
satu kata yang menggantung di udara
tak pernah tahu bagaimana kata itu bisa berada disana
jadi tanda tanya besar
inikah yang dirasa? cinta?
Aku bangun dari tidur nyenyakku semalam, masih bermalas-malas ria di kasur nyamanku. Hari ini kuliah siang dan aku masih punya banyak waktu untuk melakukan me time. Handphone yang berada di meja kecil samping tempat tidurku tiba-tiba berbunyi nyaring.
Siapa pagi-pagi sudah menelponku? , pikirku dalam hati
Aku mengambilnya dengan malas-malas. Nama Dody tertera dilayar. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali, memastikan kembali nama yang tertera dilayar Aku tidak bermimpi atau setengah sadar ketika melihatnya, lalu dengan ragu menggeser ikon telpon berwarna hijau dilayar.
Halo, kataku
Halo, Delia? terdengar suara diseberang sana. Aku berusaha mengingat suara ini dan benar itu memang suara Dody. Suaranya sangat familiar ditelingaku. Tiba-tiba jantungku tidak karuan. Aku menghela nafas ,menenangkan diri,tidak peduli jika dia mendengar helaan nafasku.
Delia? katanya lagi.
Ya, ini aku
Oh,hai selamat pagi, suaranya terdengar gugup dan lembut ditelingaku. Jujur aku selalu tersihir dengan nada bicaranya. Entah sejak kapan itu terjadi. Ditambah dengan tatapan matanya yang lembut, aku mulai membayangkan senyumnya , yang aku yakini sekarang ini dia sedang tersenyum diseberang sana.
Arrghhhh! ,
Halo Delia, kamu kenapa?, nada suaranya terdengar kaget dan khawatir
Ups, aku spontan memekik kencang,mukaku merah . Aku malu, beruntungnya aku ,kami tidak face to face. Tetap saja aku malu.
Maaf , ini ada kecoak lewat diatas kakiku. Teriakanku pasti membuatmu kaget? aku berbohong
Iya aku kaget, aku pikir kamu kenapa-kenapa. Maaf mengganggumu pagi-pagi
No problem, ada apa?, tanyaku
Hmm kenapa ya ? apa perlu alasan untuk menelponmu?
Oh, entah. Hanya saja, biasanya seperti itu. Aku kan bertanya.
Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaramu.
Oh, God berkat pagi apalagi yang Kau curahkan pada hambaMu ini. Aku terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Aku melihat bayanganku dicermin, muka kusut bangun tidur , rambut acak-acakan , tapi warna merah dipipiku bisa terlihat dengan jelas, blushing.
Iya kah ? me mang su a ra ku ke na pa ? ,kataku terbata-bata
Dia tertawa mendengar nada bicaraku . Astaga tawanya terdengar renyah. Aku pasti sudah gila, sudah berapa kata yang aku suarakan dalam hati untuk memujinya, kalau dia tahu, dia pasti sudah berada diawang-awang.
Kamu ini , dari tadi bertanya kenapa terus , ga ada pertanyaan lain kah ?
Aku tertawa. Jadi, kamu hanya ingin mendengar suaraku ?
Iya, haruskah ada yang lain ?
Menawari sarapan ,maybe? . Astaga , aku tidak percaya pada apa yang baru saja aku katakan, aku memukul-mukul mulutku sendiri dan merutuki diriku sendiri.
Bagaimana kamu bisa tahu? kamu bisa baca pikiran ya ?
Ah tidak juga , ketebak kok. Aku terkekeh , mencoba menenangkan diri.
Duh , ketahuan dong . Kelihatan banget ya ? nada suaranya terdengar merendah sperti tidak percaya aku akan mengatakan kalimat itu.
Tentu saja.
Jadi bagaimana? mau?
Jam berapa?
1 jam dari sekarang aku akan menjemputmu, gimana ? ready?
Baiklah. Aku siap-siap dulu
Tidak perlu dandan, Del. Kamu selalu terlihat cantik apapun yang kamu kenakan, sekalipun muka bangun tidur
Gombal, Kamu kan belum pernah lihat muka bangun tidurku. Kalau kamu tahu pasti akan menyuruhku untuk berdandan.
Dia tertawa, tidak merespon atau berkomentar. Padahal jantungku seperti lepas ke udara mendengar ucapannya yang tak terduga itu .
Oke. Ya sudah matikan telponnya , jangan tertawa terus
Oh iya , baiklah , sampai bertemu satu jam lagi , bye Delia
Bye.
Dia mematikan panggilan telponnya . Aku meletakkan handphone di meja nakas samping tempat tidur, kembali melihat bayanganku dicermin.Mukaku masih merah. Astaga. Jangan sampai dia melihat muka kepiting rebus ini. Aku beranjak dari tempat tidur lalu mengambil handuk dan menuju kamar mandi.
*****
1 jam kemudian.
Aku sudah siap. Tidak terlihat acak-acakan lagi, rambut panjangku, aku ikat keatas. Terlihat simple dan tidak kusut lagi. Piyama kutanggalkan begitu saja dibelakang pintu kamar. Wajah kuberi krim tabur surya agar tidak terbakar terkena sinar matahari, walaupun aku tahu sinar matahari pagi sehat untuk kulit Tetapi kita tetap harus waspada dari bahay polusi dan sinar ultraviolet matahari. Aku mengenakan kaos polos berlengan panjang dipadu dengan celana hitam 7/8. Tidak lupa bibir tipis kububuhi lip gloss berwarna pink,agar terlihat fresh dan tidak pucat.
Handphone ku kembali berbunyi, dari Dody. Ketika aku mengangkatnya, dia langsung mematikan. Missed call. Aku bergegas mengambil dompet dan memasukkan handphone ke dalam dompet. Setengah berlari menuju ke depan kos. Ketika sampai di pintu depan kos, aku bisa melihatnya dari balik gerbang. Dia tersenyum melihatku, aku pikir dia sibuk dengan handphonenya, teryata dia tahu kalau aku hendak keluar.
Aku berjalan menuju kearahnya sambil tersenyum lalu membuka pintu gerbang.
Tepat 1 jam kan?, tanyanya
__ADS_1
Iya, on time sekali.
Karena aku ingin cepat-cepat bertemu denganmu, Del.
Bohong. Kata-katamu penuh dengan rayuan
Dia tertawa, lalu menarik tanganku tiba-tiba, menyuruhku segera naik diboncengan motornya.
Kami berdua menuju rumah makan tidak jauh dari kos ku berada dan masih di satu area perumahan belakang kampus. Rumah Makan Mbok Yem, papan nama besar terpampang di depannya. Sudah pasti makanan yang dijual bernuansa jawa, bangku-bangkunya dari bambu dan ditata rapi. Terdengar bunyi seruling bambu dan gemericik air. Suasana khas pedesaan di jawa. Tidak ada saung atau persawahan disekelilingnya. Tetapi terasa sperti disebuah pedesaan. Harga makanannya terjangkau dan sesuai kantong mahasiswa. Peminatnya tidak hanya mahasiswa dari jawa, berbagai macam suku tumpah ruah di rumah makan ini. Sampai-sampai mereka mempunyai spot masing-masing. Berkumpul saling bersenda gurau. Rumah makan ini menyajikannya makanannya dalam bentuk prasmanan, jadi pelanggan bisa mengambil makanannya sendiri. Berbagai macam lauk pauk disajikan. Menggugah selera. Dan setiap minggunya ada satu menu yang berbeda dari biasanya. Aku sering sarapan ditempat ini dengan Putri, makan ditempat atau sekedar membelinya untuk dibawa pulang.
Dody mengambilkan peralatan makan untukku. Kemudian mulai memilih makanan untuk piringnya sendiri. Setelah itu kami membayar di kasir yang letaknya diujung meja prasmanan. Aku mulai mengambil uang dari dompet, tapi Dody menahan tanganku dan membayar semua makanan kami. Aku ditraktir olehnya.
Kali ini aku yang bayar, lain waktu gantian kamu yang bayar, bisiknya ditelingaku.
Apa ini berarti ada sarapan bareng berikutnya? kataku dalam hati.
Aku tersenyum melihatnya lalu mengucapkan terima kasih dan berjalan mendahuluinya.
Kami memilih bangku dibagian luar, yang dekat dengan kolam ikan kecil. Cuaca saat itu tidak terlalu panas, berawan. Kami duduk berdampingan. Awalnya aku pikir dia akan duduk didepanku, ternyata dia memilih duduk disampingku. Aku merasa gugup tetapi setidaknya kami tidak perlu beradu pandang, karena jika aku terlihat gugup aku bisa dengan mudah mengalihkan pandanganku.
Dody mulai bercerita, menanyakan tentang tugas-tugas kuliah, tentang Putri dan tentang akhir pekanku kemarin.
Oh ya, Del. Aku boleh tanya sesuatu?
Bukannya dari tadi kamu sudah bertanya? Tidak perlu meminta izin kan?
Oh iya ya, tapi ini cukup privasi, gimana?
Seberapa privasinya?
Tergantung seberapa terbukanya kamu sama aku
Aku penasaran, tanya soal apa?
Soal kamu sama Raka.
Apa yang kamu ingin tahu?
Sedekat apa kalian?
Sedekat aku sama kamu, hanya itu
Apa tidak ada perbedaan antara aku dan Raka?
Perbedaan? Jelas kalian berbeda.
Bukan itu, Del.
Lalu?
Perbedaan batasannya,
Batasan apa? Kok aku jadi kurang paham ya?
Baiklah, begini. Batasan yang aku maksud adalah soal kedekatan kamu sama Raka, sebatas apa? Apa tidak berbeda dengan kamu dan aku?
Delia.
Hmm, kedekatanku dengan Raka sebatas teman, tidak lebih atau mungkin belum, entah aku tidak tahu.
Aku merutuki diriku sendiri, kenapa aku harus mengatakan ini.
Dody melihatku dengan tatapan aneh lalu tiba-tiba dia tersenyum.
Aku lega mendengarnya, katanya sambil tangannya membenarkan anak-anak rambutku yang keluar dan menyematkan di belakang telingaku.
Aku menghentikan aktivitas makanku lalu menoleh kearahnya. Dia masih terlihat tersenyum.
Makanlah, habiskan.
Aku mengangguk dan mulai melahap makananku lagi.
Cuacanya berawan tapi wajahku memerah seperti terpapar sinar matahari.
Sepulang dari sana, Dody mengantarku kembali ke kos. Oke, aku sudah sampai
Terima kasih
Untuk?
Mau sarapan denganku
Oh, seharusnya aku yang berterimakasih, karena sudah traktir aku tadi
Ga perlu, sudah kewajiban seorang pria. Aku pulang ya.
Iya, hati-hati
Masuklah dulu, aku akan pergi setelah kamu masuk.
Oh, baiklah, take care ya
Iya
Dia tersenyum lagi, lalu aku kembali masuk ke kos dan menutup pintu gerbang kos. Kembali ke kamarku lagi. Aku bisa mendengar deru motornya yang mulai meninggalkan kos ku.
Huft. Perasaanku lega sekarang. Aku sampai tidak bisa berkonsentrasi untuk makan. Aku merebahkan diriku di kasur dan mulai memikirkan hal yang tadi. Apa maksudnya dengan kata lega yang dia ucapkan?. Apa selama ini berpikiran aku ada hubungan spesial dengan Raka?. Aku mengacak-acak rambutku. Perasaanku sangat kacau saat itu, dan aku mulai senyum-senyum sendiri, mungkin aku sudah gila.
Hei, napa senyum-senyum sendiri? Stress ya?
Astaga. Seketika aku melompat dari kasurku, dan mendapati Putri sudah berdiri di depan kamarku.
__ADS_1
Put, bikin kaget saja, ketok dulu kek atau gimana, maen nyelonong aja
Nyelonong gimana, aku sudah 1 jam disini teriak-teriak manggil kamu, dan salah sendiri pintunya kebuka.
1 jam? Lebay deh, aku baru 5 menit rebahan kok
Dari tadi kamu tuh senyum-senyum sendiri ga jelas, dipanggil juga gak nyaut.Lagi falling in love? sama siapa? Raka? Akhirnya temanku ini sadar juga, katanya sambil merangkul bahuku.
Apaan? Sok tahu deh, hari ini kenapa Raka jadi trending topik sih? Bukan
Eh tunggu sebentar, lalu siapa dong?
Dody, eh tapi bukan berarti aku mengiyakan lagi jatuh cinta ya
Dody? Kamu habis ketemu Dody? Jangan bilang iya,
Iya aku habis ketemu dia, kok kamu tahu aku baru keluar?
Jangan ngalihin pembicaraan, deh. Aku kan sudah bilang, aku sudah 1jam disini nunggu kamu.
Oh ya? tadi aku masuk kamar, ga lihat kamu.
Itu bukan yang penting sekarang, kenapa kamu bisa pergi sama Dody? izin dari siapa? Ha?
Memangnya aku harus minta izin dulu?
Delia, kamu kan tahu citra Dody di kampus seperti apa?
Iya tahu, tapi dia baik sama aku.
Sama yang lain juga, Del.
Dody tulus, Put.
Percuma nasehatin orang lagi falling in love.
Aku ga falling in love
Tapi hatimu berdebar kalau disamping dia. Salah tingkah, iya kan?
Aku diam tidak menjawab Putri, mengalihkan pandangan keluar. Apa benar aku jatuh cinta?
Aku beritahu sekali lagi ya Del. Lebih baik jangan jatuh cinta sama Dody, aku ga mau kamu jatuh sakit hati nantinya. Tetapi aku hanya bisa menasehatimu tidak bisa mengaturmu, ini karena aku peduli. Urusan hati kamu sendiri yang tahu. Kalau kamu merasa itu yang baik, aku tetap disampingmu, mendukung.
Aku bisa nahan perasaanku sendiri Put, tenang saja. Akan aku pastikan dulu sebelum aku mengambil keputusan.
Putri memelukku. Aku bisa merasakan dia sangat peduli. Dia tidak ingin aku terluka. Aku bangga memiliki sahabat seperti dia. Dia mulai merenggangkan pelukannya. Kemudian menanyakan hal itu lagi.
Terus nasib Raka gimana?
Astaga Putri, aku dan Raka hanya berteman, dia menyenangkan dan baik, dia menganggapku sebatas teman juga, dia sering curhat soal teman-teman perempuannya,teman-teman modelnya yang cantik, tidak mungkin dia ada rasa denganku.
Hmm, setidaknya dia lebih terbuka tentang kehidupan pribadinya sama kamu, Del.
Aku mulai berdiri dan pergi ke kamar mandi, merasa gerah dengan hawa dikamarku. Meninggalkan Putri yang terbengong dengan sikapku.
*****
Kami bergegas menuju ke kampus. Gara-gara Putri ketiduran, kami jadi terlambat. Putri memarkirkan motornya sembarangan, dengan dalih sudah mengenal satpam kampus. Dia bilang pak satpam yang akan memarkirkan motornya dengan benar. Kami setengah berlari menuju kelas. 5 menit lagi perkuliahan akan dimulai, aku berharap dosen belum datang.Aku tidak berani jamin kami akan dibolehkan masuk jika masuk sebelum beliau datang. Prediksiku benar, dosen belum datang. Kelas sudah mulai penuh, dan tiba-tiba komting kelas menabrak dari belakang. Aku memang masih berdiri di dekat pintu kelas. Kami mengaduh.
Maaf, Del. Aku gak lihat ada kamu
Aku juga maaf menghalangi jalanmu. Kenapa lari-lari?
Dosennya izin sakit. Dia mulai berjalan ke muka kelas mengatakan hari ini dosen tidak bisa datang karena sakit dan memberi kami tugas individu dan harus diselesaikan hari itu juga
Aku menduduki bangku disebelah Putri, kemudian disusul Raka yang baru saja masuk kelas. Raka duduk disebelahku, karena saat itu tersisa 2 kursi di depan dan di sebelahku. Raka menyapa kami.
Ka, beruntung banget kamu. Pak Anton tidak ada jadi kamu tidak diusir dari kelas, kata ku sambil menyodorkan kertas tugas.
Aku sudah tahu kalau Pak Anton sakit.
Kok kamu bisa tahu? Jangan-jangan kamu main belakang ya, tuduh Putri. Aku menoleh ke arah Putri dengan tatapan bertanya.
Maksud aku itu dia main belakang sama anaknya Pak Anton yang model cantik itu lho, Raka kan fotografer pasti kenal. Iya kan?
Iya kenal. Cantik sih, tapi sombong, sifatnya bukan tipeku, aku juga sudah ditolak, katanya sedikit berbisik.
Sepertinya kamu yang bukan tipenya dia, kataku sambil sedikit tertawa.
Oh bisa jadi, bener kamu, Del. Dia tertawa sambil menepuk bahuku. Aku mengaduh.
Kenapa harus mencari yang jauh, yang dekat saja bisa jadi jodoh, kata Putri sambil melirik ke arahku.
Aku diam saja, mengabaikan kata-kata Putri. Raka mengangkat bahunya dan mulai mengerjakan tugas. Siang itu suasana kelas tenang, semua orang sibuk dengan tugas. Pak Anton sangat perhatian tidak dibiarkan kelas bubar karena beliau tidak hadir, tugas, paper selalu jadi andalan di kelas beliau. Nilai tertinggi ada pada tugas yang diberikan, terutama tugas individu, untuk tahu seberapa jelas pemahaman yang beliau ajarkan. 1 jam sudah berlalu, kelas mulai sedikit ramai, karena beberapa orang sudah mulai selesai dengan tugasnya. Raka sesekali berdiskusi denganku. Dia juga melontarkan candaannya seperti biasa, tapi tidak mengurangi mimik fokusnya ketika mengerjakan tugas. Dia terlihat cukup santai dan juga bisa serius disaat tertentu. Terkadang dia mendumel sendiri jika dirasa jawabannya atau hitungannya tidak sesuai, jika dia putus asa, dia baru meminta jawabanku. Putri terlihat asyik sendiri dengan musik KPop, memakai headphone saat yang lain sedang serius mengerjakan tugas. Satu-satunya orang yang bisa diajak berdiskusi hanya Raka. Waktu 2 jam adalah waktu yang cukup untuk menyelesaikan, 10 menit sebelum kelas selesai aku sudah mengumpulkan tugas pada Komting. Dia mulai mengecek tugas-tugas yang dikumpulkan dan kemudian membubarkan kelas. Hanya segelintir orang yang langsung pergi setelah menyerahkan tugas, sebagian masih berada dikelas sampai jam kelas selesai.
Sore itu pukul 4 sore. Aku dan Putri masih berbincang di taman depan kelas. Raka juga masih disana, mengobrol dengan beberapa orang yang seangkatan dengan kami.
Ketika, aku dan Putri beranjak untuk pergi. Beberapa meter di depanku, aku melihatnya. Dody. Dia terlihat bercanda dengan beberapa teman wanitanya, satu angkatan juga denganku. Aku bergeming. Putri pun ikut melihat ke arah pandanganku.
Kamu lihat sendiri kan? Dia selalu dikelilingi wanita.
Putri membuyarkan lamunanku.
Itukan memang teman kelompoknya, mereka selalu bersama dia,kataku pada Putri.
Coba kamu lihat baik-baik, Del dengan yang satu ini dia terlihat berbeda.
Aku melihat satu orang perempuan. Cantik. Wajahnya merona setiap kali dia tersenyum, seolah-olah bisa menyihir sekitarnya hanya dengan sebuah senyuman. Dia terlihat dekat dengan Dody, tetapi bagiku itu hanya kedekatan yang biasa, sama seperti dengan yang lainnya. Aku berusaha seperti menenangkan diriku sendiri. Apa aku cemburu?. Aku mengabaikan pemikiranku, hubunganku dan Dody belum sejauh itu.
__ADS_1