Seperti Embun

Seperti Embun
Saat Hati Mulai Bertaut


__ADS_3

Hati itu mudah rapuh


Tersentuh


Terhanyut


Dan larut dalam tawa dan sendu


Berawal dari hati


Hati yang mau menerima


Tulus


Pernyataan Raka saat itu, di tempat terindah yang pernah Adelia datangi, sangat membekas. Kejadian itu sudah seminggu berlalu. Tetapi bagi Adel masih terasa baru kemarin. Tidak lantas membuatnya menghindari Raka, hanya saja dia agak kikuk ketika bertemu Raka.


Adel.


Yang dipanggil berhenti berjalan lalu menoleh. Raka memanggilnya. Terlihat berlihat cepat menuju Adel.


Ya, kenapa?. Adel terdengar gugup,tetapi berusaha menutupi rasa gugupnya.


Raka berhenti di depannya, tidak langsung berbicara,mengambil nafas pelan lalu mengamati Adel. Adel merasa dirinya seperti diawasi.


Raka, apa sih? Kenapa melihatku seperti itu?


Hmm, aku merasa ada yang aneh denganmu. Apa kamu potong rambut?


Tidak. Jawab Adel tegas.


Lalu apa ya? Kamu tidak terlihat seperti biasanya?


Adel hanya terdiam, berusaha menutupi rasa kikuknya. Jangan-jangan Raka tahu aku terlihat gugup. Batinnya.


Oh tidak-tidak, aku perhatikan akhir-akhir ini kamu agak lain.


Lain bagaimana? Adel mengalihkan pandangannya dari Raka, dan semenjak tadi Adel tidak berani menatap mata Raka. Adel berharap Raka tidak menyadari itu.

__ADS_1


Tunggu. Aku tahu, kamu tidak lagi menatapku saat berbicara.


Adel merasa kikuk karena Raka menyadarinya,lalu cepat-cepat beralih melihat ke arah Raka. Untuk menyakinkan tebakan Raka salah.


Tidak. Aku sudah melihatmu, kenapa aku harus melakukan itu?.Tidak ada yang salah dengan diriku.


Mereka akhirnya berhadapan satu sama lain. Raka mencoba menggali apa yang terjadi dengan Adel melalui sorot matanya. Terlihat sayu,seperti menghindari sesuatu. Adelia merasa tidak nyaman dengan tatapan itu, kemudian terbatuk dan kembali mengalihkan pandangannya.


Baiklah, sepertinya kecurigaanku salah. Kamu baik-baik saja.


Raka tahu apa yang sedang dirasakan Adel. Tidak mungkin semuanya terlihat baik-baik saja ,setelah pernyataannya minggu yang lalu. Mungkin hal itu menganggu pikiran Adel, meskipun Raka tidak langsung meminta jawabannya dalam waktu dekat.Adel mencoba mencairkan suasana. Karena dia sudah tidak terlalu kikuk, dan Raka pun tidak menyadarinya.


Kenapa memanggilku?


Tidak apa-apa. Mengingatkanmu bahwa aku ada disini. Raka tersenyum menggoda ke arah Adel. Adel mendengus kesal mendengar jawaban Raka.


Aku tahu kok ada kamu disini.


Kenapa tidak menyapaku? Jangan-jangan kamu menghindariku ya? Takut dirundung fansku?


Astaga Raka, siapa yang berniat mengidolakanmu?. Oh aku tahu,ibu penjual makanan di warung depan kampus. Itu juga karena kamu belum bayar makanannya.


Raka mencubit pelan pipi Adel. Adel mengaduh lalu menendang tulang kering Raka. Raka mengerang sakit, dan membuat Adel tertawa lepas. Adel merasa puas sudah mengerjai Raka. Mereka sudah kembali seperti biasa. Tertawa bersama saling membalas menggoda atau mengejek.


Di sisi lain Raka menyenangi perubahan Adel yang tiba-tiba, dia lebih senang ketika Adel tertawa lepas dibanding harus terdiam karena memikirkan pernyataannya minggu lalu. Raka ingin membuat pikiran Adel lebih tenang, dan apa yang dilakukannya minggu lalu sudah benar-benar dipikirkannya. Raka akan terima apapun konsekuensinya. Sebelum hal itu terjadi , dia hanya ingin hubungannya dengan Adel tetap baik seperti biasa. Kalaupun Adel tidak menjawab pernyataannya , bagi Raka itu tidak masalah. Selama Adel tetap mau menganggapnya sahabat dan menjadi salah satu orang yang membuat Adel tertawa setiap harinya. Sesederhana itu yang ada dipikiran Raka. Pernyataannya tidak menuntut balas yang sama. Raka akan menerima apapun keputusan Adel nantinya.


Adel memandangi lawan bicara, teman berbagi tawa, teman debat, teman yang terkadang menyebalkan tetapi selalu bisa membuat Adel menjadi dirinya sendiri.  Adel merasa khawatir ,ketika melihat Raka seolah-olah bersikap tidak terjadi apa-apa setelah pernyataannya minggu lalu. Sedangkan hal itu cukup membuat Adel tidak bisa fokus satu minggu belakangan ini. Menjadi lupa dengan tugas-tugasnya, mengabaikan Putri dan teman-teman kosnya. Benar-benar terlihat lain dari biasanya. Kenapa Raka bisa setenang itu?,batin Adel. Adel tahu dia belum bisa segera menjawab pernyataan Raka. Banyak hal yang Adel pikirkan. Tetapi ada satu hal yang selalu Adel rasakan. Adel tidak ingin berada jauh dari Raka. Selalu menantikan waktu-waktu bersama Raka. Dan ketika bersama Raka sudah membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Adel menyadari rasa itu, tetapi dia tidak ingin gegabah menjawab pernyataan Raka. Hatinya mungkin sudah bertaut dengan Raka. Adel tidak ingin terburu-buru dan memastikan perasaannya sekali lagi. Sampai saat itu tiba, dia hanya ingin tetap bisa melihat Raka, tertawa bersama bahkan sampai mendebatkan hal-hal yang tidak penting seperti sekarang ini salah satunya.


Adelia Permata. Panggil Raka sambil menggerakkan telapak tangannya didepan wajah Adel.


Ah iya. Kenapa Ka ??


Astaga, dari tadi kamu bengong , aku sudah memanggilmu puluhan kali. Kenapa ??


Gak , ak gak bengong. Kepikiran tugas magang saja. Berlebihan kamu bilang puluhan kali, baru juga satu kali kamu memanggilku.


Jelaslah, itu yang kamu sadari. Kamu belum dapat tempat magang ?

__ADS_1


Iya.


Mau bergabung denganku ?


Tempat magangmu dimana ?


Di kota kelahiranku.


Seketika Adel memukul keras lengan Raka. Raka mengerang kesakitan, lalu menggerutu tidak terima dengan perlakuan Adel yang tiba-tiba.


Apa salahku , Del ? kamu baru saja menendang kakiku sekarang lenganku pun jadi sasaran.


Adel mencibir dan mengerucutkan bibirnya. Tidak menyangka Raka akan memintanya bergabung magang di kota tempat tinggalnya. Lebih jauh dari rumah dan kota tempatnya berkuliah.


Itu terlalu jauh , Raka. Yang benar saja kamu memintaku bergabung.


Ya siapa tahu kamu tertarik, dan kita bisa bertemu setiap hari. Pasti terasa bosan kalau tidak bisa melihatmu. Raka mencoba menggoda Adel. Adel tersipu. Raka suka dengan ekspresi Adel yang tidak terduga ini. Membuat Raka ingin tersenyum dan sedikit malu, karena mengatakan kalimat yang sebenarnya terdengar seperti rayuan.


Raka, jangan mencobaiku lagi, itu tidak mempan. Jangan berharap ya. Buang jauh-jauh anganmu itu. Kata Adel sambil tertawa puas. Raka mendengus kesal, lalu berdiri dan meninggalkan Adel yang masih tertawa. Baru beberapa langkah , kemudian Raka berbalik dan mendekati Adel kembali. Adel terdiam dan merasa heran karena Raka berbalik. Raka menarik tangan Adel dan membawa Adel pergi , ke arah yang berlawanan. Adel yang tidak tahu apa-apa dengan sikap Raka, hanya mengikuti tanpa melawan sedikitpun. Setelah sampai diparkiran motor, Raka baru melepas tangan Adel.


Maaf, kalau aku agak kasar barusan. Dan membawamu berjalan jauh, padahal lewat sana lebih cepat.


Iya. Aku ngerti kenapa.


Kamu sudah tahu ?


Iya. Tetapi kamu tidak perlu segitunya , Ka. Aku sudah baik-baik saja, aku tidak peduli lagi dengan mereka.


Raka memandangi Adel, sedikit ada perasaan iba. Mungkin sikapnya memang berlebihan, hanya saja dia tidak ingin Adel terlihat sedih, ketika melihat Dody sedang bersama wanita lain yang berbeda dengan wanita sebelumnya yang diakui sebagai pacar. Tetapi ekspresi Adel saat ini menegaskan bahwa dia tidak perlu khawatir Adel akan sakit hati. Terlihat jelas Adel tidak lagi memperdulikan Dody dan orang-orang yang ada disekitarnya. Raka lalu tersenyum dan menawarinya untuk pulang bersama. Adel mengangguk.


Motor itu melaju menuju keluar dari kampus. Mengantar dua insan yang sedang dalam pikirannya sendiri, tenang tak ada pembicaraaan apapun dalam perjalanan itu. Tak ada satu pun yang mengawali, dan tiba tepat di depan sebuah rumah indekost.


Raka, terimakasih.


Sama-sama, Del.


Aku masuk dulu ya, sampai ketemu lagi.

__ADS_1


Raka tersenyum dan kemudian mempersilakan Adel masuk, dia melihat punggung Adel sampai Adel menutup kembali gerbang kosnya. Raka kembali melajukan motornya. Pulang.


__ADS_2