
Rasa penasaranku kembali datang. Kali ini dengan orang yang berbeda.Dody. Nama itu kembali muncul dalam lamunanku siang ini. Tepat di dalam kelas ini, ketika aku sedang ada kuliah. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Penyebabnya satu nama ini.
Dia sekarang sedang berdiri dimuka kelas, mempresentasikan tugas kelompoknya. Aku tidak fokus dengan tema yang dia bahas. Berawal dari kejadian sebelum kelas dimulai. Di kos Putri.
Del, besok aku harus pulang. Maaf aku tidak jadi menemanimu., tidak apa kan?
Tidak apa Put, kamu sudah mengatakan ini berulang kali, aku ngerti kok.
Aku carikan teman ya untuk menemanimu. Gimana kalau Raka?
Tak perlu, Put. Malam minggu di kos saja sudah cukup buatku.
Atau kamu mau aku sarankan Dody saja?
What? Aku gak salah dengar?
Hmm aku pikir Dody baik, ga seburuk kelihatannya.
Aku tercengang dengan ucapan Putri. Beberapa hari yang lalu dia melarangku, sekarang tiba-tiba dia seperti mendorongku untuk dekat dengan Dody.
Ada apa? kamu berubah pikiran, Put?
Entah, aku mencoba untuk open mind saja, dia ramah, sopan juga. Kemarin aku melihatnya membantu orang tua yang jatuh di jalan persimpangan dekat kampus.
Padahal orang-orang disekitar jalan itu tidak ada yang peduli.
Oh ya? Aku baru tahu.
Ya karena aku baru memberitahumu sekarang, Del.
Oh iya ya, jadi aku dapat lampu hijau nih?
Hmm, aku hanya sebagai pendukung, Del. Soal perasaan itu tergantung kamu.
Iya. Aku juga masih bertanya-tanya. Ini benar perasaan cinta atau hanya penasaran. Tetapi aku tertarik dengannya, berkali-kali dibuat galau olehnya.
Iya bisa jadi kamu jatuh cinta. Tunggu sebentar, dia lagi online bbm nih. Coba aku chat ya.
Put, ga perlu deh. Aku gak enak, malu juga.
Dia mau nih, Del
Eh, serius?
Iya, dia bilang tidak ada acara sabtu malam, dia mau menemanimu.
Kami berdua seketika berteriak,lalu disambung dengan tertawa terbahak-bahak.
Tunggu dulu, nanti kita kan sekelas dengan dia. Aku harus gimana dong?
Serahkan saja pada hamba, Ratu Delia.
Aku menatapnya dengan pandangan geli, geli melihat tingkahnya yang berlagak seperti seorang mak comblang. Mak comblang dadakan.
Ketika sampai di depan kelas, kami bertemu dengannya. Putri menanyakan perihal chat di bbm sebelumnya. Dan benar Dody menyetujuinya,lalu Putri berjalan menuju bangku yang aku duduki. Aku tidak berani lama-lama bertatap muka dengannya. Putri mengatakan Dody akan segera menghubungiku, ini seolah-olah aku yang tidak tahu jika mereka merencanakan sesuatu. Dalam satu kesempatan itu, tidak sengaja mata kami bertemu. Dia menyadari lalu tersenyum, dan aku pun membalas senyumnya.
Itulah yang terjadi beberapa menit yang lalu, dan sekarang aku benar-benar tidak fokus dengan kuliah hari ini. Aku membayangkan apa yang harus aku lakukan akhir pekan nanti bersamanya.Pakaian apa yang harus aku kenakan, dan aku harus bersikap bagaimana. Apakah dia akan menembakku?, sepertinya aku terlalu berlebihan, yang terakhir ini ga mungkin terjadi. Terlalu cepat menyimpulkan, bahwa Dody juga merasakan hal yang sama. Terlalu cepat juga jika kami jadian. Kami baru mengenal 3 semester, terlihat dekat secara intens di semester 3 ini. Banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk memulai suatu hubungan.
Kelas sudah dibubarkan, 2 jam terasa lama bagiku. Ditambah dengan perasaanku yang tidak karuan, seolah-olah hari ini Dody mengajakku kencan.
Aku dan Putri masih berada di dalam kelas, ada beberapa segerombolan di kelas itu. Salah satu diantaranya adalah Dody, dia masih disana bersama dengan teman-teman sekelompok ya, kelihatannya mereka sedang mendiskusikan hasil presentasi yang mereka paparan di kelas tadi. Putri menyenggol lenganku, menunjukkan ke arah Dody berdiri.
Aku mengangkat kepalaku dan melihatnya, dia berdiri dan tersenyum, lalu berjalan ke arah tempat kami duduk. Aku sontak berdiri menggendong tas ku, hendak beranjak dari tempat ini. Putri menahan tanganku.
Del, dia berjalan kesini, kamu mau kemana?
Aku mau keluar, Put.
Jangan dulu. Putri masih menahan tanganku, dan langkah Dody mulai mendekat ke arahku berdiri
__ADS_1
Del, sudah mau pulang ya? Nggak ada kelas lagi?
Hmm iya, hari ini cuma satu kelas. Iya kan Put?
Putri tidak menjawab, dia sudah melepaskan tanganku dan sekarang sedang asyik dengan video boyband di handphonenya.
Oh, begitu. Aku juga tidak ada kelas. Aku dan teman-temanku akan makan siang, kalian bisa ikut dengan kami.
Aku menyenggol Putri meminta bantuan. Dia menyadari kegelisahan, lalu berdiri.
Dody lain kali ya, Delia akan menemaniku ketemu mas Bima.
Oh iya nggak apa-apa. Ya sudah kalau begitu aku duluan. Dia berpamitan dengan kami lalu keluar kelas dengan teman-temannya.
Aku menyandarkan kembali badanku ke kursi. Bernafas lega.
Kamu kenapa sih, Del?
Aku belum siap saja terlibat dengan teman-temannya. Dulu aku pernah bergabung satu kali dengan mereka, hal-hal yang mereka bicarakan tentang barang-barang fashion dan brand mahal, tentang skincare dan ***** bengeknya. Aku nggak paham, Put.
Ya, kelihatan jelas sih. Geng orang kaya memang seperti itu. Apalah daya kita yang kalangan menengah ke bawah.
Iya, bisa masuk kampus ini saja sudah bersyukur. Lulus tepat waktu dan jadi mandiri di kota orang lain sudah jadi kebanggaan sendiri ya.
Betul itu. Nggak perlu pakai menaikkan gengsi terus ikut geng-geng seperti itu.
Aku mengangguk menyetujui pendapat Putri. Hal paling penting sekarang adalah tidak menyusahkan orang tua yang sudah kerja keras untuk mengantar kita ke bangku perkuliahan. Tidak perlu jadi tenar untuk bisa sukses. Jadi tenar tetapi pakai uang dari orang tua apalah artinya. Apa yang mau dibanggakan?.
Kami berdua meninggalkan kelas yang sudah sepi. Di luar kelas juga terlihat sepi karena masih jam-jam sibuk perkuliahan. Semua mahasiswa sedang berkutat dengan mata kuliahnya siang hari itu. Pada saat berjalan menuju tempat parkir, Raka memanggilku.
Delia.
Aku berhenti dan menoleh.
Hei, mau pulang?
Iya, hari ini hanya kelas pagi
Eh, Raka tambah tua nih, kemarin habis ulang tahun ya?. Pernyataan Putri yang tiba-tiba membuat Raka tersenyum dan tersipu malu.
Ah siapa bilang? Nggak ada yang ultah Put.
Jangan bohong, bilang saja kamu takut kami minta traktir kan? Di grup kelas tuh pengumumannya
Nggak, Put. Itu anak-anak lain pada iseng.
Aku yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam lalu dengan percaya diri berkata.
Oh iya, selamat ulang tahun ya Raka. Tenang kami nggak minta traktir kok, setidaknya bukan Putri tapi cukup aku saja yang ditraktir, oke kan?
Mereka berdua tertawa. Raka meninju lenganku.
Percaya diri kamu, Del. Siapa juga yang mau traktir.
Oh gitu, sombong deh Raka. Pelit.
Aku pura-pura cemberut dan memalingkan wajahku, tidak mau melihatnya.
Astaga, begitu saja ngambek, tambah jelek nanti Del.
Bodo amat. Aku marah, jangan panggil-panggil aku lagi untuk curhat. Yuk, Put. Kita pulang.
Putri yang heran dengan sikapku, hanya mengangkat bajunya dan sedikit menyemangati Raka.
Sabar ya bro, kasih balon saja nanti juga nggak marah lagi dia.
Putri, aku bisa dengar. Jangan jadi pengkhianat kamu.
Putri tertawa lepas ditambah tertawa Raka yang terdengar lebih kencang.
__ADS_1
Aku masih terus berjalan, tidak peduli dengan tertawa mereka. Aku mendengar suara langkah kaki yang setengah berlari dari belakang, tiba-tiba menghentikan langkahku.
Aku duluan ya, nanti aku private chat. Bye, Delia. Raka berlari mendahuluiku menuju kearah tempat dia memarkirkan motornya.
Kemudian aku dan Putri menyusul Raka, keluar dari kampus menuju ke kos kami masing-masing.
****
Sabtu malam
Siangnya di kos Putri.
Put, kamu yakin ninggalin aku malam ini?
Delia sayang besok senin kan ketemu lagi.
Aku tidak masalah berapa harinya. Yang jadi masalah hari ini, Put.
Putri melihat kegalauanku. Sudah 5 hari ini aku tidak merasa tenang menunggu hari ini. Hari ini adalah malam minggu pertamaku dengan Dody. Gara-gara ide Putri yang nekat meminta Dody menemaniku karena akan ditinggal pulang kampung olehnya.
Tenang, Del. Dody kan sudah jinak, dia nggak mungkin macam-macam sama kamu. Percaya deh sama aku.
Aku yang belum siap, Put. Kalau dia merasa nggak nyaman sama aku bagaimana? Kalau dia ternyata nggak ada rasa sama aku?
Ya itu jadi pr kamu, Delia.
Putri, katanya mau mendukung aku?
Aku pasti dukung kamu dong. Sekarang lebih baik kamu menikmati saja kencan kamu nanti. Aku yakin dia pasti nggak akan menyesal sudah menemanimu. Kamu seperti ABG deh, Del. Baper terus.
Putri terus meledekku sampai dia memasuki taksi yang dia gunakan untuk menuju ke stasiun.
Malam ini, tepat jam setengah 7, Dody akan datang ke kosku. Agendanya adalah menemaniku di kos. Tidak ada rencana pergi ke bioskop atau tempat-tempat kencan lainnya. Entah karena permintaan Putri atau mungkin dia memang tidak berniat untuk mengajak keluar.
PING
PING
Suara chat dari handphone ku terdengar nyaring. Aku melihat ada beberapa chat masuk. Dari Dody dan juga ada yang dari Raka. Aku membuka chat Dody dan mengabaikan chat dari Raka lalu mulai membalasnya. Dody mengatakan, dia on the way menuju kos ku.
Ketika sampai di kos, Dody menelponku lalu aku keluar dari kamar dan menuju ke depan.
Di teras kos terdapat beberapa bangku untuk keperluan tamu kos, di depan salah satu bangku yang kami duduki ada meja bundar kecil yang serbaguna. Aku mengambil beberapa stoples camilan dan 2 gelas air minum. Dody terlihat cukup santai, mengenakan kaos hitam polos yang dipadukan dengan hoodie dan celana jeans panjang.
Beberapa menit setelahnya, kami sudah berada di salah satu tempat makan tidak jauh dari kosku. Kami memulai memesan makanan dan mengobrol beberapa hal. Sekitar 1 jam kami berada disana, lalu kembali ke kos. Selama diperjalanan, kami lalui dengan berjalan kaki, menikmati malam yang cukup cerah. Angin sepoi dan cahaya rembulan menyinari perjalanan kami menuju kos.
Sesampai di kos, kami mulai mengobrol, lebih tepatnya aku yang lebih banyak bercerita. Dody sesekali menanggapi ceritaku dengan pertanyaan-pertanyaannya. Dia tidak terlalu bercerita tentang dirinya secara pribadi, sedangkan aku juga tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya karena bagiku kenyamanan yang terpenting. Jika seseorang sudah merasa nyaman, orang tersebut akan bercerita dengan sendirinya tanpa harus diminta. Aku cukup penasaran dengan perhatiannya selama ini terhadapku. Dia terlihat antusias mendengar ceritaku. Sampai akhirnya aku bosan lalu mulai bertanya dengannya.
Dody aku boleh bertanya?
Silakan, Del
Pernah jatuh cinta?
Pernah
Seperti apa? Bagaimana rasanya?
Jatuh cinta diam-diam. Rasanya campur aduk. Kenapa diam-diam?
Entah, takut patah hati
Pernah patah hati?
Diam terdiam, tidak menjawab cukup lama. Dia terlihat menerawang. Memikirkan sesuatu.
Yang pernah merasakan jatuh cinta pasti juga pernah merasa patah hatinya.
Jadi kamu pernah merasakannya
Kamu bisa memahami kata-kataku.
Baiklah, aku cukup penasaran dengan alasannya tapi aku tidak akan memaksa jika kamu tidak mau menceritakan.
Aku tersenyum melihatnya.
Semua orang pasti pernah mencintai begitu dalam, dan karena manusia tidak ada yang sempurna, siapapun bisa melakukan kesalahan termasuk kepada orang yang dicintai. Tapi obat patah hati terhebat bagiku adalah berdamai dengan diri sendiri. Mereka yang bisa melalui itu adalah orang-orang yang hebat.
Dody mendengar pernyataan dengan seksama. Menggelengkan kepalanya.
Berarti aku bukan orang yang hebat,katanya dengan raut muka yang sedih.
Aku sedikit memahami ekspresi wajahnya, lalu menepuk pundaknya.
Kita semua hanya orang biasa yang bisa merasakan sakit dan terluka, semua butuh proses. Selama kita memiliki keyakinan bahwa kita bisa. Tuhan akan menggenapi keyakinan kita itu dan menjadikannya hasil yang baik. Percayalah, Dod. Oke?, aku menepuk-nepuk punggung tangannya. Mencoba menenangkan dirinya.
Dia melihatku dengan tatapan yang tidak biasa, seolah-olah tidak percaya aku akan mengatakan ini. Aku sendiri pun sama. Entah darimana kata-kata itu berasal.
Aku bisa melihat tatapan matanya sayu,raut wajahnya serius tapi terlihat sedih.
Dody tiba-tiba mendekat ke arahku. Aku bergeming. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Nafasku tak beraturan dan aku bisa mendengar desahan nafasnya. Aku sama sekali tidak berani melihat wajahnya. Semakin mendekati wajahku, lalu aku memalingkan wajahku. Dia berusaha menciumku tapi aku tidak berani dan memalingkan wajah.
Maaf.
Hanya kata itu yang bisa aku ucapkan. Dia menyadari lalu tersenyum kemudian membenarkan rambutku yang sedikit berantakan. Menyematkan ditelingaku. Aku pikir dia akan tetap menciumku,ternyata dia mencubit pipiku.
Kamu lucu, Del. Katanya sambil sedikit tertawa.
Aku ikut tertawa lalu membenarkan posisi dudukku. Dia melihat arloji ditangannya dan ikut membenarkan posisi duduknya. Membereskan tas kecil yang dia bawa. Bersiap untuk pulang.
Sudah waktunya, aku pamit dulu ya Del.
Hmm baiklah, terimakasih sudah menemaniku.
Aku juga. Aku pulang dulu ya. Bye Delia.
Aku mengantarkannya ke gerbang, dia menyalakan mesin motornya lalu pulang menuju kosnya. Aku masih terbengong dengan kejadian malam ini. Hari senin nanti aku tidak sabar menceritakan pada Putri, kejadian yang membuat hatiku hampir meloncat dari tempatnya.
***
Senin siang, sepulang dari kuliah.
__ADS_1