Serpihan Asa

Serpihan Asa
Kekesalan hati.


__ADS_3

Ekhmm...!


Terima kasih buat reader semuanya yang sudah menyempatkan waktu meski sebentar tuk ngasih dukungan berupa LIKE, KOMEN, RATE dan FAVORITE.


Dan yang sudah kasih GIFT atau VOTE Babang mengucapkan beribu-ribu terima kasih, tentunya tanpa reader semua karya Babang ini tidaklah berarti. Sekali lagi...yuk kita berikan terus dukungannya demi penyemangat.


Oke. Kita lanjut lagi deh bacanya...!


"SERPIHAN ASA"


Happy reading...



Amarah dalam jiwa Davied sudah tak bisa dielakkan lagi. Tak jarang para mahasiswa yang secara kebetulan berpapasan dengannya menatap penuh heran bercampur takut.


Di kampus itu Davied memang terkenal dengan sikap arogannya.


Seringkali membuat onar hanya dari Masalah sepele.


Kejadian itu terjadi 1 bulan yang telah berlalu.


Waktu itu Gio sedang asyik bersenda gurau dengan teman yang sekaligus satu tim MAPALA ( Mahasiswa pecinta alam ), termasuk Davied yang menjadi biang dari keributan kala itu.


Gio yang bermaksud melemparkan bola basket ke arah temannya itu ternyata dengan cepat pula temannya mengelak.


Alhasil bola melesat jauh dan tak diduga sama sekali dengan kerasnya mengenai seorang mahasiswi yang hendak masuk ruang auditorium.


"Astaga..!"


"Mampus deh gw. Ini bisa jadi petaka besar!" Gio meringis ketakutan.


Benar saja, cewek itu menatap kesal penuh amarah ke arah Gio yang tak begitu jauh keberadaannya.'


"Davied..!!"


"Gw mesti giman ini tolongin, Vied!" Rengeknya manja.


Tanpa Gio sadari cewek itu berjalan ke arahnya dengan memasang raut muka masam sambil menempelkan handphonenya di telinga kiri.


Sudah pasti pertanda akan adanya perseteruan yang tak bisa dielakkan lagi.


"Heh...Lo sengaja gitu lempar bola ke arah gw, tau gak siapa gw!"


"Dengan kejadian ini jangan harap Lo bisa bebas dan tenang ya!," hardiknya ketus.


Mendengar nada ucapannya itu Gio sedikit gemetar, duduk menunduk di samping Davied.


"Ma-maaf, gw gak sengaja!"

__ADS_1


"Tadi itu gw lagi becanda sama teman-teman!," jelasnya.


"Lo pikir semudah itu bilang minta maaf!"


Para mahasiswa yang berlalu lalang menatap tak mengerti.


Davied bangun dari tempat duduknya melangkah santai mendekati cewek yang sedari tadi bentak-bentak Gio terus terusan tanpa henti.


"Memangnya Lo siapa, hah! Lo anak gubernur kah? Atau anak seorang konglomerat di kota ini!" Cibir Davied.


"Temen gw udah minta maaf, lantas kenapa Lo masih omelin dia!


Gw gak bakalan takut meski bokap Lo itu punya pangkat dan kedudukan yang tinggi.


Semua manusia itu sama di hadapan Tuhan, namun yang membedakannya itu hanyalah sikap dan sifatnya. Kaya Lo yang songong dan sok kecantikan." Cecar Davied.


Ucapan teramat pedas bahkan begitu menyakitkan terlontar begitu saja dari mulut Davied tanpa dipikir terlebih dahulu dampak dari ucapannya kepada cewek yang sudah memaki Gio seenak jidatnya.


Cewek itu hanya bisa menahan emosinya.


Tangannya yang indah putih nan lembut tiba-tiba saja hendak menyapu muka Davied, namun dengan sigapnya tangan kiri Davied bisa mematahkan hentakan tangan lembut cewek itu.


"Jangan bersikap bodoh seperti ini terhadapku, lo itu bukan lawan gw.


Atau kalo Lo punya cowok suruh datang ke sini, gw tunggu di sini..!" Davied berucap lantang penuh ambisi.


Kendati masih ngerasa dongkol hatinya ia mencoba melepaskan genggaman erat tangan Davied secara paksa walau sakit dirasa dan itu semua akibat ulahnya sendiri.


Gio terus melongo (Bengong) melihat gaya dan cara Davied melawan keangkuhan cewek yang melabraknya.


Ia membayangkan bakal kejadian yang sebentar lagi akan terjadi saat terdengar ucapan Davied barusan.


Dengan diliputi perasaan was-was Gio mendekati Davied.


"Kita cabut aja yuk!," ajak Gio cengengesan.


"Cemen banget sih Lo! Gw gak bakalan lari hadapin ini semua. Kalau Lo takut pergi saja sendiri!" Tukas Davied santai.


"Bukan masalah takut atau gak nya, ini lingkungan kampus. Apa lo mau diskors lagi seperti kemarin gara-gara berantem." Gio sedikit mengeraskan suaranya lantaran merasa kesal.


Anggapan dan pendapat Gio jelas nyata betapa besarnya ikatan tali persahabatan mereka yang sudah terjalin begitu lama.


Gio menarik lengan Davied secara memaksa agar bisa dengan segera meninggalkan tempat dimana Davied harus menunggu seperti yang dilontarkan cewek tadi.


Mata Gio terbelalak seketika manakala melihat beberapa cowok dan dua cewek diantaranya.


Yang jelas cewek tadi telah kembali bersama cowok yang kian mendekati kearah mereka berdua.


"Oh jadi Lo yang berani ngancam cewek gw? Dan lo juga yang nyuruh gw datang ke sini buat berhadapan sama bocah ingusan kaya Lo!

__ADS_1


Sepertinya hanya akan buang-buang tenaga saja buat lawan Lo." Lantang ucapannya membuat emosi Davied merasa tertantang.


Teman Davied yang masih berkumpul tak ada satupun yang berani menatap mereka. Cuma Davied seorang terlihat cuek dan santai mendengar ocehan orang di hadapannya.


"Heh! Lo mau jadi jagoan di sini? Kalau mau jadi jagoan jangan beraninya cuma sama cewek, nih aku lawan yang pantas buatmu!" Sambil mengitari Davied cowok itu terus menunjukan sikap tengilnya.


Keadaan semakin memanas saat tangan cowok berbadan tinggi tegap itu mulai mengacak-acak rambut Davied.


Reaksi Davied tetap tenang walau merasa jengkel bercampur kesal, senyum kekesalannya mulai nampak seakan sudah tak tahan atas perlakuan cowok yang sudah membuatnya semakin terpancing oleh emosi.


"Lalu sekarang mau apa!" Davied bersuara pelan namun sangat menusuk lawan bicaranya.


"Iya, gw memang nyuruh sama itu cewek kalo memang punya cowok suruh datang ke sini.


Sekarang yang datang kesini bareng cewek tadi itu Lo, artinya Lo cowok diakah?" Davied memutar balik suasana menjadikan hati cowok bertubuh gempal itu menjadi meradang emosinya.


"Plakk..!"


Sebuah tamparan keras begitu cepat telah mendarat ke pipi kiri Davied hingga membuatnya meringis dan memegangi sudut bibirnya dengan tatapan mata yang garang.


"Asal Lo tahu, dia memang cewek gw dan sekarang Lo jadi berubah pikiran karena gw yang menjadi cowoknya dia sudah ada di hadapan Lo!," gertaknya sinis.


Kali ini Davied mencoba menepiskan tangan cowok itu dengan kasar.


Kekuatan emosinya kini telah berada diambang titik puncak, sedikit saja tersinggung bisa menjadikan kemelut hebat.


Gio terlihat panik melihat situasi makin memanas antara Davied dan cowok yang gak dia kenal walau satu lingkungan kampus.


Ditengah kemelut itu Gio mencoba membuka headphone lalu mencoba menghubungi teman dekat mereka.


("Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif")


"Ah...pake gak aktif segala tuh anak!," gerutunya.


Terus dan tak mudah menyerah, Gio mencoba tuk menghubungi nomor temannya berkali-kali.


("Nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan")


Lagi-lagi hanyalah sambutan dari operator yang Gio dapati. Habis sudah kesabaran Gio dengan menutup panggilannya dan segera memasukan HP nya ke dalam saku celana.


"Dasar bocah gemblung (anak bodoh)," celetuknya kembali dibarengi bibir manyunnya.


[Jiahahaa...Gio ngmbek deh..!😂]


...----------------...


👉 Jangn bosan untuk membaca dan terus berikan semangat ya, berikan RATE, FAVORITE, KOMEN, LIKE, JUGA GIFTS atau VOTE di karya Babang ini.


Sukses dan sehat selalu...

__ADS_1


Terima.kasih...🙏🙏


🆙 Bersambung...


__ADS_2