
Gio hampir tak percaya dengan apa yang tengah terjadi di lingkungan kampusnya itu, secara kebetulan tempat mereka berada dalam suasana sepi. Meski hanya ada beberapa mahasiswa lewat pastinya hal itu sudah biasa apabila melihat kerumunan mahasiswa baik cewek maupun cowok.
"Hentikan!"
"Kalian jangan berulah seperti bocah, apa pantas sebagai seorang mahasiswa berkelakuan seperti preman." cegah Gio terhadap mereka.
Jelas saja umpatan Gio tadi memancing emosi salah satu cowok yang sedari tadi terlhat mencengkram baju Davied.
Kini sorot matanya memancar tajam ke arah Gio. Langkah kakinya pun beralih terayun mengarah kepadanya.
Sontak saja mimik wajah Gio pucat pasi bercampur rasa ketakutan.
Gemetaran tubuhnya seperti orang yang sedang merasakan meriang.
Sungguh diluar dugaannya, niatan ngingetin tapi malah jadi bumerang baginya sendiri.
"Bilang apa Lo barusan, bocah t****l..!"
"Laga Lo kaya jagoan tapi nyali kaya cewek."
Gio makin menciut tak berdaya di hadapan cowok berbadan padat berisi yang sedang terbakar emosi.
Tangan kekarnya menjepit mulut Gio sampai terlihat kesakitan.
Davied tak tinggal diam ketika melihat teman baiknya diperlakukan tak manusiawi.
Segera ia menyibak kerumunan para mahasiswa yang hendak mengeroyoknya itu.
"Bro, dia bukan lawan Lo!"
"Lepasin!"
Kepalan tangan Davied mulai gemetar dengan diiringi gerak gemeretak menahan ambisi yang sudah panas membahana dari dalam relung hati dan lonjakkan jiwa lelakinya.
"Ini masalah Gw sama Lo, mari kita selesaikan berdua!," celoteh Davied menantang.
Amarah kedua cowok yang saling berhadapan di antara kerumunan para mahasiswa itu sangatlah sulit untuk dilerai dengan ucapan.
Gio mendekati Davied bermaksud mengajak pergi dengan menarik tangan Davied.
Hanyalah tepisan yang didapati Gio.
"Davied!"
"Sudahlah jangan ladenin dia, nanti bisa-bisa kamu akan kena skors dari dosen." Gio menjelaskan.
Sekarang tangan cowok di hadapan Davied sudah terangkat hendak menonjok muka Davied.
Namun, diluar dugaan justru pukulan telak terlebih dahulu mendarat di wajah kanan cowok tersebut.
Ya, hentakan dari kepalan tangan kanan Davied telah memberikan pukulan keras hingga membuat cowok itu terseok kesamping.
"B*****t, Lo!" Makinya beringas penuh dendam.
Seperti tak ingin memberi kesempatan terhadap lawannya, Davied kembali mencecar dengan pukulan bogem tanganya berkali-kali.
"Akh..!"
__ADS_1
Rintihan kesakitan terdengar membuat semua temannya mendekat untuk menolongnya.
"Frans, Lo gak kenapa napa kan!" Tanya cewek yang sudah ada di sampingnya.
"Uhuk ... uhuk..!"
"Gw gak apa-apa, Shin!" jawabnya dengan nafas tak beraturan.
"B*****t...!"
"Lo jangan ngerasa menang dulu urusan kita belum selesai..!" Frans memaki kesal.
"Sialan!"
"Apa perlu kami habisin dia bos." Celetuk salah satu temannya sinis.
"Jangan!"
"Walau bagaimanapun gw gak akan kasih ampun dan jangan harap juga dia bisa tenang, bebas berkeliaran di sini"
sorak riuh para mahasiswa yang telah menyaksikan kelihaian seorang Davied menghajar lawannya dengan mudah tanpa berkutik ataupun melawannya.
Mereka pastinya ada yang kagum akan keberanian Davied, bahkan sebaliknya sudah pasti diantara yang lain menilai sikap Davied sok jagoan atau apalah.
Ruangan yang tadi ramai kini berbalik sepi nan sunyi tak ada satupun langkah kaki berpijak di area perkelahian tadi.
📌📌📌
"Lo kenapa sih, Gio? Gw lihat dari tadi gelisah banget." Tanya Davied datar.
"Gimana gw gak gelisah coba, gw ngebayangin apa yang bakal terjadi esok hari. Sudah pasti akan ada yang melaporkan kejadian tadi sama dosen."
Cuaca makin terlihat tak bersahabat rentetan dan sambaran kilat saling bergantian menghentakkan detak jantung.
Hujan lebat seketika membuyarkan asa yang mulai terpatri dalam benak hati nan mendalam.
"Kita mau kemana, Vied." Gio membuka percakapan.
"Entahlah"
"Mendingan kita balik saja ke rumah, lagian hujan deras kaya gini enakan nongkrong di rumah. Menenangkan pikiran dengan nonton tv atau dengerin musik"
Hujan yang teramat deras membuat jarak pandang mata tak bisa lebih jauh melihat kearah depan.
Laju mobil yang dikendarainya pun hanya bisa pelan demi keselamatan.
Tiba-tiba saja mobil berdecit dan akhirnya berhenti di pinggir jalan tanpa sebab.
"Sial..!"
"Kenapa pake mogok segala sih." Rutuk Davied kesal.
"Mobilnya kenapa lagi? Perasaan baru 2 hari lalu mobil Lo service, kok bisa jadi kaya gini sih."
Tak ada yang bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa pasrah meratapi guyuran hujan deras.
Mau tidak mau Davied dan Gio bertahan dalam mobil.
__ADS_1
"Coba lo hubungi si Aldy sama si Angga, kali aja dia bisa benerin mobil ini." Suruh Davied.
Tak jauh dari arah yang sama terlihat pelan laju mobil warna kuning dengan pijaran lampu blitznya nan terang menyoroti ke depan.
Sosok dua remaja itu terus memandang ke arah mobil di tengah jalan.
Semakin mendekat mobil yang mereka kendarai akhirnya keduanya saling beradu pandang.
"I-itu kan mobil si Davied!"
"Ho'oh ... memang benar itu mobil dia, kenapa bisa ada di sini udah gitu berhenti ditengah jalan pula. Apa mau bunuh diri?" Gerundel dari salah satu temannya yang kemudian menghentikan mobilnya tepat dibelakang mobil Davied.
Hujan yang masih mengguyur jalanan dengan derasnya tak menyurutkan niat solideritasnya, apalgi terhadap seorang teman yang sudah dikenalnya teramat begitu dekat.
Mungkin seperti halnya saudara dalam sebuah ikatan keluarga.
Angga lebih dulu turun dan mengetuk kaca mobil sebelah kanan tepatnya Davied yang duduk di belakang kemudi.
"Vied, kenapa mobil lo berhenti di tengah jalan begini? Kalau mau bunuh diri jangan lebay gini deh." Ledek Angga terkekeh.
"Semprul...!"
"Mata lo picek, mobil Gw mogok alias ngambek!
Emngnya siapa yang mau bunuh diri. Gini-gini juga Gw masih punya iman begok!" Cerca Davied.
Akhirnya dua remaja yang badannya sudah basah kuyup oleh air hujan terbahak menertawakan tingkah dan ucapan seorang Davied.
"Udah jangan kebanyak ngakak lo, tar kemasukan angin baru tau rasa."
"Ahaii...masih bisa sewot juga ya di bawah derasnya hujan seperti ini." Aldy menimpali kelakar sahabatnya.
"Benerin noh mobil Gw."
"Buruan..!"
"Gak ngerasain dingin kaya gini apa?"
"Beres..tenang saja dijamin bisa kembali hidup kok ini mobil Lo." Angga meyakinkan.
Dengan cekatan Angga dan Aldy memeriksa mesin mobil Davied.
Berbekal ilmu dan keahlian yang dimiliki akhirnya tak begitu sulit untuk mencari kerusakan yang menyebabkan mobil Davied mogok berhenti di tengah jalan.
"Coba nyalain, Vied..!"
Seketika mobilnya sudah bisa dihidupkan kembali.
Dan sebelum tancap gas Davied menyuruh kedua temannya mengajak ke rumahnya.
"Kalian ke rumah Gw dulu yuk..! Baju Lo pada basah kaya gitu biar ganti pake baju Gw." Ajakan Davied tak mendapat penawaran apalagi untuk menolaknya.
"Oke..!"
Kedua mobil itu melaju beriringan dalam gempuran air hujan nan begitu deras, tiupan angin berhembus meliuk menyibak gemercik kumpulan air dari langit yang turun ke permukaan bumi.
...----------------...
__ADS_1
🐟🦈 Yuck...kita kembali saling berbagi demi kebaikan 🙏🙏.
...✍️..✍️..Bersambung...