Serpihan Asa

Serpihan Asa
Semakin penasaran.


__ADS_3

👉 Jangan bosan untuk membaca dan terus berikan semangat ya, berikan RATE, FAVORITE, KOMEN, LIKE, JUGA GIFTS atau VOTE di karya Babang ini.


Sukses dan sehat selalu.


Biar makin seru, yuk dilanjut kembali baca ceritanya!


Happy reading___


Usai membersihkan badan dan berpakaian santai Almira langsung bergegas menghampiri Mamahnya yang sudah lebih awal berada di meja makan sembari menata menu makan malamnya bersama buah hatinya yang imut dan tentunya berparas cantik seperti Mamahnya dong?


"Asyik...malam ini makan enak juga nih!"


"Mamah memang is the best. Love you, Mom!" Puji Almira yang disambut senyum Mamahnya.


"Mamah memang sengaja masak kesukaan kamu, sayang? Biar kamu lahap makannya dan sehat. Mamah ingin kamu jadi anak yang sukses dan pintar di kemudian hari, biarlah cukup Mamah saja yang merasakan pahitnya liku-liku kehidupan di masa silam." Senyum penuh kasih sayangnya begitu nyata tercurah di hadapan Almira.


Almira pun membalas senyuman Mamahnya di sela-sela makan malamnya.


Mengerti maksud dari senyuman yang begitu tulus akan cinta kasih seorang ibu pastinya tak akan pernah pudar sepanjang masa.


"Besok berangkat kuliahnya pagi atau siang?" Mamahnya mencoba mengalihkan pembicaraan demi menjaga perasaan Almira.


"Besok jam kuliahnya agak siang kok, Mah! Paginya kan bisa bantu-bantu Mamah dulu?," jelas Almira sambil membereskan piring setelah selesai makan.


Kebahagiaan dan keceriaan yang terjalin dalam keluarganya tak pernah lepas bahkan selalu terlihat damai.


📌 📌 📌


Pagi kembali telah tersenyum dengan sinar mentari nan cantik berseri.


Laju mobil terlihat kencang menyibak jalanan kota Kuningan yang sejuk dengan udara di pagi hari.


Cewek cantik duduk manis di belakang dengan pakaian seragamnya.


Tak lupa di tangannya asyik memainkan smartphone kekinian.


[ Tau dong smartphone yang dimaksud Babang...?😅😅 ]


Ya, Ghisca berangkat ke sekolah diantar oleh Pak Yusuf sopir pribadi yang selalu setia antar jemput Ghisca setiap hari.


Dalam perjalanannya itu Ghisca begitu sumringah, entah apa gerangan yang membuatnya senyum-senyum sendiri.


Masa-masa puber bagi dirinya sangatlah indah terlebih lagi jikalau sudah memiliki sang pujaan hati.


Yang jelas semua itu hanya dia yang tahu siapa pemilik hatinya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa kilo jarak dari rumah ke sekolahan perlahan kecepatan mobil yang ditumpanginya terus melambat dan akhirnya menepi tepat di depan pintu gerbang sekolah.


"Maaf Non Gischa, kita sudah sampai di depan sekolah," ucap Pak Yusuf ramah.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Pak Yusuf." Gischa buru-buru keluar dari mobil kemudian melangkah memasuki area sekolahan.


Langkah kakinya terus mengarah ke sebuah ruangan dimana ia akan mendapatkan ilmu dan materi dari seorang pahlawan tanpa tanda jasa demi mencapai masa depan yang hakiki.


Belum lagi sampai di belokan lorong sekolah dari belakang terdengar keras memanggil namanya.


"Ghisca, tunggu gw woyy..!" Teriak suara yang tak asing baginya.


Ghisca menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang, benar saja siapa orang yang barusan memanggilnya setengah berlari menghampirinya dengan nafasnya yang masih terengah-engah.


"Lo kenapa pake teriak-teriak segala, kaya kernet metro mini aja!" Seru Ghisca menatap temannya


"Gak usah ngeledek deh?"


"Gw tadi bangunnya kesiangan gara-gara semalam lihat drakor sampai malam.


Padahal sudah pasang alarm tapi tetep saja kesiangan." Ayu menegaskan.


"Siapa suruh nonton sampai larut malam gitu paling yang Lo liat cuma aktor cowoknya doang, iya kan!" Cecar Ghisca tanpa henti.


"Daripada Lo ngomel-ngomel mending kita masuk kelas saja yuk! Garing banget tau?" Ayu balik memprotes.


Demi mencari aman Ayu menarik tangan Ghisca untuk segera memasuki ruang kelas walau sedikit memaksa tapi itu semua sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka berdua.


"Gw dengar katanya Minggu depan tim basket kita mau tanding sama SMA TUNAS HARAPAN. Bakalan seru banget tuh, sambil nonton Lo beraksi dengan si kulit bundar di lapangan aku juga bisa puas-puasin deh memandang cogan-cogan di sana." Ayu tertawa begitu puas.


"Hilih...dasar Lo ya, selalu cogan dan cogan yang ada dalam otak Lo!"


Tawa riang mereka membuat seisi ruang kelas tertuju padanya.


Untung guru yang akan mengisi jam pelajaran pertama belum masuk, kalau saja itu terjadi jangan tanya lagi apa yang akan mereka dapatkan dari guru BK.


Dan ujung-ujungnya merekapun harus bersiap menerima wejangan pedas dari orang tuanya saat di lingkungan keluarga.


Terik matahari serasa membakar sampai ubun-ubun. Menambah rasa penat semakin tak menentu hingga bermandikan peluh di badan.


Seperti hari biasanya saat pulang sekolah Ghisca akan menunggu jemputannya datang.


Maklum anak orang kaya, semua fasilitas dari sekecil apapun jelas akan terpenuhi.


Tentunya kembali lagi pada peran orang tua sebagaimana mestinya akan terus dan selalu tuk memberikan yang lebih baik, itu jua demi suksesnya anak-anak mereka.


[ Hmmm...kapan yach bisa hidup kaya? Asal jangan kaya nganu..! 😅🙈🙈 ]


📌 📌 📌


Di dalam ruang perpustakaan Almira masih sibuk memilih dan mencari buku yang akan dijadikan dalam membuat tugas skripsinya. Dari sekian banyak buku yang dia cari namun tak kunjung ditemukan, bolak balik tiada henti hanya tuk sekedar mendapatkan apa yang ia inginkan.


Begitu serius. Bahkan dirinya tak menyadari kalau ada sepasang mata yang terus menatapnya sedari awal masuk ke perpustakaan.

__ADS_1


"Nah, ketemu juga akhirnya buku yang aku cari-cari!" Almira pun tersenyum senang.


Setelahnya mengambil buku itu lalu berbalik dan berjalan dengan mata masih tertuju pada buku ditangannya, disaat langkahnya hampir sampai di meja baca tiba-tiba saja seperti ada yang menahan laju kakinya.


Perlahan Almira mengangkat kepalanya hingga bola mata indah itu menatap jelas wajah tampan di hadapannya yang dihiasi senyum merekah dari bibir si cowok itu.


"Maaf, aku gk lihat kalau ada orang," ucap Almira salah tingkah.


Wajahnya masih tertunduk yang penuh rasa malu tapi seneng karena bisa menatap wajah cogan.


Melayang seperti terbawa ke alam mimpi yang sangat indah, bertemu dengan seorang pangeran nan gagah menawan.


"Tidak!"


"Sadar Almira, Kamu jangan ngayal deh!" Batin Almira.


Belum sempat tersadar dari halunya cowok itu sudah melangkah jauh darinya.


"Hei, tunggu!"


Teriakan Almira tak di gubris oleh cowok yang semakin jauh melangkah dan menghilang dibalik pintu keluar.


"Huh, dasar cowok aneh! Tapi ganteng juga sih." Senyum-senyum sendiri.


Lama tertegun oleh ilusinya yang sudah menyita waktu segeralah ia menyelesaikan tugasnya agar bisa cepat selesai.


Di kantin kampus pastinya bisa menjadikan tempat favorite bagi mahasiswa yang mungkin masih enggan tuk pulang ke rumah, atau memang masih menunggu jam kuliahnya.


"Kelihatannya Lo suntuk banget, Vied? Lagi mikirin mantan ya!" Ledek Gio.


"Gw penasaran banget sama itu cewek!"


Mulut Gio menganga mendengar ucapan yang keluar dari mulut Davied secara tiba-tiba.


"Cewek yang mana lagi sih?" Tanya Gio dengan memicingkan matanya.


Davied diam tanpa kata.


[ Nah lho! Cewek mana lagi tuh Babang Davied...? 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️ ]


...----------------...


Salam penuh tali silaturrahmi dari Babang nch.


Terus dukung karya Babang yach...?


Cukup kasih FAVORITE, RATE, LIKE, JUGA KOMEN.


Sekiranya berkenan GIFT ATAU VOTE...itu suatu penghargaan yang begitu sangat berarti bagi Babang.

__ADS_1


Terima kasih..🙏🙏🙏


🆙 Bersambung...


__ADS_2