
Ada dua kata yang pantas untuk menggambarkannya. Pendiam dan menyenangkan.
Kami bertemu saat semester awal di kelas Manajemen. Pertemuan kami cukup unik, dia mengajakku pergi menonton. Sebenarnya, aku yang menawarkan diri tetapi sedikit memaksa. Entah apa yang aku pikirkan saat itu. Menawarkan diri menemaninya menonton, dengan syarat dia yang membayar tiketnya. Sederhana tetapi berkesan. Adelia menyetujuinya dan sejak saat itu kami menjadi dekat.
Bagiku dia tipe cewek yang pendiam, tidak terlalu banyak bicara a.k.a bergosip seperti cewek lain pada umumnya. Memiliki satu orang sahabat, yang seperti bodyguardnya 24 jam. Setelah sekian semester mengenalnya, ada beberapa hal yang aku suka, aku suka melihatnya tertawa. Aku sering menggodanya dan setelahnya Adel akan merespon dengan merajuk atau tersenyum sinis. Disampingnya,ada Putri, sahabatnya yang selalu siap membela.
Saat masuk semester 3, aku lebih sering menghabiskan waktu bersamanya. Sekedar menanyakan kabar, menjahilinya sampai memalsukan tandatangan saat dia membolos pernah aku lakukan.Dalam beberapa hal aku sering melibatkan Adel , meskipun seharusnya aku bisa melakukannya sendiri. Dia tidak pernah protes atau menolak. Selama dia ada waktu , dia pasti mengiyakan ajakanku.
__ADS_1
Aku sendiri mungkin tidak menyadari, perhatian kecil itu berubah menjadi hal yang ingin aku lakukan setiap hari. Satu hari saja tidak melihatnya tertawa,ada sesuatu yang berbeda. Aku memiliki cukup banyak teman perempuan, banyak yang lebih cantik dibanding Adelia. Tetapi ternyata cantik saja tidak cukup. Kepribadian yang terpenting. Adelia tidak pernah memilih-milih dengan siapa dia bergaul. Dia selalu ada saat aku butuhkan. Dia selalu menerimaku. Menghargai waktu saat bersamaku. Adelia tulus dan selalu apa adanya.Aku ingin lebih tahu banyak lagi tentang Adelia.
Ada satu waktu dimana aku sedikit tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada diriku. Aku terlihat cemburu ketika Adel pergi tanpa diriku. Apa aku seorang yang posesif atau pencemburu?. Mungkin aku hanya merasa harus ada pada waktu dia merasakan hal-hal yang menyenangkan. Karena sebelumnya aku selalu meluangkan waktuku dengan dia, atau sebaliknya?. Sebenarnya Adel yang selalu meluangkan waktunya denganku. Aku merasa tidak adil karena dia pergi tanpaku. Aku selalu melibatkan setiap kegiatanku bersama dengan dia. Pikiran yang picik dan dangkal. Aku menyesalinya, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu. Tetapi ada manfaatnya aku bersikap seperti ini. Adelia khawatir. Terlihat jelas malam ini.
Dia terlihat gelisah ketika menungguku di depan kos. Rumah kos tempatku tinggal. Dari kejauhan aku melihat dia menggigit jarinya, mondar mandir melihat ke dalam kos,berulangkali mengecek ponselnya dan menelpon dari ponselnya. Dia meneleponku. Ponselku bergetar dari dalam saku celana. Tiba-tiba terlintas pikiran jail. Aku membiarkan ponselku bergetar dan pura-pura tidak menjawab. Dan benar dia meneleponku berulang-ulang. Aku tertawa kecil dan cukup menyenangkan membuat Adelia terlihat cemas.
Ketika jarak kami semakin dekat. Menepuk bahunya dari belakang. Dia terkejut dan memandangi diriku. Dia terlihat sedikit kecewa setelah melihat apa yang ada ditanganku. Sebelumnya aku memutuskan untuk membeli sendiri makan malamku, dan mengabaikan perasaanku yang saat itu tidak aku mengerti. Aku bertanya sedang apa dia disini , dan dia menjawab dengan terbata-bata. Tebakanku benar,dia mencemaskanku karena mungkin aku bersikap tidak seperti biasanya. Aku yang dalam keseharianku tidak peduli pada orang lain, bisa bersikap aneh ketika Adel tidak ada disampingku. Apa peduliku terhadap dia?.
__ADS_1
“Adelia,aku disini. Seharusnya kamu melihat lawan bicaramu ketika mengatakan sesuatu”.
Dia menoleh kaku ke arah ku ,seperti robot. Aku tidak bisa menahan tawaku dan lepas begitu saja. Dan bingo ,dia terlihat sangat kesal. Dia mulai marah-marah karena pesanku sebelumnya. Kemarahannya bercampur dengan cemas. Semua ekspresi itu terlihat lucu dimataku.Dia sangat mencemaskan sikapku yang aneh karena pergi tanpa diriku.Dia semakin kesal ketika aku menjawab ,aku bersikap seperti itu karena lapar. Seketika dia berjalan gontai ke arah motornya, dan bersiap untuk pergi. Aku menahan tangannya dan menarik perlahan. Dia cukup terkejut. Aku pun juga , otomatis saja tanganku langsung menahan tangannya. Tanpa perintah.
Akhirnya, aku mengungkapkan permintaan maafku. Dan mengakui jika aku kesal karena dia tidak mengajakku, karena aku ingin menghabiskan makan malamku dengan dia. Dia sedikit membelalakkan bola matanya ketika mendengarku mengatakan itu. Ekspresinya membuatku sedikit terpojok. Aku tidak habis pikir aku bisa mengatakannya dengan lancar. Adel sedikit melunak dan tertawa kecil. Kemudian memintaku masuk kedalam kos, dia merasa tak enak hati karena menunda waktu makan malamku. Aku menawarkan diri untuk mengantarkan dia pulang , sebagai permintaan maaf. Dia menolak dengan tersenyum , mengatakan bahwa dia tidak apa-apa pulang sendiri. Raut wajahnya terlihat baik sekarang , tidak lagi cemas. Tersenyum.
Aku menunggunya sampai dia tidak terlihat lagi olehku. dan aku memastikan dia kembali ke kos dengan selamat. Aku meneleponnya , dan ketika dia menjawab panggilan telepon . Aku merasa dia benar-benar sudah baik sekarang. Kembali aku menggodanya ,ketika dia hendak mematikan panggilan. Bukan menggoda, aku merasa yakin dengan perasaanku. Sesungguhnya. Aku menahan teleponnya dan berkata jika rasa itu mulai ada. Aku menunggu jawabannya , dia terdiam cukup lama. Aku meneruskan perkataanku bahwa aku senang ketika bersamanya. Dia tidak membalas bahwa dia punya rasa yang sama , tetapi dia memintaku untuk memastikan dan dia akan menunggu. Apa ada peluang untukku?. Apa aku boleh berharap dia menjadi milikku?
__ADS_1
Malam ini aku terlelap dalam tidurku, dan berharap esok hari akan datang lebih cepat. karena aku ingin memastikan perasaanku benar terhadap Adelia. Dan berharap dia memiliki rasa yang sama.