Serpihan Asa

Serpihan Asa
Keluarga harmonis.


__ADS_3

Hari libur ...


Setiap makhluk hidup khususnya manusia, sudah pasti akan merasakan lelah dan jenuh dalam kesehariannya.


Hari berganti Minggu berganti bulan sampai hitungan tahun sudah barang tentu akan terus bergelut dengan berbagai aktivitas, baik kegiatan rutin ataupun sampingan demi memenuhi kebutuhan hidup yang layak.


Menjalani kehidupan ini tidaklah semudah kita membalikkan telapak tangan kita. Akan tetapi hidup itu membutuhkan perjuangan dan semangat yang kuat, sebab tanpa adanya itu semua niscahya hidup kita hanya akan menderita dan tersiksa.


📌 📌 📌


Di pagi hari yang ceria suasana keluarga besar Adrian Wijaya sedang menikmati weekend bersama. Keluarga yang terlhat harmonis juga penuh kebersamaan.


Ruangan dapur yang tertata apik dan bersih juga terlihat begitu asri, tentunya yang tak kalah lebih menarik lagi seisi ruang dapur itu dilengkapi dengan berbagai macam perabot dapur branded ternama.


"Bi..tolong ambilkan sayuran di kulkas!" ucap Bu Mirna.


"Iya, Nyonya," jawab Bi Asih sopan.


Memang setiap hari rutinitas kaum hawa tak pernah lepas dari aktivitas di dapur. Karena itu semua tugas wajib bagi seorang perempuan, terutama bagi yang sudah berkeluarga.


Menjadi seorang ibu rumah tangga yang mencakup seorang istri untuk melayani suami dan anak-anaknya dengan sebaik mungkin.


"Ini Nyonya sayurannya." Bi Asih segera menjalankan tugasnya sebagai mestinya.


"Bibi mendingan masak yang lainnya saja, biar sayuran ini menjadi tugas saya," ? titah Bu Mirna.


"Baik, Nyonya."


Keluarga Adrian Wijaya, bisa dibilang keluarga konglomerat di kota Kuningan Jawa barat. Memiliki harta kekayaan yang berlimpah dan mempunyai beberapa anak cabang perusahaan di berbagai daerah. Sebut saja perusahaan PT. BUDI LUHUR Tbk, usaha bisnis yang bergerak di bidang property.


Perusahaan yang di bawah naungan keluarga besar Adrian Wijaya, yang tak lain orang tua Davied Andreas Wijaya.


"Selamat pagi, Pah?" Sapa Dirga.


"Pagi juga, Dirga." Jawab Pak Adrian setelah minum kopi.

__ADS_1


"Hari ini kamu gak ada acara bareng teman-teman di luar?" Kembali Pak Adrian bertanya.


"Kayanya gak ada sih, Pah! Mungkin nanti malam kayanya mau ke acara tunangan teman."


Sambil menikmati sarapan paginya Dirga terus asyik ngobrol bersama orang tua tercintanya.


Dari lantai atas terlihat Gischa sedang menuruni anak tangga yang kemudian menuju meja makan untuk ikut sarapan bareng.


"Pagi Pah, Kak Dirga!" Selesai menyapa keduanya Gischa tak lupa cium pipi papahnya.


Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, saat menjelang sarapan di pagi hari semuanya kumpul bersama.


bercanda tawa penuh kebahagiaan.


Namun, liburan kali ini sosok anak sulungnya tak terlihat duduk bareng di meja makan.


Ya, Davied Andreas Wijaya. Semenjak menjalani kuliahnya di kota Bandung dia tak terlihat keberadaanya di rumah mewah nan mentereng itu.


"Pah, kak Davied tumben liburan ini gak balik. Biasanya 2 Minggu sekali pasti pulang, padahal ini udah 1 bulan lebih lho!" ucap Gischa.


Terlihat raut muka Gischa langsung cemberut lantaran tak mendapat jawaban.


Saat ketiganya terlena dalam hening, tiba-tiba Bi Asih datang dengan membawa masakan yang dibuatnya bersama Bu Aida dan itu membuat suasana riang kembali.


"Ini Non masakan kesukaan Non Gischa!" Bi Asih menaruh makanan yang menjadi favorite anak majikannya.


"Wah, pasti enk banget nih, Bi. Terima kasih ya Bi Asih?" Gischa tersenyum bahagia.


"Iya, Non!"


"Habisin ya Non, biar cepat gemuk!" canda Bi Asih.


"Ah Bi Asih bisa ae..?"


Keduanya terlihat akrab bagai seorang ibu dan anaknya.

__ADS_1


"Punyaku mana, Bi Asih!" Dirga tak mau ketinggalan.


"Oalah...tenang sudah Bi Asih siapin kok!"


Pak Adrian geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anak kesayangannya yang begitu dekat dengan Bi Asih.


"Senang rasanya melihat anak-anak bahagia dan ceria seperti ini.


Mereka sangat menghormati Bi Asih meskipun bukan ibu kandungnya, terima kasih ya Allah atas anugerah dan hidayah yang Engkau limpahkan pada keluarga kami ini." Batin Pak Adrian.


"Lho kenapa belum sarapan juga, Pah?" Ucapan istrinya yang sudah berada di sampingnya.


"Itu lho Mah, papah bahagia banget melihat kedekatan anak-anak sama bi Asih, Papah jadi teringat masa kecil dulu di mana ibu yang selalu perhatian dan tak pernah bosan menyiapkan sarapan sebelum Papah berangkat ke sekolah."


Mata Pak Adrian mendadak berkaca-kaca, seolah sedang menyelami masa kecilnya bersama orang tua tercintanya.


"Mamah juga pastinya seneng juga, Pah. Bi Asih memang begitu perhatian terhadap anak-anak dan keluarga kita.


Mamah juga sudah menganggap dia seperti ibu sendiri, apalagi Bi Asih itu ikut keluarga kita sejak kita baru menikah sampai sekarang sudah dikaruniai 3 anak." Bu Aida menggenggam tangan suaminya dengan senyum penuh bahagia.


Keceriaan di meja makan itu menjadikan cerminan dalam berkeluarga. Tumbuh dalam kehangatan kasih sayang orang tua, dan keluarga yang harmonis akan menghasilkan orang-orang dewasa yang sehat dan bahagia. Dengan begitu mereka akan berkembang lebih optimal dan meraih kesuksesan di masa depan.


Karir dan pekerjaan memang penting sebagai jaminan kesejahteraan, tetapi keluarga jauh lebih penting. Karena itu pastikan keduanya berjalan seimbang. Dengan meluangkan waktu berkumpul dan melakukan aktivitas bersama di akhir pekan.



...----------------...


👉 Jangan bosan untuk membaca dan terus berikan semangat ya, berikan RATE, FAVORITE, KOMEN, LIKE, JUGA GIFTS atau VOTE di karya Babang ini.


Sukses dan sehat selalu...


Terima.kasih...🙏🙏


🆙 Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2