
Rakabuming Tyantaka
Pria biasa, berkacamata dan berbadan tinggi tegap. rambutnya hitam legam, selaras dengan kulitnya. Rahangnya tegas. Wajahnya tidak terlalu tampan. Sikapnya humoris dan easygoing.Terlihat cuek tapi cukup peduli terhadap orang-orang disekitarnya, termasuk teman-teman dekatnya, mereka bilang dia adalah orang yang bersahabat, tidak memilih dalam berteman, siapapun bisa jadi temannya. Dalam akademis, dia tidak terlalu menonjol tetapi bisa menjadi teman diskusi belajar yang menyenangkan, sifatnya cukup kritis dan suka hal-hal yang menjadi viral terutama hal-hal yang berbau globalisasi, seperti teknologi, tidak pernah ketinggalan sedikitpun. Kamera mirrorless selalu jadi andalannya, fotografi adalah kesukaannya, bagi dia hasil foto adalah hasil yang jujur, semua ekspresi dari hati tertangkap dalam sebuah gambar, sederhana tetapi cukup dalam dimengerti. Dia tidak suka dibohongi, tidak respect terhadap mereka yang suka bermain topeng, bagi dia ketulusan adalah yang utama.
Aku mengenalnya 2 tahun yang lalu, tahun pertama ku sebagai seorang mahasiswa. Aku satu angkatan dan satu jurusan dengannya. Entah kebetulan atau tidak, kami dipertemukan tidak hanya pada kelas yang sama, hobi kami pun sama. Kami menyukai film, film adalah hal pertama yang kami lakukan bersama. Cukup unik pertemuan kami, bagaimana cara kami bisa menonton film bersama.
Dua tahun yang lalu, di kelas Manajemen
Putri, nanti sore nonton yuk",aku membujuk sahabat pertamaku diperkuliahan, yang diajak bicara, tetap sibuk pada laptopnya, berkutat pada video K-Pop di Youtube, EXO adalah boyband favoritnya, video memperlihatkan 9 orang laki-laki dengan dandanan makeup yang total, sedang breakdance, mereka terlihat tampan dan keren, tapi terlalu berlebihan untuk ukuran laki-laki berdandan tebal. Putri terlihat mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti irama lagu dan menikmati visual tampan didepannya. Aku mengguncang-guncang badannya. Dia berhenti dan menoleh,
" Ada apa?".
Dari tadi kamu tidak mendengarku bicara?
Tidak
Aku menghela nafas panjang.
__ADS_1
Nanti sore kita nonton film yuk, Maze Runner sudah tayang, temenin ya, Put
Maze Runner? hmm oh film vampire yang jatuh cinta sma manusia itu?
He? itu Twilight, Put.
Oh, beda. nggak ah, aku nggak ngerti filmnya", kata Putri acuh lalu kembali pada laptopnya, sekarang dia memulai pakai headphonenya dan asyik dengan dunianya sendiri
Aku kembali mengganggunya, tidak peduli kalau dia marah. Aku membuka headphonenya dan berteriak.
Putri! ", temenenin aku nonton, pokoknya kamu harus ikut aku nonton Maze Runner.
Seketika satu kelas menoleh kearah kami, aku yang menyadarinya hanya cengar cengir menahan malu. Sebagian dari mereka ada yang tertawa dan ada yang mencibir. Putri lalu merebut headphonenya dan mendengus kesal, kemudian menggeser sedikit bangkunya ke arah tembok.
Tiba-tiba, kursi kosong disebelahku didudukki oleh seseorang. Raka.
Suka nonton Maze Runner?, katanya
Aku tersenyum. "Iya, kenapa?"
Aku temenin, mau? tapi aku sudah menontonnya, klu iya, kamu bayarin ak, gmn?
Ha? aku yang bayarin nontonnya?
Tentu saja, karena aku kan sudah menonton. Kamu bisa nonton, tidak sendirian, aku temenin, tapi kamu traktir aku, kan sama-sama enak, bagaimana? Kalau kamu mau menunggu sampai bisa download sendiri ya tidak apa-apa. Aku tidak rugi juga.
__ADS_1
Aku melihatnya dengan otak yang penuh tanda tanya, tujuan orang ini sebenarnya apa, tiba-tiba datang tanpa diundang, menawarkan diri tetapi meminta imbalan. Aneh dan tidak biasa.
Aku tidak benar-benar mengenalnya, aku hanya tahu namanya dan kami satu kelompok ketika ospek. Itu saja yang aku tahu.
Dan aneh lagi, tanpa pikir panjang, aku langsung mengiyakan, karena waktu itu bagiku, bisa menonton Maze Runner adalah kebahagiaanku. Tanpa harus berdebat lagi dengan Putri.
"Baiklah, aku setuju" .
Oke, hari sabtu besok aku jemput kamu dikos, atau mau ketemu disana?
Lebih baik jemput aku saja, aku tidak ada kendaraan,
Oke, jam 4 sore hari Sabtu.
Berawal dari ajakan sederhana, aku bisa mengenalnya. Semenjak hari itu kami menjadi dekat.
Raka adalah teman yang menyenangkan, dia baik dan humoris, hampir setiap hari kami satu kelas dan tidak pernah berhenti saling mengejek.
Banyak hal yang kami bicarakan. Dari mulai mata kuliah yang susah, tugas-tugas, dosen yang killer, menyebalkan sampai membicarakan topik-topik tidak penting lainnya, seperti membahas Putri yang fanatik pada K-Pop. Saking dekatnya, hampir setiap ketemu dia selalu memantau handphone yang aku pakai. Aneh memang, tapi aku sendiri tidak pernah merasa terganggu.
Dia selalu mencibir para cowok di kampus, yang selalu mencari-cari perhatianku. Selain dengan Putri, aku selalu curhat dengan dia. Bukan curhat sebenarnya, lebih tepatnya dia yang kepo pada hal-hal yang berhubungan denganku. Entah apa tujuannya. Aku tidak pernah menanyakannya. Raka, hanya laki-laki biasa tetapi dia terlihat istimewa dengan sikap-sikapnya yang sebernarnya tidak biasa
__ADS_1