
amarah tak terduga
bergemuruh tiada arah
tidak tahu kenapa , rasa itu tidak bisa dibendung
Hari berlalu dengan cepat, detik waktu menguap begitu saja. Rasa itu menyatu membentuk gumpalan. Seperti permen arum manis ,berwarna warni. Seperti itu kah sebuah cinta ?
Apa yang aku pikirkan ? Ini tidak masuk akal. Tidak pernah terpikirkan muncul pertanyaan itu. Pasti ini bukan aku.
Aku tidak pernah peduli sebelumnya , bahkan perkataan sahabatku pun selalu aku abaikan. Karena aku tidak beranggapan rasa itu akan berubah, aku paham benar siapa yang aku cari dan aku harapkan. Bukan ada padanya, dan aku yakin dia juga mengalami hal yang sama. Kami hanya terbawa suasana dan merasa nyaman satu sama lain , dan tidak lebih dari itu. Sampai pada akhirnya ada satu kejadian yang cukup terdengar menggelikan bagiku.
Sore itu sepulang dri kuliah , aku dan Putri merencanakan makan malam bersama seperti biasa. Tiba-tiba dering telepon Putri berbunyi, dia mengangkat panggilan telepon dengan satu tangan dan mulai berbicara di telepon dengan seseorang diseberang sana. Putri tertawa terbahak-bahak dan sempat menyebutkan namaku. Aku mengernyitkan dahi, penasaran. Kemudian Putri menghentikan panggilan teleponnya.
Siapa,Put?
Mas Bima. Dia mengajak kita makan malam nanti
Oh ya? Dalam rangka apa ? Tumben
Dia ulang tahun hari ini. Dan berencana mentraktir kita
Banyak senior yang ikut dong ?
Nggak juga , ada teman-teman satu angkatan kita.
Oh iya , Anak-anak UKM ?
Benar sekali , tidak masalah kan ,Del ?
Nggak apa-apa kok, aku sudah terbiasa dengan mereka. Bisa sedikit beradaptasi
Bagus lah ,yuk kita langsung kesana.
Aku dan Putri bebrboncengan menuju ke salah satu tempat makan di area sekitar kampus. Tidak jauh dari kampus , terlihat warung lesehan dengan tendanya yang cukup sederhana. Masakan disini sangat murah meriah , sebanding dengan kantong mahasiswa seperti kami. Meskipun murah dan sederhana , olahan masakannya tidak sembarangan, sangat cocok dilidah kami yang notabene dari berbagai kalangan, baik atas , menangah atau bawah semua berbaur disini ,menikmati suasana dan makanan yang tersedia.
Setelah memarkirkan motor, kami menuju ke salat satu sudut yang dilengkapi dengan tikar sebagai alasnya, yang berarti tanpa meja dan kursi. Ini bukan pertama kali aku datang ke warung lesehan ini , tempat ini jadi salah satu warung favoritu dan Putri , sesekali aku mengajak Raka makan ditempat ini. Hmm, tiba-tiba aku memikirkannya , dan aku baru ingat beberapa jam yang lalu ,Raka mengirimiku pesan. Aku belum membalasnya.
Aku menyapa mas Bima dan beberapa teman yang lain. Kami berbaur dan mulai megobrol , Putri terlihat melempar canda dengan anak-anak yang lain. Mas Bima dan aku hanya sebagai pendengar, sesekali kami saling mencela dan melontarkan candaan. Suasana cukup ramai ketika kami tiba , padahal belum malam dan hanya ada dua kelompok di warung itu.
Aku mengabaikan beberapa pesan yang masuk , karena handphone ku bergetar sesekali tanda pesan masuk. Sampai pada akhirnya , berubah menjadi panggilan masuk. Dari Raka , aku akan mulai menjawab panggilannya , tetapi layar handphoneku berubah menjadi gelap. Panggilannya mati. Tertera 1 missed call dilayar. Aku membuka handphone dan ada 3 pesan masuk dari Raka.
Plg jm brp?
Del , dimana ?
Del ,kok gak bls?
Aku bergegas membalasnya , dan meminta maaf karena tidak segera membalas.
sorry Ka, ak lg sma temen2ku, ada apa?
Tak lama setelah itu, nada pesan terdengar dari ponselku.
Makan bareng yuk, aku jmpt
Sorry, ak sdg mkn skrg
Dengan siapa?
Putri dan teman2nya
__ADS_1
Oh.
Setelah itu aku tidak membalasnya lagi, karena asyik berbincang dengan Putri dan Mas Bima. Sampai akhirnya nada dering ponselku berbunyi nyaring. Aku melihatnya dan tertera nama Raka disana. Aku tekan tombol hijau diponsel, tapi tak lama layar ponselku mati. Raka mematikan telponnya. One Missed Call. Raka mengirim sebuah pesan.
Bersenang2lah. Tdk usah pkirkan tmnmu yg jg klapran disini.
Raka marah. Aku tidak mengerti. Apa aku salah?. Aku memberitahu Putri, dia sedikit heran.
Raka cemburu tuh,kata Putri.
Nggak mungkin.
Bisa saja, Del. Dia berharap kamu mengajaknya. Tapi tidak mungkin juga,ini acara mas Bima. Raka juga tidak kenal dengan mereka. Hanya akan membuat Raka canggung.
Aku juga memikirkan hal yang sama, Put. Apa nanti aku ke kosnya saja ya?
Untuk apa? Minta maaf? Mengajaknya makan? Mungkin sekarang juga dia sedang makan.
Hanya memastikan. Apa aku salah buat dia.
Terserah kamu, Del. Sebentar lagi sepertinya kita juga sudah selesai. Kalau kamu mau kesana dulu tidak apa-apa. Pakai motorku saja.
Aku mengangguk. Mengambil kunci motor Putri lalu berpamitan dengan mas Bima dan teman-teman yang lain. Mas Bima tidak keberatan. Putri mengisyaratkan sesuatu pada mas Bima, aku tidak mengerti itu apa. Mas Bima tersenyum, lalu mengatakan terima kasih padaku.
Aku berjalan cepat ke parkiran, menyalakan mesin dan menuju ke kos Raka. Dalam perjalanan, aku tidak memikirkan apa-apa, aku tidak peduli jika Raka akan tertawa atau apa saja melihatku menemuinya. Tetapi sesampainya disana, aku ragu untuk melangkah, tidak tahu apa yang sedang aku lakukan sekarang. Aku tidak tahu harus bilang apa pada Raka. Aku hanya mondar-mandir di depan kosnya.
Sampai tiba-tiba ada seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh dan Raka berdiri disana. Dia membawa kantong plastik kecil berwarna hitam. Putri benar. Entah kenapa aku merutuki diriku dalam hati. Aku tidak perlu sampai ke kosnya. Raka melihatku dengan ekspresi bertanya.
Adel, kamu ngapain disini?
Ah, itu.. aku gelagapan, tidak tahu harus mengatakan apa. Dia terlihat baik, tidak seperti sedang kesal.
Del, panggilnya sekali lagi.
Kenapa?, tanyanya. Oh Tuhan, rasanya aku ingin memukul laki-laki didepanku ini. Bisa-bisanya dia bertanya.
Pesanmu tadi,kataku sekali lagi tanpa melihatnya.
Adelia, aku disini. Seharusnya kamu melihat lawan bicaramu ketika mengatakan sesuatu.
Aku melihat kearahnya, seolah-olah seperti robot yang dapat perintah dari tuannya. Menoleh kaku. Wajahnya tersenyum, lalu dia tertawa. Aku mendengus kesal.
Kenapa kau tertawa? apa yang lucu?
Kamu datang kesini, karena pesanku tadi? Kamu mengkhawatirkanku?
Menurutmu? kamu yang aneh, haruskah menulis pesan seperti tadi?
Aku tidak bohong, Del. Aku sangat lapar.
Oh Tuhan, dia hanya memikirkan perutnya. Sungguh aku ingin melempar helmku kewajahnya.
Oke sekarang sepertinya kamu sudah tidak lapar lagi. Kalau begitu aku pulang saja. Sontak Raka menarik tanganku.
Eh tunggu-tunggu. Baiklah aku minta maaf. Seharusnya aku tidak kesal seperti tadi.
Aku terdiam, menunggu dia berbicara. Menjelaskan.
Iya, aku kesal tadi, aku ingin makan bersamamu seperti biasa, tapi kamu justru pergi sendiri dengan teman-temanmu tanpa memberitahuku.
Tebakan Putri benar. Aku melihatnya lagi dengan ekspresi bertanya.
__ADS_1
Jangan melihatku seperti itu, Del. Jangan berpikir yang tidak-tidak.
Aku tertawa. Untuk saat ini aku membiarkannya tidak menjelaskan kenapa dia seperti itu. Mungkin dia hanya ingin mengajakku bertemu seperti biasa. Tapi tetap saja, semua hal tentang Raka membuatku semakin ingin tahu. Salah satunya adalah sikapnya sekarang ini. Pasti nantinya dia akan memberitahu semuanya.
Aku tidak berpikir apa-apa. Sebaiknya sekarang kamu masuk dan makanlah sebelum makananmu dingin.
Oh iya, aku sampai lupa. Laparku hilang karena melihatmu datang kesini
Raka, please jangan menggodaku lagi.
Aku tidak menggoda.
Ah sudah, aku pulang ya.
Aku antar ya?
Tidak perlu, aku kan bawa motor sendiri.
Tidak apa. aku temani dari belakang.
Tidak perlu., lalu aku mendorongnya menuju gerbang. Kemudian berbalik dan kembali menyalakan mesin motor menuju pulang.
Sesampainya di kamar kos. Ponselku berdering. Raka menelepon. Aku bergegas mengangkatnya.
Halo, paduka ratu apakah sampai dengan selamat?
Aku tertawa mendengarnya.
Ya, raja. Raja kera.
Oh syukurlah kalau begitu. Apa raja kera? Oh tidak apa, ini kera sakti dari gunung batu.
Aku tertawa terpingkal-pingkal.
Adel, jangan tertawa nanti aku cinta.
Aku terdiam. Berhenti tertawa sambil menutup mulut dengan tanganku sendiri.
Raka terdengar tertawa puas.
Raka,kenapa kamu tertawa lebih keras? nanti aku juga jadi cinta, lho. Balasku. Aku menelan ludah sesaat setelah mengatakannya. Dia terdiam, tidak ada balasan dari sana. Cukup lama. Aku mengawalinya.
Raka, kamu tidak tertidur kan?. Tidak ada jawaban.
Oke, aku tutup ya? Good night Raka.
Adel tunggu. Aku membatalkan niatku.
Iya, ada apa?
Sepertinya, rasa itu mulai ada.
Aku kaget. Dia mengatakan sesuatu yang sebenarnya belum siap aku dengar. Tetapi ada kelegaan disana. Raka mulai berbicara lagi.
Aku tidak tahu kapan rasa itu ada, hanya saja aku senang menghabiskan waktu bersamamu.
Iya, simpan dulu, pastikanlah dulu. Aku tunggu. Aku mengucapkan kalimat itu dengan lancar, tidak terbata-bata.
Baiklah, selamat beristirahat Adelia.
Iya.
__ADS_1
Raka menutup teleponnya. Aku melihat ke cermin, wajahku memerah seperti kepiting rebus. Beruntung Raka tidak disini melihat wajahku sekarang. Dia pasti akan menggodaku lagi. Aku membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Malam itu tidurku sangat lelap, seperti ada kelegaan yang terungkap.