Seperti Embun

Seperti Embun
Ungkapan Yang Tak Terduga


__ADS_3

Lorong-lorong kelas terlihat lengang. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Kuliah terakhir selesai jam 6 sore . Kelas yang aku ambil adalah satu-satunya kelas yang masih tersisa sore ini. Mata kuliah Akuntansi Biaya.


Beberapa mahasiswa terlihat sedang berkumpul di satu titik, dan mereka menyebutnya surga wifi karena disitu adalah hotspot dengan sinyal wifi paling kencang di kampus. Dari dalam kelas aku bisa melihat mereka yang sedang bersenda gurau satu sama lain dan beberapa dari mereka tidak terusik dengan kegaduhan yang teman mereka buat dan tetap fokus pada laptop masing-masing. Di luar kelas terdapat tanah lapang berbentuk lapangan sepak bola mini , dan dikelilingi beberapa bangku taman pada jam-jam padat perkuliahan , bangku-bangku sering terisi oleh para mahasiswa yang menunggu jam kuliah tiba atau sekedar nongkrong bagi mereka yang masih betah di kampus.


Aku kembali fokus pada asisten dosen di depan kelas. Namanya mas Bima. Seharusnya hari ini kelas ada kuis , tetapi karena dosen berhalangan hadir , akhirnya digantikan oleh mas Bima. Salah satu mahasiswa berprestasi di Fakultas Ekonomi tempatku menuntut ilmu. Orangnya santai dan pembawaannya menyenangkan , dibeberapa kesempatan aku dan Putri sempat berdiskusi atau sekedar mengobrol dengan mas Bima . Meski terlihat santai, tetapi kalau sudah dikelas dan mengajar dia terlihat serius dan tegas. Wajahnya tidak terlalu tampan , dia terlihat good locking , mungkin karena orangnya ceria dan ramah. Putri adalah salah satu fans mas Bima ,dari sekian banyak cowok di kampus , Putri lebih tertarik dengan mas Bima yang kalem , tidak neko-neko. Berkebalikan dengan seleranya di dunia K-Pop yang cenderung urakan dan banyak gaya. Menurutnya , mas Bima adalah Lee Dong Wok versi Indonesia. Aku tersenyum sendiri melihat cara mas Bima mengajar , dia seolah-olah bisa menyihir seisi kelas untuk fokus padanya , seperti mengalihkan dunia sekitar.Semua mata cewek-cewek dikelas ini terlihat berbinar-binar dan mendengarkan penjelasan mas Bima dengan seksama. Tidak hanya itu , cowok-cowok pun seperti mengikuti kearah mana mas Bima bergerak . Karismanya mengalihkan perhatian semua orang di kelas ini .


Putri menyadariku yang sedang memperhatikan gerak gerik mas Bima, dia lalu menyenggol lenganku dan menatapku tajam. Aku bergedik ngeri melihat tatapannya seolah-olah tidak rela aku mengamati mas Bima. Aku meledeknya dengan menjulurkan lidah. Dia mendengus kesal lalu tertawa dan kembali melihat kearah mas Bima.


Ketika aku masih mengarahkan tubuhku ke arah Putri , tidak jauh dari tempat duduk kami , aku melihat Dodi. Dia sedang memperhatikanku dari kejauhan , dia menyadariku yang tidak sengaja melihatnya juga, lalu dia tersenyum , dan aku membalas tersenyum , kemudiam aku kembali melihat ke arah mas Bima. Aku penasaran , apa dia baru saja memperhatikanku saat aku meledek Putri atau dari sebelumnya dia sudah memperhatikanku. Aku mulai memikirkannya dan tidak fokus lagi pada mas Bima, pikiranku menerawang , melamunkan hal yang baru saja terjadi sampai akhirnya aku terbangun dari lamunanku ketika ada yang mencubit lenganku dengan keras.


AUW, pekikku. Apa-apaan si?. Aku berteriak pada orang disampingku dan orang ini hanya senyum-senyum tidak jelas. Raka.


Dipanggil-panggil malah diem aja. Budek ya?, ledeknya


Sembarangan. sakit tau Ka. Kamu ngapain sih? iseng banget.


Kamu tuh yang ngapain? Lihat kelas coba , kamu mau disini sampai besok? Ha?

__ADS_1


Aku tidak menyadari jika kelas sudah dibubarkan, tidak ada orang di kelas ini selain aku dan Raka.  Putri juga tidak terlihat dan dia sudah meninggalkanku.


Ka, Putri mana ?


Ga tau , makanya jangan melamun terus. Terpesona kamu sama pesonanya  mas Bima sampai tidak ngeh kelas udah selesai? Untung aku baik, mau nungguin kamu. Raka menggodaku dengan kembali mencubit-cubit pipiku.


Raka , apa-apaan sih kamu? , aku mendengus kesal , lalu berjalan meninggalkannya.


Delia, kok aku ditinggalin sih , harusnya kamu tuh berterimakasih sama aku.


Raka mengikutiku dari belakang, dan mencoba menggodaku lagi dengan memain-mainkan rambut panjangku yang terurai. Setiap hari dia selalu sperti ini, menggangguku, tidak pernah absen. Seolah ada hal yang hilang kalau dia tidak mengangguku, karena bagi dia itu menyenangkan. Tentu saja bagiku tidak. Aku sering kesal tapi dia tidak peduli sama kekesalanku , justru semakin membuat dia menggangguku. Aku melihat Putri , dia sedang berbicara dengan mas Bima. Mereka terlihat sangat akrab , dan melempar tawa satu sama lain. Putri tidak menyadari kalau cewek- cewek lain terlihat iri dengan kedekatan mereka berdua. Ada yang mencibir dan ada yang. Putri terlihat cuek dan tidak peduli, karena dia memang seperti itu. Aku mendekatinya dan mengajaknya pulang.


Salah sendiri , sudah dipanggil malah melamun. Kalau ,mau pulang nanti dulu lah , aku masih mau ngbrol sama mas Bima.


Put , aku laper , yuk pulang aja


Sama Raka aja tuh , paling suka kalau diajakin makan. Ka , aku titip Delia ya

__ADS_1


Aku mendengus kesal lalu mencubit lengannya. Dia selalu sperti itu kalau berhubungan dengan mas Bima . Aku tidak dipedulikan. Mas Bima tertawa melihat kami.


Ya sudah Put, diobrolin nanti lagi saja . Aku juga harus ke ruang dosen


Oh gitu ya mas , baiklah.


Mas Bima meninggalkan kami.


Kamu sih ,Del . Sama Raka kan bisa , aku tuh mau ngajak mas Bima pulang bareng


Bodo amat. Yuk,ah


Putri mengikuti langkahku dan menuju parkiran kampus tempat kami memarkirkan motor. Raka juga mengikuti kami lalu mensejajarkan langkahnya disampingku.Aku menghiraukannya. Dia juga diam sibuk dengan handphone ditangannya. Dia tidak menggubris perkataan Putri. Kemudian kami bertiga menuju ke parkiran kampus.


******


 

__ADS_1


 


__ADS_2