raka setengah berbisik dan Adelia tidak mendengarnya dengan jelas,karena bersamaan dengan hembusan suara angin. 


Raka,kamu bicara apa? Jangan bisik-bisik. 


Ah , kamu ini. Memang selama ini kamu kemana saja? Cobalah melihat keluar lebih jauh. Terlalu lama bertapa di kos dan kampus, sih. 


Raka meledeknya sembari mencubit kedua pipi Adel. Adel mengerang, dan membalas menggelitik Raka. Mereka terlihat tertawa bersama. Hari itu puncak terlihat tidak ramai pengunjung. Beberapa orang berteduh di saung yang disediakan pengelola taman. Di puncak terdapat taman bunga yang sedang mekar. Bunga Krisan. Dan terdapat kolam mata air disana. Di bawah sana terhampar pematang sawah dan jauh disana terlihat pemukiman warga dan perkotaan. Pematang sawah yang sedang bertumbuh subur dan hijaunya pepohonan menyegarkan mata.


Raka dan Adel kemudian memutuskan berteduh di salah satu saung yang kosong. Raka beberapa camilan serta minuman yang dia bawa. Adel tidak sempat mempersiapkan karena Raka tidak mengatakan tujuannya. Raka mengambil beberapa gambar dari sudut itu sembari mengecek hasil foto sebelumnya yang dia pakai untuk memotret Adel. Raka melihat Adel mengusap lengannya, karena merasa dingin. Matahari bersinar cerah, hamgatnya masih terasa. Hanya saja hembusan angin yang kencang membuat suasana menjadi dingin. Raka mendekati Adel, mulai membuatnya hangat. Dalam keadaan sadar, Raka memeluk Adel dari belakang. Tindakan Raka yamg tiba-tiba membuat Adel tersontak,tetapi masih dalam posisi yang sama. Adel tidak menolak , dan Raka memeluknya cukup lama. Dalam diam mereka memandang pemandangan yang ada di depan mata. 


Raka. Panggil Adel


Hmm 


Aku sudah cukup hangat. 


Sebentar lagi seperti ini. 


Adelia mengangguk pelan ,menuruti Raka.


Adel , jika kamu ada masalah ,kamu bisa ceritakan padaku. Aku tidak ingin menebaknya ,tetapi melihatmu dengan Dodi tadi pagi. Mengingatkan aku kejadian semester lalu. 


Adelia melepas pelukan Raka dan berbalik ke arahnya. Raut wajahnya terkejut, karena Raka mengingat ketika Adel malas membicarakan tentang Dodi waktu itu. Pertanyaannya yang belum pernah Adelia jawab. 


Tebakanku benar kan? Memang ada sesuatu diantara kalian.


Aku tidak ingin membicarakannya.


Adelia yang aku kenal bukan pendendam. Aku yakin dia bisa memaafkan. 


Kamu selalu percaya diri dengan setiap perkataanmu. Seberapa tahu kamu soal diriku?. 


Aku cukup mengenal, sampai aku bisa yakin bahwa pribadinya membuatku terkesan dan jatuh hati. 


Adelia kembali memandang Raka tidak percaya. Raka melakukan hal yang sama, memandang mata Adel dan menunjukkan kesungguhannya. 


Raka,kata-katamu barusan? 


Raka memegang kedua tangan Adel, dan lebih dalam melihat matanya. Ada kesungguhan disana. Adel terkejut dan tidak tahu harus berkata apa. 


Iya, aku dengan sadar mengatakannya, Del. Dan aku sudah memastikan perasaanku seperti yang kamu katakan sebelumnya pada malam itu. Inilah perasaanku yang sesungguhnya. Aku benar-benar jatuh hati pada ketulusanmu. 


Adel menarik tangannya ,lalu membungkam mulutnya sendiri. Dia tidak percaya bahwa Raka akan menunjukkan perasaannya. Saat ini di tempat terindah yang baru pertama kali Adel datangi. Adel belum bisa memahami situasi yang terjadi , dan tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Merasa bahagia. 

__ADS_1


Aku tidak akan memaksamu untuk membalas ini sekarang. Aku akan melakukan hal yang sama. Menunggumu. Aku hanya ingin menjelaskan sikapku selama ini terhadapmu. Tapi aku tidak akan menuntut, waktu kita masih panjang dan aku percaya akan tiba waktunya untuk kita. 


Adelia mengangguk. Tersenyum melihat kesungguhan dan kesabaran Raka. Raka sangat paham bahwa Adelia sedang kebingungan dengan pernyataan Raka yang tiba-tiba. Raka mencoba mencairkan suasana , tidak lama setelah itu mereka kembali bersenda gurau seperti sebelumnya. Adel tidak merasa terbebani. Dia berpikir ,mungkin sekarang saatnya untuk lebih membuka hati dan menyakinkan perasaannya terhadap Raka. Raka kembali menjahilinya dan mulai bercerita. Adelia pun membuka diri dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Dodi. Raka mengerti dan senang akhirnya Adel mau untuk terbuka.


__ADS_2