
Happy reading..!
Cinta adalah bak bunga mawar yang bersemayam dalam keyakinan bersama dorongan nuansa hati yang tidak pernah layu. Semakin kuat akan hubungan antar individu-individu yang membentuk keluarga, masyarakat dan lingkungan bersama itu adalah sebuah hakikat cinta.
"Ah...bulsyit dengan namanya cinta," decak David sambil menutup bukunya.
"Cinta itu hanya bikin pusing dan stres."
Dalam benak pemikirannya David seakan begitu membenci dengan untaian filosofi cinta yang sedang ia cermati dibuku itu.
Kembali buku yang masih dalam genggamannya dibuka.
Matanya terlihat begitu khusyu menjejaki kata demi kata walau sebenarnya malas baca.
"Cinta yang nyata akan penuh pemberian, bukanlah meminta untuk diberikan. Cinta itu harus penuh dengan ketulusan, bukan penuh dengan paksaan."
Akan terasa begitu indah mendengar kata cinta dengan segala maknanya, akan semakin yakin keindahan cinta itu terukir dalam jiwa-jiwa orang yang mau mencintai dan merasakan adanya cinta dalam hatinya. Sementara sebaliknya jiwa yang gersang hanya akan menimbulkan keresahan di tengah-tengah ketidakberdayaan.
Andaikan saja cinta itu jauh dari hatinya atau bahkan rasa cinta itu sendiri tidak sama sekali terdengung sedikitpun dalam hidupnya, yang pasti semua itu akan dirasakan hampa.
Hmmm, apakah masih ada cinta atau..?
"Brakk..!"
David melempar buku itu ke sembarang arah, tangannya sigap mengangkat gelas yang sudah terisi air ber***l dan langsung menenggaknya.
Ilusi dan asa yan kosong terus merasuki alam kegelapannya.
Tanpa ia sadari badan gempalnya yang tak memakai baju [ jangan parno ya -othor ] terjatuh dari atas kasur.
Terasa lemas dan seakan tak memiliki tenaga untuk berdiri.
Setelah bersusah payah akhirnya Davied mampu berdiri dan dengan langkah yang tak terarah dan sempoyongan dia menuju kamar mandi yang tak jauh dari tempat tidurnya.
Sampai di dalam kamar mandi seketika pandangan matanya semakin buram tak jelas.
Kran air segera dia nyalakan untuk mengguyur seluruh badannya yang begitu panas terasa, bagai tersorot sinar ultraviolet dari jarak yang dekat.
"Arrgh...!"
Davied berteriak seakan sedang membuang amarah juga kekesalannya yang dirasakan dari jiwa kehampaannya.
"Persetan dengan cinta!" Dengusnya sambil bersungut kesal.
Lontaran kata cinta terus terucap dari mulutnya seraya tak pernah kunjung henti.
Guyuran air dari shower begitu deras menyusuri tiap lekuk tubuhnya seakan mengerti apa yang sedang dihadapi oleh sosok pria yang tengah berada di bawah guyuran nya.
Lama sudah guyuran air memberikan energi dinginnya tanpa henti hingga berangsur-angsur tubuhnya ambruk dan terkulai di lantai kamar mandi.
"Brukk..!"
__ADS_1
Davied akhirnya hanyut dalam mimpi di bawah kesadarannya.
Terus melayang bersama imajinasi nan tak berarah.
"Tok..tok..tok.."
Terdengar suara ketukan dari luar pintu.
"Davied..!"
Seorang cowok sedikit berteriak memanggilnya berulang kali, namun sama sekali tak ada suara yang menyahut panggilannya.
"Dasar kaya k**o kalau tidur!" Gerutu seseorang yang masih berdiam diri depan pintu.
"Ah, mending gue masuk saja lah."
Setelah berucap cowok itu langsung menekan handle pintu lalu membukanya perlahan.
"Weh, ternyata memang tak dikunci ini pintu? Ah bodo lah yang penting gue bisa langsung masuk dengan leluasa," ucapnya girang.
"Waduh, kenapa acak-acakan seperti habis terkena razia satpol PP ya?," celetuknya kembali sedikit nyeleneh.
"Orangnya gak ada, kemana dia?" Dalam hatinya terus bertanya.
Satu demi satu cowok itu membereskan barang dan buku bahkan pakaian yang berserakan di lantai lalu menyimpannya ke tempat semula.
"Beginilah kamar seorang jomblo akut, setiap hari pasti semrawut." Gio terus mencaci dengan suara pelan.
Ya, cowok itu panggilannya Gio dan nama lengkapnya Giofani, salah satu teman kampus Davied yang humoris dan bisa diandalkan kemampuan otaknya dalam menyelesaikan tugas-tugas mata kuliah di kampus.
Setiap malam dia memang rutin main ke tempat kostnya Davied, di samping dekat jarak rumah mereka di sisi lain tentunya karena memang ada tugas kampus yang harus di kerjakan bersama.
"Tapi Davied kok gak ada, kemana dia?" Gumamnya bingung.
Sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal Gio celingukan mencari keberadaan Davied yang belum nampak terlihat batang hidungnya.
Sayup-sayup indera pendengarannya menangkap suara gemercik air dari dalam kamar mandi.
"Bocah gemblung malam-malam kok mandi, nanti kalau sakit baru tahu rasa lho!"
Gerutu Gio sambil bersandar di sofa dengan tangan yang mulai membuka helai demi helai halaman buku mata kuliahnya.
Gio menatap jam di tangannya dan sesekali wajahnya menengok ke arah kamar mandi.
"Perasaan mandi dari tadi gak kelar-kelar? Mandi apa tidur ya tuh bocah!"
Terdorong oleh rasa penasarannya Gio bergegas bangun untuk mencari tahu siapa yang berada di kamar mandi sebenarnya.
Langkahnya sedikit mengikuti irama gerak kaki yang penuh dengan hati-hati. Takut kalau sampai menimbulkan suara tak jelas.
Sedikit tegang bercampur bingung setelah sampai di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
Tangan kirinya menempel di dada sebagai upaya menetralkan detak jantung yang berdebar, sedangkan tangan yang kanan sedikit gemetar mulai mendekati handle pintu dan mendorongnya ke dalam.
"Oh, my god..!" Teriaknya.
Mata Gio terbelalak lebar melihat apa yang ada di hadapannya.
Terkesima dibuatnya dan semakin gemetar seluruh tubuhnya, Dia mematikan kran shower lalu mengangkat tubuh berotot itu dengan sekuat tenaganya agar bisa cepat sampai ke atas tempat tidur.
Tak harus menunggu perintah, segera ia mengambil selimut dan baju di lemari untuk mengantikan pakaian yang basah di tubuh Davied agar tidak kedinginan.
Selesai memakaikan baju dan diselimuti Gio memberikan kompres air hangat di dahinya untuk mengurangi dan menurunkan suhu badannya dari dingin.
Sambil menjaga temannya yang sedang terlelap tidur, Gio kembali mengisi waktu sepinya dengan tugas dan skripsi yang sudah menantinya sejak sore tadi.
Entah merasa kasihan atau memang bentuk kepedulian terhadap temannya itu, walau rasa kantuk yang terus menggelayuti kedua matanya tidaklah menjadikannya satu penghalang bagi dirinya untuk terus memainkan ujung pena di atas putihnya kertas.
"Hoamm..."
"Ngantuk banget gue, gak terasa sudah jam 03.00.
Mendingan tidur dulu deh biar besok gak kesiangan bangunnya."
Dilirik jam di tangannya sembari merapikan buku lalu menyandarkan punggungnya di samping tempat tidur.
Kantuk yang begitu hebat memaksa Gio untuk segera memasuki alam mimpi dalam tidur lelapnya.
Lain halnya dengan Davied, kejadian itu kembali hadir menyelinap bersama bunga tidurnya .
Sentuhan dan buaian lembut dari seorang cewek yang beberapa bulan lalu menjadi pelampiasan otak mesumnya.
"Terima kasih sayang, kamu memang luar biasa," ucap lembutnya sambil mendaratkan k****n mesra dibibir indahnya.
"I love U sayang."
Kembali rengkuhan hangat merasuki darah mudanya tuk saling memberikan kepuasan bersama.
"Pergi..!"
"Pergi, kau dari sisiku..!," teriak Davied yang mengagetkan Gio.
[ Ekhmmm...! 😅😂🙈 ]
💖 💖 💖
"Cinta adalah persahabatan yang telah membara dalam jiwa. Seperti itulah pengertian yang membuat tenang, saling percaya, berbagi dan memaafkan.
Cinta itu satu kesetiaan yang harus kita lalui di waktu baik ataupun buruk."
👉 Jangn bosan untuk membaca dan terus berikan semangat ya, berikan RATE, FAVORITE, KOMEN, LIKE, JUGA GIFTS atau VOTE di karya Babang ini.
Sukses dan sehat selalu...
__ADS_1
Terima.kasih...🙏🙏
🆙 Bersambung ...