
Bertemu seorang sahabat yang lama tak jumpa merupakan suatu kebahagiaan tak terkira.
Haikal seakan sedang bermimpi bisa ketemu teman waktu masa SMA dulu. Baginya Davied sudah dianggap seperti saudara sendiri oleh dia sendiri dan kedua orang tuanya.
"Lo ada salam tuh dari papa sama mamah, setiap hari terus saja nanyain kabar kamu. Aku jadi ngiri sama lo!" Haikal menepuk bahu Davied berulang kali.
"Apalagi mamah, gak pernah henti-hentinya ngomongin lo. Mamah kangen ngumpul dan makan bersama lagi kaya dulu katanya.
Lo harus tanggung jawab tuh?"
"Memangnya aku berbuat apa sampai harus pake bertanggung jawab segala, weh!" sela Davied terkekeh riang.
"Pokoknya lo harus main ke rumah ya. Aku gak mau tau apapun alasannya!" Desak Haikal tanpa kompromi.
Davied hanya menyeringai tak berkutik.
"Tenang saja, gue pasti datang ke rumah lo. Gue juga kangen banget sama masakan mamah lo. Masakannya memang beda dari yang lain!"
"Eh, dari tadi lo gak mau kasih tau nih siapa cewek yang ada di depan lo itu?" Davied melirikan matanya ke arah cewek yang dari tadi hanya senyum-senyum sendiri.
"Oh iya, lupa maaf. Kenalin dia calon istri gue, Alisya." Terang Haikal penuh percaya diri.
Alisya Geraldine
"Hai Mbak Alisya? Gue temennya Haikal, Davied!" Keduanya lalu berjabat tangan.
"Hai juga, Davied!" Alisya.
"Udah jangan lama-lama pegangannya, lo dari dulu memang sukanya godain cewek orang ya!" Ketiganya tertawa tanpa ada rasa malu dengan orang di sekelilingnya.
Alisya mencoba mengikuti alur pemikiran kedua cowok guwanteng agar kesannya bisa lebih nyaman dalam berargumen bersama mereka.
Alisya selalu menunjukkan senyum terindah nya di depan mereka.
"Memangnya lo suka godain para cewek ya, Vied." Alisya tersenyum.
"Gak usah didengar ocehan dia Mbak, justru malah sebaliknya dia yang suka keganjenan kalau lihat cewek seksi," balasnya senang.
"No..no..no..!"
"Jangan percaya sayang, mulut dia memang kayak emak-emak gitu. Suka ngeghibah." Sanggah Haikal.
Tak terhindarkan umpatan dan saling membuka lelucon antar kedua sahabat tersebut.
__ADS_1
"Udah deh mendingan lo ngaku aja, Haikal? Gak usah ditutup-tutupin gitu napa." Canda Davied dengan tampang muka yang dibuat serius.
Tak sedikitpun terlihat dari pancaran mata atau sikap Alisya yang menunjukan ada kecemburuan sama cowok yang sudah ia keal lama, rasa percya padanya telah terpatri dengan didasari ketulusan kasih sayang.
Rasa cemburu itu hanyalah bumbu cinta kasih dari keharmonisan dalam hubungan.
Tentunya hubungan antara dua insan yang sama-sama memiliki sikap kedewasaan.
"Sudah-sudah! Kenapa kalian jadi bercanda kaya anak kecil sih?" Alisya mencoba menengahinya.
"Maaf. Kamu sama siapa di sini, Vied? Mana cewek kamu?," tanya Alisya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Mendengar pertanyaan seperti itu Davied mendadak mengalihkan pandangannya ke Alisya.
"Oh, ak-aku gak sama cewek kok Mbak Alisya! Kebetulan aku lagi nongkrong aja sama teman-teman, tuh mereka teman-temanku lagi asyik becanda di meja nomor 20 itu." Telunjuknya mengarah ke arah mereka.
"Ngomong-ngomong kapan rencana kalian married? Awas jangan lupa kabarin gue nih!" Davied.
"Tenang saja, pasti Lo gue undang kok! Asal jangan lupa bawa kadonya yang banyak." balas Haikal singkat.
Keceriaan sore hari terasa hangat dan mengesankan, bercerita tentang masa lalu yang pernah dijalaninya bersama. Susah senang tak pernah lepas dari kata saling menjaga dan selalu bersama.
Apalagi kalau masalah cewek pastinya tak pernah lupa. Pokoknya masa terindah yang tak akan pernah terlupakan begitu saja, walau usia terus bertambah dengan seiringnya waktu yang menuntun jalan kami secara pribadi.
"Sekarang Lo masih ada hungungan sama Alea anak IPA itu lho?," tanya Haikal menggodanya.
"Gue udah lost contact sama dia. Gue juga bukannya munafik dan gak ada maksud ngelupain cintanya dia sama aku waktu itu, jujur aku juga sangat mencintai dia begitupun sebaliknya.
Tapi mungkin karena antara kami udah gak ada komunikasi jadi seperti ini.
Terakhir aku dapat kabar dari Silvie temen dekatnya itu, yang katanya keluarga Alea pindah ke London karena papanya harus meneruskan perusahaan milik orang tuanya." Cerita Davied
"Trus Lo gak ada niat untuk nyari tau tentang kabar dia gitu, tanya sama Silvie atau yang lain misalkan?" Haikal mencoba berikan solusi.
"Sering aku tanya sama Silvie, namun dia juga sama seperti gue lost contact gitu.
Dan akhirnya gue cuma bisa pasrah aja dengan semua ini.
Nyesek juga sih awalnya tapi lambat laun gue bisa dengan perlahan menyeimbangkan permasalahan isi hati ini." Terdengar nada suaranya begitu lirih.
Haikal dan Alisya mencoba menghibur Davied, karena mereka bisa merasakan apa yang ada dalam benak pikiran sahabat dekatnya itu.
"Lo harus sabar ya. Karena kita percaya kalau memang Alea itu sudah menjadi takdir buat jodoh Lo, pasti akan dipertemukan kembali walau kita tidak tau kapan dan dimana semuanya bakal terjadi.
Gue juga tau kalau Lo itu bukan type cowok yang cengeng dan mudah menyerah begitu aja. Buktinya hati Alea bisa Lo dapetin.
__ADS_1
Ingat kan bagaimana dulu Lo kejar cintanya dia? Begitu banyak cobaan yang mesti Lo hadapi, dan pada akhirnya semua bisa Lo lewati karena rasa percaya diri Lo yang sangat gigih." Haikal kembali mengulas cerita cinta Davied yang sangat luar biasa.
"Thank's ya, Lo udah dan selalu perhatian sama gue. Lo memang sahabat gue yang paling is the best tapi bawel!" sindir Davied cengengesan.
"Heh, Lo tuh ya! Ngatain gue bawel padahal Lo sendiri yang lebih bawel dari gue." Kembali ketiganya tertawa bersama.
Di tengah kegembiraan mereka tiba-tiba ada bunyi nada panggilan di Hp Alisya.
"Maaf, aku angkat telepon dulu ya. Telpon dari mamah."
Haikal dan Davied tersenyum mengerti akan ucapan Alisya.
"Yang, kayanya aku harus pulang duluan nih. Mamah minta diantar ke toko kue soalnya tadi siang aku sudah janji mau nganterin mamah ke sana, gak apa-apa kan sayang?" ucap Alisya lembut.
"Oh, kalau gitu aku antar kamu pulang ya? Karena sekalian aku juga ada kerjaan yang belum aku selesaikan."
"Gak usah. Aku bisa naik taxi kok!"
"Sudahlah ayo aku antar pulang dulu."
Dengan senang hati Alisya akhirnya mau diantar pulang oleh Haikal.
Lalu dia pun sekalian berpamitan Sama Davied.
[ Elahh...pake acara nolak, tapi ujung-ujungnya mau juga! Apa ini yang dibilang OGAH tapi MAU ya? 😂😅🙈 ]
"Vied, gue pamit duluan ya? Sekalian mau anterin Alisya pulang.
Jangan lupa main ke rumah, sudah di tunggu sama mamah dan papa tuh?"
"Baiklah. Kalian hati-hati ya! Sampaikan juga salam buat mamah dan papa, pasti nanti aku ke sana." Ucap Davied lantang.
Sepasang kekasih itu berjalan meninggalkan Davied sendirian, dia tersenyum bahagia melihat kepergian temannya yang sebentar lagi akan melepaskan masa lajangnya bersama gadis impiannya.
"Kapan gue bisa seperti dia? Memiliki seorang cewek yang tulus mencintaiku, Hmmm..." Batin Davied.
...----------------...
👉 Jangan bosan untuk membaca dan terus berikan semangat ya, berikan RATE, FAVORITE, KOMEN, LIKE, JUGA GIFTS atau VOTE di karya Babang ini.
Sukses dan sehat selalu...
Terima.kasih...🙏🙏
__ADS_1
🆙 Bersambung ...