Serpihan Asa

Serpihan Asa
Tergoda.


__ADS_3

Jumpa kembali reader..!


Masih tetap setia kan membaca alur ceritanya?


Terus berikan semangat biar makin seru.


klik RATE, FAVORITE, KOMEN, LIKE, GIFTS/VOTE.



Happy reading..!


Pergi..!"


"Pergi, kau dari sisiku..!," teriak Davied yang mengagetkan Gio.


Gio gelagapan ketika mendengar teriakkan Davied yang secara tiba-tiba, Dengan pelan dan santai tangannya menepuk nepuk bahu temannya itu agar bisa terlepas dari kejaran mimpinya.


Tak begitu lama Davied kembali tertidur pulas seakan tak pernah terjadi sesuatu yang menimpa pada dirinya.


"Hoam..!"


"Baru jam 05.10 menit tapi masih ngantuk gua," ucapnya sambil mengucek mata dan bergegas merebahkan tubuhnya di atas sofa dekat pintu.


Keduanya telah mengarungi impian bersama dalam selimut penuh kehangatan.


📌 📌 📌


Di pagi hari itu masih terlihat lengang seperti waktu biasanya. Aku dan beberapa temanku masih duduk santai di depan gedung auditorium. Gedung megah yang difungsikan sebagai tempat fasilitas utama dalam kegiatan rapat terbuka akademika maupun untuk upacara wisuda.


Dan di luar kedua fungsi tersebut gedung mewah ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertunjukan kesenian, olah raga, dan kegiatan seremonial.


"Bro, hari ini lo ada jam kuliah gak!," tanya salah satu temannya.


"Ada lah, tapi gak tahu masuk apa gak!" Sahut Davied acuh.


"Kenapa..?"


"Gak apa-apa, suntuk saja bawaannya." Davied terus asyik menyentuh layar Hp yang sedang dipegangnya.


"Si Gio belum kelihatan batang hidungnya, tumben gak bareng lo..! Biasanya kemana-mana selalu ngintil kaya buntut." Ucap temannya yang dibarengi gelak tawa.


Davied tetap bergeming mendengar apa yang menjadi bahan olokan terhadap teman dekatnya itu.


"Sudahlah, walau bagaimanapun dia itu tetap sohib kita yang paling istimewa diantara kalian!" Ujar Davied nyengir.


Kembali pecah riuh tawa mereka membuat para mahasiswa yang lalu lalang menoleh ke arah kumpulan mereka.


"Ssst...dia datang tuh..!" Tunjuk salah satu dari mereka yang melihat Gio dari kejauhan.


"Hai, semuanya?"

__ADS_1


"Selamat pagi my best friend?"


"Apa kabur, eh kabar..?" Sapa Gio dengan senyum yang aduhai.


"Cie..ciee..Ha..ha..haa," ledek temannya bersamaan.


"Lo abis darimana aja, dari tadi ditungguin bos lo tuh?"


"Aduuh, sorry tadi nyampe sini tak tahu tiba-tiba kebelet p***s!," celetuknya polos.


"Kebanyakan minum air galon sih lo?" Kelakar Davied konyol.


"Ihh...? Gak segitunya kali, Vied!" Gio memajukan bibirnya kesal.


"Sudah mau masuk jam mata kuliah nih, mau masuk gak?," tanya Aldy.


Semua tak ada yang bersuara. Bungkam.


"Mendingan kita cari udara segar saja di luar, gimana ?" Usul Gio.


"Nah, seru itu...boleh!"


"Kita ke kafe depan saja yuk!," ajak Davied.


Sampai di kafe mereka terus bercanda tanpa lelah, sekedar menghilangkan rasa penat dan semua urusan perkuliahan yang terkadang membuat merasa malas untuk mengikutinya.


Aku dan teman-temanku memutuskan tak masuk kuliah hari ini. Menghabiskan waktu cuma sekedar duduk-duduk, berceloteh dan bercanda ria. Malah diantaranya ada yang asyik sambil menghisap nikmatnya r***k.


Sekali-sekali sibuk memelototi mahasiswi yang bersliweran hilir mudik menuju kampus dengan pakaian ketatnya. Kami terus menggoda mereka dengan suara siulan.


Semuanya sudah terbiasa, dan sampai saat momen itu tiba di mana ada seorang cewek yang lewat di depan kami. Mata kamipun tak melewatkan begitu saja. Perputaran waktu terasa berhenti seketika, dedaunan seperti berbisik memuji keindahannya


Bahkan angin pun berhenti menari seakan sibuk memandangi kecantikannya. Berjalan perlahan nan anggun dengan pandangan yang penuh pesona. Aku tertegun dan terkesima dibuatnya.


"Ya Tuhan, Engkau sungguh hebat menciptakan makhluk-Mu. Sungguh elok nan indah rupa wajahnya. Siapakah dia gerangan?," ucap batin Davied.


Tanpa aku duga, cewek yang berjalan itupun sepintas menoleh ke arahku dan lalu buru-buru membuang pandangannya ke depan. Langkahnya dipercepat agar bebas dari godaan kami yang sibuk bersiul.


Dia pergi begitu cepat dan membuatku tidak bisa berkata-kata untuk mendekatinya, bahkan terasa berat untuk bernafas. Terpesona oleh rupa dan sikapnya yang begitu anggun saat itu.


"Siapakah cewek yang telah berhasil merebut perhatianku dalam sekali pertemuan, bahkan tak bisa berkata-kata. Aku yakin kalau cewek itu berada di fakultas yang sama denganku walaupun beda jurusan.


Sungguh aku bingung dibuatnya. Aku sudah kehabisan untuk berfikir, bagaimana bisa kemampuanku untuk mengungkapkan perasaan ini pada cewek yang aku impikan tuk dijadikan kekasih hati." Batin Davied.


Waktu memang bisa mengubur keinginan. Sedikit banyak pepatah itu memang berlaku. Merasa cukup berpuas diri untuk melihatnya dari jauh, lelah membujuk hati untuk menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa mendekatinya.


Padahal untuk mendekati wanita lainnya malah gampang sekali. Mencoba untuk dekat dengannya memang terlalu jauh dari jangkauan.


"Lo kenapa Vied, sakit?," tanya Gio membuyarkan angannya.


"Ah, ngaco lo..!" Davied mengelak.

__ADS_1


"Terus kenapa dari tadi bengong mulu, kaya kucing kurang makan tau?" Gio ledekin Davied yang masih terlihat jutek.


"Bukan kucing kurang makan, Gio? Tapi kucing garong!" Timpal teman-temannya.


"Cakeeep..? Tuh tau!," sambung Gio dengan kedipan sebelah matanya.


Spontan Seisi ruangan kafe itu dipenuhi gelak tawa mereka yang kebetulan masih belum terlalu ramai oleh pengunjung.


"Apaan sih kalian."


"Brisik..!"


Wajah Davied terlihat begitu penuh kekesalan akibat dari ledekan temannya sendiri.


"Etdah, ada yang sewot nih..!"


"Ha..ha..ha..haaa..."


Siang itu matahari memang tidaklah begitu panas menyengat.


Namun dahaga di tenggorokan tak bisa ditahan untuk merasakan seteguk minuman dingin yang bisa menyegarkan.


Davied memandang jauh ke depan, matanya tertuju pada sosok cewek yang barusan ia lihat.


Dan dari jarak yang jauh cewek itu menoleh memandang ke arah Davied dan temannya yang cengar-cengir tidak keruan.


" Apakah itu pertanda kalau aku bisa mendapatkan cintanya?" Harap batinnya.


Benarkah itu dia? Dengan rambutnya yang panjang hitam berkilauan. Terayun gemulai saat dia berjalan yang menambah kecantikannya.


Cewek itu semakin memberikan daya tarik yang tak pernah aku mengerti, senyum manisnya sungguh indah merekah.


Ku perhatikan tekstur wajahnya, hitam bola matanya juga menikmati bagaimana dia tersenyum yang dipadukan dengan badannya nan seksi. Terus mengingatnya seakan-akan itu adalah kesempatan untuk melihatnya terakhir kali. Walau ternyata saat kejadian itu tak sedikitpun kata-kata yang terucap dari bibirku.


Tetapi itu semua karena berkat bantuan temanku, karena dialah hal yang di luar dugaanku itu terjadi. Ya, saat pertama kali aku benar-benar bisa berbicara dengan leluasa dengannya.


Saat aku pertama kali bisa benar-benar berkenalan dengannya. Sungguh sampai sekarang pun kejadian itu masih terlukis jelas di lembaran-lembaran frame didalam otakku. Memori yang sampai tua pun aku yakin pasti masih tercetak jelas disana.



...----------------...


👉 Jangan bosan untuk membaca dan terus berikan semangat ya, berikan RATE, FAVORITE, KOMEN, LIKE, JUGA GIFTS atau VOTE di karya Babang ini.


Sukses dan sehat selalu...


Terima.kasih...🙏🙏


🆙 Bersambung ...


.

__ADS_1


__ADS_2