Serpihan Asa

Serpihan Asa
Rindu tak bertepi.


__ADS_3

Kedua mobil itu melaju beriringan dalam gempuran air hujan nan begitu deras, tiupan angin berhembus meliuk menyibak gemercik kumpulan air dari langit yang turun ke permukaan bumi.


Keempat remaja yang sudah seperti layaknya saudara itu kembali bercengkrama dalam suasana malam nan dingin.


Cuaca yang berdampak dari hujan yang terus mengguyur kota metropolitan tanpa henti.


"Si Gio lagi bikin apaan dia, tumben mau acak-acak dapur Lo, Vied!" Angga memulai percakapan.


"Dia sudah biasa kaya gitu gak kaya Lo yang maunya gratisan mulu.


Mangkanya Gw biarin dia mau ngapain aja kalau sedang main ke rumah Gw ini, yang penting pas dia balik itu dapur bersih seperti semula."


"Enak dong kalau jadi Lo Vied, tinggal panggil datang tuh si Mince (Gio) membawakan apa yang Lo mau" tukas Aldy yang disambut tawa Angga.


Tawa keduanya tiba-tiba melemah tatkala Gio keluar dari area dapur dengan membawa nampan yang penuh oleh gelas minuman dan 2 piring berisikan pisang goreng serta kue yang tadi siang dibelinya di toko kue.


"Nah...ini yang Gw mau dari tadi?" ucap Aldy kegirangan.


"Benar juga apa yang dikatakan Davied tadi. Lo memang berbakat jadi seorang penyaji menu hebat dan keren." Angga berseloroh saat Gio meletakkan jamuan malam itu di atas meja.


"Hasyemmm ..!"


Gio langsung menyambar kepala Angga dengan sebuah jitakkan yang membuat ruangan di rumah Davied jadi seru.


Kebersamaan yang begitu kental terasa sangat indah.


hari-hari yang tak pernah lepas dari canda tawa seorang sahabat bahkan sudah seperti seorang saudara sendiri.


"By the way ... tadi kenapa mobil Lo bisa berhenti di tengah jalan gitu, Vied!


Gw sama Aldy nyari-nyari kalian di kampus juga di tempat tongkrongan biasa kita gak ada juga, di telpon gak pada aktif nomornya." Cerita Angga yang begitu lahapnya memasukkan pisang goreng ke dalam mulutnya.


"Gundulmu..!"


"Apa gak kebalik tuh, Gw telepon Lo pada berdua yang ada nomor kalian entah nyangkut kemana.


(Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif)


(Nomor yang anda tuju berada di luar jangkauan.)" Tiru Gio dengan leluconnya yang konyol.


Sontak saja ketiganya baik Davied, Angga dan Aldy terkekeh melihat gaya yang diperagakan oleh Gio.


"Yang benar Lo! Sekira jam berapa telepon Gw!," tanya Aldy kebingungan.


"Jam 10 lebih deh kayanya. Soalnya itu pas jam kuliah Pak Heru tuh kosong.


Dan kalian tau gak kenapa Gw telepon Lo pada?"


"Ada apa...ada apa ..!" Seloroh Angga penuh rasa penasaran dengan ucapan Gio.


"Si Davied berantem sama si Frans, itu lho cowok yang selalu sok kecakepan."


"Terus...terus..!" potong Aldy yang begitu terlihat ada amarah dalam guratan diwajahnya.


"Diem dulu napa, jangan maen potong mulu kalau Gw belum selesai ceritanya!," Bentak Gio.


"Ho'oh..!"

__ADS_1


"Dengerin dulu bego ..!" Cerca Angga yang tak kalah usilnya.


Menyaksikan riuh kocak tiga temannya Davied hanya terkekeh dan sesekali menyesap kopi yang tersaji di meja untuk sekedar menghangatkn badan karena cuaca dingin.


"Awalnya sih Gw lagi mainin itu bola basket tapi entah kenapa si bola itu nyosor ke arah kepala si cewek jurusan komputer (informatika) itu."


"Cewek itu siapa!"


"Marah enggak tuh cewek, menurutku pastilah marah banget kan?," Potongnya lagi.


Dengan kesalnya Gio melemparkan bantalan sofa yang sejak tadi ia pegang untuk dijadikan penghangat tangannya.


Aldy yang terkena imbasnya cuma bisa nyengir tak jelas.


"Mau tahu enggak jalan ceritanya?," omel Gio.


"Mau ... mau..!"


"Shinta namanya, anak jurusan komputer gitu. Terus Gw samperin dia dan meminta maaf tapinya itu cewek malahan marah-marah ke Gw.


Ya, secara Gw memang salah sih dan Gw rasa semua itu bukan karena disengaja, mutlak kalau itu semua tak lepas dari kendaliku."


Malam terus merambah kegelapannya yang diiringi riuh hujan tanpa ada tanda akan adanya reda dari guyuran air hujan.


Kebersamaan di rumah Davied menjadikan suasana bak satu keluarga dalam keceriaan, menghabiskan malam tanpa mengenal waktu dan keadaan bahkan pemikirannya masing-masing.


Seusai menghabiskan minuman kopinya Davied beranjak bangun dari tempat duduknya dan berpamitan sama ketiga temannya.


"Bro, Gw tidur duluan ya mata ini sudah tak bisa diajak kompromi. Kalau kalian masih belum ngantuk gak apa-apa lanjutin saja ngobrolnya.


"Ok. Siap boss!," sahut Aldy penuh senang.


"Ckckckck...baik benar kita punya kawan, sudah ganteng, tajir tak sombong pula." Puji Angga yang di amini Aldy.


"Iyalah..memangnya kalia-kalian yang pada pelit alias medit koret' ditambah jelek pula...hihihiii." Cebik Gio bergidik.


"Aelahhh....siapa bilang kita-kita jelek? Lo aja kali matanya yang picek sebelah mangkanya melihat Gw jadi gak seutuhnya." Aldy dan Annga seketika terbahak bersama.


"Budu (bodo)...!"


"Daripada Gw ngobrol sama Lo pada gak ada faedahnya mendingan tidur dah Gw."


Gio dengan muka yang masih terlihat ditekuk menandakan kalau ada kekesalan yang sedang merasukinya.


Selepas hilangnya Gio di hadapan Angga dan Aldy, kembali keheningan merayap seiring waktu yang terus berjalan.


📌📌📌


Pukul 03.20 WIB


Davied terus merasakan kegelisahan yang tak pernah ia rasakan sebulumnya.


Sederetan klise masa lalunya tergambar jelas dalam memory otaknya.


Entah apa dan harus bagaimana ia menghapus kenangan dimasa silamnya yang penuh dengan kepahitan bersama orang-orang tercinta.


Di lain cerita rasa ingin bertemu dengannya sudahlah tak mungkin terjadi, semuanya sudah bukan menjadi miliknya.

__ADS_1


"*Ya Allah ... berikanlah kekuatan di hati ini, anggaplah masa laluku itu sebagai pelajaran buat cerminan di masa yang akan datang...


Jangan biarkan jiwa ini terus terkoyak oleh benturan-benturan yang seakan tak mau lepas dari imajinasiku.


Biarkan hidup ini akan ku lalui dengan penuh keyakinan bahwasannya aku mampu berjalan di atas kepedihan luka yang dirasakan*." Lirih Davied yang kini masih terpaku diam di atas tempat tidur.


Sebagai teman dalam kekalutannya Davied mengambil Laptop kesayangannya.


Laptop Apple Macbook yang saat ini sedang trend dikalangan anak remaja tentunya.


Setelah membuka laptopnya Davied pun mulai berselancar jari tangannya terus menari bak mengikuti irama hatinya yang saat sekarang masih terbawa kegelisahan.


Semakin jauh sudah oleh keasyikannya dalam mengarungi dunia mayanya Davied sampai tak ingat waktu.


Jam weker(beker) yang terpajang di atas nakasnya telah berbunyi, dan itu menandakan pagi telah menyapa alam semesta ini.


Davied terkagetkan oleh bunyi jam bekernya.


Davied memang menyeting jam bekernya tepat jam 06.00 pagi, itu agar Davied tidak kesiangan bangunnya saat akan berangkat ke kampus.


Selesai menutup laptopnya Davied merebahkan tubuhnya yang terasa letih karena semalaman tak tidur.


Belum beberapa menit ia memejamkan matanya bunyi dering handphone nya bergetar.


Diangktnya panggilan yang masuk itu.


"Hallo..!"


"ini siapa..?"


Tak ada jawaban yang menyahut di seberang sana.


Membuat Davied kesal.


"Heh..kalau gak mau ngomong gak usah telepon, ganggu orang saja tau!" Dengan ketusnya Davied menutup panggilan itu.


"Siapa sih tuh orang, gangguin saja sih!," makinya kesal.


[Nah...benar kan? Babang Davied jadinya kesel tuh. Mangkanya kalau phone jangan pagi banget...xixixiii]


...----------------...


Yuck ahhh...kepoin dlu babang Davied nya biar gak marah-marah lagi...😂😅


tinggalkan jejak di sini...


📝 FAVORITE..


📝 LIKE...


📝 KOMENT...


📝 DAN RATE ...


Terima kasih ya akak semua...🙏🏻🙏🏻


...✍️..✍️ Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2